BAYU WIRAWAN (KING JAZZ) MASTERPIECES

FOREVER "KING JAZZ" MASTEPIECING

Posts Tagged ‘KELEBIHAN PUISI DAN FILSAFAT’

KELEBIHAN PUISI DAN FILSAFAT

Filed under: CATATAN DAN RENUNGAN — Tag: , — KING JAZZ (Bayu Wirawan) @ 02.43

KELEBIHAN PUISI DAN FILSAFAT

Tentunya Kita Semua Tahu Bahwa Kalau Berbicara Kelebihan, Pasti Semua Di Dunia Ini Memiliki Kelebiha Dan Kekurangan, Tapi Di Sini Penulis Tidak Ingin Melihat Kekurangan Dalam Setia Sesuatu, Agar Kelebihan Selalu Berpihak Kepada Kita.

Sastra Dalam Hal Ini Adalah Puisi Merupakan Ekspresi Kreatif Dari Renungan Sastrawan Terhadap Kehidupan Masyarakat, Jadi Yang Menjadi Terekspresi Bisa Berupa Hiburan, Pencerahan, Komentas Atas Situasi, Rangkuman, Potret Keadaan, Karikatur, Symbolisme, Ekspresi Tragedy Atau Tragis Dengan Mini Kata Pertunjukan. Jadi Dalam Hal Ini Sastrawan Melahirkan Ide-Ide Pencerahan Dan Pembaruan.

Kelebihan Puisi Yang Bersumber Pada Imajinasi Terletak Pada Kemampuannya Tidak Hanya Menjadi Model Identifikasi, Tapi Juga Bagaimana Mendorong Kita Membuat Konstruksi Mengenai “Aku” Lebih Luas Dari Kerangka Model-Model Psikologi.

Puisi Adalah Sebuah Pesta Atau “Perayaan” Dari Realitas. Filsafat Adalahdiscovery, Yang Lalu Dipresentasikan Dalam Sistematisasi Rasional. Puisi Dan Filsafat Memliki Kesamaan Dalam Usaha Mengekspresikan Berbagai “Kebenaran” Kehidupan Kita, Termasuk Kejiwaan, Hidup Batin, Gejolak Tulus Dari Rasa Maupun Nurani. Bedanya, Kalau Puisi Menggunakan Medium Bahasa Konvensi Padat Dan Gumpalan Kata-Kata Serti Berfungsi Sebagai “Perayaan”, Sedangkan Filsafat Lebih Bagaimana Memaparkan Dan Mengurai Kebenaran Secara Sistematis-Rasional.

Sastrawan, Sebagai Tuan Atas Hidup Batin (Rasa Dan Imaji), Lalu Mengekspresikan Lewat Kata-Kata. Kata-Kata Menjadi Model Dari Kehidupan Batin Dan Pribadi Kita Sebagai Orang Selalu Peka Terhadap Realitas. Puisi Merupakan Bentuk Rekaan Atau Imajinasi Yang Bisa Membahasan Kehidupan Batin Atau Masyarakat Menjadi Hidup Privat.

Di Sisi Yang Lain Sastrawan Tampil, Untuk Mengekspresikan Imajinasi Dirinya, Renungannya Mengenai Kehidupan Masyarakat, Atau Di Pihak Lain, Lebih Jauh Melangkah Berktekad Ingin Menyodorkan, Mencerahkan Atau “Menjatuhkan Kerikil Di Danau Tenang Yang Lalu Membuat Pendar Gelombang Di Atas Air Danau Itu, Semakin Banyak Yang Menjatuhkan Kerikil, Maka Semaki Gelombang-Gelombang Itu Menjadi Banyak Dan Ketenangan Danau Diguncang-Bangun”.

