ibgirimantra

Blog

Archive for the ‘Karya’ Category

TUGAS SENI PERTUNJUKKAN INDONESIA

Filed under: Karya — ibgirimantra @ 11:42 am

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas ‘Hari Raya Nyepi’ adalah hari raya umat Hindu yang dirayakan setiap tahun Baru Saka. Hari ini jatuh pada hitungan Tilem Kesanga (IX) yang dipercayai merupakan hari penyucian dewa-dewa yang berada di pusat samudera yang membawa intisari amerta air hidup. Untuk itu umat Hindu melakukan pemujaan suci terhadap mereka. Nyepi berasal dari kata sepi (sunyi, senyap). Hari Raya Nyepi sebenarnya merupakan perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan/kalender caka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Tidak seperti perayaan tahun baru Masehi, Tahun Baru Saka di Bali dimulai dengan menyepi. Tidak ada aktivitas seperti biasa. Semua kegiatan ditiadakan, termasuk pelayanan umum, seperti Bandar Udara Internasional pun tutup, namun tidak untuk rumah sakit. Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, untuk menyucikan Bhuana Alit (alam manusia/microcosmos) dan Bhuana Agung/macrocosmos (alam semesta).

Perayaan Tahun Saka pada bulan Caitra ini dijelaskan dalam Kakawin Negara Kertagama oleh Rakawi Prapanca pada Pupuh VIII, XII, LXXXV, LXXXVI – XCII. Di Bali, perayaan Tahun Saka ini dirayakan dengan Hari Raya Nyepi berdasarkan petunjuk Lontar Sundarigama dan Sanghyang Aji Swamandala. Hari Raya Nyepi ini dirayakan pada Sasih Kesanga setiap tahun. Biasanya jatuh pada bulan Maret atau awal bulan April. Beberapa hari sebelum Nyepi, diadakan upacara Melasti atau Melis dan ini dilakukan sebelum upacara Tawur Kesanga. Upacara Tawur Kesanga ini dilangsungkan pada tilem kesanga. Keesokan harinya, pada tanggal apisan sasih kadasa dilaksanakan brata penyepian. Setelah Nyepi, dilangsungkan Ngembak Geni dan kemudian umat melaksanakan Dharma Santi.

1.2 RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimanakah  Pengertian Dan Makna  Hari Raya Nyepi ?

2. Bagaimanakah Pelaksanaan Perayaan Hari Raya Nyepi Dan Pelaksanaan Pawai

Ogoh-  Ogoh  Pada Tawur Kesanga ?

BAB II

PEMBAHASAN

 

 

 2.1 Pengertian Dan Makna Hari Raya Nyepi

 

Jika kita perhatikan tujuan filosofis Hari Raya Nyepi, tetap mengandung arti dan makna yang relevan dengan tuntutan masa kini dan masa yang akan datang. Melestarikan alam sebagai tujuan utama upacara Tawur Kesanga tentunya merupakan tuntutan hidup masa kini dan yang akan datang. Bhuta Yajña (Tawur Kesanga) mempunyai arti dan makna untuk memotivasi umat Hindu secara ritual dan spiritual agar alam senantiasa menjadi sumber kehidupan.

  1. Tawur Kesanga juga berarti melepaskan sifat-sifat serakah yang melekat pada diri manusia. Pengertian ini dilontarkan mengingat kata “tawur” berarti mengembalikan atau membayar. Sebagaimana kita ketahui, manusia selalu mengambil sumber-sumber alam untuk mempertahankan hidupnya. Perbuatan mengambil akan mengendap dalam jiwa atau dalam karma wasana. Perbuatan mengambil perlu dimbangi dengan perbuatan memberi, yaitu berupa persembahan dengan tulus ikhlas. Mengambil dan memberi perlu selalu dilakukan agar karma wasana dalam jiwa menjadi seimbang. Ini berarti Tawur Kesanga bermakna memotivasi ke-seimbangan jiwa. Nilai inilah tampaknya yang perlu ditanamkan dalam merayakan pergantian Tahun Saka. Menyimak sejarah lahirnya, dari merayakan Tahun Saka kita memperoleh suatu nilai kesadaran dan toleransi yang selalu dibutuhkan umat manusia di dunia ini, baik sekarang maupun pada masa yang akan datang. Umat Hindu dalam zaman modern seka-rang ini adalah seperti berenang di lautan perbedaan. Persamaan dan perbedaan merupakan kodrat. Persamaan dan perbedaan pada zaman modern ini tampak semakin eksis dan bukan merupakan sesuatu yang negatif. Persamaan dan perbedaan akan selalu positif apabila manusia dapat memberikan proporsi dengan akal dan budi yang sehat. Brata penyepian adalah untuk umat yang telah meng-khususkan diri dalam bidang kerohanian. Hal ini dimaksudkan agar nilai-nilai

Hari raya Nyepi oleh umat hindu di Bali dirayakan sebagai hari pergantian tahun baru Caka. Hari raya ini menurut penanggalan hindu jatuh pada tanggal satu (penanggal pisan) sasih X (kedasa) atau tepatnya sehari sesudah tilem ke IX (kesanga). Terdapat beberapa rangkaian pelakasanaan hari raya Nyepi ini , yaitu :

1.Melasti
Melasti sering disebut dengan Melis atau Mekiis. Upacara melasti ini dilakukan pada pengelong 13 sasih kesanga (tepatnya traodasa kresnapaksa sasih IX). Pada upacara melasti ini dilakukan pensucian atau pembersihan segala sarana atau prasarana persembahyangan. Alat-alat atau sarana persembahyangan yang dibersihkan antara lain adalah: pratima dan pralingga. Sarana-sarana ini selanjutnya diusung ke tempat pembersihan seperti laut (pantai) atau sumber mata air lain yang dianggap suci, sesuai dengan keadaan tempat pelaksanaan upacara (desa, kala, patra). Tujuan dari upacara melasti ini adalah untuk memohon tirtha amerta sebagai air pembersih dari Hyang Widhi.

