TARI JOGED BUMBUNG

Seni Tari tidak bisa terlepas dari budaya yang menghasilkannya.Seni tari mempunyai arti yang sangat penting di dalam kehidupan manusia,seperti dalam kontek ritual sebagai media komunikasi personal maupun kolektif.Namun dinamika budaya masyarakat membawa perubahan pada seni tari.Perubahan itu terjadi baik pada aspek bentuk,fungsi,maupun maknanya.Seni Tari dapat digolongkan menjadi 3 yaitu yang pertama Tari Wali,merukan tari yang berfungsi sebagai sarana atau pelaksana upacara yadnya,contohnya Tari Rejang dan Tari Sanghyang.Kemudian yang kedua adalah tari Bebali,yaitu tarian yang berfungsi sebagai penunjang jalannya upacara yadnya yang dalam pementasannya memakai lakon,contohnya Tari Topeng.Dan yang terakhir adalah Tari Balih-Balihan,yaitu tarian yang tidak tergolong Tari Wali dan tari Bebali yang khusus dipertunjukkan untuk hiburan semata,contohnya Tari Joged Bumbung.tari jogged Bumbung merupakan tarian yang sangat popular di kalangan masyarakat Bali yang memiliki gerakan yang lincah dan dinamis.Tari Joged Bumbung ini pertama kali muncul di Bali utara sekitar pada tahun 1946.Tarian ini biasanya dipentaskan pada hari raya maupun hari penting lainnya.Tarian ini merupakan tarian berpasangan dengan mengundang para penonton untuk berpartisipasi yang ditunjuk langsung oleh sang penari dan kemudian menari bersama dengan sang penari.Penonton yang ikut menari dinamakan “Pengibing”.Tarian Joged bumbung ini membutuhkan kelincahan dan gerak tubuh sang penari.Seiring dengan teknologi yang semakin maju tarian ini semakin jarang dipentaskan,tetapi masih sangat digemari oleh para penonton atau penggemarnya walaupun tarian Joged jarang dipentaskan.Belakangan ini Tari Joged Bumbung hanya dipentaskan di hotel-hotel untuk menghibur dan memperkenalkan tarian kepada para tamu yang ada di hotel tersebut.Dalam buku Dance and Drama In Bali menyatakan Tari Joged merupakan satu-satunya tarian yang bisa dikategorikan sebagai tarian social di Bali dengan uraian yang mencakup Gandrung,Oleg,Leko,dan Andir,dimana tarian ini dimulai dengan penampilan tarian solo dalam style legong yang sangat jelimet.Menurut Drs. Soedarsono,Tari Joged merupakan tarian rakyat yang berfungsi sebagai hiburan atau tarian pergaulan.Dalam Tarian Joged “Ngibing” merupakan ajakan penari Joged kepada penonton untuk menari bersama-sama di atas panggung dan kadang-kadang bisa terjadi kontak tangan,kadang juga mereka melakukan tarian sejenis tarian bercinta dan lain sebagainya.Tarian ini memiliki pola gerak yang agak bebas,lincah dan dinamis yang diambil dari Legong maupun kekebyaran dan dibawakan secara improvisatif.Tarian ini biasanya diiringi dengan tingklik bamboo berlaras slendro yang disebut dengan Grantang atau gamelan Gegrantangan.Instrumensasi gamelan Joged terdiri dari Grantang(terdiri dari empat sampai delapan buah) yang terdiri dari empat granting gede dan empat grantang kecil,yang berfungsi sebagai pembawa melodi pokok.Kemudian ada Kemporyang dibuat dari besi atau kerawang.Bentuknya seperti Jegogan di dalam Gamelan Gong,berbilah dua(nada yang sama numbing dan ngisep) berfungsi sebagi finalis dalam lagu-lagu atau gamelan Joged Bumbung.Kemudian kempli(instrumen pembawa matra).Klenang yaitu sejenis kajar atau penombal kajar.Ricik adalah cengceng kecil yang berfungsi untuk memperkaya ritme dalam gamelan Joged Bumbung.Dan ada kendang satu buah yang berfungsi sebagai pemurba irama.Dan yang terakhir ada yang namanya suling yang berjumlah tiga sampai empat buah yang berfungsi untuk memaniskan dan memainkan lagu-lagu.Jenis-jenis Tari Joged dapat dibedakan menjadi beberapa jenis yaitu:1.Joged Pingitan,Joged pingitan ini pada awalnya merupakan tari pergaulan yang diayomi di lingkungan istana,tetapi sekarang menjadi tarian yang disakralkan.2.Adar,Tokohan,Udegan,merupak tarian pergaulan yang sudah dipelihara oleh masyarakat banyak3.Andir,merupakan sejenis tari pergaulan yang pementasannya dikaitkan dengan ritual keagamaan atau kepercayaan.4.Gandrung,merupakan sjenis tarian pergaulan yang