resensi kekawin ” semaradana “

Kekawin :

Hunnin gĕņdin sĕdag śanka tinulup anuhuh kanśinya kumisik,

Gon kĕndan ghūrnitāgĕg gubar inatus-atus ginwal kumurutug,

Panhriknin tunganan mwan panuhuhin akudāsumbar ta katĕkan,

Dukduk jantrānhudan rin gagana saha pisuh tan daitya waragan.

Dewa Indra telah membangun benteng lalu melaju. Diikuti oleh para dewa dengan cekatan bersiap dengan bendera berkibar. Tampak para raksasa berpencar sangat menyeramkan berteriak bagaikan halilintar. Serentak bergemuruh bergulung-gulung serta gajah dan kereta. Ketiga dunia dikerubuti bulatan dunia diserang. Semua bingung karena diserang oleh raksasa yang penuh sesak tidak berselang berbaur. Gunung Meru berguncang dan dunia pun rentak dan miring. Tujuh samudra menjadi pasang dan bergelombang hingga ke langit. Gemerlap bergemuruh mengalunkan tabuh perang, sangkakala mendengung ditup, dan kangsi bergerincing. Gong dan gendang gemuruh berpadu dengan tambur berates-ratus ditabuh gegap gempita. Ringkikan kuda dan gajah bersorak yakin akan mencapai tujuan. Senajata tombak dan jantra bagaikan hujan di angkasa para pemimpin pasukan raksasa dalam pertempuran barkata-kata tampa tujuan. Segera pasukan perang beradu saling menyerang dan senjata trisula sudah dilepas. Banyak yang terkena tombak membalas dengan memukul hingga beribu-ribu yang terlentang dan bertumpuk-tumpuk. Banyak yang membawa perisai berdentingan dan hancur ditebas. Berdenting-denting suara keris yang ditangkis lalu dihujam dengan senjata cakra. Keadaannya bagaikan halilintar karena senjata-senjata yang utama dilemparkan dan lemparannya tersebar. Saling menebas dan digotong dengan tombak yang berlapis-lapis hingga tidak henti-hentinya menghujan. Hancur lebur karenasaling memukul dengan gada, musala, dan pentung. Menderu bergoyang gemuruh menyerbu saling peluk berguling-guling para laskar bergulat. Hancur balai-balai kereta karena dipukul dengan bajak besi senghingga runtuh, terbalik, dan bergelantungan. Bagaikan terhalang roda kereta karena kudanya ditombak sengingga tidak bertenaga meringkuk. Hancur kaki laskar yang menungganginya karena diterjang, ditebas, dipenggal dan dikerubut dengan garang merenggut rambut an membalas dengan keris sambil terjun menerjang bergedebuk. Banyak yang dibelit oleh belalai gajah dan dibanting-banting dilempar keatas hingga bergeliat-geliat. Tiada bertenaga akan tetapi yang memegang senjata membalas dengan menikam dengan lembing yang tajam. Tidak lama kemudian tembus perut gajah yang besar senggingga rontok tulang iganya. Luas terkuak dan dalam lukanya sengingga darahnya menetes. Laskar raksasa dengan serentak menyerang dan mengamuk dengan membabi buta. Menebas dan menerjang, menyaka dan menikam dengan trisula, serta menikam dengan keris. Banyak bala tentara raksasa dengan tombak yang berkait menorah perut mangait usus. Yang lain dengan seram dan garang mengelupas kepala hingga menjulur uratnya ke luar. Bingung para bidadara berhamburan saling injak karena didesak dijepit dan dikurung. Bercampur baur bergerak-gerak dikejar dilempar dan kepalanya dipenggal. Banyak yang terputus tangannya, ada yang dilemparkan lengannya hingga terpelanting jatuh. Ada yang berteriak-teriak kesakitan didera disakiti diiris-iris kakinya dikunyah. Dewa Indra maju dengan melesat karena laskarnya ikejar terbirit-birit. Disertai oleh para dewa bersatu menyerang dari samping. Dewa Wisnu dan Dewa Brahma tidak ragu-ragu dalam hati sebagai pelopor berbentik taring di tepi. Dari kiri dan kanan mengerubut dengan senjata-senjata utama menyerang dengan garang dan beringas. Terdesak laskar para raksasa tertebas dan tertikam dari samping oleh laskar para dewa. Berhamburan campur aduk dan banyak yang mati didiksa dan diterjang hingga tanpa tenaga didesak. Hancur terkena cakra dan tombak diterjang hingga mengerikan. Banyak raksasa yang seperti landak karena banyaknya panah yang menghujam bersuara bising. Para mentri raja raksasa yang berjumlah Sembilan puluh tujuh dipengga dan penggalannya dijingjing. Dan semua yang berada di angkasa hancur lebur bagaikan petir bergemuruh. Mengerikan mengaduh kemudian terjatuh bergemuruh bertumpuk-tumpuk dan berbenturan bagaikan gunung retak. Hancur oleh empat dewa pelindung dunia yang menyerang dan membinasakan laskar dengen. Mayatnya tidak lagi berbentuk karena semua hancur, gajah dan kuda hancur lebur bagaikan dicingcang. Tidak bedanya dengan cincangan daging dan seperti jajan yang diiris-iris mayatnya berhamburan. Karena banyaknya senjata yang mengenai bagaikan tertimpa hujan. Bagaikan sungai darah dengan lupur daging yang pasang dalamnya sedada. Keadaan dalam perang semua serba mengerikan kerena lumpur daging yang dalam. Lempur darah yang padat bersuara debas-debus setiap diinjak berdenyut. Lagi pula ganggang dari rambut dan usus yang berbeletan menghalangi kaki. Singkatnya amat sulit bagi orang yang ingin berjasa agar tidak takut dalam medan perang. Pada saat laskar raksasa terkapar oleh laskar para dewa. Maka pemimpin raksasa segera maju membalas dengan menyerang. Itu sebabnya berteriak lantang menakutkan bersungut-sungut menyerang dengan bembabi buta bagaikan kilat mengamuk. Bergerak berombak para raksasa, dewa terkejut dan setiap yang dijumpai menghadang semua hancur lebur dibinasakan.