2.Tawur Kesanga     
Tawur kesanga jatuh sehari sebelum pelaksanaan hari raya nyepi yaitu pada tilem kesanga. Pada upacara tawur ini dilakukan persembahan kepada para bhuta berupa caru. Caru ini dipesembahkan agar para bhuta tidak menurunkan sifat-sifatnya pada pelaksanaan hari raya nyepi. Hal ini juga bertujuan untuk menghilangkan unsur-unsur jahat dari diri manusia sehingga tidak mengikuti manusia pada tahun berikutnya. Upacara tawur kesanga ini sering juga disebut dengan upacara pecaruan dan juga tergolong upacara bhuta yadnya.

3.Hari Nyepi
Hari raya nyepi dirayakan oleh umat dengan cara melakukan Catur Bratha Penyepian. Catur bratha penyepian terdiri dari empat macam pantangan yaitu: amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bekerja) dan amati lelanguan (tidak melakukan kegiatan hiburan). Semua pantangan in dilakukan untuk mengekang hawa nafsu dan segala keinginan jahat sehingga dicapai suatu ketenangan atau kedamaian batin. Dengan ini pikiran manusia bisa terintropeksi atas segala perbuatannya pada masa lalu dan pada saat yang sama memupuk perbuatan yang baik untuk tahun berikutnya. Semua ini dilakukan selama satu hari penuh pada hari raya nyepi.

4.Ngembak Geni      
Sehari setelah hari raya nyepi, semua aktivitas kembali berjalan seperti biasa. Hari ini dimulai dengan persembahyangan dan pemanjatan doa kepada Hyang Widhi untuk kebaikan pada tahun yang baru. Pada hari ngembak geni ini hendaknya umat saling bersilatuahmi dan memaafkan satu sama lain.

Hari raya nyepi pada hakekatnya adalah hari pengekangan hawa nafsu dan intropeksi diri atas segala perbuatan yang dilakukan pada masa lalu. Pelaksanaan hari raya nyepi ini harus didasari dengan niat yang kuat, tulus dan ikhlas tanpa ada ambisi tertentu. Pengekangan hawa nafsu untuk mencapai kebebasan batin memang suatu ikatan tetapi ikatan itu dilakukan dengan penuh keikhlasan.

2 .2 Pelaksanaan Hari Raya Nyepi

Bagaimana pelaksanaan Nyepi di luar Bali? Rangkaian Hari Raya Nyepi di luar Bali dilaksanakan berdasarkan desa, kala, patra dengan tetap memperhatikan tujuan utama hari raya yang jatuh setahun sekali itu. Artinya, pelaksanaan Nyepi di Jakarta misalnya, jelas tidak bisa dilakukan seperti di Bali. Kalau di Bali, tak ada kendaraan yang diperkenankan keluar (kecuali mendapat izin khusus), namun di Jakarta hal serupa jelas tidak bisa dilakukan.

Sebagaimana telah dikemukakan, brata penyepian telah dirumuskan kembali oleh Parisada menjadi Catur Barata Penyepian yaitu:

  • Amati geni (tidak menyalakan api termasuk memasak). Itu berarti melakukan upawasa (puasa).
  • Amati karya (tidak bekerja), menyepikan indria.
  • Amati lelungan (tidak bepergian).
  • Amati lelanguan (tidak mencari hiburan).

Pada prinsipnya, saat Nyepi, panca indria kita diredakan dengan kekuatan manah dan budhi. Meredakan nafsu indria itu dapat menumbuhkan kebahagiaan yang dinamis sehingga kualitas hidup kita semakin meningkat. Bagi umat yang memiliki kemampuan yang khusus, mereka melakukan tapa yoga brata samadhi pada saat Nyepi itu. Yang terpenting, Nyepi dirayakan dengan kembali melihat diri dengan pandangan yang jernih dan daya nalar yang tiggi. Hal tersebut akan dapat melahirkan sikap untuk mengoreksi diri dengan melepaskan segala sesuatu yang tidak baik dan memulai hidup suci, hening menuju jalan yang benar atau dharma. Untuk melak-sanakan Nyepi yang benar-benar spritual, yaitu dengan melakukan upawasa, mona, dhyana dan arcana. Upawasa artinya dengan niat suci melakukan puasa, tidak makan dan minum selama 24 jam agar menjadi suci. Kata upawasa dalam Bahasa Sanskerta artinya kembali suci. Mona artinya berdiam diri, tidak bicara sama sekali selama 24 jam. Dhyana, yaitu melakukan pemusatan pikiran pada nama Tuhan untuk mencapai keheningan. Arcana, yaitu melakukan persembahyangan seperti biasa di tempat suci atau tempat pemujaan keluarga di rumah. Pelaksanaan Nyepi seperti itu tentunya harus dilaksana-kan dengan niat yang kuat, tulus ikhlas dan tidak didorong oleh ambisi-ambisi tertentu. Jangan sampai dipaksa atau ada perasaan terpaksa. Tujuan mencapai kebebesan rohani itu memang juga suatu ikatan. Namun ikatan itu dilakukan dengan penuh keikh-lasan.

 

2.3  Pelaksanaan Pawai Ogoh Ogoh Pada  Tawur  Kesanga

Jika dilihat dari aspek tertentu ogoh-ogoh memiliki beberapa definisi, bagi orang awam ogoh–ogoh adalah boneka raksasa yang diarak keliling desa pada saat menjelang malam sebelum hari raya nyepi (ngerupukan) yang diiringi dengan gamelan bali yang disebut BLEGANJUR , kumudian untuk dibakar. Menurut Wilkipedia bahasa Indonesia,”Ogoh-ogoh adalah seni patung dalam kebudayaan bali yang menggambarkan kepribadian Bhuta Khala,” Bhuta berarti waktu yang tidak terukur,sedangkan Khala berarti kekuatan.dari arti kata diatas maka para cendekiawan hindu dharma mengambil kesimpulan bahwa proses perayaan Ogoh-ogoh melambangkan keinsyafan manusia akan kekuatan alam semesta, dan waktu yang maha dasyat, kekuatan itu dapat dibagi dua, pertama kekuatan bhuana agung, yang artinya kekuatan alam raya, dan kedua adalah kekuatan Bhuana alit yang bearti kekuatan dalam diri manusia. kedua kekuatan ini dapat digunakan untuk menghancurkan atau membuat dunia bertambah indah. Sedangkan Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia edisi tahun 1986, Ogoh-Ogoh didefinisikan sebagai ondel-ondel yang beraneka ragam dengan bentuk yang menyeramkan.

