gedeyudana

Blog

Persoalan Seni di Indonesia

Filed under: Tak Berkategori — gedeyudana at 10:08 am on Sabtu, Maret 24, 2018

A.    Permasalahan Estetika Indonesia

a.       Budaya Indonesia

                                                              i.      Mitis

Cara berpikir manusia Indonesia, terutama yang kurang terpelajar, masih mengikuti cara berpikir nenek moyang bangsanya. Apalagi bidang seni, masih amat banyak produk seni yang kita warisi dari nenek moyang yang hidup di zaman pra-modern. Pada Budaya Mitis , manusia justru bersikap menyatu dengan alam luar dirinya. Manusia harus menyelaraskan diri dengan kosmos kalau mau selamat di dunia fana ini. Manusia manyatukan dirinya dengan objek di luar dirinya, dan dari sana menemukan jati dirinya.

                                                            ii.      Ontologis

Manusia mencoba untuk memahami alam di luar dirinya berdasarkan penalarannya dan pembuktian nyata yang tak terbantahkan. Sikap ontologis inilah yang kemudian berkembang dalam masyarakat modern Indonesia sampai sekarang. Alam pikiran Barat dengan deras memasuki Indonesia. Nilai-nilai hidup modern ini hasil dari sikap manusia yang selalu menjaga jarak dan mencoba melihat secara objektif semua yang ada di luar kesadaran atau dirinya. Inilah oleh van Peursen dinamai Budaya Ontologis

b.      Logika Budaya

                                                              i.      Mitis

Dalam logika Mitis, adalah wajar apabila keringat Dewa yang menetes dari tubuhnya dapat menjelma menjadi seorang manusia. Itu karena para dewa , di dunia sana, segalanya omnipoten, serba mungkin, sedang di dunia manusia bersifat fana. Itu sama sekali tidak menyalahi logika budaya mitis, karena ada kesatuan antara seluruh ciptaan, seluruh kosmos, termasuk antara dunia abadi nun di sana dengan dunia manusia.

Cara berpikir demikian itulah yang melahirkan karya seni yang kita warisi hingga sekarang ini. Dan, karya seni itu tak dapat dipahami dengan pendekatan ontologis.

                                                            ii.      Ontologis

Berbagai karya seni itu, terutama seni pertunjukannya, telah mengalami berbagai perubahan bentuk dan malah kadang-kadang berubah fungsinya, dari mitis menjadi ontologis, yakni sekadar kesenian belaka, sekadar estetika belaka tanpa kaitan religius sama sekali.

c.       Permasalahan

Bagaimana kita bisa memahami (secara ontologis) dunia pemikiran purba itu dalam sekian banyak warisan seni tradisional kita?

Tentu mudah apabila masyarakat penghasil karya seni tersebut masih homogen.

Tetapi akan sulit bagi masyarakat yang homogen, seperti di Pulau Jawa misalnya.

B.     Dasar Religius Estetika Mitis

Budaya mitis adalah kesatuan mikrokosmos dan makrokosmos, kesatuan yang imanen dengan yang transenden, kesatuan dunia manusia dengan dunia roh dan dewa. Konsep kesatuan kosmos ini hanya dapat diperoleh lewat sistem kepercayaan dalam hal ini dapat dikatakan ‘agama asli’ indonesia. Maka, sumber pengetahuan manusia sekarang untuk memahami estetika seni budaya mitis adalah kepercayaan ‘asli’ yang kini masih tersisa, ditambah dengan metode perbandingan dan data tertulis di masa lampau.

Dalam system religi terdapat pokok-pokok yang dipercayai :

a.       Sistem upacara atau ibadah yang dilakukan.

b.      Dasar mitologi yang dipercayai sebagai kisah asal usul semesta

c.       Etika agama yang lazim disebut hukum adat.

d.      Sistem mistik untuk memasuki pengalaman kesatuan dengan kosmos.

e.       ‘primbon’ dalam keselarasan dan tidak selaras dengan kosmos.

Pengalaman estetik sekaligus merupakan pengalaman religius. Pengalaman estetik adalah suatu ekstase dengan kosmos. Peleburan diri dalam seni adalah peleburan diri dalam pengalaman mistik.

Estetika budaya mitis, dengan demikian berbeda dengan estetika budaya ontologis. Dalam budaya ontologis, pengalaman estetik bukanlah pengalaman religius. Namun, pengalaman religius dapat dicapai setelah pengalaman estetik selesai.

C.     Seni Sebagai Upacara Keagamaan

a.       Upacara itu merupakan dunia ambang, dunia antara, dunia pertemuan antara yang transenden dengan yang imanen.

b.      Keagamaan adalah dunia liminalitas

Dalam upacara agama asli Indonesia, kesenian sering dipakai untuk mencapai pertemuan transendental tersebut. Melalui kesenian, tercapai pengalaman khusus yakni pengalaman estetik.

Seperti dikatakan Saini km dalam bukunya, peristiwa teater (1996), seni teater adalah dunia ambang, yakni ambang untuk menoleh kepada yang inderawi dari pengalaman sehari-hari dan juga menoleh pada dunia nilai

Dari situ muncul kreativitas seniman, bagaimana menghadirkan tokoh atau roh dunia sana yang abadi, tertib kosmos, omnipoten itu ke dalam wujud duniawi yang serba terbatas. Maka, lahir karya seni tradisional yang berkwalitas tinggi dan menarik umat manusia sampai kini

D.    Memahami Estetika Mitis

Dalam praktik hidup kontekstual sekarang ini, campur aduk antara nilai budaya mitis, ontologis, dan fungsional. Belum sepenuhnya di segala sektor budaya kita modern secara ontologis. yang jelas, di sektor budaya seni, dalam hidup sehari-hari, kita masih terus memelihara dan mempergunakan fungsi seni secara mitis daripada secara ontologis ataupun fungsional.

Kalau kita percaya bahwa ‘bentuk’ mengikuti ‘fungsi’ dalam kebudayaan, maka bentuk kesenian tradisional yang sekarang masih hidup dalam konteks masyarakat sekarang ini, sebagian masih berfungsi asal (mitis) dan sebagian telah berubah fungsi, namun bentuknya tetap berstruktur mitis. Maka, untuk memahami karya seni yang demikian kita tidak dapat melihat benda seninya belaka dengan dengan tafsiran kontekstual kita sendiri, tetapi harus berusaha menempatkan benda seni tersebut dalam bentuk dan fungsinya sesuai dengan konteks sosio-budayanya.

E.     Konteks Estetika Seni Tradisi

Seni tradisi masih hidup segar dalam konteks ideologi masyarakat pedesaan. Dalam jenis Seni Statis (rupa, arsitektur, sastra tulis) tidak mengalami perubahan, sama seperti dahulu kala. Tari Seblang, Ronggeng, Tayub yang masih hidup di lingkungan rakyat pedesaan sekarang ini tentu saja mengalami perubahan bentuknya dan juga fungsinya. Objek tarian atau teater atau karya musik yang sekarang ada merupakan hasil penafsiran dan pembentukan (penciptaan) kembali oleh konteks berbagai zaman.

Tiga masa perubahan besar :

a.       Masuknya pengaruh seni India

b.      Masuknya agama Islam

c.       Masuknya pengaruh Belanda

Dua konteks budaya sejak munculnya lembaga kerajaan di pusat-pusat pemerintahan

a.       Budaya pedesaan

b.      Budaya Istana

Kesimpulan

  1. Budaya Indonesia terdiri dari Budaya Mitis dan Ontologis
  2. Pengalaman estetik sekaligus merupakan pengalaman religius. Pengalaman estetik adalah suatu ekstase dengan kosmos. Peleburan diri dalam seni adalah peleburan diri dalam pengalaman mistik.
  3. Lahir karya seni tradisional yang berkwalitas tinggi dan menarik umat manusia sampai kini karena adanya Upacara Keagamaan
  4. Seni tradisi mengalami 3 perubahan besar : masuknya pengaruh seni India, masuknya Agama Islam, dan masuknya pengaruh Belanda.


Tidak ada Komentar »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>