BAYU WIRAWAN (KING JAZZ) MASTERPIECES

FOREVER "KING JAZZ" MASTEPIECING

Archive for the ‘CATATAN DAN RENUNGAN’ Category

Newer Entries »

KEBUDAYAAN NUSANTARA LAHIR, TUMBUH, DEWASA DAN MATI …. ;-)

Filed under: CATATAN DAN RENUNGAN — Tag: , , , — KING JAZZ (Bayu Wirawan) @ 03.25

KEBUDAYAAN NUSANTARA LAHIR, TUMBUH, DEWASA DAN MATI …. 😉

Posisi Budaya Lokal Dalam Era Ekonomi Kreatif

Tari Barong Dan Kecak Di Bali Menjadi Andalan Pariwisata Dalam Era Globalisasi Saat Ini. Kebanyakan Turis Mencari Hiburan Yang Khas Dari Suatu Daerah Untuk Memuaskan Keinginan Tahunya Dan Mencari Nilai Keindahan Dari Budaya Daerah Yang Dikunjunginya.

Indonesia Dengan Keberagaman Budaya Lokalnya Memiliki Posisi Strategis Dalam Era Globalisasi Yang Telah Mendorong Berkembangnya Ekonomi Kreatif. Ekonomi Kreatif Memfokuskan Diri Pada Kekayaan Budaya. Dalam Era Globalisasi, Budaya Lokal Merupakan Salah Satu Mata Air Ekonomi Yang Potensial Bagi Suatu Bangsa. Budaya-Budaya Lokal Perlu Dilestarikan Agar Terjaga Dari Serangan Virus Berbahaya Yang Mengakibatkan Kepunahan.  Salah Satu Cara Melestarikan Adalah Dengan Proses Pewarisan Nilai Budaya Kepada Generasi Muda. Setiap Karya Budaya Akan Tetap Lestari Bila Ia Mampu Menyempurnakan Diri Dengan Penampilan-Penampilan Yang Bisa Mengena Terhadap Generasi Muda. Dalam Era Ekonomi Kreatif, Pewarisan Budaya Kepada Generasi Muda Dan Kesiapan Mereka Untuk Mengelola Aset Merupakan Kata Kunci Dalam Proses Pelestarian Budaya.

 

Hukum Alam Yang Perlu Menjadi Perhatian

Hukum Alam Merumuskan Bahwa Yang Lahir Dan Tumbuh Akhirnya Akan Mati. Setelah Mencapai Titik Tertinggi Perkembangan Dimulailah Jalan Menurun Menuju Ketiadaan. Untuk Mempertahankan Spesiesnya Makhluk Hidup Membuat Generasi Baru Yang Sesuai Dengan Kondisi Lingkungan Setempat. Dinosaurus Dan Mastodon Sudah Tidak Ada, Tetapi Reptilia Dan Gajah Tetap Eksis. DNA Yang Dikandung Dinosaurus Dan Mastodon Masih Ada Yang Terbawa Setelah Jutaan Tahun Berlalu.

Seorang Master Spiritual Yang Sudah “Cerah” Pun Masih Selalu Berkembang. Begitu Dia Puas Dengan Dirinya Dan Tidak Mau Berkembang Lagi Maka Penurunan Akan Mengikutinya. Hukum Alam Itu Berbunyi Berkembang Atau Mati Pelan-Pelan. Tubuh Manusia Dalam Waktu Satu Tahun Sudah 90% Selnya Berganti. Air Yang Lewat Di Bengawan Solo Pada Saat Ini Sudah Berbeda Dalam Dua Detik Kemudian. Cuaca Yang Sejuk Di Solo Zaman Dahulu Sudah Berubah Menjadi Lebih Panas.

