terompong gong gede

Juni 10th, 2013

Gamelan, seniman, serta pengrajin gamelan merupakan tiga unsur yang tidak dapatdipisahkan, ketiganya memiliki hubungan yang sangat erat. Terciptanya karya seni, khususnya dalam seni Karawitan, karena adanya kebutuhan seniman dalam menginterpretasikan daya imajinasinya dan instuisinya yang didukung oleh kemampuan teknik yang dimilikinya hinggaterlahir suatu bentuk karya seni yang memiliki nilai-nilai keindahan dan dapat dinikmati, dirasakan sehingga dapat menimbulkan rasa puas baik bagi penikmat dan seniman pelaku

 

Seniman selalu berfikir untuk menghasilkan sesuatu yang baru dalam mewujudkan daya imajinasinya. Keindahan itu sendiri secara kolektif dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang dapat menimbulkan rasa senang, rasa puas, rasa aman, nyaman, dan bahagia. Apabila perasaanitu sangat kuat, merasa terpaku, terharu dan terpesona, maka akan menimbulkan keinginan untuk menikmati kembali perasaan itu walaupun sudah dinikmati berkali-kali.1 Upaya ini tidak akanbisa berhasil sempurna jika tidak adanya media sebagai sarana penuangan dan perwujudan daya cipta yang dimiliki seniman. Oleh karena itu gamelan sangat diperlukan dalam mendukung kreativitas tersebut.

 

Gamelan adalah benda seni sebagai penghasil bunyi yang merupakan sarana seniman dalam menuangkan ide-ide kreatifnya dalam menghasilkan suatu karya seni musik tradisi/karawitan. Karya tersebut memiliki unsur keindahan yang dapat dirasakan baik oleh seniman pencipta, pelaku, serta dinikmati oleh masyarakat penikmat seni. Gamelan tidak saja dikenal oleh seniman, namun gamelan sudah sangat populer dalam tatanan budaya masyarakat Bali karena selalu eksis dalam berbagai konteks sosial budaya masyarakat Bali. Dengan penampilan dan penyajiannya yang kharismatik dalam setiap event, baik dalam konteks budaya spiritual maupun entertaimen, sangat menarik untuk mendapat dukungan dan perhatian dari masyarakat

      Trompong Gong Kebyar merupakan sebuah jenis instrumen yang memiliki keunikan,  kekhasan dari segi penampilan atau bentuk serta memiliki nilai estetik yang dihasilkan dari suara instrumen tersebut, dan dimainkan oleh satu orang hingga tiga orang pemain gamelan atau penabuh. Sebagai salah satu instrumen pencon atau memoncol dalam gamelan Gong Kebyar yang berbentuk bulat memiliki kaki atau lambe yang pada tengah-tengah bangun bagian atas atau muka terdapat sebuah cembungan yang mempunyai ukuran diameter paling kecil 3, 5 cm² hingga 7 cm², dan tingginya dari ukuran 4 cm² hingga 7 cm², besar maupun kecil ukuran moncol itu tergantung dari ukuran trompong, makil besar ukuran trompong maka makin besar pula ukuran pencol/moncolnya. Terkait dengan keberadaan Trompong Gong Kebyar dalam gamelan Bali telah disebut.

Dari kutipan di atas memberikan pernyataan bahwa Trompong Gong Kebyar merupakan sebuah instrumen tradisional Bali yang mana pada umumnya terdiri atas sepuluh buah pencon yang terdiri dari nada terendah ke nada tertinggi yang dimulai dari nada:

(1) dang (3) ding (4) dong (5) deng (7) dung

(1) dang (3) ding (4) dong (5) deng (7) dung

 

      Trompong merupakan instrumen yang biasa dipergunakan sebagai pengawit atau intro yaitu memulai suatu gending atau tabuh sekaligus berfungsi sebagai pembawa melodi dalam memainkan gending-gending lelambatan klasik, lelambatan kekebyaran maupun gending rerejangan. Trompong dalam permainannya mampu memberikan kesan yang estetis yang mempengaruhi suasana maupun karakter dalam penyajiannya. Dengan adanya suara dan

permainan trompong yang membawakan/menyajikan gending-gending lelambatan klasik maupun lelambatan kekebyaran maka akan terdengar indah dan sempurna hal tersebut tentu dipengaruhi oleh nilai estetis yang ada pada tunguhan trompong.

Melihat fungsi Trompong Gong Kebyar sebagai pembuka/pengawit atau mengawali suatu gending atau lagu, telah ditulis oleh Pande Made Sukerta dalam bukunya Gamelan Gong Kebyar Buleleng Perubahan dan Keberlanjutan Tradisi Gong Kebyar, dinyatakan bahwa: Trompong merupakan salah satu kelompok tungguhan pedandan dalam Gong Kebyar yang tugasnya lebih menekankan pada melodi, yaitu menyajikan bagian gending kawitan (di Jawa Tengah disebut dengan buka), sebagai penghubung gending, dan menggarap gending dengan pola tabuhan yang menggunakan berbagai variasi atau wilet. Menyajikan bagian gending kawitan terdapat pada jenis gending pepanggulan

 

 

 

 

 

 

 

Secara khusus Trompong digunakan untuk memulai lagu (kawitan), yaitu : memulai suatu gending atau tabuh sekaligus berfungsi sebagai pembawa melodi dalam memainkan gending- gending lelambatan klasik, lelambatan kekebyaran maupun gending rerejangan.

Adapun tehnik permainan dalam Trompong Gong Kebyar yaitu:

  1. Nyele                         : pukulan yang menjelaskan lagu

 

  1.  Ngembat                  : memukul dua buah nada besar dan kecil secara

bersamaan  dengan jarak 4 nada.

 

  1.  Ngempyung                        : memukul dua buah nada secara bersamaan nada (dang)

dan (deng) yang dihasilkan adalah nada (dang).

 

  1. Nyintut                      : memukul dua buah nada secara bersamaan yaitu ding

kecil dengan dung yang kedengaran ding.

 

  1. Nyilihasih                  : tehnik pukulan bergantian gentian antara tangan kanan

dan kiri.

 

  1. Nyekati                      : pukulan yang banyak lepas dari bagian pokoknya dan

bertemu pada bagian akhir.

 

  1.  Ngumad                   : memukul dengan membelakangi pokok gending.

 

  1.  Ngulunin                  : mendahului pukulan pokok.

 

  1.  Nerumpuk               : memukul satu nada secara beruntun.

 

 

  1.  Ngoret                      : memukul tiga buah nada yang ditarik dari besar ke kecil.

 

Ngerot                      : memukul tiga buah nada dari kecil ke besar.

25 Responses to “terompong gong gede”

  1. online casino with free bonus without deposit https://internet-casinos-online.net/

  2. what is the best online casino for real money https://onlinecasinosdirectory.org/