Jul
08
2014

Identitas Diri

734463_315492311904938_98265405_n

Saya terterlahir ditengah keluarga sederhana,bapak dan ibuku adalah seorang petani biasa,sejak kecil aku memang menggemari pertunjukan wayang,bahkan aku pernah sakit gara-gara tidak diajak nonton wayang. Sejak saat itu setiap ada pertunjukan wayang dikampungku,pasti orang tuaku mengajak menonton. Kegemaranku pada pertunjukan wayang semakin menjadi-jadi,hingga aku duduk dibangku sekolah,disekolah dalam kelas aku sering mendalang ditonton teman-teman sekelasku.Bahkan saya pernah dihukum djemur oleh guru karena sering ngwayang dalam kelas yang menganggu kelas lain.Bahkan semua buku pelajaran saya rusak saya pakai ngewayang.Saya masih ingat sekitar tahun 90,an saya belajar membuat wayang dari karton,sejak saya punya wayang dari karton sayapun sering disuruh ngewayang dari rumah kerumah,sampai tahun 1993 saya pun dicemoh oleh teman-teman memainkan wayang,karena ngewayang itu dianggap permainan anak-anak,sedangkan saya waktu itun sudah tamat SMP dan menginjak dewasa.Saya pun sedikit mengurangi kegemaran ngewayang dan mengikuti permainan teman-teman sebaya saya,sampai akhirnya tahun 2002 saya pun menikah dengan seorang gadis dari nusa penida lembongan bernama Ni Kadek Sudiasih,,tahun 2004 sayapun punya anak pertama yang saya beri nama Ni Luh Mila Purnamasari, setelah kelahiran anak saya itu,saya kembali memperdalam mempelajari ilmu pawayangan,pertama saya knal dewa kakyang dari bringkit mengwi badung,bliau adal;ah seorang pembuat wayang kulit.Disinilah saya belajar pertama membuat wayang kulit,sampai saya memiliki wayang sekitar 30 buah,oleh dewa kakyang saya disarankan untuk mencari nabe[guru ngewayang] ,saya pun keliling mencari nabe seorang dalang untuk menuntun saya belajar ngewayang,tapi mencari nabe dalang tak semudah mencari guru disekolah formal.Saya sempat mendatangi beberapa sepuh dalang dari berbagai desa untuk mengajari saya ngewayang tapi tak satupun ada yang mau mengajari saya ngwayang dengan banyak alasan mereka menolak mengajari saya.saya tidak bias sebutkan nama –nama sepuh dalang yang menolak mengajari saya ,tapi seingat saya ada 8 orang sepuh dalang yang menolak mengajari saya,hingga saya sempat putus asa dan bertekad belajar sendiri dengan banyak menonton dan mendengarkan kaset wayang.Hingga akhirnya saya menemui seorang nabe yang berasal dari griye pemaron munggu mengwi,beliau adalah seorang sulinggih dari golongan kesatria.saya bertemu nabe saya secara tidak sengaja yaitu waktu Dewa kakyang sakit dan saya disuruh mengantar berobat pada seorang dukun di munggu,pulang dari berobat saya diajak tangkil{mampir} ketempat nabe saya,disanalah saya melihat ada kropak wayang ,tanpa banyak berfikir saya pun menanyakan siapa dalang yang sering memntaskan wayang tersebut.Nabe sayapun menceritakan bahwa beliaulah dalang dari wayang itu,karena beliau sudah melinggih atau di dwi jati maka beliau berhenti ngewayang.Sayapun memohon kepada sang sulinggih untuk menuntun saya belajar ngwayang.Awalnya sang sulinggih mrasa tidak yakin saya mau serius belajar ngwayang,bliau banyak menututrkan saya tidak gampang menjadi dalang ,karena harus menguasai banyak kesenian,diantaranya seni tabuh,seni suara,seni tari,seni karakter,dan lain-lainnya,disamping itu seorang dalang juga harus menguasai ilmu spiritual demikian pemaparan sang bhagawan,tapi saya berusaha meyakinkan untuk serius belajar ngewayang,selang beberapa minggu karena saya sering tangkil kegriye memelas utuk diangkat dijadikan murid akhirnya saya diterima sebagai murid oleh Sang Bhagawan,tepatnya bulan September 2005,pertama sebelum diajarkan ngewayang saya disuruh melakukan puasa mutih,yaitu tidaka makan lauk ,hanya nasi putih dan air putih selama 3 hari,setelah itu saya pun dispritualkan dimrajan beliau yang disebut pawintenan sari dan pawintenan saraswati.