Perubahan-Perubahan Yang Terjadi Adalah Wajar Dan Selaras Dengan Alam Yang Selalu Berubah. Pakem-Pakem Atau Aturan-Aturan Dari Lembaga-Lembaga Yang Terlalu Membelenggu Juga Tidak Selaras Dengan Alam. Semuanya Selaras Pada Waktunya Dan Harus Berubah Menyesuaikan Diri Dengan Keadaan Seiring Dengan Perubahan Zaman. Esensinya Atau Hakikinya Boleh Saja Tidak Berubah, Tetapi Penampilannya Perlu Penyesuaian. Dalam Bidang Spiritual, Esensinya Adalah Bagaimana Manusia Meniti Jalan Yang Lurus Untuk Kembali Keharibaan-Nya. Kelompok-Kelompok Yang Terbelenggu Oleh Ikatan Yang Dibuat Secara Eksklusif Pada Zamannya, Menjadi Potensi Friksi Yang Dapat Mengganggu Di Kemudian Hari.

Sudah Tidak Lucu Lagi Bagi Seorang Kepala Negara, Setiap Memimpin Pertemuan Kabinet Memakai Surjan Dan Blangkon Dengan Keris Dipinggangnya. Kelompok Yang Bahkan Menginginkan Kembali Memakai Model Pakaian Dari Budaya Zaman Dahulu Tidak Akan Bertahan Lama Dalam Pemakaian Model Pakaian Tersebut. Bisa Saja Nampak Berkembang Karena Ephoria Dan Dikembangkan Dalam Mencari Dukungan Politik Dengan Tujuan Tertentu.

 

Esensi Pelestarian Kebudayaan 

Secara Alamiah Segala Sesuatu Mengalami Evolusi. Secara Alamiah Pula Sebuah Aksi Tindakan Akan Mendapatkan Reaksi Akibat. Untuk Melestarikan Budaya Diperlukan Aksi Tindakan Yang Tepat Untuk Mewariskan Nilai-Nilai Budaya Terhadap Generasi Penerus. Yang Perlu Diperhatikan Adalah Power Of Will, Kehendak Yang Kuat, Power Of Knowingness, Pemahaman Dan Skill Dan Power Of Action, Tindakan Nyata. That Is The Way To Success, Itulah Jalan Menuju Keberhasilan. Bangkitlah Wahai Anak Keturunan Sriwijaya Dan Majapahit.

 

Comments (52)


KELEBIHAN PUISI DAN FILSAFAT

Filed under: CATATAN DAN RENUNGAN — Tag: , — KING JAZZ (Bayu Wirawan) @ 02.43

KELEBIHAN PUISI DAN FILSAFAT

Tentunya Kita Semua Tahu Bahwa Kalau Berbicara Kelebihan, Pasti Semua Di Dunia Ini Memiliki Kelebiha Dan Kekurangan, Tapi Di Sini Penulis Tidak Ingin Melihat Kekurangan Dalam Setia Sesuatu, Agar Kelebihan Selalu Berpihak Kepada Kita.

Sastra Dalam Hal Ini Adalah Puisi Merupakan Ekspresi Kreatif Dari Renungan Sastrawan Terhadap Kehidupan Masyarakat, Jadi Yang Menjadi Terekspresi Bisa Berupa Hiburan, Pencerahan, Komentas Atas Situasi, Rangkuman, Potret Keadaan, Karikatur, Symbolisme, Ekspresi Tragedy Atau Tragis Dengan Mini Kata Pertunjukan. Jadi Dalam Hal Ini Sastrawan Melahirkan Ide-Ide Pencerahan Dan Pembaruan.

Kelebihan Puisi Yang Bersumber Pada Imajinasi Terletak Pada Kemampuannya Tidak Hanya Menjadi Model Identifikasi, Tapi Juga Bagaimana Mendorong Kita Membuat Konstruksi Mengenai “Aku” Lebih Luas Dari Kerangka Model-Model Psikologi.

Puisi Adalah Sebuah Pesta Atau “Perayaan” Dari Realitas. Filsafat Adalahdiscovery, Yang Lalu Dipresentasikan Dalam Sistematisasi Rasional. Puisi Dan Filsafat Memliki Kesamaan Dalam Usaha Mengekspresikan Berbagai “Kebenaran” Kehidupan Kita, Termasuk Kejiwaan, Hidup Batin, Gejolak Tulus Dari Rasa Maupun Nurani. Bedanya, Kalau Puisi Menggunakan Medium Bahasa Konvensi Padat Dan Gumpalan Kata-Kata Serti Berfungsi Sebagai “Perayaan”, Sedangkan Filsafat Lebih Bagaimana Memaparkan Dan Mengurai Kebenaran Secara Sistematis-Rasional.