Di lain pihak, ditahun 2003 seorang peneliti yang bernama Laura Noszlopy meneliti “Pesta Kesenian Bali; budaya, politik, dan kesenian kontemporer Indosnesia” untuk Yayasan Arts of Afrika mendefinisikan ogoh-ogoh sebagai berikut Ogoh-ogoh adalah patung yang berukuran besar yang tebuat dari bubur kertas dan bahan pelekat yang biasanya dibuat oleh kaum remaja Bali sebagai suatu bagian dari perayaan tahunan “upacara pembersihan” (ngerupukan), yang dilaksanakan sehari sebelum perayaan Nyepi, tahun baru Hindu atau hari Nyepi.

         2.3.1 Awal Mula Munculnya Ogoh-Ogoh

Banyaknya fersi yang yang beredar di masyarakat bali yang menjelaskan tentang awal mula munculnya ogoh-ogoh tersebut , sehingga untuk mengeathui kapan awal mula munculnya ogoh-ogoh secara pasti sangatlah sulit. Diperkirakan ogoh-ogoh tersebut dikenal sejak jaman Dalem Balingkang dimana pada saat itu ogoh-ogoh digunakan pada saat upacara pitra yadnya(upacara yang pemujaan yang ditujukan kepada para pitara dan kepada roh-roh leluhur umat hindu yang telah meninggal dunia). Pendapat lain menyebutkan ogoh-ogoh tersebut terinspirasi dari tradisi Ngusaba Ndong-Nding di desa Selat Karangasem. Perkiraan lain juga muncul dan menyebutkan barong landung yang merupakan perwujudan dari Raden Datonta dan Sri Dewi Baduga (pasangan suami istri yang berwajah buruk dan menyeramkan yang pernah berkuasa di Bali) merupakan cikal-bakal dari munculnya ogoh-ogoh yang kita kenal saat ini. Informasi lain juga menyatakan bahwa ogoh-ogoh itu muncul tahun 70-80’an.. Ada juga pendapat yang menyatakan ada kemungkinan ogoh-ogoh itu dibuat oleh para pengerajin patung yang telah merasa jenuh

membuat patung yang berbahan dasar batu padas, batu atau kayu, namun disisi lain mereka ingin menunjukan kemampuan mereka dalam mematung, sehingga timbul suatu ide untuk membuat suatu patung dari bahan yang ringan supaya hasilnya nanti bisa diarak dan dipertunjukan.

2.3.2 Arak-Arakan Ogoh-Ogoh

Dalam rangkaian Nyepi di Bali yang bertepatan dengan Sasih Kesange (bulan kesange) atau pada penanggalan masehi bertepatan dibulan Maret atau April, upacara yang dilakukan berdasarkan wilayah adalah sebagai berikut:

  • Di ibu kota provinsi dilakukan upacara Tawur.
  • Di tingkat kabupaten dilakukan upacara Panca Kelud.
  • Di tingkat kecamatan dilakukan upacara Panca Sanak.
  • Di tingkat desa dilakukan upacara Panca Sata.
  • Dan di tingkat banjar dilakukan upacara Ekasata.

Sedangkan di masing-masing rumah tangga, upacara dilakukan di natar merajan (sanggah). Di situ umat menghaturkan segehan Panca Warna 9 tanding, segehan nasi sasah 100 tanding. Sedangkan di pintu masuk halaman rumah, dipajangkanlah sanggah cucuk (terbuat dari bambu) yang di tambahi dengan penjor atau dalam bahasa Indonesia biasa disebut umbul-umbul dan di situ umat menghaturkan banten daksina, ajuman, peras, dandanan, tumpeng ketan sesayut, penyeneng jangan-jangan serta perlengkapannya. Pada sanggah cucuk digantungkan ketipat kelan (ketupat 6 buah), sujang berisi arak tuak. Di bawah sanggah cucuk umat menghaturkan segehan agung asoroh, segehan manca warna 9 tanding dengan olahan ayam burumbun dan tetabuhan arak, berem, tuak dan air tawar. Setelah usai menghaturkan pecaruan, semua anggota keluarga, kecuali yang belum tanggal gigi atau semasih bayi, melakukan upacara byakala prayascita dan natab sesayut pamyakala lara malaradan di halaman rumah. Upacara Bhuta Yajna di tingkat provinsi, kabupaten dan kecamatan, dilaksanakan pada tengah hari sekitar pukul 11.00 – 12.00 (kala tepet). Sedangkan di tingkat desa, banjar dan rumah tangga dilaksanakan pada saat sandhyakala (sore hari). Upacara di tingkat rumah tangga, yaitu melakukan upacara mecaru. Setelah mecaru dilanjutkan dengan ngerupuk pada saat sandhyakala, lalu mengelilingi rumah membawa obor, menaburkan nasi tawur. Sedangkan untuk di tingkat desa dan banjar, umat mengelilingi wilayah desa atau banjar tiga kali dengan membawa obor dan alat bunyi-bunyian. Ogoh-ogoh sebetulnya tidak memiliki hubungan langsung dengan upacara Hari Raya Nyepi. Sejak tahun 80-an, umat hindu mengusung ogoh-ogoh yang dijadikan satu dengan acara mengelilingi desa dengan membawa obor atau yang diebut acara ngerupuk.

Sebelum memulai pawai ogoh-ogoh para peserta upacara atau pawai biasanya melakukan minum-minuman keras traditional yang dikenal dengan nama arak Pada umumnya ogoh-ogoh di arak menuju sutau tempat yang diberi nama sema(tempat persemanyaman umat hindu sebelum di bakar dan pada saat pembakaran mayat) kemudian ogoh-ogoh yang sudah diarak mengelilingi desa tersebut dibakar.

Karena bukan sarana upacara, ogoh-ogoh itu diarak setelah upacara pokok selesai dengan diiringi irama gamelan khas bali yang diberi nama BleganjurPatung yang dibuat dengan bahan dasar bambu, kertas, kain dan benda-benda yang sederhana itu merupakan kreativitas dan spontanitas masyrakat yang murni sebagai cetusan rasa semarak untuk memeriahkan upacara ngerupuk. Karena tidak ada hubungannya dengan Hari Raya Nyepi, maka jelaslah ogoh-ogoh itu tidak mutlak ada dalam upacara tersebut. Namun benda itu tetap boleh dibuat sebagai pelengkap kemeriahan upacara.