 

 

resensi buku ” ngereh “

NGEREH

Apa sesungguhnya yang dimaksud dengan ngereh itu ? Setelah dicari-cari pada beberapa kamus Bahasa Bali ternyata tidak mencantumkan kata ngereh. Begitu juga pada Kamus Bahasa Bali karangan Simpen AB juga tidak ditemukan kata ngereh.

Namun beberapa lontar memang ada memberi petunjuk mengenai ngereh, antara lain Lontar Canting Mas (Informasi dari Ida Pedanda Bang Buruan pada majalah taksu, 196 th 2007), Widhi Sastra dan Ganapati Tatwa dan lontar pengerehan. Lontar-lontar tersebut ternyata memberikan penjelasan mengenai ngereh atau kerauhan dalam perspektif yang luas, sehingga menimbulkan kesan bahwa ngereh hanyalah prosesi mistik yang sangat rahasia. Disebut rahasia sebab dilakukan di kuburan tengah malam, hal ini merupakan pengertian ngereh yang sempit yang hidup dan berkembang dalam benak masyarakat Hindu Bali.

Jadi ngereh merupakan suatu prosesi ritual mistik yang dilakukan dikuburan pada tengah malam dan merupakan tahapan akhir dari proses sakralisasi petapakan Ida Bhatara Rangda atau Barong Landung. Atau tahapan akhir dari proses sakralisasi setelah memperbaiki petapakan yang lama atau rusak.

Menurut Ida Pedanda Bang Buruan Manuaba dari Gria Muding Kerobokan Kabupaten Badung bahwa ngereh merupakan simbulis kumpulan aksara-aksara suci yang terdapat dalam swalita dan mudra yang dirangkum menjadi satu sehingga menjadi kalimusada dan kalimusali yang biasanya dipakai untuk surya sewana. Dari kalimusada dan kalimusali ini muncul dwijaksara diakulturasikan menjadi panca aksara kemudian menjadi Tri Aksara, Dwi Aksara dan akhirnya menjadi Eka Aksara.

Kaitannya dengan ngereh adalah menghidupkan kekuatan Ista Dewata atau lingga beliau yang sesuai dengan fungsinya, khususnya mengidupkan benda-benda yang dibikin oleh manusia. Dalam beberapa lontar yang ada yang memuat tentang ngereh yakni lontar Canting Mas dan Siwer Mas peninggalan Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh / Dang Hyang Dwi Jendra, ngereh mempunyai arti yakni menghidupkan organ inti manusia yang berupa cakra-cakra dalam tubuh manusia.

Didalam tubuh manusia terdapat tujuh cakra yang harus dihidupkan menjadi kundalini yang menjadi rah atau ngereh. Dengan kata lain kita harus menyatukan ongkara ngadeg dan ongkara sungsang dalam tubuh. Ini berfungsi untuk mengaktifkan kekuatan diri sendiri untuk mencapai kesadaran diri dan dapat menyatu dengan sifat-sifat beliau ( ketuhanan ). Dengan sifat-sifat ketuhanan yang lebih mantap akan memudahkan kita berbuat baik dalam menjalani hidup. Di masyarakat dikenal dengan membangkitkan aura (taksu) yang berdasarkan kekuatan batin. Jadi tidak selalu ngerehang itu bersifat menyeramkan. Kalaupun itu bersifat menyeramkan berarti merupakan spesifikasi dari ngerehang. Khusus terhadap ngerehang rangda dan barong landung haruslah mengacu pada dresta yang berlaku setempat.

Menurut Drs. I Made Karda, M.Si yang juga sebagai tukang saluki rangda pada tulisannya di majalah Taksu 169 Thun 2007 menjelaskan bahwa Ngereh lebih dekat dengan kata kerauhan atau kesurupan, yang artinya kemasukan roh manifestasi Tuhan. Mereka akan menggeraklan tubuhnya sesuai dengan kekuatan yang menempatinya.

