Di Indonesia banyak berkembang alat music atau gambelan, hal ini dikarenakan suku – suku di Indonesia bermacam – macam, hampir setiap pulau di Indonesia memiliki budaya dan seninya. Identitas music Indonesia terbentuk ketika jaman perunggu, music – music suku tradisional Indonesia mulai berkembang menjadi music yang rumit dan berbeda – beda, seperti alat , music sasando di Pulau Rote, angklung dari Jawa Barat, dan music orchestra gambelan yang komplek dari Jawa dan Bali.

Indonesia sebagai bangsa yang terdiri dari ribuan pulau dan ratusan suku memiliki khasanah kebudayaan yang beraneka ragam, mulai dari music, tari – tarian, seni rupa dan bentuk upacara – upacararitual yang kemudian memberikan warna akan keaneka ragaman seni budaya bangsa. Sebagai seni pertunjukkan yang telah mengalami proses yang sangat panjang dari masa – kemasa sehingga menjadi seperti sekarang ini adalah suatu perjalanan yang tidak mudah.

Sekarang saya akan sedikit membahas tentang salah satu instrument yang berasal dari Jawa Barat atau yang lebih dikenal alat music sunda yaitu kecapi, kecapi merupakan alat music Sunda yang dimainkan sebagai alat music utama dalam Tembang Sunda atau Mamaos Cianjuran dan Kecapi Suling. Kata kecapi dalam bahasa sunda juga merujuk tanaman sentul, yang dipercaya kayunya digunakan untuk membuat alat music kecapi.

Alat music tradisional kecapi merupakan alat music klasik yang selalu mewarnai beberapa kesenian di Tanah Sunda ini. Membuat kecapi bukanlah hal yang mudah. Meski sekilas tampak kecapi seperti alat music sederhana, tetapi membuatnya tidaklah gampang. Untuk bahan bakunya saja terbuat dari kayu kenanga yanhg terlebih dahulu direndam selama 3 bulan. Sedangkan senarnya, kalau inginmmenghasilkan nada yang bagus, harus dari kawat suasa (logam campuran emas dan tembaga), seperti kecapi yang dibuat tempo dulu. Beruhubung suasa saat ini sedang harganya mahal, senar kecapi sekarang lebih menggunakan kawat baja.

Kecapi suling mnerupakan perangkat waditra Sunda yang terdapat hamper di setiap daerah di Tatar Sunda. Waditranya terdiri dari kecapi dan suling. Selain di tampilkan secara instrumental, kecapi suling juga dapat digunakan untuik mengiringi Juru Sekar yang melantunkan lagu secara Anggana atau Rampak Sekar. Lagu yang disajikannya antaranya Sinom Degung, Kaleon, Talutur dan lain sebagainya.

Alat music kecapi memiliki dua buah bentuk yaitu kecapi perahu dan kecapi siter,

Kecapi perahu   : adalah suatu kotak resonansi yang bagian bawahnya diberi lubang resonansi untuk memungkinkan suara keluar. Sisi – sisi jenis kecapi ini dibentuk sedimikian rupa sehingga menyerupai bentuk sebuah perahu. Dimasa lalu, kecapi ini dibuat langsung dari bongkahan kayu dengan memahatnya.

Kecapi siter         : merupakan kotak resonansi dengan bidang rata yang sejajar. Serupa dengan kecapi perahu, lubangnya ditempatkan pada bagian bawahnya membentuk trapezium.

Untuk kedua jenis kecapi ini, tiap dawai diikatrkan pada suatu sekrup kecil pada sisi kanan atas kotak. Mereka dapat ditala dalam berbagai system yaitu pelog, sorog atau madenda atau selendro.

Menurut fungsinya dalam mengiringi music, kecapi dimainkan sebagai :

  1. Kecapi indung atau kecapi induk yaitu, memimpin music dengan cara memberikan intro, bridges dan interlude, juga menentukan tempo. Untuk tujuan ini, digunakan sebuah kecapi besar dengan 18 atau 20 dawai.
  2. Kecapi nricik atau kecapi anak yaitu, memperkaya iringan music dengan cara mengisi ruang antar nada dengan frekuensi – frekuensi tinggi, khususnya dalam lagu – lagu yang bermetrum tetap seperti dalam kecapi suling atau sekar penambih. Untuk tujuan ini, digunakan sebuah kecapi yang lebih kecil dengan dawai yang jumlahnya sampai 15.

Penalaan dan notasi kecapi menggunakan notasi degung. N0tasi ini merupakan bagian dari system heptachordal pelog, lihat table berikut :

Pelog Degung Sunda Pelog Jawa
1 (da) 6
2 (mi) 5
3 (na) 3
4 (ti) 2
5 (la) 1

 

Pasangan alat music kecapi sunda ini biasanya adalah suling sunda yang terbuat dari bamboo. Alunan music yang mengalir akan terasa mempesona pada telinga kita jika dimainkan keduanya.

Cara memainkan atau teknik memainkannya  yaitu seperti kita bermain gitar dengan cara memetik, untuk menghasilkan komposisi nada (gending) secara optimal. Cara tersebut meliputi banyaknya jari – jari tangan yang digunakan serta posisi dan gerakan jari – jari tangan ketika memetik senar (kawat).

Teknik petikan kecapi yang sering dipergunakan terutama dalam Cemplungan Jenaka Sunda, Kawih Kecapian, dan Cianjuran, secara global ada 3 macam yaitu sintreuk – toel dijambret, dan dijeungkalan. Yang membedakan antara teknik yang satu dengan yang lainnya, seperti yang telah disebutkan di atas, selain banyaknya jari – jari yang di gunakan juga posisi dan gerakan jari – jari tangan ketika memetik senar. Sehingga dengan demikian nada – nada (gending ) yang di hasilkan jari – jari tangan tersebut akan berbeda pula. Untuk lebih jelasnya ketiga teknik tersebut di atas, akan dijelaskan teknik – tekniknya sebagai berikut.

  1. Sintroek – toel adalah teknik petikan kecapi dengan menggunakan dua jari yaitu telunjuk kanan dan telunjuk kiri. Posisi dan gerakan jarinya satu telunjuk kanan melipat ke daiam, ujung kukunya menyentuh senar gerakan nyintreuk ( menjentik ) dan dua telunjuk kiri agak lengkung ke bawah, ujung kukunya menyentuh senar dengan gerakan noel ( sentuhan dengan ujung jari), sehingga gerakan dari kedua jari itu menghasilkan komposisi nada (gending ) yang diinginkan.gerakan tersebt ada yang searah dalam nada gembyang (oktaf ) atau kempyung ( akor), ada yang berlawanan dengan nada yang berlainan, dan ada pula yang seperti saling bersautan antara telunjuk kanan dan telunjuk kiri. Fungsi dari masing – masing jari di atas ada yang sama – sama sebagai penyaji melodi, ada pula telunjuk kanan sebagai penyaji melodi serta telunjuk kiri sebagai penyaji bass dan lain – lain, artinya tergantung pada kebutuhan musiknya.
  2. Tekni Dijambret adalah petikan kecapi kecapi yang posisi dan gerakannya dan gerakan jarinya terutama jari – jari tangan kanan, seperti menjambret – jambret yaitu membunyikan tiga buah nada secara bersamaan, dengan menggunakan ibu jari, telunjuk, dan jari tengah. Sedangkan posisi dan gerakan tangan kiri ( ibu jari dan telunjuk) seperti ngajeungkalan. Fungsi dari kedua tangan tersebut masing – masing sebagai penyaji iringan (tangan kanan) dan penyaji bass (tangan kiri). Teknik dijambret biasanya digunakan untuk mengiringi lagu – lagu Sunda berirama mars (tempo cepat). Secara praktis, teknik dijambret hanya memiliki satu motif. Oleh sebab itu dalam cacarakannya hanya akan berorientasi pada nada yang akan dimainkan saja, dalam istilah tradisinya disebut kenongan. Misalnya teknik dijambret dalam kenongan.

Sekian, sedikit yang bisa saya bahas..

Diolah dari berbagai sumber.

Tinggalkan Balasan