         2.3.3  Makna Yang Terkandung Dalam Ogoh-Ogoh

Ogoh-ogoh merupakan cerminan sifat-sifat negatif pada diri manusia: adharma svarupa; sehingga pengarakannya berbagai lokasi di sekitar banjar atau desa, yang melewati jalan-jalan utama sehingga tampak oleh semua warga banjar yang memiliki suatu makna tersendiri. Kehidupan selalu memiliki elemen yang positif maupun negatif, hal ini selalu ada di dalam diri manusia, dan jika kita bijaksana untuk bersedia melihatnya, kita tidak akan menyangkalnya.

Ogoh-ogoh yang dibangun bersama secara swadaya oleh masyarakat banjar, secara implisit, memberikan ide bagi kita semua untuk bersedia melihat sifat-sifat negatif dalam diri kita, dan menjadi terbuka akannya, bahwa hal itu bukanlah hal yang harus ditakuti, namun untuk kita lihat dan amati bersama, sehingga kita dapat memahaminya. Tradisi ini mengingatkan masyarakat Bali khususnya. Selain itu ogoh-ogoh diarak keliling desa bertujuan agar setan-setan yang ada di sekitar desa agar ikut bersama ogoh-ogoh, Karen setan setan tersebut menganggap bahwa ogo-ogoh tersebut merupakan rumaah merak dan kemudian ikut di bakar.minum minuman keras tradisional khas bali yang di namai arak subelum mengarak ogoh-ogoh dengan cara diangkat.

Mabuk karena minum arak di bali bukan sesuatu yang dilarang malah itu adalah hal yang dianjurkan oleh agama mereka,sebagaimana kita tahu masyrakat bali yang mayoritas beragama hindu memiliki banyak sekali Dewa,begitu pula prilaku yang jahat mereka memiliki dewa untuk hal tersebut, yaitu Dewa atau Batara Kala. Sebenarnya hal ini dapat memberikan sedikit gambaran mengenai kepercayaan yang diyakini oleh orang bali, yaitu hal-hal yang terjadi di dunia ini selalu berpasangan, sebagai contoh ada orang baik dan ada juga orang jahat, ada kematian tapi ada juga bayi yang baru lahir, atau pemahaman lebih sederhananya yaitu ada warna hitam ada juga warna putih.

jadi apapun yang terjadi dalam kehidupan manusia selalu berjalan dengan seimbang, jadi ritual meminum arak bagi orang yang mengarak ogoh-ogoh di anggap sebagai perwakilan dari sifat buruk yang ada di dalam diri manusia.Bahwa beban dari berat yang mereka gendong adalah sebuah sifat negatif, seperti cerminan sifat-sifat raksasa, ketika manusia menyadari hal ini, mereka tidak akan menahan elemen-elemen ini sendirinya, dan membiarkan elemen ini menjadi tiada seperti abu dan debu yang tertiup angin.

 

 

 

 

 

 

 

2.3.4 Bentuk Ogoh-Ogoh

Ogoh-ogoh sendiri memiliki peranan sebagai simbol atau pemvisualisasian prosesi penetralisiran kekuatan-kekuatan negatif atau kekuatan Bhuta (kekuatan alam).

                                       

  Gambar : 1 Ogoh –Ogoh .

 

dimana ogoh-ogoh yang dibuat pada perayaan Nyepi ini merupakan perwujudan Bhuta kala yakni unsur alam yang terdiri dari air, api, cahaya, tanah, dan udara yang divisualkan dalam wujud yang menyeramkan dan bentuknya yang sangat besar, karena jika kekuatan alam itu berlebihan tentunya akan menjadi kekuatan yang merusak dan menyeramkan, ogoh-ogoh yang dibuat siang malam oleh sejumlah warga banjar itu harus ditampilkan dengan landasan konsep seni budaya yang tinggi dan dijiwai agama Hindu.pada awal mula disiptakannya ogoh-ogo dibuat dari rangka kayu dan bambu sederhana, rangka tersebut dibentuk lalu dibungkus kertas. Pada perkembangan jaman yang maju pesat ogoh-ogoh pun terimbas dampaknya, ogoh-ogoh makin berinovasi, ogoh-ogoh dibuat dengan rangka dari

besi yang dirangkaikan dengan bambu yang dianyam, pembungkus bodi ogoh-ogoh pun di ganti dengan gabus atau stereofoam dengan teknik pengecatan. Tema ogoh-ogoh pun semakin berfariasi, dari tema pewayangan, modern, porno sampai politik yang tidak mencerminkan makna agama.

Tema ogoh-ogoh yang diharapkan adalah sesuai dengan nilai agama Hindu yaitu tidak terlepas dari Tuhan, Manusia dan Buta Kala sebagai penyeimbang hubugan ketiganya. Ogoh-ogoh simbol Kala ini haruslah sesuai dengan sastra agama yang diatur dalam pakem dan bukan seperti yang beberapa dibuat saat ini, karena banyak kita lihat kala dibuat berbentuk manusia lucu, Rocker, punk, inul, manusia, raksasa sexy dan seronok. Tapi dari sudut pandang lain mengatakan ogoh-ogoh itu merupakan kreativitas anak muda yang mengekploitasi bentuk gejala alam dan fenomena sosial yang terjadi dimasyarakat saat ini jadi tidak perlu adanya pembatasan ataupun pengekangan dalam berekspresi.

Dampak Dari Perayaan Ogoh – OgohDari peraya ogoh tersebut banyak dampak yang tibul dalam masyarakat bali atau pun dari luardampak positif namun juga menghadirkan dampak negatif . Dapak dampak tersebut seperti:• Dampak positif dari perayaan ini seperti menjadi hiburan ter sendiri bagi umat hindu dan non hindu, menarik banyak wisatawan dari dalam dan luar negeri, karena ogoh-ogoh adalah sebuah patung yang sangat besar maka di butuhkan benyak orang untuk mengaraknya dari sanalah rasa persatuan dan kesataun diantara umat hindu, dalam pebuatan ogoh-ogoh yang mengandung unsur seni dapat mehidupkan kreatifitas pada pemuda pemudi bali.

     2.3.5 Makna Ogoh-Ogoh Dan Hari Raya Nyepi

 

 

 

 

Ogoh – ogoh itu sendiri diambil dari sebutan ogah-ogah dari bahasa Bali. Artinya sesuatu yang digoyang-goyangkan. Dan tahun 1983 merupakan bagian penting dalam sejarah ogoh-ogoh di Bali. Pada tahun itu mulai dibuat wujud-wujud bhuta kala berkenaan dengan ritual Nyepi di Bali. Ketika itu ada keputusan presiden yang menyatakan Nyepi sebagai hari libur nasional. Semenjak itu masyarakat mulai membuat perwujudan onggokan yang kemudian disebut ogoh-ogoh, di beberapa tempat di Denpasar. Budaya baru ini semakin menyebar ketika ogoh-ogoh diikutkan dalam Pesta Kesenian Bali ke XII.Ogoh – Ogoh ini dimaksudkan mengembalikan bhutakala ketempat asalnya. Sebelumnya ada tradisi Barong Landung, Tradisi Ndong Nding dan Ngaben Ngwangun yang menggunakan ogoh-ogoh Sang Kalika,  bisa juga merujuk sebagai cikal bakal wujud ogoh-ogoh.

Di dalam babad, tradisi Barong Landung berasal dari cerita tentang seorang putri Dalem Balingkang, Sri Baduga dan pangeran Raden Datonta yang menikah ke Bali. Tradisi meintar mengarak dua ogoh-ogoh berupa laki-laki dan wanita mengelilingi desa tiap sasih keenam sampai kesanga. Visualisasi wujud Barong Landung inilah yang dianggap sebagai cikal bakal lahirnya ogoh-ogoh dalam ritual Nyepi.

“Ogoh-ogoh” merupakan karya seni patung dalam kebudayaan Bali yang menggambarkan kepribadian “Bhuta Kala” dan sudah menjadi ikon ritual yang secara tradisi sangat penting dalam penyambutan Hari Raya Nyepi atau Tahun Baru Saka. Seluruh umat Hindu Dharma akan bersukaria menyambut kehadiran tahun baru itu dengan mengarak-arakan “ogoh-ogoh” yang dibarengi dengan perenungan tentang yang telah terjadi dan sudah dilakukan selama ini.  Pada saat “Pangrupukan” atau sehari menjelang Hari Raya Nyepi, peristiwa dan prosesinya setiap tahunnya sama yaitu pada setiap Banjar (pemangku adat setingkat Kelurahan) di Bali akan berlomba dalam hal membuat “ogoh-ogoh” semenarik mungkin. Bila pembuatannya lebih bernilai seni, rumit, dan lebih mutakhir, maka “ogoh-ogoh” itu diharapkan bisa menaikkan martabat Banjar yang membuatnya.

Fungsi utama “ogoh-ogoh” adalah sebagai representasi Bhuta Kala yang dibuat menjelang perayaan Hari Raya Nyepi, dimana “ogoh-ogoh” tersebut akan diarak beramai-ramai keliling banjar atau desa pada senja hari, sehari sebelum Hari Raya Nyepi (Pangrupukan). Menurut para cendekiawan dan praktisi Hindu Dharma, prosesi ini melambangkan keinsyafan diri manusia akan kekuatan alam semesta dan waktu yang maha dashyat. Kekuatan tersebut meliputi kekuatan “Bhuana Agung” (alam raya) dan “Bhuana Alit” (diri manusia). Dalam pandangan filsafat (tattwa). Dengan keberadaan arak-arakan “Ogoh-Ogoh” yang sudah menjadi tradisi inilah yang menambah daya tarik wisatawan baik mancanegara maupun nusantara. Karena selain memiliki keindahan tempat-tempat wisata, Balipun memiliki kekayaan budaya yang menjadi andalan kepariwisataan. Serasa belum lengkap bilamana wisatawan berkunjung tidak melihat prosesi “Ogoh-Ogoh” pada penyambutan Hari Raya Nyepi atau Tahun Baru Saka.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

 

Kesimpulan yang didapat dari pembahasan dan berbagai pengertian yang telah dijelaskan pada bab –bab sebelumnya mengenai Hari Raya Nyepi Dan Hubungannya Dengan Pawai Ogoh –Ogoh . ‘Hari Raya Nyepi’ adalah hari raya umat Hindu yang dirayakan setiap tahun Baru Saka. Hari ini jatuh pada hitungan Tilem Kesanga (IX) yang dipercayai merupakan hari penyucian dewa-dewa yang berada di pusat samudera yang membawa intisari amerta air hidup. Melestarikan alam sebagai tujuan utama upacara Tawur Kesanga tentunya merupakan tuntutan hidup masa kini dan yang akan datang. Bhuta Yajña (Tawur Kesanga) mempunyai arti dan makna untuk memotivasi umat Hindu secara ritual dan spiritual agar alam senantiasa menjadi sumber kehidupan. Ogoh-ogoh merupakan cerminan sifat-sifat negatif pada diri manusia: adharma svarupa; sehingga pengarakannya berbagai lokasi di sekitar banjar atau desa, yang melewati jalan-jalan utama sehingga tampak oleh semua warga banjar yang memiliki suatu makna tersendiri.     Fungsi utama “ogoh-ogoh” adalah sebagai representasi Bhuta Kala yang dibuat menjelang perayaan Hari Raya Nyepi, dimana “ogoh-ogoh” tersebut akan diarak beramai-ramai keliling banjar atau desa pada senja hari, sehari sebelum Hari Raya Nyepi (Pangrupukan).

3.2 Saran Dan Kritik

Pembahasan mengenai Hari Raya Nyepi Dan Hubungannya Dengan Pawai Ogoh –Ogoh,pada dasarnya jauh dari kesempurnaan maka saya selaku penulis ingin menyampaikan suatu permintaan maaf jika dalam penulisan dan pembahasan tersebut terjadi kekeliruan dan kurang dimengerti dimohon untuk dimaklumi.

Daftar Pustaka

 

Www.Google.Com// Mengenai Ogoh-Ogoh Dalam Sradha Hindu Bali.

Pendit,Nyoman. 1998. Bhagawadgita,Upacara Hindu.

——–.1992.  Babad Bali. Hari Besar Hindu. Pemerintah Prov Bali.

——–.1998. Seni Pertunjukkan Indonesia Di Era Globalisasi. Dirjen Dikti Departemen P Dan K Jakarta.

Kayam, Umar. 1981. Seni, Tradisi, Masyarakat. Jakarta: Sinar Harapan.

 

Comments (57)


ENSAMBLE

Filed under: Karya — ibgirimantra @ 6:00 pm

ENSAMBLE GONG KEBYAR

 

Sejarah
Gamelan Gong Kebyar pertama kali didokumentasikan ada di Bali Utara pada awal 1900-an. Kinerja publik pertama di bulan Desember 1915 di kompetisi gamelan gong di Jagaraga, Bali Utara. Sepuluh tahun kemudian, saya Mario Tabanan dikatakan telah menciptakan tari kebyar untuk mengiringi musik.

Setelah invasi kekerasan mereka pulau, penjajah Belanda menanggapi kritik internasional dengan membangun lembaga kebudayaan. Mereka mensponsori kompetisi ini sampai pasukan Jepang mengakhiri kekuasaan mereka dalam Perang Dunia II.
Agama dan Budaya Signifikansi

Selain seluruh pulau kompetisi seni, Gamelan Gong Kebyar telah menjadi bagian penting dari upacara yang modern Hindu Bali. Mereka diperlukan untuk upacara ulang tahunan untuk kuil, Odalan, serta hari-hari besar sebagai iringan untuk tarian sakral. Mereka juga cocok untuk kelas ritual berpusat di sekitar kehidupan manusia, Putra Manusia, seperti pernikahan.

Instrumen

Instrumen dalam Gamelan Gong Kebyar menawarkan berbagai lapangan dan warna nada, mulai lima oktaf dari gong terdalam ke tombol tertinggi pada Gangsa a. The high end dapat digambarkan sebagai “menusuk,” low end “booming dan berkelanjutan,” sedangkan drum sebagai “renyah.” Instrumen Kebyar yang paling sering dikelompokkan berpasangan, atau “gender.” Setiap pasangan terdiri dari instrumen pria dan wanita, perempuan yang sedikit lebih besar dan sedikit lebih rendah di lapangan. Lihat tuning artikel ini untuk mempelajari mengapa hal ini.

Gangsa Kantilan

Ada empat kantilan di kebyar, dua laki-laki dan dua perempuan. Lihat instrumen gender dalam artikel ini. Instrumen ini adalah yang tertinggi terdengar dalam ansambel kebyar, dengan catatan tertinggi berada di sekitar C7. Ini memiliki sepuluh kunci, dan berbagai dua oktaf, dan dimainkan dengan palu kayu. Pemain sering duduk di lantai untuk memainkan alat musik ini.

 

 

Gangsa Pemadé

Ada juga empat pemadé di kebyar, dua laki-laki dan dua perempuan. Instrumen ini juga memiliki sepuluh kunci, berbagai dua oktaf, dan dimainkan dengan palu kayu, tetapi tepat satu oktaf lebih rendah dari kantilan. Pemain sering duduk di lantai untuk memainkan alat musik ini.

Ugal

Biasanya ada hanya satu uGal dalam ansambel kebyar, dan biasanya perempuan. Hal ini dimainkan oleh salah satu pemimpin dari ansambel. Hal ini lebih tinggi dari Gansa lainnya, dan pemain duduk di bangku pendek, sehingga memungkinkan pemain untuk isyarat visual ansambel dengan mudah. Instrumen ini juga memiliki 10 tombol, memiliki jangkauan dua oktaf, dan dimainkan dengan palu kayu. Ini adalah satu oktaf lebih rendah dari pemadé Gangsa.

Jegogan

Ada dua jegogan (disingkat menjadi “jegog” dalam percakapan sehari-hari) di kebyar, satu laki-laki dan satu perempuan. Instrumen ini memiliki kisaran satu oktaf, dan merupakan salah satu oktaf di bawah calung. Tombol yang jauh lebih besar dibandingkan dengan Gangsa lainnya, dan dimainkan dengan dilapisi kain-, agak besar, karet-empuk palu bola.

 

 

Jublag atau Calung

The bernada tinggi berikutnya dari Gangsa adalah jublag tersebut. Instrumen ini, seperti jegog, juga membutuhkan tabung bambu panjang beresonansi sehingga sering dimainkan sambil duduk di kursi atau bangku. Instrumen ini memiliki kisaran satu oktaf, di antara pemadé dan uGal. Beberapa memiliki lima tombol (1, 2, 3, 5, dan 6) tapi tujuh jublag kunci juga sering ditemukan di Bali. Biasanya bermain di submultiples dari Pokok, tombol dipukul lebih sering daripada jegogan dan biasanya kurang sering daripada uGal (bermain Pokok). Ini adalah salah satu oktaf di atas jegogan dan nada saham dengan uGal tersebut. Nama lain untuk jublag yang calung. Terdapat dua calung (chalung diucapkan) di kebyar, satu laki-laki dan satu perempuan.

Gong gede

Juga disebut hanya sebagai gong, gong gede adalah yang terdalam, dan paling resonan. Gede, kadang-kadang ditulis gde, berarti ‘besar’ di Bali. Karena itu adalah yang terbesar dari gong, itu dianggap sebagai instrumen yang paling suci di kebyar. Hal ini tidak pernah dibasahi, selalu diizinkan untuk membusuk. Karena nada mendalam, menembus melalui ensemble dan dapat didengar untuk mil. Hal ini dipukul dengan palu besar, empuk.

Kempur

Sebuah gong berukuran sedang, kempur ini sangat mirip dengan gong gede karena memiliki kualitas yang sangat mirip, tetapi hanya lebih tinggi di lapangan (sekitar satu oktaf dan seperlima lebih tinggi). Hal ini dipukul dengan palu besar, empuk.

Klentong

Juga dikenal sebagai kemong, ini jauh lebih kecil dan lebih tinggi di lapangan dibandingkan kempur tersebut. Hal ini dipukul dengan palu keras daripada baik gong gede atau kempur, yang memungkinkan untuk memiliki serangan tajam.

Kettle Gong Keluarga

Gong Kettle berbentuk bulat, perunggu, dan bernada. Mereka sering dipasang horizontal pada akord ditangguhkan sebagai bagian dari bingkai. Diposisikan cara ini, ada pembukaan di bagian bawah, sedikit miring busur di atas, dan pusat menonjol disebut bos. Ceret disusun dari rendah ke tinggi, kiri ke kanan. Mereka umumnya dimainkan dengan palu kayu dibungkus dalam string pada salah satu ujungnya (untuk melunakkan serangan) atau akhir dari palu, yang telanjang, selesai kayu. Palu diadakan satu di masing-masing tangan sebagai perluasan dari jari telunjuk menunjuk.

Ada empat pemogokan konvensional:

Pada bos dengan bagian senar dari palu, dan segera dirilis untuk membiarkannya bergetar secara bebas.
Pada bos dengan bagian senar dari palu, tetapi ditekan untuk meredam getaran apapun.
Pada haluan ketel dengan ujung kayu palu, dan diizinkan untuk menelepon bebas.
Pada haluan ketel dengan ujung kayu palu, tetapi ditekan untuk meredam dering apapun.

Bingkai Mounted Gong Kettle Horizontal
Reyong

Juga dieja, reong, instrumen ini terdiri dari 12 ceret dipasang horizontal berturut-turut pada frame. Hal ini dimainkan oleh empat musisi, masing-masing mengambil tanggung jawab untuk 2 sampai 4 dari ceret nya. Para pemain, yang duduk di baris, dibagi menjadi dua kelompok, yang terdiri pertama dari pemain pertama dan ketiga berturut-turut, dan yang kedua terdiri dari para pemain kedua dan sebagainya. Kedua orang dalam kelompok yang sama memainkan bagian yang sama, namun dua kali lipat oktaf terpisah. Bagian-bagian dari kelompok satu dan kelompok dua, saat bermain bersama, yang saling. Reyong memiliki kedua peran perkusi melodi dan non-melodi.

 

Trompong

Di trompong biasanya tidak digunakan dalam kebyar, karena dikaitkan dengan genre yang lebih tua seperti Gde gamelan gong. Ketika digunakan, bagaimanapun, itu diposisikan di depan ensemble, menghadap penonton. Dibangun mirip dengan reyong, terdiri dari 10 ceret, dengan kisaran dua oktaf. Hal ini dimainkan oleh satu orang, dan orang yang mungkin menjadi pemimpin dari ansambel yang duduk di bangku pendek, memainkan melodi utama. Trompong ini juga dimainkan oleh seorang penari dalam potongan tari seperti Kebyar Kebyar Duduk dan Trompong. Karena ukuran instrumen, melodi yang disusun untuk memungkinkan seseorang untuk perlahan-lahan menggeser posisi seseorang untuk mencapai ekstrem jangkauan.

Tangan Horizontal individu Dimiliki Gong kebyar
Tawa

The tawa tawa adalah ketel kecil yang diadakan di lap atau lengan dan memukul pada bos dengan palu dengan kepala bulat yang lembut. Ini memainkan ketukan dari siklus gong dan bertindak agak seperti metronom.

Kempli

Kempli adalah ketel kecil terbenam di atas tali digantung pada berdiri petak. Ini juga merupakan instrumen tempo menjaga. Kempli ini biasanya dimainkan dengan tongkat kabel dibungkus seperti yang dimiliki reyong dan trompong. Hal ini dipukul pada bos, tetapi dibasahi dengan tangan yang lain untuk menghasilkan suara, pengering tajam.

Kelinang

Juga tertulis klinang, itu adalah ketel yang sangat kecil, sekitar 5 inci diameter, baik set pada berdiri sendiri atau dipegang di tangan. Ini juga, dimainkan dengan tongkat dibungkus kabel. Ini memainkan setiap detak kedua tempo, biasanya bergantian dengan kempli atau tawa tawa.

Kajar

kajar adalah ketel kecil dengan bos tersembunyi, yang diselenggarakan di pangkuan dan bermain dengan tongkat keras. The kajar memainkan aksen ke bagian penting dari ritme.

 

Primer Rhythm Instrumen
Kendang

Kendang adalah drum berkepala dua dari kayu nangka dan kulit sapi. Eksterior berbentuk seperti kerucut terpotong sedangkan ruang negatif dari interior terpahat seperti jam pasir. Ini bentuk dan tindakan cinching tali hide menciptakan dua yang berbeda, laras perkiraan dalam satu drum. Seperti instrumen gamelan kebanyakan, kendang yang dipasangkan: lebih besar, bagian perempuan memimpin, wadon, dan laki-laki lainnya, lanang. Permukaan dalam wadon kendang yang diukir tegak dibandingkan lanang, sehingga dalam timbre, lebih resonan booming.
Sama seperti suku kata untuk lapangan yang digunakan untuk instrumen bernada, kendang memiliki satu set suku kata yang diucapkan onomatopoetic untuk stroke masing-masing memproduksi total 14 jenis suara. Kendang yang dimainkan dengan baik tangan kosong saja atau telanjang tangan ditambah satu palu. Pemain kendang wadon biasanya puncak hirarki ensemble, pengaturan tempi dan cuing transisi seperti konduktor.

Bagian kendang adalah yang paling kompleks dalam gong kebyar, menggambar dari leksikon kaya cepat-api, pola sinkopasi agar sesuai dengan mood dan perkembangan musik bernada. Drummer lanang bertanggung jawab untuk mengisi bagian saling sesuai. Pemain kendang dapat duduk menghadap ke arah yang sama, wadon di depan dan belakang lanang.

Ceng-Ceng

Diucapkan / t͡ʃeŋ t͡ʃeŋ /, alat ini terdiri dari beberapa kecil, tumpang tindih simbal terkait dengan bingkai. Frame sering diukir agar terlihat seperti binatang, paling sering kura-kura, penyu sebagai mitis dikatakan untuk membawa pulau Bali di punggungnya. Pemain memegang sepasang cymbal cocok dengan bambu atau menangani tekstil, memukul simbal stasioner dengan cepat berturut-turut, bahkan atau aksen asimetris dengan kendang atau reyong.

Instrumen Musik Lembut
Suling

Salah satu dari dua instrumen mampu menekuk lapangan, suling adalah seruling bambu vertikal. Suling datang dalam berbagai ukuran, dari piccolo seperti <1ft ke 5 ft desah. Ganda Bagian suling dan ornamen melodi, yang suling mendaftar tertinggi memiliki kendali paling bebas untuk berimprovisasi. The melingkar Pemain bernapas untuk memungkinkan lapangan untuk dipertahankan dalam nada konstan. Sebuah kualitas khas Bali suling, berbeda dari suling Sunda, adalah gabungan dari vibrato melenturkan teratur rahang dan bekerja lidah.