Sastrawan, Sebagai Tuan Atas Hidup Batin (Rasa Dan Imaji), Lalu Mengekspresikan Lewat Kata-Kata. Kata-Kata Menjadi Model Dari Kehidupan Batin Dan Pribadi Kita Sebagai Orang Selalu Peka Terhadap Realitas. Puisi Merupakan Bentuk Rekaan Atau Imajinasi Yang Bisa Membahasan Kehidupan Batin Atau Masyarakat Menjadi Hidup Privat.

Di Sisi Yang Lain Sastrawan Tampil, Untuk Mengekspresikan Imajinasi Dirinya, Renungannya Mengenai Kehidupan Masyarakat, Atau Di Pihak Lain, Lebih Jauh Melangkah Berktekad Ingin Menyodorkan, Mencerahkan Atau “Menjatuhkan Kerikil Di Danau Tenang Yang Lalu Membuat Pendar Gelombang Di Atas Air Danau Itu, Semakin Banyak Yang Menjatuhkan Kerikil, Maka Semaki Gelombang-Gelombang Itu Menjadi Banyak Dan Ketenangan Danau Diguncang-Bangun”.

Sepertinya Para Sastrawan Menjadi Dokter Yang Bisa Menyembuhkan Orang Sakit. Menurut Bidan Soctates Dalam Melahirkan Kesadaran Mengenai Keindahan Dan Kebenaran. Dalam Bersikap Sastrawan Menghadapi Komplikasi Hak Kemerdekaan Ekspresi, Maka Ketika Terjadi Konflik Kepentingan Antara Kebebasan Sastrawan Dan Aturan, Bahasa Structural Kepastian Tentang Tanggungjawab Terhadap Peradaban Masyarakat Seringkali Masung Kreativitasnya.

Dalam Hal Ini, Sastrawan Harus Memilik Kesadaran Untuk Menjadi Komentator Kehidupan Social Atau Mengajak Masyarakat Untuk Tidak Hanya Pada Satu Gelombang Nilai Hedonis-Materialistis Dan Kemabli Pada Dasar Religiusitas, Solidaritas Pada Yang Sengsara Dan Papa Dari Sesame Dan Hormat Pada Mertabat Sesama Manusia. Namun, Semua Ini Tidak Akan Bisa Terolah Menjadi Matang Sebagai Ucapan Kejujuran Nurani Sastrawan-Sastrawan, Jika Proses Kreativitas Di Batasi. Maka, Jika Di Batasi, Sastra Yang Kreativ Akan Sama Posisinya Dengan Kesenian Pesanan Yang Telah Diatur Dan Direkayasa Oleh Pengaturnya.

Artinya Kita Harus Sadar Akan Kesadaran Dunia Ini Bahwa Kesadaran Bernilainya Setiap Manusia Sebagai Sesama Manusia. Maka, Wilayah Kebebasan Berkreasi Lalu Menjadi Wilayah Yang Subjektifitas Manusia. Sosiolog Max Weber Memberi Cara Bagaimana Memahami Subjektifitas Individu Dalam Realitas Social Itu Dengan Metode Verstehen, Pemahaman Subjektivitas Seseorang Lewat Tindakan-Tindakannya Yang Dicoba Mengerti Dampak Sosialnya.

Dengan Melihat Fenomena Tersebut, Kita Melihat Bahwa Tempat-Tempat “Kebebasan Berekspresi” Adalah Wilayah “Kesucian” Hak Asasi Manusia. Sementara Pengaturan Terhadapnya Baru Relevan Kalau Hasil Kebebasan Berkreasi Itu Mulai Masuk Ke Wilayah Sosialitas Manusia Atau Wilayah Hidup Bersama. Maka Kita Membutuhkan Penjernihan Pembedaan Ini Harus Dipertajam Batasnya. Kalau Batas “Wilayah Subjek” Dan “Wilayah Sosial” Atau “Objektifitas” Manusia, Maka Akan Jelas Pengaturannya. Singkatnya, Wilayah Subjek Masyarakat (Sastrawan) Adalah Wilayah Hak Dan Kebebasan Untuk Berkreasi Dalam Hal Ini Seni, Puisi Dan Filsafat. Sedang Pada Saat Kreasi Itu Dimasyarakatkan Atau Dipublikasikan Ke Masyarakat, Maka Kita Mulai Memasuki Wilayah Sosialitas Dan Objektivitas Tadi.

Dengan Membedakannya, Kita Bisa Menarik Benang Merah Bahwa Kesadaran Menjadi Sangat Penting Kita Tanam Sebagai Alat Untuk Mengolah Rasa. Artinya Rasa Dalam Hal Ini Menjadi Penting Juga, Karena Dengan Adanya Ruang Rasa Sastrawan Lebih Sensitive Terhadap Diri Dan Sekitarnya Sebagai Inspirasi Kreatif. Dan Sebagai Renungan “Sepertinya Aku Tak Bisa Mengurai Detik Yang Begitu Rapat Di Apit Gelombang”.

 

Comments (55)


BAHASA, MAKNA, RASA KATA

Filed under: CATATAN DAN RENUNGAN,KNOWLEDGEMENT — Tag: , , , — KING JAZZ (Bayu Wirawan) @ 02.21