ditarikan oleh kaum laki-laki,namun pada saat sekarang tarian ini berkembang menjadi tarian yang ditarikan oleh kaum perempuan.5.Joged Bumbung,merupakan suatu tari pergaulan yang berfungsi sebagi hiburan dimana penyebarannya sudah sangat luas,bahkan hamper di seluruh Bali.Tari Joged Bumbung ditonton oleh semua kalangan,mulai dari anak-anak,remaja sampai orang dewasa.Adegan-adegan yang termasuk panas dilakukan oleh penari dengan pasangannyatersebut tentunya juga dilihat oleh anak-anakdan para remaja.Hal tersebut mungkin dapat mempengaruhi perkembangan pengetahuan kedewasaan si penonton yang masih muda-muda.Gerakan bergoyang dengan saling berhadapan secara dekat,serta sesekali melakukan adegan memeluk dan gerakan lainnyayang berbau seksualitas,tentunya tidak menutup kemungkinan akan membuat penonton khususnya para remaja dan anak-anak mendapat pengetahuan seksual dari sajian jogged Bumbung tersebut.Hal ini mungkin saja merupakan salah satu media pendidikan seksual yang dilakukan oleh masyarakat Bali kepada anak-anak dan remaja melalui media kesenian.Namun statemen di atas merupakan asumsi dasar yang akan dibuktikan kebenarannya oleh masyarakat banyak.tari Joged Bumbung sudah begitu melekat pada masyarakat bali karena memiliki aspek hiburan yang sangat tinggi.Antusiasme masyarakat terhadap kesenian ini sangatlah besar khususnya para remaja yang sedang masuk dalam masa pubertas.Mengenai kesenian Joged Bumbung kesenian ini digolongkan ke dalam kesenian balih-balihan yang fungsinya sebagai tari pergaulan(social dance).Hal ini membuat kesenian Joged Bumbung banyak orang “Ngubah” pada saat upacara keagamaan diantaranya,hari paweton,Pitra Yadnya(ngaben) dan upacara “Masesangi”(Masaudan),yaitu apabila ada orang atau suatu organisasi tertentu yang mempunyai kepercayaan berdasarkan janji,yang melaksanakannya dapat dilakukan di Pura-pura atau di tempat lain yang ada hubungannya dengan upacara tersebut.Namun demikian kesenian Joged Bumbung tidak hanya berfungsi pada upacara keagamaan seperti Paweton,Ngaben,dan Mesasangih,melainkan bersifat umum antara lain hiburan di masyarakat.Disamping pertunjukan untuk hiburan para wisatawan asing.Joged Bumbung senantiasa dimainkan di lobi-lobi hotel sebagai musik ilustrasi,sayup-sayup dan tidak mengganggu para tamu yang ada atau berkunjng ke hotel tersebut baik yang menginap maupun yang tidak menginap.Setiap ada suatu pementasan Joged Bumbung biasanya tidak pernah sepi dari penonton.Masyarakat berbondong-bondong jika ada suatu pertunjukan Joged Bumbung di sekitar tempat tinggal mereka.Hampir semua orang Bali pernah ikut memeriahkan pergelaran Joged Bumbung tersebut.Dilihat dari sejarah perkembangan Tari Joged di masa yang akan datang,bentuk-bentuk kreativitas baru akan terus bermunculan seiring dengan perkembangan zaman yang sudah berkembang dengan sangat pesat khususnya di bidang kesenian baik seni Tari,Karawitan dan lain sebagainya.Adanya kebiasaan di kalangan Seniman bali untuk terus mencoba,mencari dan menggali ide-ide dan insprirasi-inspirasi yang baru,baik dari dalam seni budaya tradisi mereka maupun dari unsure luar yang senafas sangat memungkinkan akan terwujudnya perkembangan Seni Tari dan Seni Karawitan Bali yang lebih baik di masa yang akan datang.Khususnya di Bali Tari Joged sudah berkembang dengan sangat pesat,yaitu dengan adanya kreativitas dan inovasi-inovasi baru dengan tidak menghilangkan unsure pokok dari garapan-garapan yang diciptakan oleh Seniman-seniman yang ada di Bali,khususnya Seni Tari dan Seni Karawitan.Oleh karena itu kita sebagai masyarakat Bali sudah seharusnya kita melestarikan kebudayaan-kebudayaan yang telah diwariskan oleh Seniman-seniman terdahulu yang sudah meninggalkan kita semua.Dan kita sebagai Seniman Bali mari kita membuat karya-karya yang baru tanpa menghilangkan warisan dari para leluhur kita,yang ada kaitannya dengan kesenian-kesenian yang ada di Bali.Dan semoga artikel ini bisa menginspirasi seniman-seniman yang ada di Bali untuk bisa terus berkarya untuk melestarikan seni budaya Bali.
Sumber : Mengenal Tarian Rakyat Bali Oleh Prof.I Wayan Dibya

IDENTITAS DIRI

Nama saya I Gede Pradnyana, saya berasal dari Karangasem tepatnya di Kecamatan Sidemen. Saya tinggal di BanjarSukahat, desa Lokasari, kecamatan Sidemen. Saya anak pertama dari pasangan I Nyoman Gede Arthana dan Ni Made Nilawati. Saya mempunyai dua orang adik. Adik saya yang pertama bernama Ni Kadek Putri Juni artini, dan adik saya yang kedua bernama I Komang Agus Adi Arta, Saya lahir di Sukahat, 25 april 1989. Hobi saya menabuh dan bermain catur, selain itu saya masih banyak hobi-hobi yang saya miliki lagi. Cita-cita saya adalah ingin menjadi seorang seniman atau penggarap tabuh yang terkenal dan disegani oleh masyarakat, seperti bapak Nyoman Windha. Beliau adalah salah satu seniman yang sangat saya kagumi, karena karya-karyanya yang sangat bagus dan enak untuk didengar. Saya mulai belajar menabuh sejak kecil ketika saya masih sekolah dasar (SD). Saya tertarik dan suka pada dunia seni karena menurut saya seni itu adalah suatu keindahan yang muncul dari diri seseorang yang mempunyai arti yang sangat dalam. Itulah yang saya rasakan sekarang sehingga saya ingin meningkatkan dan mengembangkan kemampuan saya dalam bidang seni kusunya seni karawitan. Kemudian saya akan ceritakan tentang pendidikan saya. Saya mulai masuk SD pada tahun 1995 di SD 5 talibeng, ketika itu saya masih berumur 6. Kemudian saya melanjutkan ke SLTP 2 Sidemen, dan melanjutkan lagi ke SMA 1 Sidemen. Setelah saya lulus SMA saya dapat melanjutkan ke salah satu perguruan tinggi swasta di Bali, akan tetapi saya tidak bisa melanjutkannya karena saya merasa tidak nyambung dengan hobi atau kegemaran saya dan akhirnya saya memutuskan untuk berhenti. Setelah saya berfikir dengan matang akhirnya saya menemukan sekolah yang sesuai dengan hobi dan kegemaran saya yaitu Institut Seni Indonesia atau sering disebut ISI Denpasar. Itulah sedikit cerita tentang data diri saya sebagai seorang mahasiswa. Saya mempunyai banyak guru dalam bidang menabuh, guru yang pertama kali mengajarkan saya menabuh adalah I Made Oka. Beliau adalah kakek saya, yaitu bapak dari Ibu saya. Waktu saya kecil saya sering diajak mengambel oleh kakek saya, misalnya ngayah megambel di pura-pura dan lain sebagainya. Dari sanalah saya mulai belajar menabuh dan terus diajarkan oleh kakek saya dan sampai sekarang pun beliau masih mengajarkan saya. Kemudian guru yang kedua mengajarkan saya menabuh yaitu I Made Budha. Dulunya beliau adalah seorang tukang kendang yang sangat hebat di Desa saya, Karena rumahnya dekat dengan rumah saya maka saya sering main ke rumahnya untuk belajar main kendang. Selain itu saya masih banyak mempunyai guru dalam bidang menabuh, yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu. Saya juga belajar dari suatu perkumpulan yang ada di dekat rumah saya, yaitu dalam sebuah sanggar yang bernama sanggar DHARMA PRAWERTI yang terletak di Br Kebon, desa Lokasari, Kecamatan Sidemen. Saya mulai masuk sanggar sejak tahun 2008 dan sampai sekarang. Saya masuk sanggar karena saya ingin menambah ilmu yang saya miliki melalui pengalaman-pengalaman di sanggar tersebut. Di sana saya mendapatkan pengalaman baru melaui pentas-pentas yang di ikuti oleh sanggar Dharma Prawerti. Saya sangat senang bisa bergabung di sanggar Dharma Prawerti karena teman-teman saya kebanyakan atau sebagian besar seumuran dengan saya sehingga bisa menjadikan suasana semakin ramai, walaupun ada beberapa dari seke sanggar Dharma Prawerti yang sudah tua tetapi tidak kalah semangatnya dengan yang muda-muda. Di sanggar saya mendapat posisi sebagai tukang reong, karena instrumen reong adalah salah satu instrumen yang saya sukai di dalam barungan gong kebyar. Saya sudah beberapa kali mengikuti pentas-pentas gong kebyar dan baleganjur sehingga saya sudah memiliki sedikit pengalaman yang bisa menambah wawasan saya dibidang seni khususnya gong kebyar dan baleganjur. Selain itu juga bisa menjadi sebuah kenang-kenangan yang tidak mungkin terlupakan dalam diri saya dan juga menjadi suatu kebanggaan di dalam keluarga dan di masyarakat, karena sudah bisa membawa nama baik banjar,desa,kecamatan bahkan kabupaten.Sebagai seorang mahasiswa jurusan seni karawitan saya tidak lepas dari dunia seni, karena seni merupakan kehidupan saya,dan seni juga merupakan aktivitas saya sehari-hari. Itu terbukti dengan rutinnya saya latihan-latihan menabuh baik itu di sanggar maupun di banjar saya sendiri. Selain itu masih banyak kegiatan-kegiatan yang saya lakukan terutama di lingkungan banjar seperti misalnya di dalam organisasi seke teruna.Di dalam Seke Teruna banjar sukahat yang bernama ST Sukarahayu yang diketuai oleh I Kadek Mudiana, ada banyak program yang harus di jalankan oleh masing-masing seksi-seksi yang ada. Program-program tersebut sudah berjalan dengan baik. Salah satu programnya adalah di bidang seni yaitu seni tabuh dan seni tari. Kebetulan saya ikut menangani di bidang seni tabuh. Seke tabuh untuk seke teruna di banjar saya memiliki jadwal latihan rutin yaitu setiap hari rabu dan hari sabtu. Disana saya juga ikut membina walaupun kemampuan kami masih kurang tetapi kami memiliki semangat dan tekad yang sangat kuat demi melestarikan seni budaya bali khususnya yang ada di banjar sukahat. Semua hal diatas merupakan keinginan saya dari dulu, karena saya ingin sekali melihat banjar saya menjadi sebuah banjar yang maju baik dibidang seni dan di bidang-bidang lainnya. Setiap saya mendapat inspirasi saya bawa ke banjar dan saya berikan kepada seke tabuh yang ada di banjar sehingga sedikit demi sedikit kami bisa maju dan berkembang. Saya sangat senang dengan seni khususnya seni tabuh itu semua karena kakek saya yang sangat mendukung dan sering memberikan saya wejangan-wejangan yang bisa membuat saya menjadi lebih baik dari pada sebelumnya. Kalau tidak ada kakek saya, saya tidak mungkin akan menjadi seperti sekarang ini,menjadi seorang mahasiswa yang sedang kuliah atau menuntut ilmu di ISI Denpasar. Dulu saya tidak terfikir bisa kuliah di ISI denpasar. Karena tekad serta dorongan dari keluarga saya yang sangat mendukung saya, maka akhirnya saya memberanikan diri untuk kuliah di ISI. Tujuan saya kuliah di ISI tiada lain adalah untuk memperdalam ilmu dan pengetahuan saya khususnya di bidang seni karawitan. Selain itu saya ingin sekali memajukan banjar saya dengan kemampuan yang saya miliki khusunya di bidang Karawitan. Kalau banjar saya sudah mengalami suatu kemajuan maka saya akan merasa sangat bangga menjadi bagian dari pada banjar saya sendiri yaitu banjar sukahat, desa Lokasari, kecamatan Sidemen, Kabupaten Karangasem. Read More…

Halo dunia!

Selamat Datang di Blog Institut Seni Indonesia Denpasar. Ini adalah post pertama anda. Edit atau hapus, kemudian mulailah blogging!