Ditambahkan bahwa kerauhan di Bali ada 2 (dua) konsep : pertama : kerauhan yang biasanya terjadi ketika piodalan di pura, sanggah kemimitan ataupun dirumah yang memberi isyarat bahwa yadnya telah berhasil dengan baik atau sebaliknya tidak berhasil dengan alasan ada kesalahan. Kedua : kerauhan untuk menghadirkan manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa pada saat mengangkat seorang pemangku secara niskala pada suatu pura atau sanggah kemimitan. Ini disebut dengan ketapak ditunjuk secara niskala oleh Ida Bhatara. Kerauhan yang lain adalah untuk pasupati tapel rangda yang terbuat dari kayu Pule setelah dipasupati tidak lagi disebut Tapel rangda tetapi disebut dengan Ratu Ayu sebutan lain yang disepakati oleh masyarakat penyungsungnya.

Ida Bagus Sudiksa seorang tokoh spiritual, dalang dan pembuatan pratima, barong dan rangda dari Desa Adat Kerobokan Kabupaten Badung menyatakan bahwa setelah selesai pembuatan tapakan Ida Bhatara kemudian dilakukan pengatepan, melaspas, nueden, pasupati oleh Sang Sulinggih dan terakhir barulah dilaksanakan pengerehan. Desebutkan bahwa ngereh adalah pesucian dari tapakan Ida Bhatara yang ada di Pura. Adapun makna dari pengerehan adalah pengijakan pertama pada Ibu Pertiwi untuk menghidupkan kekuatan magis barong atau rangda yang dilakukan di setra. Ritual di setra ini berhubungan dengan kekuatan magis dan alam gaib dan erat hubungannya dengan jiwa Agama Hindu di Bali yang menganut paham Siwaisme. Terkait dengan ngereh selain lontar Kala Maya Tatwa ada juga beberapa Lontar tentang pengerehan yakni Lontar Barong Swari yang memuat tentang Kanda Pat, pembuatan barong, rangda, telek, jauk dan lain-lainnya.

Seorang tokoh juga dari Desa Adat Kerobokan Kabupaten Badung Jro Mangku Drs Made Meja Swarata juga berprofesi sebagai dalang dan sejak masih muda biasa memimpin Ritual Ngereh, walaupun beliau tidak terjun langsung selaku pengeranya mengatakan bahwa Ngereh adalah kegiatan yang dilaksanakan dengan tujuan memohon sesuatu pasupati / kekuatan / kehidupan kepada Ida Bhatara terhadap sesuatu petapakan atau palawatan Ida Bhatara misalnya Rangda atau Barong Landung. Ritual ini dilakukan setelah Barong Landung/Rangda (petapakan) selesai diperbaiki (bagi yang lama) atau bagi petapakan yang baru dibuat akan mulai dipergunakan. Sesudah tentunya sebelum ritual ngereh ini, terhadap petapakan ini terlebih dahulu dilaksanakan penyucian dan pemlaspas serta pasupati (sekala).

Demikianlah beberapa difinisi berdasarkan pendapat beberapa orang yang memang sudah cukup berpenglaman terkait dengan ngereh itu. Memperhatikan bebeapa pendapat yang telah diuraikan di depan, pada intinya ngereh itu adalah suatu ritual niskala yang bersifat magis yang merupakan kelanjutan dari ritual sekala yang dilaksanakan terhadap suatu petapakan (biasanya Barong Landung atau Rangda). Jadi ngereh ini bermakna memohonkan kekuatan kehadapan Ida Bhatara agar petapakan menjadi sakral dan memiliki kekuatan gaib sehingga mampu dan diyakini melindungi masyarakat penyungsungnya serta warga disekitarnya.

Ngereh adalah ritual yang langka dan bernuansa magis serta gaib, maka untuk lokasinya pastilah disesuikan. Tentunya, tidak dilaksanakan pada tempat-tempat umum atau keramaian, malah sebaliknya mencari lokasi yang sepi, tenget, sakral jauh dari hiruk piuk keramaian. Dipastikan tempat itu adalah setra (kuburan). Hal ini diperkuat lagi dengan bunyi salah satu definisi atau pengertian dari Ngereh yakni penginjakan pertama pada ibu pertiwi untuk penghidupan pada barong dan rangda yang dilakukan di setra (kuburan).

Pernah satu kali di dalam prosesi ngereh di sebuah kuburan di tengah kota Denpasar yang di sebut Sema Badung. Prosesi itu dimaksudkan untuk membuktikan atau mengetahui apakah Ida Bhatara Rangda yang baru dibuat telah memperoleh atau memiliki kesaktian. Entah karena alasan apa, mungkin pengerahan tidak dapat berkondentrasi lantaran disekitar kuburan itu kendaraan lalu lalang dengan suara yang memekakkan telinga atau karena hubungan antara manusia dengan alam niskala itu telah terputus, maka prosesi itu tidak berhasil atau gagal. Padahal, ngereh kali ini merupakan bagian akhir dari proses sakralisasi merupakan yang sesungguhnya telah melewati tahapan-tahapan yang demikian rumit, panjang dan kompleks.

