GENDER WAYANG

This post was written by primaaditya on Juli 11, 2014
Posted Under: Tak Berkategori

Gender wayang adalah merupakan sebuah tungguhan berbilah dengan terampayang terbuat dari kayu, sebagai alas dari resonator berbentuk silinder dari bahan bambu atauyang lebih dikenal dengan sebutan bumbung sebagai tempat menggantung bilah. Bentuktungguhan dari segi bilah gamelan Gender Wayang di sebutkan berbentuk bulig yaitu bilah yangterbuat dari perunggu atau bilah kalor adalah bilah yang permukannya menggunakan garislinggir (kalor) dan disebutkan bilah ini biasa digunakan pada jenis-jenis tungguhan gangsaseperti halnya gamelan Gender Wayang. Bilah bulig adalah bentuk bilah yang digunakan digamelan Gender Wayang secara umum di Bali. Kemudian terampa ataupun pelawah darigamelan Gender Wayang di Bali memiliki model atau bentuk yang sama, yaitu 2 (dua) buahadeg-adeg yang terbuat dari kayu berfungsi sebagai penyangga gantungan bilah dan tempatresonator atau bumbung. Meskipun secara umum model dan bentuknya sama, faktanya darisetiap daerah memiliki ciri khas dan keunikannya masing-masing sesuai dengan budaya seni dankreativitas seniman di daerah setempat. Hal ini terletak pada ornamentasi yang berarti hiasanatau pepayasan. Unsur arsitektur yang merupakan induk dari ornamentasi dan pepayasan jugahadir sebagai bagian dari alat musik, yang berkaitan dengan bidang tertentu. Khususnya dalamgamelan Gender Wayang terlatak pada bidang terampa atau tungguhan. Setiap daerah di Balimemiliki sebuah persepsi yang tidak sama, walaupun berakar dari satu konsep steyl atau modellagu (gending) di masyarakat Bali khususnya. Gender wayang adalah barungan alit yangmerupakan gamelan Pewayangan (Wayang kulit dan wayang wong) dengan instrumen pokoknyayang terdiri dari 4 tungguh gender berlaras slendro (lima nada). Keempat gender ini terdiri darisepasang gender pemade (nada agak besar) dan sepasang gender kantilan (nada agak kecil).Keempat gender, masing-masing berbilah sepuluh bilah yang dimainkan denganmempergunakan 2 panggul, Gambelan ini merupakan gambelan yang tergolong dalamgambelan golongan tua. Gender wayang juga memiliki fungsi dalam ritual hindu di Bali. Baliadalah salah satu pulau di Indonesia yang sangat terkenal. Sebagai satu-satunya daerah diNusantara, tempat sisa-sisa Kebudayaan Hindu tampak jelas, seperti balai-balai pemujaan telahbanyak dipotret, upacara-upacara keagamaannya telah banyak dianalisa, cara berpikir rakyatnyatelah banyak dikupas secara mendalam, kecantikan wanita-wanitanya telah banyak dipuji olehpara ahli etnografi (Clifford Geertz, 1984: 246).Peryataan di atas menunjukkan, bahwa paling tidak ada dua unsur fokus kebudayaan yangmenjadikan Bali sangat terkenal, yaitu kesenian dan upacara keagamaannya. Masyarakat Bali didalam hidup kesehariannya, di samping mencari nafkah dengan berbagai profesi misalnya buruhtani, buruh bangunan, pedagang, penjahit, pengrajin, pegawai negeri sipil (PNS), polisi, tentara,karayawan swasta, pemandu wisata dan lain sebagainya, juga melakukan kegiatan upacara adatmaupun keagamaan. Upacara keagamaan itu disebut Panca Yadnya, yaitu Dewa, Resi, Manusa,Pitra, dan Bhuta Yadnya. Hampir semua upacara tersebut melibatkan kesenian dalam berbagaibentuk cabang seni: rupa, tari, karawitan, pakeliran, dan sastra.Cabang seni karawitan dalam penyajiannya didukung oleh kurang lebih 30 (tiga puluh) jenisbarung (perangkat) gamelan Bali yang masing-masing memiliki fungsi, instrumen, tangga nada,repertoar maupun kharakter gending, warna suara, dan masyarakat pendukung yang berbeda- beda. Dari 30 jenis perangkat tersebut, satu diantaranya adalah gender wayang. Perangkatgamelan ini terdiri dari satu sampai dua pasang instrumen gender wayang, dengan menggunakan sepuluh bilah (juga disebut dengan istilah gender dasa), dan