Tanggal 28 April di peringati masyarakat bali sebagai Hari Puputan Klungkung. Peristiwa perang puputan yang terjadi 28 April 1908 itu telah diabadikan dalam bentuk tugu atau monument setinggi 28 meter di Kota Semarapura, Klungkung. Monument berbahan batu hitam itu terletak dalam posisi sangat strategis karena berdekatan dengan kertha gosa atau taman gili, pusat pertokoan, pasar tradisional dan Kantor Pemkab Klungkung.

Sesungguhnya, sebagaimana ditulis banyak sumber, sejarah Puputan Klungkung tak bisa dipisahkan dari keberadaan Kusamba, sebuah desa pesisir pantai di timur Kota Semarapura yang hingga abad ke-18 lebih dikenal sebagai pelabuhan penting Kerajaan Klungkung. Nama Kusamba mencuat ketika Raja I Dewa Agung Putra membangun istana Kusanegara di desa itu. Dengan begitu, Kusamba pun menjadi pusat pemerintahan kedua Kerajaan Klungkung, dan pelabuhan dikala itu bisa disejajarkan denga pelabuha krajaan lainnya di Bali.

Kusamba jadi kian penting ketika terjadi ketegangan politik antara I Dewa Agung Istri Kanya selaku penguasa Klungkung dengan Belanda dipertengahan abad ke-19. Sampai akhirnya pecah peristiwa perang penting dalam sejarah heroisme Bali. Perang kusamba, yang menuai kemenangan dengan terbunuhnya Jenderal Belanda,AV Michels.

TAWAN KARANG

Perang itu bermula dari terdamparnya dua skoner atau kapal milk milikGP King, seorang agen Belanda berkedudukan di Ampenan, Lombok, di pelabuhan Batulahak, di sekitar daerah Pesinggahan, Klungkung. Kapal ini lalu dirampas oleh penduduk Pesinggahan dan Dawan. Raja Klungkung sendiri menganggap kehadiran kapal dan awaknya sebagian besar orang-orang Sasak itu sebagai pengacau sehingga langsung diperintahkan untuk dibunuh.

Dibagian lain, tersebutlah Mads Lange, seorang pengusaha asal Denmark yang tinggal di Kuta. Ia juga menjadi agen Belanda yang melaporkan peristiwa Klungkung itu kepada wakil Belanda di Besuki. Residen Belanda di Besuki memprotes keras tindakan Klungkung dan menganggapnya sebagai pelanggaran atas perjanjian 24 Mei 1843 tentang penghapusan hukum Tawan Karang.

Kegemaran Belanda pun bertambah karena Klungkung membantu Buleleng dalam Perang Jagaraga pada April 1849. Karenanya timbulah keinginan Belanda untuk mongering Klungkung. Ekspedisi Belanda yang baru saja usai mengahdapi Buleleng dalam Perang Jagaraga, langsung dikerahkan di Padang Bai (dulu Padang Cove) untuk mongering Klungkung. Maka, pada 24 Mei 1849 diseranglah Klungkung.

TIDAK BERIMBANG

Pihak Klungkung sebenarnya sudah mengetahui akan adanya seranga dari Belanda itu. Karenanya, pertahanan di Pura Goa Lawah diperkuat. Dipimpin Ida I Dewa Agung Istri Kanya, Anak Agung Ketut Agung dan Anak Agung Gede Sangging, Klungkung memutuskan mempertahankan Klungkung di Pura Goa Lawah dan Puri Kusanegara di Kusamba.

Perang seru pun terjadi di sekitar Pura Goa Lawah. Namun, karena jumlah pasukan dan persenjataan yang tidak berimbang, laskar Klungkung pun bisa di pukul mundur ke Kusamba. Di Kusamba, laskar Klungkung tak berkutik. Sore itu juga, Kusamba jatuh ke tanga Belanda. Laskar Klungkung mundur ke arah barat dengan membakar desa-desa yang berbatasan dengan Kusamba untuk mencegah serbuan tentara Belanda ke Puri Klungkung.

Jatuhnya Kusamba membuat geram Dewa Agung Istri Kanya. Malam itu juga disusun strategi untuk merebut kembali Kusamba. Maka, diputuskanlah untuk mongering Kusamba pada25 Mei 1849 dini hari. Kebetulan, malam itu, tentara Belanda membangun perkemahan di Puri Kusamba karena merasa kelelahan.