BAHASA, MAKNA, RASA KATA

Kita Tahu Bahasa Atau Kata-Kata Yang Kita Pakai Atau Kita Lantunkan Bukanlah Hal Yang Mati, Tapi Suatu Yang Bernyawa (Hidup), Suatu Ekpresi Dari Kita (Manusia) Yang Hidup, Yang Terentak Juga Sebagai Alat Interkomunikasi Antarmanusia Yang Hidup Bersama Dalam Masyarakat. Kata-Kata Yang Kita Pakai Itu Tidak Hanya Menunjukkan Realitas Barang-Barang Yang Obyektif Saja, Tetapi Juga Menyatakan Sikap Dan Perasaan Terhadap Realitas Obyektif. Kata Mempunyai Nilai Rasa Tertentu Dalam Setiap Kata-Kata.
Sebab Nilai Rasa Ini Merupakan Arti Kata Dan Berada Dalam Kata Itu Sendiri. Dalam Hal Ini Perlu Kita Lihat Agar Lontaran Atau Lompatan Kata-Kata Itu Tepat Sasaran. Untuk Setiap Situasi Kita Harus Pandai Memilih Istilah Yang Cocok, Sesuai, Serasi Dengan Nilai Rasa Yang Hendak Kita Lontarkan (Terkatakan).
Kata-Kata Dengan Nilai Rasa Tertentu Itu Tidak Hanya Dipakai Untuk Melahirkan Perasaan Atau Penilaian Kita Sendiri, Tapi Dapat Menimbulkan Perasaan Kepada Orang Lain. Dan Inilah Keterampilan Dalam Menggunakan Bahasa Yang Dimiliki Seorang Seniman Dan Sastrawan.
Kalau Kata-Kata Itu Menimbulkan Perasaan Maka Ia Akan Menimbulkan Perasaan Emosional, Dan Inilah Biasanya Yang Dipakai Dalam Politik Dan Iklan-Iklan, Tidak Mengarah Pada Ranah Pemikiran Untuk Berfikir Secara Radikal. Sedangkan Kata-Kata Tersebut Dapat Menghambat Pemikiran Sendiri, Bahkan Dapat Mengacaukan Jalan Pikiran Dan Memustahilkan Berpikir Sendiri Dengan Obyektif, Karena Menutup Mata Terhadap Kenyataan, Realitas.
Dalam Konteks Ini, Benar Apa Yang Dikatakan Oleh Heidegger, Dalam Analisisnya Tentang Vestehen Di Dalam Being And Time Bahwa Apa Yang Pertama Kali Kita Pahami Dalam Sebuah Wacana Bukanlah Orang Lain, Namun Sebuah Proyeksi, Yakni Outline Cara Baru Keberadaan Di Dunia. Hanya Dengan Kata-Kata Yang Membebas Di Teks, Tidak Hanya Pengarang Aslinya, Namun Juga Dari Sempitnya Situasi Dialogis, Yang Mengilhami Masa Depan Wacana Sebagai Proyeksi Sebuah Dunia, Jadi Bila Nilai Rasa Dihasilkan Sebagai Sebuah Peristiwa, Maka Ia Dapat Dipahami Sebagai Makna Yang Tentunya Mempunyai Kata Dan Nilai Rasa Di Dalamnya.
Dalam Dialektika Nilai Rasa Dan Kata Yang Telah Dikembangkan Dalam Diri Kata Sangat Dominan. Memaknai Kata Adalah Apa Yang Diinginkan Oleh Pembicara. Namun Memaknai Kata Adalah Juga Apa Yang Dimaksudkan Oleh Kalimat Tersebut. Jadi Setiap Gerak Atau Tindakan Ini Memberi Jalan Bagi Dialektika Nilai Dan Kata. Oleh Karena Dunia Ini Adalah Kumpulan Referensi Dan Kata-Kata Yang Diungkap Oleh Setiap Jenis Teks, Deskriptif Atau Puitis Yang Kita Baca, Pahami Dan Senangi, Hanya Itu!. Dan Kita Perlu Sadari Sungguh-Sungguh.
