GONG SEMARANDHANA

This post was written by primaaditya on Juli 11, 2014
Posted Under: Tak Berkategori

Pada awalnya di banjar jurang pahit hanya memiliki 1(satu) barungan gong kebyar saja. Kemudian pada tahun 2007 seorang tokoh karawitan yang bernama I Ketut Arta dwita berinisiatif untuk membeli barungan gong semarandana. Tujuan dari beliau untuk membeli gong semaradana karena beliau menganggap barungan ini masih langka khususnya untuk daerah nusa penida bahkan klungkung. Selain itu barungan gong semarandana juga multi fungsi yakni bisa dipakai untuk gong kebyar dan angklung. Kemudian pada pertengahan tahun 2007 beliau mengemukakan pendapatnya dihadapan sekaa krama banjar Jurang Pahit. Akan tetapi warga masyarakat banjar Jurang Pahit tidak setuju dengan pendapat beliau. Warga menganggap hal tersebut hanya menghambur-hamburkan uang saja dan satu barungan gong kebyar dianggap sudah cukup. Setelah berselang beberapa bulan akhirnya beliau mencoba untuk mengemukakan pendapatnya dihadapan salah satu krama paibon yang terdapat di banjar jurang pahit yakni paibon kawitan tutuan. Beliau menganggap krama tutuan mampu untuk membeli sebuah barungan gong semarandana karena jumlah krama atau warganya yang berkisar 90 orang yakni 65 % dari jumlah penduduk banjar Jurang Pahit. Dengan segala pertimbangan akhirnya krama paibon tutuan menyetujui pendapat beliau dan dibentuklah panitia khusus untuk menangani hal tersebut. Kemudian pada awal tahun 2008 krama paibon tutuan resmi membeli satu barungan gong semarandana. Semenjak itu krama paibon tutuan membentuk sekaa gong yang dberi nama gita semarandana. Adapun personil sekaa gong gita semarandana tidak hanya dari kaum laki- laki saja akan tetapi ada juga dari kaum ibu-ibu yang juga pernah ikut pentas diajang parade gong kebyar wanita pada pesta kesenian bali tahun 2007.selain itu juga dbentuk sekaa angklung dimana personilnya merupakan sekaa gong kebyar yang ada di banjar jurangpahit.Selain untuk mengiringi upacara keagamaan di pura paibon,gong semarandana juga dipergunakan ngayah di pura pura puseh Mastulan yang merupakan pura puseh banjar jurang pahit. Menurut wawancara yang saya lakukan, beliau bercerita banyak hal tentang perjalanannya dalam menekuni kesenian khususnya karawitan. I nyoman swasta, itu biasa panggilan beliau di rumah, selain itu beliau juga biasa dipanggil pekak bali. I nyoman swasta berasal dari keluarga yang sederhana. kedua orang tuanya berprofesi sebagai petani. hal itu tidak menyurutkan niat beliau untuk menuntut ilmu. Beliau mengatakan pada saat itu sama sekali belum ada sekolah TK,sekolah dasar saja masih sangat sederhana “maklum pada saat itu masih jaman penjajahan” ujar beliau. Pada saat beliau masih duduk dibangku sekolah dasar, di banjar jurang pahit belum memiliki gamelan,akan tetapi di banjar jurang pahit telah ada angklug yang instrumennya masih sangat sederhana (sampai sekarang tidak diketahui keberadaannya). Pada saat beliau berumur 18 tahun beliau melanjutkan di SPG. Pada saat itulah beliau mulai belajar memainkan alat musik gamelan. Karena ketekunan dan semangat beliau,akhirnya beliau pun berhasil memainkan gamelan. Akan tetapi belum selesai sampai disitu,beliau juga berguru belajar gamelan sampai ke desa pikat klungkung. Pada saat beliau menyempatkan diri pulang ke kmpung halaman beliau selalu mengajar gamelan drumah. Setelah tamat dari SPG beliau kemudian menjadi guru di sekolah dasar di banjar jurang pahit. Pada saat itu beliau kemudian ditunjuk menjadi seksi kesenian. Beliau selalu bersemangat untuk mengembangkan dan mencari bakat-bakat seniman lainnya. Pada saat itu beliau mengajar megambel dengan menggunakan suatu teknik putar,artinya setiap personil tidak diam disatu tempat saja. Selain gong kebyar beliau juga membentuk sekaa rindik yang langsung dibikin sendiri bersama teman-temannya. Pada tahun 1967 beliau mengakhiri masa lajangnya. Beliau mempunyai 4 (empat) orang anak yakni 2 orang perempuan dan 2 orang laki-laki. saat anak-anaknya masih kecil beliau selalu mengajarkan seni kepada empat orang anaknya. Dari ke empat anaknya hanya satu yang berminat untuk melanjutkan ke sekolah seni yaitu anaknya yang pertama yang bernama I Wayan Andra. I Wayan Andra ini merupakan tamatan ASTI dan sekarang bekerja di taman budaya Art Center. Sampai umur 54 tahun I nyoman swasta masih tetap eksis menjadi anggota sekaa gong Di banjar jurang pahit. Selain itu beliau juga ikut menjadi anggota sekaa gong disebuah sanggar yang dibentuk oleh para seniman yang bisa meluangkan waktunya untuk megambel di banjar jurang pahit yang diberi nama sanggar “padaliang”. Pada tahun 1995 beliau mengundurkan diri menjadi anggota sekaa gong di banjar dan di sanggar karena beliau sakit. Di sanggar beliau digantikan oleh anak laki-lakinya yang terakhir yang bernama Iketut diftasada yang sekarang menjadi tukang kendang lanang dibanjar jurangpahit. Pada saat pembelian gong semarandana di banjar paibon tutuan di banjar jurang pahit akhirnya beliau dipanggil lagi untuk menjadi anggota sekaa gong semarandana dan sekaa anggklung sampai sekarang. Kemudian terus berlanjut saya juga sempat mewawancarai seniman karawitan bapak wayan kumba. Bapak wayan kumba ini Lahir ; di Desa Tihingan Kecamatan Banjarangkan Kabupaten Klungkung pada tahun 1938. Beliau adalah seniman karawitan yang serba bisa yang telah mampu mengharumkan desa adat Tihingan Klungkung khususnya dalam bidang seni yaitu seni tabuh atau karawitan. Beliau adalah orang yang penyabar dan banyak disukai banyak orang karena kesabaran dan ketekunan beliau dalam melatih menabuh di masyarakat . Beliau adalah seniman yang tidak pernah sekolah, sejak kecil beliau sudah mewarisi bidang seni atau yang di istilahkan dengan seniman alam tanpa ada yang melatih oleh guru . I Wayan Kumba adalah anak pertama dari lima bersaudara putra alm I wayan Rayeg. Beliau sudah menekuni bidang seni sejak masih kecil sehingga dengan keahliannya ini maka timbullah ide dari leluhur-leluhur kami, maka dibentuklah kelompok atau sekaa-sekaa gong utamanya sekaa angklung di desa adat Tihingan. Beliau adalah angkatan pertama saat sekaa angklung di desa adat Tihingan di bentuk. Saat di terbentuk kelompok atau sekaa gong atau angklung ini, para penabuhnya umurnya masih relatip muda boleh digolongkan masih tergolong anak-anak. Dengan rasa sabar dan percaya diri para pembina tabuh sekaa ini ,akhirnya lambat laun sekaa ini bisa berjalan dengan lancar. Sehingga hal inipun tersebar sampai ke puri Klungkung yang waktu itu bertahta sebagai raja adalah Ide Idewa Agung bahwa didesa adat Tihingan ada sekaa angklung anak-anak. Pada akhirnya timbullah ide dari raja Klungkung untuk mengadakan perlombaan seperti istilah sekarang lomba angklung di Kabupaten Klungkung. Dengan adanya perlobaan seperti istilah sekarang Festival angklung maka , rakyat Klungkung menyambut dengan sangat gembira. Dalam hal ini terbukti sekaa gong/ angklung desa adat Tihingan lah pertama kali ditunjuk oleh raja Klungkung untuk dilombakan atau di festipalkan melawan sekaa angklung dari desa adat Kamasan Klungkung. Dari hasil perlombaan atau festipal ini maka sekaa angklung desa adat Tihingan lah yang sebagai pemenangnya. Dengan kemenangan ini , sekaa angklung menjadi terkenal di kabupaten Klungkung dan sekaligus usia para penabuhnya semakin dewasa. Dengan bertambah dewasanya usia para penabuh ini terutama I Wayan Kumba akhirnya banyak datang tokoh-tokoh masyarakat dari luar desa Tihingan untuk mencari pembina gong atau angklung kedesa adat Tihingan yang tujuannya untuk membina di tempat mereka. Akhirnya beliau ( I Wayan Kumba ) memberanikan diri keluar untuk membina tabuh. Hal ini terbukti beliau pernah membina di kabupaten Tabanan di banjar Gempinis desa Gempinis Kecamatan Selemadeg Kabupaten Tabanan tahun 1956 . Selanjutnya di banjar Dukuh Pulu Kelodan Kecamatan Selemadeg kurang lebih tahun 1958.Setelah itu beliau membina di banjar Dukuh Pulu Kajanan Kecamatan Selemadag tahun 1960 yaitu membina tabuh Pelegongan. Dari Kabupaten Tabanan, dan pada akhirnya sampailah di Klungkung tepatnya di Kecamatan Nusa penida Tepatnya di Banjar Sompang. Di banjar Sompang inilah beliau membina tabuh pearjaan. Dari Nusa Penida pindah lagi ke Nusa Tenggara Barat (Lombok) tepatnya di banjar Tanah Met Danginan Kecamatan Gunung Sari Kabuapaten Lombok Barat. Disana Beliau juga membina Gong Kebyar. Tahun 1962. Di Lombok pun banyak beliau pernah membina gamabelan tetapi kami tidak tahu tempatnya. Akhirnya beliau kembali ke Nusa Penida untuk membina pada tahun 1962 tepatnya di Banjar Semaya . Disana Beliau juga membina Tabuh Pearjaan. Setelah dari banjar Semaya kembali lagi kebanjar Sompang untuk membina tabuh pearjaan dan gong Kebyar. Disanalah beliau membina dengan waktu agak lama dengan membina tabuh pearjaan dan gong Kebyar. Mungkin Jodoh sudah ditentukan oleh tuhan, pembina yang namanya I Wayan Kumba ini sampai mendapat jodoh disana yaitu mantan penari Arja. Dari hasil Perkawinan ini beliau mempunyai tujuh orang anak diantaranya dua laki-laki dan lima perempuan. Dari tujuh anak yang dimiliki ada tiga anak yang mewarisi bakat orang tuanya diantaranya dua laki –laki dan satu perempuan. Karena terlalu memporsir tenaga untuk membina tabuh di beberapa desa dari tahun 1956 , disampaing usia juga sudah lanjut akhirnya beliau kena serangan penyakit yang menyebabkan beliau sampai meninggal pada tahun 1996 dan kini sudah diupacarakan atau diaben pada tahun 1998. Demikianlah Kisah perjalanan hidup dari I Wayan Kumba (Seniman) yang tak segan –segan mengabdikan ilmu yang dimilki untuk kepentingan orang banyak khususnya seni karawitan.

Sumber : wawancara oleh tokoh seni I Wayan Kumba sebagai seniman karawitan Desa Adat Tihingan Kabupaten Klungkung Tahun 2014.

Comments are closed.

Previose Post: