Apr
17
2018

Sejarah, Bentuk dan Fungsi tabuh serta tari Legong Raja Cina

Legong raja cina merupakan sebuah akulturasi budaya antara budaya bali dan budaya cina. Untuk mengingat hubungan antara Bali dan Cina jadi dibuatlah kesenian-kesenian seperti salah satunya kesenian Legong. Menurut Agung Raka Saba (alm) ayahanda dari I Gusti Ngurah Serama Semadi (narasumber) mengatakan dahulu sudah pernah ada Legong Raja Cina namun keberadaanya tidak pernah dijelaskan secara pasti oleh Agung Raka Saba. Menurut penafsiran I Gusti Ngurah Serama Semadi Legong Raja Cina itu ada sekitar tahun 30’an, kenapa ia menafsirkan seperti itu? Karena pada waktu itu penarinya sudah ada tiga orang, kalau tidak tiga orang maka tidak akan bisa menarikan Legong Raja Cina “ujar Gusti Ngurah Serama Semadi”. Itu pun tafsiran setelah rekontruksi berjalan. Di ceritakan oleh Gusti Ngurah Serama Semadi sebelum rekontruksi berjalan, Agung Raka Saba (alm) mengatakan ada Legong yang belum direkontruksi atau belum bisa dibangun kembali yaitu Legong Raja Cina dan Legong Bramara pada tahun 2000 ketika itu ayahanda dari Gusti Ngurah Serama Semadi masih ada dan Gusti Ngurah Serama Semadi menawarkan untuk direkontruksi namun saying ketika akan direkontruksi Agung Raka Saba meninggal dunia, hingga akhirnya rekontruksi tidak bisa dilaksanakan. Tetapi Gusti Ngurah Serama Semadi tetap berkeinginan agar Legong Raja Cina bisa bangkit kembali. Kemudian Gusti Ngurah Serama Semadi melakukan penelitian terlebih dahulu ia mencari informasi dengan mewawancarai beberapa seniman seperti I Gusti Ngurah Padang (salah satu seniman dan mantan guru SMKI), Bapak Sue dari pejeng (guru di SMKI) dan banyak lagi termasuk bapak Sinti namun saying tidak ada yang mengetahui tentang Legong Bramara dan Legong Raja Cina. Karena Gusti Ngurah Serama Semadi berambisi agar Legong ini bisa bangun kembali akhirnya ada sebuah acara pengukuhan seorang Frofesor bapak Sedana sekitar tahun 2005, ketika itu Gusti Ngurah Serama Semadi diundang dan bertemu dengan I Wayan Berata (seorang tokoh besar senima karawitan). Ia menanyak kepada bapak Wayan Berata apakah memiliki gending Legong Raja Cina? Kemudian bapak Wayan Berata mengatakan bahwa ia memiliki buku atau catatan gending Legong Raja Cina, dahulu ia diberikan buku oleh seorang seniman yang bernama Agung Griya. Setelah mendapat informasi itu diutuslah anak dari Gusti Ngurah Serama Semadi yaitu Agung Jaya Kesuma untuk mengambil buku tersebut kerumah bapak I Wayan Berata. Gendingnya diberikan dalam bentuk Foto Copyan tulis tangan yang kemudian dipelajari. Gending yang diberikan bapak I Wayan Berata hanya berisi bagian pengawak dan pengecet, kemudian bagian yang lainnya dibuatkan ulang oleh Gusti Ngurah Serama Semadi. Setelah itu Gusti Ngurah Serama Semadi mulai memikirkan tokoh-tokoh yang akan dimasukan ke dalam cerita dari tari legong ini, sempat juga ia bertanya pada bapak Frof. Dibya dan bapak Frof. Bandem namun beliau tidak memberikan informasi hanya disuruh untuk membangun saja terlebih dahulu. Ketika Gusti Ngurah Serama Semadi mencari ceritanya ia teringat dengan perkatan ayahandanya yang pernah mengatakan kalau Raja Bali dan Orang cina itu menikah, nah itu lah yang kemudian dijadikan pedoman dalam cerintanya. Selanjutnya ia melakukan analisis terhadap cerita serta memikirkan peran dan bagaiman cara memasukan ke dalam gerak tari. Kemudian ia mengadakan latihan untuk tari dan untuk bagian pembuatan gending penambahan dari pengawak. Setelah itu barulah Legong Raja Cina bisa dipentaskan di Pesta Kesenian Bali (PKB) ketika itu pementasan Legong Raja Cina mendapat banyak simpati dan masukan-masukan baik dari penikmat seni maupun pengamat seni, dari sanalah akhirnya Legong Raja Cina ini kembali di perbaiki atau dilakukan penyempurnaan baik lagi hingga lahirlah Legong Raja Cina seperti sekarang ini. Setelah melakukan rekontruksi Gusti Ngurah Serama Semadi baru bisa memaknai untuk apa sebenarnya orang membuat Legong Raja Cina? Keinginan pencipta dulu adalah untuk menghormati, menghargai dan memaknai nilai akulturasi budaya Bali dan Cina yang kemudian di wujudkan dalam bentuk Barong Landung dimana sebutan lainnya yaitu Jero Wayan (untuk barong landung pria) dan Jero Luh (untuk barong landung wanita). Contoh lainnya seperti uang kepeng dimana uang kepeng yang ada di bali tidak bisa ditemukan di Cina karena kemungkinan itu uang kepeng yang hanya dibuat diBali. Makanya adalah akulturasi budaya untuk mengadakan rekontruksi, tujuan rekontruksi tiada lain agar kita bisa memaknai setiap budaya yang ada seperti di Cina kita harus bisa memaknai gerak-gerak orang Cina, gerak barong landung, semua itu dikumpulkan dan dijadikan dasar untuk merekontruksi.

Written by in: Tak Berkategori |

Tidak ada komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL


Leave a Reply

Powered by WordPress | Theme: Aeros 2.0 by TheBuckmaker.com