Lokasi ngereh memang di kuburan, yang kalau dahulu suasana serta keberadaannya betul-betul sepi dan menyeramkan dengan pepohonan besar-besar yang angker. Semak-semak betul-betul rimbun, tenpa tembok pembatas. Namun sejalan dengan perkembangan dan kemajuan jaman, maka kuburan yang semula disebut sama berubah menjadi setra dan kemudian mengikat lagi statusnya menjadi setra gandamayu. Kalau yang disebut dengan sema, memang kondisi kuburan itu betul-betul masih terbelakang yakni dengan ciri-ciri tanpa tembok pembatas/penyengker, semak-semak yang lebat rimbun dan suasananya kumuh, kuburan masih banyak berisi batu nisan dan gegumuk yang letaknya tidak beraturan, begitu juga palinggih-palinggih dan tata cara penanganan kematian sudah professional, seperti dapat dilihat di setra Gandamayu Dalem Kerobokan Desa Adat Kerobokan Kabupaten Badung. Kalau ritual atau prosesi ngereh dilaksanakan disana, maka tentunya saja kalau dilihat secara sepintas, maka suasananya tidak akan seram atau berbau magis, karena memang suasana kesehariannya bagaikan taman kota. Tembok panyengker yang indah, tata tetamanan yang asri, rerumputan menghijau rapi, pohon-pohon besar ditanam teratur, patung-patung artistik dan lampu penerangan yang bercahaya terang.

Namun demikian bukan berarti, kuburan itu tidak memiliki nuansa magis yang tinggi, jika digunakan sebagai lokasi ngereh, maka keberadaan Setra Gandamayu ini akan dikondisikan agar nuansa seram, magis dan gaib betul-betul terasa. Pada saat prosesi ngereh, seluruh kendaraan yang biasa lewat di jalan yang membelah Setra Gandamayu Dalem Kerobokan dialihkan arus lalu lintasnya sehingga suasana betul-betul tenang dan hening. Lampu-lampu penerang jalan, pura, setra dan termasuk bangunan serta perumahan disekitar kuburan seluruhnya dimatikan. Tentu saja hal ini memerlukan koordinasi yang betul-betul intensif dengan pihak-pihak yang terkait. Dengan terciptanya suasana yang bernuansa magis seperti itu ditambah dengan kedisiplinan dan kelascaryaan serta subakti yang tulus iklas niscaya ngereh itu berhasil.

Mengapa pengerehan dilaksanakan di setra? Karena setra atau kuburan merupakan tempat pemujaan terhadap Dewi Durga Bhirawi (Dewanya kuburan sesuai dengan Lontar Bhairawi Tatwa), yang merupakan perwujudan dari Dewi Durga. Dalam mitologinya, Dewa Siwa berubah wujud untuk menemui saktinya Dewi Durga (berupa rangda), sehingga memunculkan beberapa kekuatan yang menyeramkan untuk menguasai dunia. Inilah alasannya kenapa setra dipakai sebagai tempat ngerehang Barong Landung atau Rangda. Karena penuh dengan kekuatan gaib atau Black Magic, sehingga dalam ngerehang ini jika sudah mencapai puncaknya maka ia akan hidup, setelah hidup, rangda akan memanggil anak-anak buahnya berupa leak atau makhluk lainnya.

Tengetnya setra seperti yang tercantum pada Lontar Kala Maya Tattwa, di mulai dengan cerita diadakannya rapat di Sorga Loka oleh Siwa, Sadasiwa dan Paramasiwa sebagai perlambang Tri Purusa. Sedangkan sebagai petugas yang melayani rapat adalah Dewi Uma saktinya dari Siwa yang dibantu oleh para bidadari. Apa yang terjadi ? Ternyata pada saat rapat berlangsung Dewi Uma sedang menstruasi (haid), namun Dewi Uma tidak mau terbuka dan menutupi hal tersebut. Menurut peraturan di Sorga Loka bahwa wanita yang sedang menstruasi (haid) tidak boleh mengikuti kegiatan di Kahyangan.

Kejadian Dewi Uma sedang kotor kain (haid)ini diketahui oleh para Dewa lainnya yang sedang mengikuti rapat, namun Dewi Uma tidak peduli dan berlaku cuek saja. Hal ini diketahui oleh Sada Siwa yang memimpin rapat dan segera memberitahukannya kepada Paramasiwa. Akhirnya kotor kainnya Dewi Uma jatuh dan diketahui oleh Paramasiwa yang menyebabkan beliau marah. Maka diusirlah Dewi Uma dari sorga dan mengutuknya menjadi Dhurga bertempat tinggal di Setra Gandamayu.

