PENYATUAN SIVA-BUDHA MELALUI AJARAN TANTRA

This post was written by putrasanjaya on Juli 11, 2014
Posted Under: Tak Berkategori

images

    Sebagain besar sarjana menerima bahwa Tantrayana adalah faktor utama yang memberi ruang terjdinya fusi antara Sivaisme dan Buddhisme sehingga menjadi suatu masad keagamaan yang berdiri sendiri di Indonesia. Bahkan Moens secara khusus melukiskan bahwa Tantrayana, khusunya Kalacakratantra, bertanggung jawab atas penyatuan masab Siva-Budha di Indonesia. Zoetmulder menerima penapat Krom tentang pengaruh Tantrayana dan menanamkan phenomena ini dengan nama “tantirme-bhairava-bouddhique”, yang ditandai dengan pelaksanaan upacara inisiasi di pekuburan dan disertai dengan minum darah, alkohol dan hubungan sex.

    Tantra adalah suatu kombinasi yang unik antara mantra,upacara dan pemujaan secara total. Ia adalah agama dan juga philosopy, yang berkembang  baik dalam Hinduisme maupun Budhisme. Definisi tantra dijelaskan dalam kaliamat ini; shasanat tarayet yastu sah shastrah parikirtitah, yang berarti” yang menyediakan petunjuk jelas memotong  dam oleh karena iru menuntun  ke jalan pembebasan spiritual dan pengikutnya disebut sastra.”Akar Kata”trae” diikuti oleh siffix “da” menjadi “tra” yang berarti “yang membebaskan”. Kita melihat penggunaan yang sama dari akar kata “tra” Di dalam kata mantra. Definisi  mantra adalah: mamanat tarayet yastu sah mantrah parikirtitah:”Suatu proses yang, ketika diulang-ulang terus menerus di dalam pikiran, membawa pembebasan, disebut mantra. Beberapa sarjana mencoba membagi tantra menjadi dua bagian utama, yaitu “jalan kanan” dan “ jalan kiri”. Bernet Kemper berpendapat, tantra “jalan kanan”(menghindari praktek ekstrem, mencari-cari pengertian yang mendalam, dan pembebasan melalui asceticism) harus dibedakan dari “jalan kiri”(black magic dan ilmu sihir). Ia kemudian menegaskan, di dalam “jalan kanan” , bhakti atau penyerahan diri memgang peranan yang sangat penting. Lebih dari itu, bhakti cenderung menolak dunia material. Sedangkan “jalan kiri” mempunyai kecendrungan yang sangat berbeda. Ia berusaha keras untuk menguasai aspek-aspek kehidupan yang menggangu dan mengerikan seperti kematian dan penyakit. Untuk mengatasi hal tersebut eksistensi dari kekuatan keraksasaan (demonic) “jalan kiri” membuat kontak langsung di tempat-tempat yang mengerikan seperti di pekuburan.

    Pandangan kalang akademis ini sangat berbeda dengan pandangan dari prakrisi tantra. Para praktisi tantra pada umumnya menolak pembagian tantra atas tanra positif dan negatif dan menekankan pada metode untuk mentransformasoikan keinginan. Lama Thubten Yeshe, seorang praktisi tibetan tantra atans tantra mengatakan tantra menggunakan energi dari khyalan seperti keterikatan kepada keinginan adalah sumber dari penderitaan dan oleh karena itu harus di atasi namun ia juga mengajarkan keahlian untuk menggunakan energi dari khayalan tersebut untuk memperdalam kesadaran kita hingga mengahasilkan kemajuan spiritual. Seperti mereka yang dengan keahliannya mampu mengangkat racun tumbuh-tumbuhan dan menjadikan obat yang mujarab, seperti itu pula seorang yang ahli dan terlatih dalam praktek tantra, mampu memanipulasi energi keinginan bahkan kemarahan menjadi mapan. Ini sungguh-sungguh sangat mungkin dilakukan.

    Dalam arti tertentu tantra merupakan suatu teknik untuk mempercepat  pencapaian tujuan agama atau realisi sang diri dengan menggunakan berbagai medium seperti mantra, yantra, mudra, mandala pemujaan terhadap berbagai dewwa dewi termasuk pemujaan kepada mahluk stengah dewa dang mahluk-mahluk lain, meditasi dang berbagai cara pemujaan , serta praktek yoga yang kadang-kadang dihubungkan dengan hubungan sexsual. Elemen-elemen terdebut terdapat dalam tantra Hindu maupun Buddha. Kesamaan teologi ini menjadi faktor penting yang memungkinkan tangtra menjadi salah satu medium penyatuan antara Sivaisme dan Buddhisme di Indonesia. Hubungan sex dalam tantra, seperti diperkirakan oleh dasgupta  merupakan penyimpangan dari konsep awal tantra. Konsep awal tantra  meliputi elemen-elemen seperti yang disebutkan di atas, yakni; mantra,yantra,mudra dan yoga. Penyimpanan tersebut terjadi karena pnggunaan “alat-alat praktis” dalam tantra Buddha yang berdasarkan prinsip-prinsip mahayana dimaksudkan untuk merealisasikan tujuan tertinggi baik tantra Hindu maupun Buddha, adalah tercapainya keadaan sempurna dengan penyatuan antara dua praktek serta merealisasikan sifat nondual dari realitas tertinggi. H.B. Sarkar menyatakan hubungan sexual dalam tantra lebih diarahkan untuk mengontrol kekuatan alam dan bukan untuk mencapai kebebasan. Ia mengatakan secara umum tradisi indonesia membagi tujuan hidup manusia menjadi dua; pragmatis dan idielistis  mengontrol kekuatan alam adalah salah satu tujuan pragmatis. Hal ini biasanya dilakukan oleh raja yang mempraktekan sistem kalaca-krayana dalam usaha melindungi rakyatnya, memberikan keadilan,kesejahteraan dah kedamaian.

     Di Indonesi dikenal tiga jenis tantra yaitu; Bhairava Heruka di Padang Lawas, Sumatra Barat bhairava kalacakra yang dipraktekan oleh raja ketanegara dari singasari dan Adtityavarman dari sumatra yang sezaman dengan gajah mada di majapahit dan bharavia Bhima di Bali. Arca Bharavia Bima terdapat di Pura Edan, Bedulu, Gianyar Bali. Menurut prasasti palembang, Tantrayana masuk ke Indonesia melalui keraajaan Srivi jaya di Sumatra pada adab ke-7 .Kalacakratantra memgang peranan penting dalam univikasi sivaisme dan buddhaisme, karena dalam tantra ini siva and buddha, diunifikasikan menjadi sivabudha. Konsep Ardhanarisvari memegang peranan yang sangat penting dalam Kalacakratantra. Klacakratantra mencoba menjelaskan penciptaan dan kekuatan alam dengan penyatuan Dewi Kali yang menegerikan, tidak hanya dengan Dhyani Buddha, melainkan juga dengan adi buddha sendiri. Kalacakratantra mempunyai berbagai nama dalam sekta tantra yang lain seperti Hewarja,Kalacakra,Acala,Cakra Sambara, Vajrabairava,Yamari, Candama harosama dan berbagai bentukHeruka.

     Di dalam tantrayana ritual adalah elemen utama untuk merealisaikan Kebenaran Tertinggi. John Woodroffe mengatakan, ritual adalah sebuah seni keagamaan. Seni adalah bentuk luar materi sebagai ekspresi dari idea-idea yang berdasrkan intelektual dan dirasakan secara emosional. Seni ritual berhubungan dengn ekspresi idea-idea dan prasaan tersebut yang secara khusus disebut religious. Ini adalah suatu cara, dengaan mana kebenaran religious ditampilkan, dan dapat dimengerti dalam bentuk material dan simbol-simbol oleh pikiran. Ini berhungan dengan semua manifestasi adam dalam wujud keindahan,  dimana untuk beberapa alasan, Tuhan memperlihatkan diri Beliau sendiri. Tetapi ini tidak terbatas hanya untuk tujuan itu semata-mata. Artinya, denagn seni religious sebagai alat pikiran yang ditransformasikan dan di sucikan.

    Masab siva-buddha dengan pengaruh khusus Klacakratantra dapat dilihat pada tinggalan-tinggalan arkeologi seperti di Candi Jawi. Prapanca dalam NagarakertagamaBaab 56 ayat 1 dan 2 melukiskan monumen ini dengan sangat indah. Bagian bawah Candi  yaitu bagian dasar dan bagian badan candi adalah Sivaitis  dan bagian atas atau atap, adalah buddhistis, sebab Di dalamkaar terdapat arca Siva dan diatasnya di langit-langit terdapat sebuah arca Aksobhya. Inilah  alasannya mengapa Candi Jawi sangat tinggi dan oleh karena itu dissebut sebuah Kirthi. Dalam tantra Hindu prinsip metaphisik Siva-Shakti dimanifestasikaan di dunia material ini dalam wujud laki daan perempuan sedangkan dlam tantra Buddha pola sama diikuti  dimana prinsip-prinsip  metaphisik Prajna dan Upaya termanifestasikan dalam wujd perempuan dan laki-laki. Tujuan ttertinggi daari kedua masab tantra ini adalah penyatuan sempurna yaitu penyatuan antara dua aspek dari realitas dan relisasi dari sifat-sirat non-dual dari roh dan non-roh.

sumber : Bheri isi denpasar 2008

Add a Comment

required, use real name
required, will not be published
optional, your blog address