Sepertinya Para Sastrawan Menjadi Dokter Yang Bisa Menyembuhkan Orang Sakit. Menurut Bidan Soctates Dalam Melahirkan Kesadaran Mengenai Keindahan Dan Kebenaran. Dalam Bersikap Sastrawan Menghadapi Komplikasi Hak Kemerdekaan Ekspresi, Maka Ketika Terjadi Konflik Kepentingan Antara Kebebasan Sastrawan Dan Aturan, Bahasa Structural Kepastian Tentang Tanggungjawab Terhadap Peradaban Masyarakat Seringkali Masung Kreativitasnya.

Dalam Hal Ini, Sastrawan Harus Memilik Kesadaran Untuk Menjadi Komentator Kehidupan Social Atau Mengajak Masyarakat Untuk Tidak Hanya Pada Satu Gelombang Nilai Hedonis-Materialistis Dan Kemabli Pada Dasar Religiusitas, Solidaritas Pada Yang Sengsara Dan Papa Dari Sesame Dan Hormat Pada Mertabat Sesama Manusia. Namun, Semua Ini Tidak Akan Bisa Terolah Menjadi Matang Sebagai Ucapan Kejujuran Nurani Sastrawan-Sastrawan, Jika Proses Kreativitas Di Batasi. Maka, Jika Di Batasi, Sastra Yang Kreativ Akan Sama Posisinya Dengan Kesenian Pesanan Yang Telah Diatur Dan Direkayasa Oleh Pengaturnya.

Artinya Kita Harus Sadar Akan Kesadaran Dunia Ini Bahwa Kesadaran Bernilainya Setiap Manusia Sebagai Sesama Manusia. Maka, Wilayah Kebebasan Berkreasi Lalu Menjadi Wilayah Yang Subjektifitas Manusia. Sosiolog Max Weber Memberi Cara Bagaimana Memahami Subjektifitas Individu Dalam Realitas Social Itu Dengan Metode Verstehen, Pemahaman Subjektivitas Seseorang Lewat Tindakan-Tindakannya Yang Dicoba Mengerti Dampak Sosialnya.

Dengan Melihat Fenomena Tersebut, Kita Melihat Bahwa Tempat-Tempat “Kebebasan Berekspresi” Adalah Wilayah “Kesucian” Hak Asasi Manusia. Sementara Pengaturan Terhadapnya Baru Relevan Kalau Hasil Kebebasan Berkreasi Itu Mulai Masuk Ke Wilayah Sosialitas Manusia Atau Wilayah Hidup Bersama. Maka Kita Membutuhkan Penjernihan Pembedaan Ini Harus Dipertajam Batasnya. Kalau Batas “Wilayah Subjek” Dan “Wilayah Sosial” Atau “Objektifitas” Manusia, Maka Akan Jelas Pengaturannya. Singkatnya, Wilayah Subjek Masyarakat (Sastrawan) Adalah Wilayah Hak Dan Kebebasan Untuk Berkreasi Dalam Hal Ini Seni, Puisi Dan Filsafat. Sedang Pada Saat Kreasi Itu Dimasyarakatkan Atau Dipublikasikan Ke Masyarakat, Maka Kita Mulai Memasuki Wilayah Sosialitas Dan Objektivitas Tadi.

Dengan Membedakannya, Kita Bisa Menarik Benang Merah Bahwa Kesadaran Menjadi Sangat Penting Kita Tanam Sebagai Alat Untuk Mengolah Rasa. Artinya Rasa Dalam Hal Ini Menjadi Penting Juga, Karena Dengan Adanya Ruang Rasa Sastrawan Lebih Sensitive Terhadap Diri Dan Sekitarnya Sebagai Inspirasi Kreatif. Dan Sebagai Renungan “Sepertinya Aku Tak Bisa Mengurai Detik Yang Begitu Rapat Di Apit Gelombang”.

 

Comments (2.204)


Valid XHTML 1.0 Transitional© 2008 | BAYU WIRAWAN (KING JAZZ) MASTERPIECES
'Twilight' Wordpress theme | Powered by Atillus