Kata-Kata Dipandang Baik Sebagai Suatu Peristiwa Apabila Pertama Sebagai Suatu Fungsi Predikat Yang Dikombinasikan Oleh Suatu Identifikasi, Kedua Sebagai Suatu Abstrak, Yang Bergantung Pada Keseluruhan Konkrit Yang Merupakan Kesatuan Antara Nilai Rasa Dan Kata Dalam Kalimat. Dimana Ada Kata Pengucap Dan Kata Ucapan. Memaknai Ucapan Berarti Apa Yang Dimaksudkan Oleh Sang Pembicara. Sebab Nilai Tidaklah Berbicara Tapi Oranglah Yang Berbicara. Misalnya, Roman Jakobson Memulai Dari Adanya Hubungan Tiga Arah Antara Pembicara, Pendengar Dan Pesan Yang Di Sampaikan, Dilanjutkan Dengan Manambah Tiga Faktor Pelengkap Lainnya Yang Memperkaya Modelnya. Misalnya Lagi, Pengalaman Yang Dialami Dan Dirasakan Dalam Hidup, Tetap Merupakan Suatu Privasi Seseorang, Namun Kata Dan Nilai Rasa Menjadi Milik Umum, Dialog Adalah Suatu Peristiwa Yang Menghubungkan Dua Peristiwa, Berbicara Dan Mendengar.
Namun, Dengan Kriteria Semacam Ini, Hanya Akan Memberikan Salah Arah, Sebagaimana Yang Diatakan Benveniste, Semata Peristiwa Mudah Berlalu Dan Sirna. Dengan Begitu Ilmu Linguistik Akan Menjadi Justifikasi Pengenyampingannya, Dan Prioritas Ontologis-Aksiologis Yang Menjadi Siginifikansi Dan Tanpa Konsekwensi. Keberlakuan Nilai Tidak Hanya Bersifat Transhistoris Dan Sirna, Tapi Kekal Abadi.
Dengan Melalui Interpretasi Suatu Perubahan Teks Kata Ke Dalam Suatu Teori Sistematis Dan Komprehensif, Berusaha Mengeksplanasikan Keutuhan Nilai Rasa Manusia Dalam Beragam Cara Penggunaan Di Mana Kata Itu Diletakkan. Kata-Kata Juga Bisa Dibaca Secara Terpisah, Namun Sedikit Demi Sedikit Hanya Sebagai Alat Bagi Solusi Terhadap Suatu Problem Tunggal, Yaitu Pemahaman Terhadap Kata Pada Tingkat Hasil Karya Tertentu Seperti Puisi, Cerpen, Dan Esai, Yang Bersifat Literer. Dengan Kata Lain Semua Karya-Karya Secara Khsusus, Dan Kata-Kata Sebagi Sebuah Karya Pada Umunya Adalah Karya Itu Sendiri.
Dalam Maraknya Karya-Karya Di Era Kontemporer Yang Tidak Hanya Mengidentifikasikan Suatu Tema Penting, Namun Juga Suatu Kebutuhan Yang Mendesak Untuk Re-Elaborasi Problematika Kata Yang Menandai Zaman. Bahasa (Kata) Seperti Yang Dikutip Oleh Martin Heidegger Adalah Sebagai Tempat Tinggal Manusia (The House Of Being), Karena Dengan Bahasa Atau Kata Kita Dapat Mengungkap Apa Yang Kita Inginkan. Dengan Kata Pula, Makna Hadir Dengan Bebasnya Dalam Atmosfir Kesadaran Kita. Kata-Kata Adalah Satu-Satunya Pilihan Untuk Menampakkan Realitas Yang Kita Pun Tidak Mampu Meredamnya. Lalu Bagaimana Memahami Nilai Rasa, Kata Itu Dan Bagaimana Kita Merengutnya? Tentunya Dengan Interpretasi Kita Dapat Melakukan Semua Itu.
Demikian Juga, Segala Aspek Nilai Tidak Akan Lepas Dari Kata Sebagai Nilai, Baik Nilai Kata, Nilai Rasa, Dan Predikat, Serta Dialektika Kata-Kata Dan Nilai. Walau Pun Sudah Dengan Jalan Teori-Teori Para Pakar Kata-Kata, Mereka Tidak Lepas Dari Beberapa Hal Yang Berkaitan Dengan Perkataan Dan Tulisan, Yang Membahas Metaforisme Baik Metafora Semantik-Semiotik, Simbol, Eksplanasi-Pemaknaan Yang Mengandung Nilai Rasa.

Comments (63)


“MENTERTAWAI KEPAHITAN HIDUP DENGAN JAZZ DAN BLUES”

Filed under: CATATAN DAN RENUNGAN,KNOWLEDGEMENT,MUSIC REFFERENCES — Tag: , — KING JAZZ (Bayu Wirawan) @ 09.07

“MENTERTAWAI KEPAHITAN HIDUP DENGAN JAZZ DAN BLUES”

Saya sangat menyukai black music, at least yang diasosiasikan dengan black culture, seperti blues, jazz atau reggae (kecuali rap). Dua yang saya sebut pertama sering mendominasi musical taste saya, sampai saat ini. Ayah saya, seorang penikmat blues dan jazz (dia yang pertama kali memperkenalkan saya dengan blues melalui lengkingan gitar Jimmy Hendrix), selalu bicara bahwa blues adalah sebuah soul music, the real soul music. Saya tak membantahnya, terlepas bahwa segala jenis musik tentu lahir dari sebuah pemicu di hati (what can I say?), tapi tentu kadang-kadang kita bisa menilai mana lagu dan melodi yang benar-benar membuat kita bergetar dan merinding, dan mana yang biasa-biasa saja. New Orleans sering disebut-sebut sebagai tempat cikal bakal lahirnya musik Jazz, dimana para budak kulit hitam memainkan musik untuk mengisi waktu senggang mereka selepas bekerja di ladang-ladang kapas yang kering. Dengan native mereka sebagai orang Afrika yang kaya akan bunyi-bunyian dan musik ritmis, muncullah musik jazz yang begitu kaya dan unik. Ketika para budak kulit hitam ini mulai bebas dan menyebar di seantero Amerika setelah era Perang Sipil dan Emansipasi, maka mereka mulai mencari nafkah dengan memainkan musik, yang kemudian berkembang menjadi blues music. Mengapa disebut blues ? Ya, benar perkiraan anda. Musik dan lirik blues benar-benar dihasilkan dari suasana hati yang meradang, meratap, berteriak tentang situasi sehari-hari. Berbeda dengan kita yang mengistilahkan masa-masa kelam dengan istilah ‘kelabu’, maka orang Barat mewarnai kesedihan dan kepahitan dengan warna biru, ‘blue. Apakah anda bisa membayangkan ketika seorang budak kulit hitam di masa lalu, teringat akan kepedihannya jauh dari kampung halaman dan tertindas, di tengah ladang-ladang kapas, kemudian meneriakkan semua perasaannya dalam sebentuk musik yang getir, magis, namun sangat indah ? Itulah blues, kata ayah saya, dan itulah jazz, lanjutnya lagi. Mendengar melodi-melodi blues dari gitar yang saling susul menyusul, meraung dan mengerang, seperti lirik salah satu lagu blues tertua yang berkata : Two nineteen done took my baby away, Two nineteen took my babe away, Two seventeen gonna bring her back some day. Sebuah musik yang benar-benar berasal dari hati ! Itulah yang saya sukai dari Blues dan Jazz, disamping rasa egaliter yang kental dalam musik ini. Kalau kemudian dalam perkembangannya, jazz dan blues menjadi (seolah-olah) konsumsi high-class, yang kemudian dibungkus dengan canggih oleh industri musik menjadi sebuah komoditi yang eksklusif, ya itu sah-sah saja di mata saya. Tapi kembali lagi, menikmati musik jazz & blues dan membaca native yang ada di dalamnya, yang kita temukan adalah sebuah soul music yang kental dengan nuansa egaliter dan semangat pembebasan. Semangat pembebasan dalam jazz ditandai dengan adanya session improvisasi dalam setiap lagu, dimana seorang pemain memainkan penafsirannya terhadap lagu (dengan alat musiknya tentu saja), tetapi tetap dalam koridor permaian bersama. Semangat egaliter adalah ketika setiap pemain saling berkomunikasi melalui alat musiknya. Itulah nuansa-nuansa jazz yang tidak dimiliki oleh jenis musik lain, dan setiap orang berhak menikmati nuansa-nuansa tersebut dalam musik ini. Jazz adalah musik rakyat Amerika, disamping country. Bisa sedikit dianalogikan dengan musik dangdut buat orang Indonesia. Jazz sangat lentur dan fleksibel, dan mudah untuk berinteraksi dengan jenis musik lain. Karenanya kita sering mendengar istilah jazz rock, acid jazz, cuban jazz, hip-hop, mainstream dan lain-lain dengan tokoh-tokoh seperti Dizzie Gillespie, Louie “Si Terompet Maut” Armstrong, Chick Corea, Nat Cing Cole, All Jarreau, Bob James, Lee Ritenour, hingga ke era Diana Krall dan Norah Jones. Untuk Indonesia, kita bisa menyebut beberapa diantaranya seperti almarhum Jack Lesmana, Karimata, Krakatau, Indra Lesmana, Syaharani dan si bakat besar dunia jazz Indonesia, Andien. Nama yang terakhir, kebetulan, saya ingat, karena sempat berkorespondensi dengan email beberapa tahun lalu, karena Andien adalah user di RAD-Net (salah satu ISP terbesar di Indonesia) waktu itu dan saya adalah salah satu webmaster di RAD-Net. So, rilleks-kan pikiran anda, nikmati secangkir kopi kental, dan buang keluar semua keruwetan dunia sambil tersenyum dengan jazz dan blues ! Bukankah hal yang paling indah dan mengasyikkan adalah tersenyum dan tertawa atas semua kegetiran dan kepahitan yang telah singgah di hidup kita ? Jadi, sambil meneguk sisa-sisa espresso, saya harus tutup tulisan ini sambil mendengar My Funny Valentine yang dinyanyikan oleh Andien. Di track berikutnya sudah menunggu Diana Krall dan Norah Jones. 

Comments (62)


Valid XHTML 1.0 Transitional© 2008 | BAYU WIRAWAN (KING JAZZ) MASTERPIECES
'Twilight' Wordpress theme | Powered by Atillus