Suling telah mempertahankan tuning septatonic lengkap pengadilan gamelan dan dapat mengakses nada di lapangan kesenjangan instrumen mengetik untuk efek.

Rebab

Rebab adalah biola lonjakan dimainkan dengan busur. Hal ini hanya kadang-kadang digunakan dalam kebyar seperti yang sering tenggelam oleh metalofon. Melodi yang mirip dengan suling, kadang-kadang mencapai pitches pada skala septatonic. Hal ini hanya dua senar disetel keempat Barat terpisah yang tidak pernah menyentuh fingerboard unfretted. Hal ini memungkinkan pemain untuk mengubah catatan dengan menekan ke bawah pada string, string membungkuk ke samping, geser, atau mengubah string.

Tidak seperti busur tali Barat, haluan rebab yang lebih dalam dan memegang curang seperti itu dari viola da gamba. Jempol pemain berlaku tekanan langsung pada rambut untuk mengontrol ketegangan.

Kebyar Musik
Kebyar

Senama mengacu bagian, terutama peledak unmetered menandai pengenalan dan beberapa transisi dari komposisi kebyar. Gaya komposisi berasal dari kebyar legong Buleleng, Bali Utara ditandai dengan panjang, maksimal volume catatan bersamaan dipukul oleh seluruh ansambel, glissandi bebas dering, perubahan tempo dramatis, dan triplet berirama.

Gong Siklus

Musik dibagi menjadi 4 kelompok mengalahkan, ini siklus berirama seluruh disebut Gongan tersebut. Gong membagi Gongan menjadi beberapa bagian, gong ageng, gong terbesar, menandai akhir Gongan, gong kecil menandai mengalahkan 4 atau 8 dan gong terkecil garis pulsa.

Tuning

Tidak ada lapangan standar dalam musik Bali. Secara umum, semua instrumen dalam ansambel gamelan gong kebyar dibuat dan disetel pada waktu yang sama. Ensemble Setiap disetel untuk dirinya sendiri, sehingga hampir tidak mungkin untuk menghapus instrumen dari satu ensemble untuk menggunakannya di lain dan memilikinya cocok lapangan. Dalam ensemble apapun, namun, instrumen gender, dan tuning masing-masing tergantung pada  gender instrumen.

Instrumen Gender

Hampir setiap instrumen dalam ansambel kebyar dipasangkan dengan mitra laki-laki dan perempuan. Setiap instrumen dalam sepasang disetel berbeda dari pasangannya, satu lebih tinggi dan satu rendah. Dimainkan pada saat yang sama, instrumen yang lebih tinggi (dikenal sebagai pengisep atau “inhaler”) dan instrumen yang lebih rendah (dikenal sebagai pengumbang atau “exhaler”), menghasilkan efek pemukulan (Ombak), menciptakan kualitas, keseluruhan berkilauan berdenyut. Instrumen perempuan disetel lebih rendah, sedangkan laki-laki instrumen disetel lebih tinggi. Sebagai contoh, salah satu catatan pada pemadé Gangsa perempuan mungkin disetel untuk 220 Hz, sedangkan laki-laki Gansa pemadé mungkin disetel sedikit lebih tinggi untuk 228 Hz. Sebuah ensemble kebyar biasanya disetel sehingga jumlah denyut per detik tetap konsisten sepanjang rentang ensemble, meskipun kadang-kadang ensemble disetel sehingga ketukan yang sedikit lebih cepat untuk frekuensi yang lebih tinggi


 

 

 

 

 

 

 

Keterangan :

  1. Terompong
  2. Kecek
  3. A. kendang wadon

B . kendang lanang

  1. Suling
  2. Rebab
  3. A. Gangsa pemade sangsih

B. Gangsa pemade polos

  1. Ugal mukak
  2. Kajar
  3. A. Gangsa pemade polos

B. Gangsa pemade sangsih

  1. A. Gangsa kantilan polos

B. Gangsa kantilan sangsih

  1. Ugal belakang
  2. A. Gangsa kantilan sangsih

B. Gangsa kantilan polos

  1. A . jublag lanang

B . jublag wadon

  1. A . Penyahcah 1

B . penyahcah 2

  1. Reong
  2. Bende
  3. A . Gong lanang

B .  Gong wadon

  1. Kempli
  2. Kempur
  3. A  jegogan lanang

B . jegogan wadon

 

 

 

 

 

 

 

Sumber : http://en.wikipedia.org/wiki/Gamelan_gong_kebyar

Comments (62)


ibgirimantra

Filed under: Karya — ibgirimantra @ 6:46 am

Nama  Saya  Ida Bagus Gede Giri Mantra anak pertama dari 2 bersaudara dari pasangan ayah dan ibu saya . saya lahir pada tanggal 6 juli 1994 di keluarga yang sederhana, dan saya bertempat tinggal di desa angantaka, kecamatan abiansemal, kabupaten badung, provinsi bali .

Saya mempunyai keluarga yang lengkap di antaranya ayah, ibu, kakek, nenek,  adik dan saya sendiri.  Ayah saya bernama : Ida Bagus Mahendra  Putra, Ibu saya bernama : Ida Ayu Made Laksmi Kusuma Dewi , adik saya bernama : Ida ayu Made Anggi Pradewi  baru sebagai murid kls 3 smp, Kakek saya bernama :Ida Bagus Rai, dan nenek saya bernama : Ida Ayu Putu Sugi .

Saya mengenyam pendidikan sekolah dasar di SD N 1 Angantaka, dan tamat pada tahun 2006. saya melanjutkan Smp di SMP N 2 Abiansemal ,dan tamat pada tahun 2009, terus saya melanjutkan di SMA N 1 Abiansemal , dan tamat pada tahun 2012 . dan saya melajutkan ke perguruan tinggi negeri  ISI denpasar ,  karena saya ingin tau atau mengasah kemampuan saya dalam memaenkan gambelan  bali atau membuat suatu komposisi tabuh itu sendiri

Comments (1)


Valid XHTML 1.0 Transitional© 2008 | ibgirimantra
'Twilight' Wordpress theme | Powered by Atillus