Lama-kelamaan Siwa menjadi rindu kepada saktinya Dewi Uma di Setra Gandamayu yang telah berubah menjadi Dhurga. Siwa bermaksud turun ke dunia ingin bertemu dengan Dewi Uma, namun beberapa kali selalu diketahui oleh para Dewa lainnya. Untuk menghindari supaya tidak diketahui oleh para Dewa lainnya, maka Siwa berubah (memurti) menjadi raksasa.

Kemudian bertemulah Dewa Siwa dengan Dewi Uma yang telah menjadi Dewi Dhurga. Mereka bercengkrama yang kemudian mengeluarkan sprema Siwa (raksasa). Untuk sperma yang jatuh di tanah menjadi beberapa macam kayu, yakni pule, kepah, kepuh dan kayu jaran. Sedangkan sperma yang jatuh ditubuhnya menjadi beberapa makhluk seperti Bengala-bengali, bhuta-bhuti, bebai, leak, umik-imikan dan lain-lainnya. Dengan terciptanya tetumbuhan dan makhluk-makhluk seram ini membuat kuburan menjadi angker yang akhirnya memang cocok dipergunakan sebagai lokasi ngereh.

Disamping itu, kelurlah bisama beliau kepada manusia yang isinya agar membuat pura dimana mereka bercengkrama yang diberi nama Pura Prajapati. Pura ini berfungsi untuk meminta keselamatan masyarakat melalui Desa Pakraman, agar terhindar dari malapetaka, grubug maupun penyakit / hama yang menyerang pertanian. Maka dibuatkan pelawatan atau petapakan beliau seperti topeng, barong, rangda dan lain-lainnya.

Tugas Literatur Musik Nusantara :Resensi Buku “HINDU DALAM DINAMIKA BUDAYA GLOBAL”

HINDU DALAM DINAMIKA BUDAYA GLOBAL

Perkembangan agama hindu diberbagai belahan dunia tidak dapat dipisahkan dengan peradaban manusia setiap periodenya, hal itu disebabkan oleh agama Hindu tumbuh dan berkembang senantiasa berintegrasi dengan budaya local yakni nilai-nilai budaya yang tumbuh di lingkungan masyarakat setempat.

Akulturasi budaya merupakan salah satu pedoman yang dipakai dalam penyebaran agama Hindu diberbagai daerah, budaya yang telah ada dilingkungan masyarakat masih diberikan tumbuh dan berkembang yang kemudian nilai-nilai tersebut diberikan legalisasi agar menjadi perpaduan yang utuh antara unsure agama dan budaya.

Perlu diketahui bahwa agam Hindu pertama kali berkembang disekitar lembah sungai sindu yakni di daerah Baratawarsa India, tepatnya di sekitar lembah sungai suci hindu. Di tempat ini para Rsi untuk pertama kalinya menerima wahyu suci secara langsung dari Brahman, yakni Tuhan Yang Maha Esa ( Ida Sang Hyang Widhi Wasa) Wahyu itu kemudian diabadikan kedalam Kitab Suci Weda.

Berikut ini ada baiknya juga disampaikan tentang ruang lingkup materi sejarah kebudayaan dari masa pra Hindu hingga sekarang diantaranya adalah sebagai berikut :

Ø  Zaman Batu dan Logam

Indonesia adalah bangsa yang besar dengan sejarah kebudayaan yang sangat panjang. Menurut hasil temuan-temuan yang ada kebudayaan Indonesia sudah dimulai dari zaman batu. Berdasarkan pendapat-pendapat para ahli prehistoris, zaman batu di bagi menjadi 3 yaitu :

  • Zaman batu tua (Paleolitikum)

Periode zaman ini adalah antara tahun 50.000 SM – 10.000 SM. Pada zaman ini, manusia hidup secara nomaden dalam kumpulan kecil untuk mencari makanan. Mereka memburu binatang, menangkap ikan, dan mengambil hasil hutan sebagai makanan.

  • Zaman batu pertengahan (Mesolitikum)

Ketika pada zaman ini, penduduk Indonesia sudah mulai hidup dengan cara menetap dan sudah mulai bercocok tanam secara sederhana untuk memenuhi kebutuhan makanan mereka, disamping berburu hewan dan menangkap ikan. Tempat tinggal yang mereka pilih pada umumnya berlokasi di tepi pantai dan goa-goa.

  • Zaman batu muda (Neolitikum)

Zaman batu muda (Neolitikum) benar-benar membawa revolusi dalam kehidupan manusia. Pada zaman ini mereka telah hidup menetap, membuat rumah, membentuk kelompok masyarakat desa, bertani dan beternak untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Setelah masa Neolitikum, kemudian kebudayaan Indonesia berlanjut kemasa zaman logam. Hal ini ditandai dengan dikenalnya dengan tehnik untuk mengecor/mencairkan logam dari biji besi dan menuangkan kedalam cetakkan-cetakkan serta mendinginkannya.

 

v  Kebudayaan Hindu dan Budha

Berkat hubungan dagang dengan Negara-negara tetangga maupun dengan yang lebih jauh seperti India, Tiongkok, dan Wilayah timur tengah di Indonesia pun mulai berkembang kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha. Agama hindu masuk ke Indonesia diperkirakan pada awal akhir Masehi (sekitar abad ke 2 sampai abad ke 4) di bawa oleh Rsi Agastya.

Agama Budha sendiri mulai masuk ke Indenesia sekitar abad ke-5. Agama Budha itu sendiri berkembang lebih pesat, ini di karenakan agama Budha tidak menghendaki adanya kasta-kasta dalam masyarakat.

Kedua agama tersebut tumbuh dan berkembang secara berdampingan secara damai. Kebudayaan Hindu dan Budha beralkulturasi dengan kebudayaan asli Indonesia yang sebelumnya telah ada. Masa kedua agama tersebut ditandai dengan munculnya banyak kerajaan-kerajaan di Nusantara. Seperti : Kerajaan Kutai, Kerajaan Tarumanegara, Kerajaan Kalingga, Kerajaan Mataram, Kerajaan Kadiri, Kerajaan Singasari dan yang lainnya.

 


MASUKNYA KEBUDAYAAN INDIA

KE INDONESIA

 

Mengenai proses masuknya pengaruh kebudayaan Asing (India) ke Indonesia ada beberapa pendapat dan teori. Berdasarkan pendapat dan teori tersebut maka pengaruh kebudayaan Asing ( India) yang berkembang di Indonesia meliputi hal-hal sebagai berikut :

Ø  Pengaruh dalam bidang agama yakni agama hindu dan Budha

Ø  Pengaruh dalam bidang kesussastraan yakni Ramayana dan Mahabrata

Ø  Pengaruh dalam Bidang bangunan yaitu Candi

Ø  Pengaruh dalam bidang pengetahuan dan Teknologi yakni pengetahuan kedokteran yang bersumber pada ajur Weda.

Berdasarkan data tersebut diyakini bahwa budaya India masuk ke Indonesia diakibatkan adanya kontak hubungan diantara kedua bangsa tersebut. Hal itu tampak pada perkembangan kebudayaan India di Indonesia tidak menghilangkan unsure-unsur budaya asli Indonesia, bahkan proses akulturasi berjalan sangat harmonis dimana keberadaannya saling melengkapi.

Secara tradisional diyakini bahwa penulisan ajaran agama Hindu lebih mengedepankan pada aspek kearifan local sebagaimana yang terdapat dalam jejak perkembangan agama hindu di masing-masing daerah, salah satunya adalah dengan tidak meninggalkan kebudayaan masyarakat setempat. Bahkan dalam perkembangannya senantiasa mengadakan integrasi nilai-nilai kearifan local yang dimiliki oleh masyarakat.

Daerah dengan local geniusnya secara tidak langsung dimanfaatkan oleh tokoh-tokoh masyarakat untuk mengembangkan ajaran Agama Hindu, selain itu dalam pengembangan ajaran agama peran kebudayaan dan peradaban yang dimiliki oleh masyarakat sangat besar.

Berdasarkan data sejarah bahwa kebudayaan India masuk ke Indonesia kira-kira tahun 400 masehi yakni kurang lebih abad ke V. Ini dibuktikan dengan ditemukannya sebuah Yupa di daerah Kutai Kalimantan Timur. Yupa adalah tiyang batu tempat melaksanakan upacara yadnya yang dilakukan oleh masyarakat pada waktu itu. Dengan ditemukannya Yupa tersebut bahwa masyarakat telah mampu melaksanakan upacara keagamaan secara teratur.

Terkait dengan masuknya pengaruh kebudayaan India ke Indonesia, ada beberapa pendapat dan teori yang menyatakan bahwa proses pengaruh tersebut dilakukan dengan berbagai cara diantaranya adalah:

a.       Menurut Krom dalam teori Brahmana menyatakan bahwa yang membawa kebudayaan India ke Indonesia adalah kaum Brahmana. Teori tersebut diatas ada benarnya, karena sebagian besar pengaruh India terutama pengaruh agama dilakukan oleh kaum Brahmana dengan alas an kesucian kaum Brahmana diperbolehkan menyebrangi samudra guna menjalankan misi kebudayaannya.

b.      Menurut Krom dalam teori Waisya mangatakan bahwa, masuknya pengaruh kebudayaan India ke Indonesia melalui jalur perdagangan. Ini dibuktikan dengan adanya kontak dan jalur perdagangan diberbagai wilayah yang dilakukan oleh pedagang-pedagang India. Dimana pedagang dari India mendirikan perkampungan dimana hingga kini dapat ditemukan di berbagai wilayah Indonesia.

c.       Menurut Mookerjee mengatakan bahwa masuknya agama Hindu ke Indonesia dibawa oleh kaum pedagang India dalam jumlah cukup besar, ini terbukti jalur perdagangan antara kedua Negara cukup ramai. Selain itu pedagang India juga mengajarkan agama kepada penduduk Indonesia yang dijadikan tempat persinggahan untuk berdagang.

d.      Menurut Moon dan Bosch mengatakan bahwa peranan kaum kstria sangat besar dalam penyebaran agama hindu dari India ke Indonesia. Para Ksatria tersebut dengan alas an tertentu datang ke Indonesia dan mengajarkan agama kepada penduduk setempat.

e.       Menurut Ida Bagus Mantra dalam disertasinya menyatakan bahwa Agama Hindu masuk ke Indonesia adalah di bawa oleh orang-orang Indonesia.

f.       Teori baru (evolusi) yakni orang-orang Indonesia datang ke India untuk mempelajari kebudayaan setelah itu mereka kembali ke Indonesia,setelah itu mengajarkan agama Hindu kepada penduduk.

Dari pendapat para ahli tersebut, dimana masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan terhadap teori masuknya kebudayaan India khususnya Agama Hindu ke Indonesia. Akan tetapi konsep yang dikemukakan bahwa agama Hindu masuk ke Indonesia melalui proses diantaranya adalah sebagai berikut :

1.      Melalui proses akulturasi

2.      Melalui proses integrasi

3.      Melalui proses asimilasi

4.      Melalui proses fasific fenestration.

Sementara itu ada teori baru yang menyatakan bahwa masuknya agama hindu ke Indonesia dilakukan dengan cara damai dengan memanfaatkan media-media yang ada waktu itu,seperti media pertunjukkan , media aktifitas kebudayaan dan media komunikasi lainnya. Selain itu penyebarannya juga dilakukan oleh orang-orang Indonesia sendiri dengan alas an hanya orang Indonesialah yang paling paham akan keberadaan kebudayaan dan bangsanya sendiri, dengan cara seperti itu pengaruh kebudayaan India dalam waktu singkat dapat diterima oleh masyarakat.

Menurut Brandes sebelum kebudayaan dan agama hindu masuk ke Indonesia. Masyarakat Indonesia telah memiliki kebudayaan dan peradaban cukup tinggi, masyarakat menganut system kepercayaan yang sangat kuat yaitu kepercayaan animism dan dinamisme. Kepercayaan tersebut dikombinasikan atau dipadukan oleh humat Hindu dengan ajaran agama sesuai isi kitab suci weda, tujuannya agar terjadi hubungan harmonis antara system kepercayaan dengan ajaran agama yang akan diperkenalkan di masyarakat.

Adapun jenis-jenis peradaban yang dimiliki oleh bangsa Indonesia sebelum masuknya pengaruh India, di antaranya adalah sebagai berikut :

v  Bangsa Indonesia telah mengenal wayang

v  Bangsa Indonesia telah mengenal gambelan

v  Bangsa Indonesia telah mengenal ilmu pelayaran

v  Bangsa Indonesia telah mengenal ilmu pertanian

v  Bangsa Indonesia telah mengenal ilmu perbintangan

v  Bangsa Indonesia telah mengenal system nenun

v  Bangsa Indonesia telah mengenal system membatik

v  Bangsa Indonesia telah mengenal system pembuatan logam

v  Bangsa Indonesia telah mengenal system komunikasi

v  Bangsa Indonesia telah mengenal system ketatanegaraan yang teratur

Dalam perkembangan selanjutnya kebudayaan yang tumbuh dan berkembang dijiwai oleh ajaran-ajaran agama hindu. Akibatnya dalam tingkat peradaban sangat sulit membedakan wilayah agama dengan kebudayaan karena satu dengan yang lainnya sudah saling melengkapi. Jika dicermati secara mendalam bahwa proses masuknya kebudayaan India ke Indonesia dilakukan secara harmonis dan dinamis, dimana artinya adalah kebudayaan yang telah ada dan tumbuh dilingkungan masyarakat nilainya diadopsi kedalam nilai-nilai budaya India sehingga perkembangannya tidak menimbulkan konflik di masyarakat waktu itu.

Untuk lebih jelasnya berikut ini penulis kutipan beberapa materi sejarah Indonesia yang memiliki kaitan dengan dinamika Hindu dalam budaya yakni Agama Hindu dan Budha berasal dari anak benua India. Agama Budha diajarkan oleh Sidharta Gautama di India pada 531 SM. Dimana ayahnya seorang raja bernama Sudhodana dan Ibunya Dewi Maya. Sedangkan Agama Hindu di India berkembang sekitar 1500 SM. Sumber ajaran hindu terdapat dalam kitab sucinya yaitu Weda. Kedua Agama tersebut begitu cepat menyebar ke daerah di sekitar India termasuk Indonesia. Hal tersebut dikarenakan posisi geografis Indonesia terletak di jalur perdagangan yang ramai pada masa itu.

 

 

Kmentar Video Rekaman ” Tari Sekar Ibing “

KOMENTAR VIDEO REKAMAN ” TARI SEKAR IBING “

 

Sinopsis

Kehidupan remaja adalah merupakan keunikan yang tiada habisnya untuk diutarakan, inspirasi tatanan pergaulan ketika usia remaja menjadikan sebuah ide dari penggarapan dalam karyanya. Ketika pementasan kesenian sosial dalam bentuk joged bumbung dimana terjadi interaksi antara penari dan penonton, menjadikan sebuah bentuk yang menarik sehingga penggarap mencoba untuk membuat sebuah bentuk tari ibing-ibingan. Tatanan gerak yang diarasemen dengan tabuh yang sederhana mempunyai daya tarik yang mudah dicerna bagi para penikmatnya sehingga melekat dan mudah untuk diingat, dan tarian ini diberi nama Sekar ibing. Tarian ini diiringi Gong Kebyar.

I Nyoman Suarsa (penata tari) dan I Ketut Gede Asnawa (penata iringan).

Tari Sekar Ibing ini dipakai tari kreasi oleh Duta Kota Madya Denpasar, pada parade gong kebyar dewasa tahun 2011. Dari keseluruhan pementasan tersebut sudah sangat bagus, tetapi ada sedikit kekurangan dan kesalahan yang perlu saya komentari.

 

Komentar:

Saya hanya sedikit mengomentari tari kreasi sekar ibing yang dibawakan Duta Kodya Denpasar di Arda Candra, yaitu:

  1. Dari segi tata lampu yang sudah bagus, tetapi penerangan di bagian belakang kurang tertata gelap, sehingga panggung cuma kelihatan di bagian tengahnya terlalu terang dibagian belakang gelap, dimana panggung menjadi tidak seimbang. Kalau bisa penataan lampu harus merata,walaupun di bagian belakang tidak ada penari, tetapi tetap disinari lampu, biar terjadi keseimbangan.
  2. Kadang-kadang lampu dibagian tengah terlalu terang, sehingga penari kelihatan terlalu putih dan wajah penari tidak jelas.kalau bisa, tolong sesuaikan penataan lampu biar kelihatan bagus dan terjadi keseimbangan.
  3. Pada saat pementasan tari tersebut, penabuhnya kurang kelihatan, walaupun ini pementasan tari, tidak seharusnya tariannya saja  yang dimunculkan kamera, tetapi iringan tarinya atau penabuhnya juga dimunculkan biar seimbang antara tarian dan iringan tarinya.

Kesimpulan:

Jadi menurut saya pementasan Tari Sekar Ibing yang dibawakan Duta Kodya Denpasar di Parade Gong Kebyar tahun 2011 sudah sangat bagus walaupun ada sedikit kekurangan di pengambilan gambar dan tata lampu. Karena pementasan apapun tata lampu sangat berperan, dimana tata lampu yang dapat membentuk suasana pementasan tersebut dan perlunya keseimbangan pengambilan gambar penari dan penabuhnya.

Demikianlah sedikit komentar video Tari Sekar Ibing tersebut dari saya, kalau ada kekurangan saya mohon maaf sebesar-besarnya, pesan dan saran dari teman-teman sangat saya harapkan.

Foto Tari Sekar Ibing

komentar video rekaman ” Caru Kesanga “

Komentar Video Rekaman Caru Kesanga

 

Sinopsis :

Caru kesanga adalah salah satu garapan ujian akhir di SMK Negeri 3 Sukawati, dimana garapan ini terinspirasi dari hari raya Nyepi, yaitu pada saat Caru Kesanga. Kerumitan sarana pecaruan, keramaian pada saat hari pengerupukan dan gimana sepinya pada saat hari penyepian. Dengan gambelan semarandana terbentuklah satu garapan karawitan yang berjudul “Caru Kesanga”.

Komentar videonya :

Kekurangan :

  1. Penerangan atau tata lampu tidak merata, sehingga objek kelihatan di bagian depan terlalu mencolok dan di bagian samping dan belakang tidak jelas.
  2. Suara kendang terlalu menonjol.
  3. Pas penonjolan salah satu instrumen terlalu keras.
  4. Suara kempul kurang jelas, karena penempatannya. Kalau bisa kempul di taruh di samping agar jelas terdengar.
  5. Suara reong terlalu dominan. Jadi melodi dan suara gangsa tidak terlalu kedengaran. Kalau bisa reong di taruh di tengah, gangsa di muka dan jublog, penyacah di taruh di samping biar semuanya terdengar.
  6. Penerangan dan penataan lampu terlalu monoton, sehingga kurang ternbentuknya suasana.
  7. Jadi kurangnya penataan dari semua garapan tersebut, karena tidak menggunakan sound.

Kelebihannya :

  1. Penerangan atau tata lampu sudah jelas, walaupun ada sedikit kekurangan.
  2. Kompesisi garapan sudah bagus.
  3. Keseimbangan suara sudah baik, antara suara reong, gangsa, suling, kendang, penyacah, jublog, jegog dan gong. Walaupun ada sedikit kekurangan, atau ada salah satu instrumen terlalu menonjol.
  4. Penataan gambelan di panggung sudah tepat dan bagus.

Kesimpulan :

Jadi dari semua rekaman video Caru Kesanga tersebut, secara keseluruhan sudah bagus, walaupun ada beberapa kekurangan dan tidak seimbang antara suara dan tata lampu.