KENDANG BEBARONGAN DALAM KARAWITAN BALI

This post was written by indrakesumajaya on April 24, 2012
Posted Under: Tulisan

Kendang Dalam Karawitan Bali

Membicarakan kendang Bali tentunya tidak bisa dipisahkan dari seni karawitan yang dimilikinya. Yang dimaksud dengan karawitan Bali atau karawitan dalam arti yang lebih luas adalah music tradisional Indonesia. Namun secara khusus , seni karawitan Bali adalah music tradisional yang berasal dari Bali yang nilai-nilai musikalnya tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan sosiokultural masyarakatnya.

Secara umum seni karawitan Bali dapat dibagi kedalam tiga kelompok, yaitu: seni karawitan vokal (tembang), seni karawitan instrumental, dan seni karawitan vokal-instrumental. Seni karawitan vokal (tembang adalah suatu bentuk music tradisi yang mempergunakan vokal manusia sebagai media ungkap, seni karawitan instrumental adalah seni karawitan bali yang mempergunakan instrument atau gambelan sebagai media ungkap berkreativitas, sedangkan seni karaitan vokal-instrumental adalah seni karawitan yang di dalamnya menggabungkan unsure vokal dan instrumental.

Kendang Bebarongan

Kendang Bali dapat dimainkan secara berpasangan maupun secara individu. Jika dimainkan secara berpasangan maka kendang itu dinamakan kendang lanang dan kendang  wadon. Kendang lanang ialah kendang yang mempunyai suara lebih kecil atau tinggi, sedangkan kendang wadon ialah kendang yang suaranya lebih besar ataupun lebih rendah. Dalam karawitan Bali dapat ditemukan berbagai macam jenis kendang.

 

 

Jenis-jenis Kendang Bali

Keanekaragaman jenis kendang bisa dilihat dari bermacam ukurannya mulai dari yang besar sampai dengan yang kecil. Beberapa contoh jenis kendang Bali diantaranya, kendang mebarung, kendang cedugan, kendang tambur, kendang gupekan, kendang bebarongan, kendang krumpungan, kendang batel dan kendang angklung.

Kendang  mebarung merupakan jenis kendang dengan ukuran yang terbesar dalam karawitan Bali. Ukuran kendang ini bisa mencapai panjang 185-200cm dengan diameter 74-80cm.

Kendang tambur merupakanjenis kendang dengan ukuran terbesar kedua. Kendang tambur dapat dijumpai di Kabupaten Karangasem dan dipergunakan untuk dua hal yaitun sebagai pelengkap dalam konteks upacara Dewa Yadnya dan juga untuk mengiringi prajurit kerajaan yang akan berangkat ke medan perang.

Kendang bedug atau bebedug salah satu jenis kendang yang mirip bentuk dan cara permainannya dengan kendang tambur, akan tetapi memiliki ukuran yang lebih kecil.

Kendang cedugan adalah kendang yang dalam teknik permainanya menggunakan panggul. Oleh karena itu, kendang ini juga disebut dengan nama kendang pepanggulan.

Kendang gupekan merupakan salah satu jenis kendang yang cara memainkanya adalah dengan memukul memakai tangan. Kendang ini kerap kali dipergunakan untuk mengiringi gamelan Gong Kebyar.

Kendang bebarongan adalah kendang yang secara khusus terdapat dalam barunga gambelan bebarongan. Jenis kendang ini mempunyai panjang sekitar 62-65cm, garis tengah tebokan besar 26-28cm dan garis tengah tebokan kecil 21,5-23cm. Kendang bebarongan ini termasuk dalam ukuran kendang yang tanggung.

Kendang krumpungan, kata krumpungan berasal dari kata pung yaitu menirukan suara kendang tersebut (onomatopea atau peniruan bunyi). Jenis kendang ini dipukul hanya menggunakan tangan. Kendang ini biasanya dipergunakan untuk mengiringi gambelan pegambuhan dan gambelan palegongan.

Kendang batel mempunyai banyak kesamaan dengan kendang krumpungan baik dari segi bentuk maupun cara memainkannya. Adapun perbedaan antara kendang batel dengan kendang krumpungan adalah kendang batel memiliki ukuran yang sedikit lebih kecil dari kendang krumpungan.

Kendang angklung merupakan jenis kendang terkecil dari semua jenis kendang di Bali. Kendang ini mempunyai ukuran panjang antara 25-27cm, diameter tebokan besar 12-17cm dan diameter tebokan kecil antara 7-12cm.

Proses Pembuatan Kendang Bebarongan 

Secara umum proses pembuatan kendang Bali adalah sama. Langkah pertama yang dilakukan dalam pembuatan kendang bebarongan adalah mencari dewasa ayu—waktu yang baik- agar mendapatkan keselamatan dalam bekerja dan kendang yang diciptakan nantinya memiliki kualitas yang baik. Mulai dari hari untuk menebang pohon ditentukan dengan mempertimbangkan sistem sasih – masa – dan pawukon (wewaran). Sasih yang baik adalah sasih karo, kawulu, dan kesanga yang biasanya disebut sasih berag (kurus). Dalam perhitungan wewaran yang terpenting tidak jatuh pada ingkel taru, wewaran : was (beteng) dan menghindari pasah. Sebelum menebang pohon, biasanya akan dihaturkan canang sari dan segehan. Waktu penebangan sangat diperhitungkan agar tidak termakan rayap, tidak mudah pecah dan mempunyai ketahanan dari segi usia.

Setelah kayu di potong lalu mencari hari baik untuk memulai bekerja atau nuasen. Hari tersebut adalah hari-hari yang bertepatan dengan dewasa: karna sula, kala geger, aswajag turun dan bojog turun. Setelah kendang tersebut selesai digarap lalu diupacarai yang disebut dengan istilah ngulapin atau masupati, maksud dari upacara ini adalah memohon kjepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar instrument tersebut menghasilkan suara sesuai dangan yang diinginkan, sekaligus dapat dipergunakan dalam konteks upacara.

Adapun jenis-jenis kayu yang dipergunakan untuk pembuatan bantang kendang bebarongan, antara lain : kayu tewel- nangka-,intaran, mahoni, waru, Kendal, poh gading, cempaka, kayu soren, belalu, nayur, taeb, sentul, tenggulun, temuli gending, waru lod, dan seseh. Kayu yang dianggap paling bagus untuk bantang kendang bebarongan  adalah kayu nangka.

Selain dari pemilihan kayu, penentuan jenis kulit sebagai penukup kendang juga harus diperhatikan. Dalam nukub kendang bebarongan,  jenis kulit yang dipergunakan adalah kulit sapi yang masih muda atau godel. Jenis godel yang dipergunakan adalah godel  betina karena mempunyai jenis kulit yang lebih lemas dan lentur dari pada yang jantan.

Fungsi Kendang Bebarongan

Gambelan bebarongan merupakan salah satu barungan gambelan Bali yang memakai laras pelog lima nada. Barungan gambelan ini terdiri dari beberapa instrument yaitu

  • Sebuah kendang bebarongan
  • Dua tungguh gender rambat dengan jumlah bilah 13 atau 14
  • Dua tungguh gender barangan dengan jumlah bilah 13 atau 14
  • Empat tungguh gangsa gantung pemade dengan jumlah bilah 5 atau 6
  • Empat tungguh gangsa gantung kantil dengan jumlah bilah 5 atau 6
  • Dua tungguh gansa jongkok pemade  dengan jumlah bilah 5 atau 6
  • Dua tungguh gansa jongkok kantil  dengan jumlah bilah 5 atau 6
  • Dua tungguh jublag  dengan jumlah bilah 5 atau 6
  • Dua tungguh jegogan dengan jumlah bilah 5 atau 6
  • Sebuah gong bebarongan
  • Sebuah  kemong
  • Sebuah klenang
  • Satu  tungguh gentorag
  • Sebuah kajar
  • Satu pangkon cengceng
  • Beberapa buah (4-5) suling
  • Sebuah rebab

Teknik Menabuh Kendang Bebarongan

Ada satu hal yang penting yang harus diperhatikan oleh juru kendang, yaitu sikap duduk dalam bermain kendang sebab sikap duduk yang baik dan benar akan sangat menentukan kenyamanan dalam bermain kendang. Dalam memainkan kendang bebarongan, juru kendang harus duduk bersila dengan posisi kendang di atas paha. Bagian depan kendangberada di sebelah kanan. Posisi kendang sejajar dengan bahu kanan penabuh, badan harus tegak dan perut harus ‘dikunci’. Dengan posisi badan yang tegak dan pandangan kedepan akan menambah kewibawaan seorang pemain kendang, disebut dengan istilah nogdog jejerih.

Untuk mendapat suara kendang sesuai dengan yang diinginkan dilakukan dengan jalan mengatur posisi sompe (pengatur suara kendang yang berbentuk cincin terbuat dari jangat). Cara mengatur tinggi rendahnya suara kendang adalah dengan jalan mengatur sompe baik kearah muwa kanan maupun muwa kiri kendang. Pengaturan suara kendang dapat juga dilakukan dengan cara memukul bagian wakis –salah satu bagia dari kendang yang terbuat dari bamboo dan kawat yang berbentuk cincin dan berfungsi untuk memegang penukub dan tali- dan penukub kendang pada kedua bagian (muwa).

Menurut I Wayan Suweca baik buruknya suara kendang juga ditentukan oleh faktor-faktor seperti :

  • Ukuran kendang (panjang dan diameternya)
  • Bentuk ruang dalamnya, termasuk besarnya pakelit
  • Tebal dan lemasnya kulit
  • Jenis kayu bantang kendang
  • Suhu dan kelembaban udara (pada cuaca yang sangat lembab atau dingin, suara kendang akan berubah)
  • Ketrampilan juru kendangnya
  • Pemeliharaan kendang

Warna Suara Kendang Bebarongan

Adapun yang dimaksud dengan warna suara kendang bebarongan adalah jenis jenis suara yang dihasilkan. Apabila menggunakan panggul maka muwa kanan dapat menghasilkan tiga jenis suara yaitu Dug, Tek dan Tep. Suara tek diperoleh dengan cara memukul muwa kanan dengan panggul dan muwa kiri ditutup sepenuhnya dengan tangan kiri. Sedangkan muwa kiri menghasilkan dua warna suara yaitu pak dan kung.

Pupuh Kendang Bebarongan

Pupuh kendang bebarongan adalah gabungan dari beberapa warna suara kendang sehingga menghasilkan suatu pola kekendangan khas bebarongan. Pupuh kekendangan bebarongan terdiri dari pupuh kekendangan pokok dan pupuh kekendangan yang dikembangkan. Pupuh kekendangan yang dikembangkan pada dasarnya mengacu pada pupuh kekendangan pokok. Dalam hal pengembangan ini sangat tergantung dari kemampuan atau skill dan rasa estetis dari juru kendang itu sendiri.

Pupuh Kekendangan Pokok Dengan Menggunakan Panggul

Yang dipakai dasar dalam pupuh kekendangan pokok adalah gending jenis gilak yang sering disebut gilak bebarongan. Gilak bebarongan terdiri dari delapan ketukan dalam satu frasenya (satu gong-an). Pada pupuh kekendangan pokok bebarongan pukulan pak atau keplak jatuh tepat pada ketukan, sedangkan cedugannya megantung atau sering disebut dengan istilah nyatotin. Dengan jatuhnya keplakan tepat pada ketukan dan cedugan megantung maka tangan kiri akan berfungsi sebagai pemegang mat sedangkan tangan kanan memalui cedugan akan bermain megantung atau off beat. Dengan demikian akan terjadi keseimbangan sebagai dasar dari pupuh kekendangan barong.

Pupuh Kekendangan Pengembangan

Berdasarkan pupuh pokok di atas maka, seara bertahap pupuh pokok itu akan dikembangkan sesuai dengan kemampuan juru kendang itu sendiri. Caranya adalah sebagai berikut ini :

  1. Langkah pertama adalah membuat keplakan menjadi megantung sehingga keplakan dan cedugan akan megantung.
  2. Pengembangan kedua dilakukan dengan jalan melipatkan jatuhnya cedugan pada gong kedua
  3. Pengembangan ketiga keplakan tetap megantung, sedangkan cedugan ditambah variasinya naming tetap dipukul megantung.
  4. Pengembangan lebih lanjut adalah dengan jalan melipatkan keplakan maupun cedugan dengan teknik megantung, sehingga pupuhnya menjadi sangat rumit.

 

Pupuh Kekendangan Pokok Tanpa Menggunakan Panggul

Pada dasarnya sama dengan pupuh kekendangan pokok yang menggunakan panggul, yaitu sama-sama nyatotin baik keplakan,ceditan, maupun suara pung.

Pupuh Kekendangan Pengembangan

Pupuh kekendangan pengembangan tanpa menggunakan panggul pada prinsipnya adalah sama dengan teknik pengembangan dengan mempergunakan panggul, dan masih mempertahankan cirri khas bebarongan yakni nyatotin.

Hubungan Antara Pupuh kekendangan Dengan tari Barong

Dilihat dari hubungan antara pupuh kekendangan dengan tari barong , ternyata keduanya memiliki hubungan yang sangat erat. Dalam hal ini, tari (juru bapang) akan bertindak sebagai pemberi aba-aba dan selanjutnya direspon oleh tukang kendang dan seluruh pemain gamelan sehingga terjadilah perubahan dinamika gending yang disebut dengan istilah angsel. Ada empat jenis angsel yang didapatkan dalam hubungan ini yaitu : angsel bawak (pendek), angsel numpuk (berlipat), angsel kado (tidak sempurna) dan angsel lantang (panjang). Selain keempat angsel tersebut, apabila juru bapang memberi aba-aba berupa kipekan (menoleh kekanan atau kekiri) maka akan direspon oleh juru kendang dengan keplakan.

Comments are closed.

Next Post: