resensi kekawin ” semaradana “

This post was written by ciptaadikusuma on April 10, 2012
Posted Under: Tulisan

Kekawin :

Hunnin gĕņdin sĕdag śanka tinulup anuhuh kanśinya kumisik,

Gon kĕndan ghūrnitāgĕg gubar inatus-atus ginwal kumurutug,

Panhriknin tunganan mwan panuhuhin akudāsumbar ta katĕkan,

Dukduk jantrānhudan rin gagana saha pisuh tan daitya waragan.

Dewa Indra telah membangun benteng lalu melaju. Diikuti oleh para dewa dengan cekatan bersiap dengan bendera berkibar. Tampak para raksasa berpencar sangat menyeramkan berteriak bagaikan halilintar. Serentak bergemuruh bergulung-gulung serta gajah dan kereta. Ketiga dunia dikerubuti bulatan dunia diserang. Semua bingung karena diserang oleh raksasa yang penuh sesak tidak berselang berbaur. Gunung Meru berguncang dan dunia pun rentak dan miring. Tujuh samudra menjadi pasang dan bergelombang hingga ke langit. Gemerlap bergemuruh mengalunkan tabuh perang, sangkakala mendengung ditup, dan kangsi bergerincing. Gong dan gendang gemuruh berpadu dengan tambur berates-ratus ditabuh gegap gempita. Ringkikan kuda dan gajah bersorak yakin akan mencapai tujuan. Senajata tombak dan jantra bagaikan hujan di angkasa para pemimpin pasukan raksasa dalam pertempuran barkata-kata tampa tujuan. Segera pasukan perang beradu saling menyerang dan senjata trisula sudah dilepas. Banyak yang terkena tombak membalas dengan memukul hingga beribu-ribu yang terlentang dan bertumpuk-tumpuk. Banyak yang membawa perisai berdentingan dan hancur ditebas. Berdenting-denting suara keris yang ditangkis lalu dihujam dengan senjata cakra. Keadaannya bagaikan halilintar karena senjata-senjata yang utama dilemparkan dan lemparannya tersebar. Saling menebas dan digotong dengan tombak yang berlapis-lapis hingga tidak henti-hentinya menghujan. Hancur lebur karenasaling memukul dengan gada, musala, dan pentung. Menderu bergoyang gemuruh menyerbu saling peluk berguling-guling para laskar bergulat. Hancur balai-balai kereta karena dipukul dengan bajak besi senghingga runtuh, terbalik, dan bergelantungan. Bagaikan terhalang roda kereta karena kudanya ditombak sengingga tidak bertenaga meringkuk. Hancur kaki laskar yang menungganginya karena diterjang, ditebas, dipenggal dan dikerubut dengan garang merenggut rambut an membalas dengan keris sambil terjun menerjang bergedebuk. Banyak yang dibelit oleh belalai gajah dan dibanting-banting dilempar keatas hingga bergeliat-geliat. Tiada bertenaga akan tetapi yang memegang senjata membalas dengan menikam dengan lembing yang tajam. Tidak lama kemudian tembus perut gajah yang besar senggingga rontok tulang iganya. Luas terkuak dan dalam lukanya sengingga darahnya menetes. Laskar raksasa dengan serentak menyerang dan mengamuk dengan membabi buta. Menebas dan menerjang, menyaka dan menikam dengan trisula, serta menikam dengan keris. Banyak bala tentara raksasa dengan tombak yang berkait menorah perut mangait usus. Yang lain dengan seram dan garang mengelupas kepala hingga menjulur uratnya ke luar. Bingung para bidadara berhamburan saling injak karena didesak dijepit dan dikurung. Bercampur baur bergerak-gerak dikejar dilempar dan kepalanya dipenggal. Banyak yang terputus tangannya, ada yang dilemparkan lengannya hingga terpelanting jatuh. Ada yang berteriak-teriak kesakitan didera disakiti diiris-iris kakinya dikunyah. Dewa Indra maju dengan melesat karena laskarnya ikejar terbirit-birit. Disertai oleh para dewa bersatu menyerang dari samping. Dewa Wisnu dan Dewa Brahma tidak ragu-ragu dalam hati sebagai pelopor berbentik taring di tepi. Dari kiri dan kanan mengerubut dengan senjata-senjata utama menyerang dengan garang dan beringas. Terdesak laskar para raksasa tertebas dan tertikam dari samping oleh laskar para dewa. Berhamburan campur aduk dan banyak yang mati didiksa dan diterjang hingga tanpa tenaga didesak. Hancur terkena cakra dan tombak diterjang hingga mengerikan. Banyak raksasa yang seperti landak karena banyaknya panah yang menghujam bersuara bising. Para mentri raja raksasa yang berjumlah Sembilan puluh tujuh dipengga dan penggalannya dijingjing. Dan semua yang berada di angkasa hancur lebur bagaikan petir bergemuruh. Mengerikan mengaduh kemudian terjatuh bergemuruh bertumpuk-tumpuk dan berbenturan bagaikan gunung retak. Hancur oleh empat dewa pelindung dunia yang menyerang dan membinasakan laskar dengen. Mayatnya tidak lagi berbentuk karena semua hancur, gajah dan kuda hancur lebur bagaikan dicingcang. Tidak bedanya dengan cincangan daging dan seperti jajan yang diiris-iris mayatnya berhamburan. Karena banyaknya senjata yang mengenai bagaikan tertimpa hujan. Bagaikan sungai darah dengan lupur daging yang pasang dalamnya sedada. Keadaan dalam perang semua serba mengerikan kerena lumpur daging yang dalam. Lempur darah yang padat bersuara debas-debus setiap diinjak berdenyut. Lagi pula ganggang dari rambut dan usus yang berbeletan menghalangi kaki. Singkatnya amat sulit bagi orang yang ingin berjasa agar tidak takut dalam medan perang. Pada saat laskar raksasa terkapar oleh laskar para dewa. Maka pemimpin raksasa segera maju membalas dengan menyerang. Itu sebabnya berteriak lantang menakutkan bersungut-sungut menyerang dengan bembabi buta bagaikan kilat mengamuk. Bergerak berombak para raksasa, dewa terkejut dan setiap yang dijumpai menghadang semua hancur lebur dibinasakan.

 

 

Comments are closed.