Barulah saya mulai belajar mengenali musik wayang,yaitu gender.Kemudian belajar vocal pedalangan,seperti: Alas arum,bebaturan,angkat-angkatan dan vocal lainnya,kemudian dilanjutkandengan gerak wayang ,setelah itu menyelaraskan gerak wayang dengan gambelan,dan menyelaraskan vocal pedalangan dengan gambelan,menyelaraskan bayangan wayang dikelir,setelah itu baru belajar menyuarakan setiap tokoh wayang,terutama panakawan yaitu :twalen,mrdah,sangut dan delem.Disela-sela belajar ngewayang saya juga diajarkan oleh nabe saya beberapa puja,mantra untuk ngwayang,perlu para pembaca ketahui bahwa setiap mantra yang saya pelajari pasti diawali dengan puasa,ada beberapa brata atau puasa yang harus dilakukan seorang dalang yaitu;

-Puasa mutih ,tidak makan lauk hanya nasi putih dan air putih selam 3 hari.

– Puasa gni,tidak makan yang dimasak atau dimatangkan oleh api selama 7 hari.

-puasa pala gantung dan pala buah,tidak makan ubi atau buah,puasa ini tidak dibatasi waktunya.

-Puasa penuh,tidak makan dan minuim seharian,dianjurkan sehari kalau kuat boleh lebih.

Itulah beberapa brata dalang yang disarankan oleh nabe saya kepada saya,disamping belajar ngwayang,belajar bermantra ,puasa dan lain sebagainya ,saya juga disarankan nyeraya,yitu mengunjungi tempat-tempat angker seperti,kuburan,sungai,hutan pura-pura yang angker untuk nunas pengidep ati pada malam hari diatas pukul 12 malam,dan harus dilakukan sendiri,walau begitu berat tapi karena tekad saya sudah bulat untuk menjadi dalang,semua itu tidak jadi halangan,dan saya dinyatakan lulus oleh nabe saya dan siap untuk mengabdi kemasyarakat sebagai dalang.Akhirnya pada 24 maret 2006 saya kembali diritualkan oleh nabe saya menjadi seorang mangku dalang,dengan beberapa persepsi upacara meliputi; pawintenan,plaspas pasupati ,pawintenan dalang harus 3 x yaitu pertama pewintenan saraswati,pawintenan catur sanak dan terakhir pawinten panca resi atau mangku dalang,didalam mewinten menjadi dalang harus ada 3 guru yaitu;

-Guru nabe,adalah guru yang menurunkan ilmu pawayangan.

-Guru waktra,adalah guru yang mengajarkan kita olah vocal atau cara mengucapkan mantra.

-Guru saksi ,adalah guru yang telah menyaksikan kita dalam pewintenan menjadi dalang.

Waktu saya menjadi dalang guru nabe saya adalah.Ida rsi bhagawan nararya segeningmring griye munggu pemaron.

Guru waktra adalah jro dalang nyoman sedana dari banjar dangin sema tumbak bayuh mengwi.

Guru saksi saya adalah ratu dalang ida bagus manuaba dari griye gede sembung mengwi badung.

Setelah selesai dan resmi menjadi mangku dalang sejak tanggal 24 maret 2006 saya mulai mengabdikan diri di masyarakat menjadi dalang,dan sering dimintai ngewayang sebagai wali oleh masyrakat kampong saya seperti,upacara pawiwahan,karya ngenteg linggih,mecaru,memukur,dan upacara lainnya,setelah sekian lama akhirnya saya disarankan oleh kepala desa saya waktu itu bernama Iwayan suarsha SH,untuk belajar menperdalam ilmu pedalangan d institute seni Indonesia denpasar,akhirnya pada agustus 20013 saya mendaftar dan belajar di isi denpasar.

Demikian pemaparan tentang diri saya trima kasih,

 

Written by in: Tak Berkategori |

Tidak ada Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL


Leave a Reply

Powered by WordPress | Theme: Aeros 2.0 by TheBuckmaker.com