JENDERAL TERJUNGKAL

Sekitar pukul 03.00, dipimpin Anak Agung Ketut Agung, laskar Klungkung menyergap tentara Belanda di Kusamba. Kontan saja tentara Belanda yang sedang beristirahat itu kalang kabut. Dalam situasi yang gelap dan ketidakpahaman terhadap keadaan Puri Kusamba, mereka pun kelabakan.

Dalam keadaan kacau itu, Jenderal Michels berdiri di depan puri. Untuk mengetahui keadaan, tentara Belanda, tentara Belanda menembakkan peluru cahaya ke udara. Justru keadaan ini dimanfaatkan laskar Klungkung mendekati Jenderal Michels. Saat itulah, sebuah meriam canon ditembakkan dan mengenai kaki kanan Michels. Sang jendral pun terjungkal.

Kondisi ini memaksa tentara Belanda mundur ke Padang Bai. Jendral Michels yang sempat hendak diamputasi kakinya akhirnya meninggal dunia sekitar pukul 23.00. dua hari berikutnya jasadnya dikirim ke Batavia. Selain michels Kapten H Everste dan tujuh tentara Belanda juga dilaporkan tewas termasuk 28 luka-luka.

TONGGAKNYA, PERANG DI PURI SEMARAPURA

Di Perang Kusamba, pihak Klungkung kehilangan 800 laskarnya, serta lebih dari 1000 orang luka-luka. Namun begitu, Perang Kusamba menjadi kemenangan gemilang karena di situ seorang jenderal Belanda terbunuh. Sesuatu yang jarang terjadi, Belanda kehilangan panglima perangnya, terlebih Michels tercatat sydah memenangkan perang di tujuh daerah.

Memang harus di akui, pada 10 Juni 1849, Kusamba jatuh kembali ke tangan Belanda dalam serangan kedua yang dipimpin Letkol Van Swieten, Perang Kusamba merupakan prestasi tak boleh diabaikan. Tak hanya kematian Jenderal Michels, Perang Kusamba juga menunjukkan kematangan strategi serta sikap hidup yang jelas pejuang Klungkung. Di Kusamba, pekik perjuangan dan tumpahan darah itu tidak menjadi sia-sia. Belanda sendiri mengakui keunggulan Klungkung ini.

Namun, kemenangan cemerlang di Kusamba itu tidak dipakai sebagai momentum peringatan. Secara resmi Klungkungmemilih peristiwa perang puputan di Puri Semarapura yang dikenal dengan Puputan Klungkung, 28 April 1908, sebagai tonggak peringatan perjuangan daerah menentang kolonialisme Belanda.

LAWAN TANGGUH

Puputan Klungkung yang di akhiri dengan gugurnya Raja Klungkung, Ida I Dewa Agung Jambe bersama para kerabat, keluarga serta pengiring menunjukkan bagaimana semangat perjuangan rakyat Klungkung yang menempatkan kehormatan dan harga diri di atas segalanya. Bukan kemenangan fisik yang dicari, tapi kemenangan kehormatan, harga diri, dan spirit. Samapi disana, kematian menjadi jalan kehidupan.

Namun, Perang Kusamba yang mengukuhkan kemenangan secara fisik serta menunjukkan kecerdasan dan kematangan menyusun strategi putra – putri terbaik Klungkung juga suatu hal yang kayak dikenang. Pada peristiwa itulah Klungkung dan Bali secara umum di pandang sebagai lawan yang yang tangguh oleh Belanda. Pada peristiwa itu pula, secara diam – diam, harga diri orang Bali di kukuhkan setelah dua tahun sebelumnya juga tergugat dalam peristiwa Perang Jagaraga di bawah pimpinan Patih I Gusti Ketut Jelantik.

Kini, setelah 105 tahun Puputan Klungkung berlalu, patutlah di pertimbangkan benang sejarah di rajut antara Kusamba dan Semarapura. Kusamba adalah awal kebangkitan semangat perjuangan rakyat Klungkung menentang kolonialisme Belanda dan Semarapura denga Puputan Klungkung menegaskan semangat itu pada puncak terindahnya.

Sekian yang bisa saya sampaikan…

 

Sumber : Media bacaan Renon

Tinggalkan Balasan