lima nada berlaras slendro. Masing- masing instrumen ditabuh (dimainkan) oleh seorang penabuh dengan mengunakan dua alat pukulyang disebut panggul. Dengan demikian para penabuh (pemain) menabuh (memukul) danmemitet (menutup) sekaligus.Gender wayang oleh masyarakat (Hindu) di Bali digunakan dalam Yadnya antara lain: DewaYadnya, Pitra Yadnya, dan Manusa Yadnya. Dewa Yadnya adalah upacara yang ditujukankepada Sang Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa) beserta manifestasinya. Upacara-upacara yang tergolong dalam Dewa Yadnya diantaranyapiodalan,memungkah (ngenteg linggih) diPura-pura dan atau di Sanggah (Mrajan). Upacara ini biasanya dilakukan bertepatan denganbulan purnama, dan tidak jarang pula dilaksanakan bertepatan hari-hari raya umat Hindu sepertiSaraswati, Pagerwesi, Galungan, Pamacekan, Kuningan dan lain sebagainya.Gender wayang dalam Dewa Yadnya digunakan untuk mengiringi pertunjukan wayang lemahyang diselenggarakan bertepatan dengan pendeta menghaturkan puja wali pada saat upacaraberlangsung. Pertunjukan wayang lemah wajib dilakukan pada upacara tingkatan tertentu,misalnya memungkah atau ngenteg linggih. Hal ini diwajibkan karena pertunjukan wayanglemah bersifat seni wali, yaitu kesenian berfungsi sebagai sarana dalam upacara. Tanpa ada seniwali ini, maka upacara dianggap kurang lengkap, kurang sempurna. Oleh karena itu pertunjukanwayanglemah selalu hadir dalam piodalan tingkat tertentu.Selanjutnya, Pitra Yadnya dikonsepsikan sebagai upacara yang ditujukan kepada roh leluhuryang belum disucikan. Dalam proses penyucian inilah diadakan upacara ngaben dan nyekah.Upacara ngaben yang dikenal dengan sebutan cremation, merupakan upacara pensucian rohleluhur pada tingkat awal (masih bersifat kasar), karena akan dilanjutkan dengan tingkatan yanglebih halus yang dikenal dengan nyekah atau memukur.Kegunaan karawitan gender wayang dalam Pitra Yadnya biasanya pada upacara ngaben padatingkat utama (besar-besaran). Seperti dimaklumi bahwa setiap pelaksanaan upacara di Baliselalu menggunakan tingkatan. Tingkatan tersebut secara garis besarnya dapat dibagi tiga, yaitu,(1) utama (besar/mewah), (2) madya (sedang) dan (3) nista (sederhana). Dikatakan secara garisbesar, karena tingkatan-tingkatan tersebut di atas dapat dibagi lagi menjadi misalnya yangtingkat utama dapat dibagi lagi menjadi utaming utama, utaming madya dan utaming nista.Begitu pula tingkatan madya dapat dibagi lagi menjadi madyaning utama, madyaning madya danmadyaning nista dan seterusnya.Pada upacara ngaben besar-besaran, biasanya menggunakan wadah/ bade sebagai tempat jenazahyang di bawahnya (pangkal wadah yang berhubungan dengan rangkaian bambu (Bali: sanan)sebagai penyangga atau sarana pengusung), diapit sepasang gender wayang lengkap denganpenabuhnya. Karawitan gender wayang ini disajikan sepanjang rute (prosesi) dari rumah dukamenuju ke tempat pembakaran.Kemudian Manusa Yadnya merupakan korban suci untuk memelihara dan membersihkan lahir- bathin manusia, mulai dari terwujudnya jasmani dalam kandungan sampai akhir hidup manusia.Dari sejumlah upacara dalam Manusa Yadnya , gender wayang selalu digunakan dalam upacaramesangih. Selain digunakan dalam upacara dewa yadnya, pitra yadnya,dan manusa yadnya,gender wayang ini juga bisa untuk mengiringi puja trisandya/ kidung yang terdapat dalamtelevisi maupun radio. Jadi , Gender wayang merupakan gamelan yang tergolong dalam gamelangolongan tua. Gender wayang merupakan gamelan yang multi fungsi, selain di gunakan dalamupacara dewa yadnya, pitra yadnya, manusa yadnya, gender wayang bisa juga di gunakan untukmengiringi puja trisandya atau kidung.

Sumber : (buku tehnik permainan gender wayang, 1984 : 264)

Add a Comment

required, use real name
required, will not be published
optional, your blog address

Previose Post: