Monthly Archives: April 2013

SISTEM TEKNOLGI DALAM PEMENTASAN WAYANG KULIT

SISTEM TEKNOLGI
DALAM PEMENTASAN WAYANG KULIT

OLEH:
I Wayan Soma Bhaskara
Nim: 201202001
Program Studi Seni Karawitan

FAKULTAS SENI PERTUNJUKAN
INSTITUT SENI INDONESIA DENPASAR
2012

BAB I
PENGANTAR

1.1 LATAR BELAKANG
Tulisan ini merupakan hasil sebuah studi tentang seni pertunjukan wayang kulit (purwa) dengan mengangkat topik Sistem Teknologi dalam pementasan wayang kulit. Permasalahan ini menjadi menarik berkenaan dengan memasukan unsur teknologi dalam suatu pementasan wayang kulit. Diciptakan dalam bentuk tradisional pertunjukan wayang kulit di fungsikan kedalam unsur tekstual dan kontekstual yang berhubungan dengan wawasan Mitologis ,Kosmologis,dan Arkhais, sehingga memunculkan simbol-simbol yang bermakna bagi penghayatan dan pemahaman konsep budaya masyarakat. namun pada saat zaman teknologi yang semakin berkembang dan seiiring dengan arus Globalisasi pertunjukan wayang kulit kini juga mampu berkembang sesuai perkembangan zaman itu sendiri. dalam pertunjukan wayang kulit kini para seniman mampu berdaptasi dengan mengikut sertakan unsur teknologi kedalam pertunjukannya.
Sebelum memasuki konsep sistem teknologi dalam seni pertunjukan wayang kulit,  setidaknya dapat memahami pendeskripsian wayang itu sendiri. Wayang adalah seni pertunjukkan asli Indonesia yang berkembang pesat di Pulau Jawa dan Bali.  Selain itu beberapa daerah seperti Sumatera dan Semenanjung Malaya juga memiliki beberapa budaya wayang yang terpengaruh Indonesia, wayang kulit di jadikan sebagai sistem landasan pada masyarakat Indonesia,dimana hampir seluruh propinsi di Indonesia mengenal wayang. Wayang kulit adalah budaya yang essensial bagi masyarakat Indonesia dan telah menjadi bagian dari warisan sejarah budaya bangsa. Dapat dipahami bahwa wayang sebagai budaya yang demokratis adaptif dan telah mengalami perkembangan dan berintegrasi dengan budaya dan cita rasa local. Sehingga kemudian berkembang dengan sendirinya mulai dari bentuk, variasi, dan pagelaran wayang sedemikian rupa agar menarik dan mudah dipahami oleh masyarakat. Bangsa Indonesia adalah sebuah bangsa dengan masyarakatnya yang pluralistic mempunyai berbagai macam, bentuk, dan variasi dari kesenian budaya. Kemajuan sebuah bangsa ditentukan oleh peradaban budayanya. Kesenian Wayang adalah salah satu dari sekian banyak kesenian khas Indonesia. Di mata para pengamat budaya, kesenian wayang memiliki nilai lebih dibandingkan seni lainnya, karena kesenian wayang merupakan kesenian yang komprehensif yang dalam pertunjukannya memadukan unsur-unsur kesenian, diantaranya seni karawitan, seni rupa (tatah sungging), seni pentas (pedalangan), dan seni tari (wayang orang).
Disamping fungsinya sebagai hiburan, kesenian wayang juga memiliki fungsi estetika dan sarat dengan kandungan nilai yang bersifat sacral. Setiap alur cerita, falsafah dan perwatakan tokohnya, sampai bentuk wayang mengandung makna yang sangat dalam.kalau ditelusuri sejarah dan asal-usul kelahiran pertunjukan wayang yang kita warisi kini,maka tidak heranlah kita mengapa teater klasik ini di klasifikasikan sebagai seni pertunjukan yang mempunyai kedudukan yang sangat tinggi atau “utameng lungguh” (meminjam istilah yang di gunakan oleh I gusti ketut kaler”tokoh Budaya bali.kaler,1976:3) menurut sejarahnya semula wayang merupakan upacara keagamaan atau upacara yang berhubungan dengan kepercayaan untuk memuja “hyang” atau leluhur. Maka kalau di bandingkan dengan seni pertunjukan lain, seperti legong, arja, jogged, prembon, dan lain-lain,yang sampai kini masih hidup, seni pertunjukan wayang tampaknya mempunyai kedudukan khas.Wayang, di samping mempunyai sejarah yang cukup panjang,seperti telah di singgung juga lahir dari suatu situs keagamaan yang berwujud penyembahan dan penghormatan terhadap (Roh) leluhur yang telah menyatu dengan Tuhan Yang Maha Esa. Seni pertunjukan wayang di kategorikan sebagai teater total,karena beragam kesenian,seperti seni drama,seni sastra,seni musik,seni rupa,seni hias,seni vokal,terhimpun secara padu di dalamnya.
Berangkat dari tradisi yang mengikat dari seni pertunjukan wayang ini dimana sangat kental dengan kekhasan yang di miliki,salah satu hal yang signifikan yaitu penerangan dalam pementasan pertunjukan wayang yang menggunakan penerangan tradisional,sebut saja“Blencong yaitu lampu yang di gunakan untuk memainkan wayang dan di gantungkan di muka kelir. dulu blencong di buat dari tembaga,pakai cucuk (paruh) tempat masuknya uceng (sumbu).kata blencong berarti serong, sebab sumbu itu memang membengkok kebawah. Blencong dalam istilah pedalangan lebih menunjuk kepada suatu alat penerangan untuk pertunjukan wayang pada masa lampau yang menggunakan bahan bakar minyak kelapa. Lampu blencong ini berbentuk macam-macam ada yang berbentuk seperti burung Jatayu, ada yang berbentuk seperti celengan dengan sayap kiri dan kanan. Blencong ini terbuat dari kayu berukir ataupun perunggu, dengan lubang di tengah untuk menaruh minyak dan mempunyai sumbu yang menghadap ke arah kelir/ layar.Blencong merupakan alat penerangan yang berfungsi untuk menghidupkan bayangan wayang di kelir/layar. Wayang yang mempunyai cat dasar prada emas akan terlihat lebih hidup. Begitu pula bayangan yang dihasilkan jika dilihat dari belakang layar akan terlihat lebih artistik. Terpaan angin terhadap sumbu blencong akan membawa efek tersendiri pada wayang yang sedang ditampilkan oleh seorang dalang.Dalang perlu mengecek dan membenahi untuk menarik sumbu blencong agar tidak padam dan sinarnya sesuai dengan kebutuhan pergelaran. Satu alat lain yang namanya sumpit diperlukan untuk menjepit sumbu blencong yang biasanya terbuat dari kain atau kapas yang telah dibentuk seperti tali. Kehati-hatian seorang Dalang juga mutlak diperlukan dalam menggunakan sumpit ini, karena percikan api blencong mudah membakar kain yang dikenakan oleh Dalang.
Dalam perkembangan zaman .pengguanaan sistem teknologi seperti Laighting Lampu dalam pementasan Wayang kini cukup mengubah unsur tradisional yang ada dalam suatu pertunjukan wayang.semula pencahayaan pada pertunjukan wayang dapat menggunakan sistem pencahaayaan yang di sebut (blencong) pencahayaan tradisional,namun saat ini penggunaan lampu cukup dikatakan lebih praktis atau efisien karena penggunaan lampu dapat menimbulkan pencahayaan yang luas sehingga penerangan dalam pertunjukan wayang dapat jelas terlihat oleh para penikmat atau penonton pertunjukan wayang itu sendiri.malinowski,dalam teorinya functional theory of culture  (teori funsi kebudayaan) menyebutkan bahwa, fungsi unsur-unsur kebudayaan (kesenian) adalah segala aktivitas kebudayaan sebenarnya bermaksud memuasakan kebutuhan naluri akan keindahan (koentjaraningrat,1978:170-171) untuk mengamati nilai-nilai estetika dalam pertunjukan wayang dengan memasukan unsur teknologi. Orang hidup memiliki sikap budaya yang selalu berkembang, kebutuhan terhadap pencahayaanpun berkembang tidak hanya sekedar untuk kegiatan manusia dalam kehidupan sehari-hari saja, melainkan berkembang sebagai alat penerangan dalam melaksanakan upacara ritual dan akhirnya digunakan sebagai sumber penerangan dalam pertunjukan wayang. Adapun tujuan dan fungsi tata lampu dalam pementasan wayang.
Menerangi,Lampu digunakan sekedar untuk memberi terang, melenyapkan gelap. Penerangan ini bersifat penerangan umum yang dapat menerangi seluruh bagian pentas klir wayang dengan rata (General Illumination/General Light). Seluruh pentas atau property yang ada dalam pementasan
wayang diterangi secara merata dengan lampu berwarna putih, merah, biru, hijau, kuning, atau violet. Misalnya: untuk adegan di hutan digunakan penerangan berwarna hijau dan untuk adegan di medan perang digunakan lampu berwarna merah.
Menyinari, Tata lampu bertujuan untuk  menyinari  daerah permainan atau suatu objek tertentu sehingga dapat menimbulkan efek dramatik. Penyinaran ini merupakan jenis penerangan yang bersifat khusus (Specicific Illumination/ Spot Light).
di pihak lain sangat dirasakan perubahanya saat memasukan unsur teknologi ke dalam seni daerah yang bermutu ini. Karena di dalamnya terkandung ke khasan yang bebeda dari unsur tradisional dan unsur yang terlepas dari ketradisionalan. Di samping itu dapat di lihat, bahwa masuknya sistem teknolgi ke dalam pementasan wayang juga dapat menunjukan perubahan signifikan ke dalam kulture  budaya tradisional dari pementasan wayang.
Di zaman modern ini dunia seni kembali harus menghadapi tantangan baru sebagai akibat dari terjadinya revolusi teknologi yang di hasilkan manusia-manusia pintar di abad ini. Teknologi adalah salah satu dari tujuh unsur universal kebudayaan,datangnya teknologi eletronik canggih tidak urung akan mempengaruhi gaya hidup dan perilaku manusia dalam melakukan berbagai bidang seni secara perlahan-lahan dan dengan penuh kesadaran meninggalkan cara-cara baru dengan menggunakan jasa teknologi modern.Sejak tiga dekade terakhir ini semakin banyak seniman seni pertunjukan. Yang mulai menggunakan teknologi dalam kiprah berkesenian mereka di masyarakat. Teknologi ini tidak saja digunakan oleh seniman-seniman pemula,tetapi juga oleh seniman-seniaman yang sudah berpengalaman,akibatnya, kini hampir tidak ada satu jenis kesenian tradisional yang tidak tersentuh oleh teknologi .salah satu fenomena menarik untuk dikaji adalah penggunaan teknologi seperti laighting lampu pada pementasan wayang. penggunaan lampu cukup dikatakan lebih praktis atau efisien karena penggunaan lampu dapat menimbulkan pencahayaan yang luas sehingga penerangan dalam pertunjukan wayang dapat jelas terlihat oleh para penikmat atau penonton pertunjukan wayang itu sendiri. Dalam perkembangan kebudayaan (baca: kesenian) dewasa ini, penggunaan teknologi dinilai sebagai sesuatu yang amat membantu dalam mengungkapkan nilai-nilai estetika. Dalam seni pengembangan atau seni modern, unsur teknologi kerap dijadikan wahana bereksperimen.

1.2 RUMUSAN MASALAH
Dari seluruh uraian di atas dapat di ketahui bahwa penggunaan teknologi harus dimanfaatkan semaksimal mungkin dalam seni pertunjukan. Pencahayaan seni pertunjukan berasal dari dua sumber yang berbeda yaitu,  berasal dari Tuhan atau alam dan berasal dari buatan manusia. Pencahayaan yang berasal dari alam  adalah sinar matahari, bulan, dan bintang.  Pencahayaan buatan manusia  misalnya api unggun, obor, lilin, petromaks, dan listrik. Namun  tidak seluruhnya dapat diproyeksikan dalam pentas/pertunjukan. Di masa lalu, pakem pentas wayang kulit memakai penerangan lampu minyak kelapa (blencong). Bayangan wayang menjadi hidup karena nyala lampu yang bergerak. Dalang yang piawai kemudian memainkan wayang maju mundur, sehingga muncul bayangan yang membesar dan mengecil. Itulah teknologi pada zamannya. Ketika teknologi sudah maju, ada listrik dengan berbagai warna lampu yang bisa ditampilkan di kelir, blencong menjadi masa lalu. Maka pertunjukan wayang tidak lagi punya daya pikat.
Pengembangan IPTEKS dengan menggunakan listrik sebagai bahan dasar utamanya dalam pertunjukan wayang merupakan trobosan yang sangat signifikan pengaruhnya. Dengan kemajuan  IPTEKS dan berkembangnya seni pertunjukan, maka kedua belah pihak saling membutuhkan, sehingga instrumen lighting di zaman sekarang ini telah canggih dan siap mendukung segala macam kebututuhan pertunjukan.Dosen ISI Denpasar Drs. Nyoman Sukaya, M.Erg. mengatakan penggunaan iptek dalam kebudayaan kuncinya meningkatkan kenyamanan, efisiensi, produktivitas dan lain-lain. Dalam seni rupa misalnya, kata Sukaya, iptek selalu diadopsi untuk menunjang hasil karya. ”Penggunaan iptek dalam berkesenian, sudah sejak lama dilakukan. Mulai dari yang sederhana hingga modern sekarang ini. Demikian pula iptek kerap digunakan dalam membuat barang-barang seni. Penerapan teknologi dalam berkesenian memang dalam rangka mendapatkan kemudahan, kenyamanan dan sebagainya,” kata Sukaya Dalam seni pertunjukan, tata cahaya berada dalam disiplin teknik produksi bersama dengan tata pentas, kriya panggung (stage craft) dan hal hal lain yang bersifat sebagai pendukung visual suatu pergelarlan.dalam perkembangan seni pertunjukan di Indonesia teknik produksi belum mendapat perhatian yang cukup bahkan dalam pendidikan kesenianpun tidakada jurusan yang membuka peminatan teknik produksi tersebut.Secara etemologis wayang memiliki pengaruh yang kuat pada masyarakat Indonesia, wayang di jadikan sebagai sistem landasan pada masyarakat Indonesia,dimana hampir seluruh propinsi di Indonesia mengenal wayang. Wayang adalah budaya yang essensial bagi masyarakat Indonesia dan telah menjadi bagian dari warisan sejarah budaya bangsa. Dapat dipahami bahwa wayang sebagai budaya yang demokratis adaptif dan telah mengalami perkembangan dan berintegrasi dengan budaya dan cita rasa local. Sehingga kemudian berkembang dengan sendirinya mulai dari bentuk, variasi, dan pagelaran wayang sedemikian rupa agar menarik dan mudah dipahami oleh masyarakat.
Untuk mewujudkan suatu pertunjukan wayang yang dapat di terima dengan baik oleh masyarakat ataupun pertunjukan wayang yang tidak menghilangkan ke khasan dari pertunjukan wayang itu sendiri,dimana aspek-aspek persoalannya dapat di rumuskan sebagai berikut:
•    Bagaimana peranan wayang kulit sebagai salah satu kesenian luhur dan agung yang berbudaya Indonesia di padukan ke dalam sistem atau unsur teknologi?
•    Bagaimana merancang agar penggunaan sistem teknologi seperti penggunaan lampu tidak melepas unsur ke tradisionalan dari pertunjukan wayang itu sendiri?
•    Apa saja nilai yang terkandung dalam pertunjukan seni wayang jika di padukan dengan sistem teknologi?

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 SEJARAH PERKEMBANGAN WAYANG
Hubungan filosofi kehidupan yang terkandung dalam seni pertunjukan wayang sebagai tontonan, tuntunan dan falsafah hidup Kesenian wayang dalam bentuknya yang asli timbul sebelum kebudayaan Hindu masuk di Indonesia dan mulai berkembang pada jaman Hindu Jawa. Pertunjukan kesenian wayang adalah merupakan sisa-sisa upacara keagamaan orang Jawa yaitu sisa-sisa dari kepercayaan animisme dan dinamisme. Tentang asal-usul kesenian wayang hingga dewasa ini masih merupakan suatu masalah yang belum terpecahkan secara tuntas. Namun demikian banyak para ahli mulai mencoba menelusuri sejarah perkembangan wayang dan masalah ini ternyata sangat menarik sebagai sumber atau objek penelitian.Di kalangan masyarakat, wayang adalah bukan hal yang asing. Wayang merupakan salah satu warisan budaya bangsa yang telah mampu bertahan, dari waktu ke waktu, dengan mengalami perubahan dan perkembangan sampai berbentuk seperti sekarang ini.

2.2 FUNGSI DAN FILSAPAT PERANAN WAYANG
Daya tahan wayang yang luar biasa terhadap berbagai perubahan pemerintahan, politik, sosial budaya maupun kepercayaan membuktikan bahwa wayang mempunyai fungsi dan peranan penting dalam kehidupan sosial masyarakat.Saat ini, fungsi dan peranan wayang tidak lagi difokuskan pada upacara-upacara ritual dan keagamaan, tetapi telah bergeser ke acara hiburan yang mengutamakan inti cerita dengan berbagai macam pengetahuan, filsafat hidup, nilai-nilai budaya, berbagai unsur seni, serta unsur pendidikan yang semuanya berpadu dalam seni pedalangan.Filsafat pewayangan membuat masyarakat sebagai penontonnya merenungkan hakekat hidup, asal dan tujuan hidup, manunggaling kawula gusti, kedudukan manusia dalam alam semesta, serta sangkan paraning dumadi yang dilambangkan dengan tancep kayon oleh ki dalang pada akhir pagelaran (Wibisono dalam Mulyana: 2008). Keseluruhan pagelaran wayang, sejak dari pembukaan (talu) sampai berakhirnya pagelaran dengan tancep kayon, mempunyai kandungan filosofis yang tinggi.Tiap adegan dengan iringan gending sendiri-sendiri dan makin lama makin meningkat laras dan iramanya sehingga mencapai klimaks yang ditandai dengan tancep kayon, setelah semua masalah di dalam lakon terjawab dan berhasil diselesaikan. Kesemuanya itu menggambarkan kompleksitas kehidupan manusia di dunia ini dengan segala aspek dan dinamikanya, yang tidak lepas dari peran dan kedudukan manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan maupun sebagai makhluk sosial.Dalam hal ini telah jelas, sebagai manusia yang berbudaya, bangsa Indonesia menganggap wayang sebagai bagian dari kehidupan yang bernilai tinggi dan luhur. Bagi kelangsungan eksistensi wayang ini, paling tidak, ada tiga hal yang perlu dicermati dalam kehidupan publik. Pertama, sikap dan pandangan hidup pragmatis telah dianut oleh sebagian besar masyarakat.Kedua, implikasi dari realitas ini tidak hanya diterapkan dalam perilaku ekonomi dan politik, tetapi juga dalam memilih bentuk kesenian dan kebudayaan. Ketiga, akibat selanjutnya adalah budaya massa dan budaya populer menjadi kiblat mayoritas publik.

2.3 KAJIAN MAKNA PEWAYANGAN
Seni pertunjukan wayang sendiri mempunyai nilai yang sangat penting bagi bangsa. Karena didalam setiap ceritanya terkandung nilai moral yang luhur. Cerita-cerita dalam wayang kulit, mengisahkan kehidupan manusia dari lahir sampai mati. Menceritakan tentang ajaran-ajaran budi pekerti yang luhur. Ajaran yang tidak bisa kita dapatkan ketika menonton pertunjukan lain yang hanya sekedar“hiburan”.Seni wayang kulit itu, sebenarnya berisi pesan moral yang sangat luar biasa. Karena tiap ceritanya pasti mempunyai pesan yang positif kepada penontonya. Selain itu, falsafah wayang, dalam implementasinya dalam kehidupan berperan penting dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebab, dalam seni wayang terdapat kearifan lokal yang bermanfaat untuk membangun karakter dan jatidiri bangsa Indonesia melalui watak tokoh dalam wayang.Wayang kulit sebagai karya agung, bukan hanya isapan jempol semata, karena dunia pun sudah mengakui bahwa seni wayang kulit merupakan karya yang agung dan luhur. Terbukti dengan disematkannya penghargaan sebagai masterpiece (karya agung) dari UNESCO kepada seni wayang kulit.Tentu kita patut bangga dengan adanya penghargaan tersebut. Akan tetapi bukan hanya bangga tanpa diikuti dengan ikut melestarikannya. Kepedulian masyarakat dan pemerintah di negeri ini terhadap wayang kulit sangat diharapkan.Jangan sampai kesenian tradisional yang penuh pesan moral ini, diaku oleh bangsa lain, sebagai budaya milik mereka. Jika sudah seperti itu, masyarakat sendiri yang akan rugi telah kehilangan seni wayang kulit yang hanya ada di bangsa ini.Jangan sampai seni wayang kulit tetap hidup, namun seolah mati di negeri sendiri, ditelan kemajuan jaman dan pengaruh modernitas.

2.4 WAYANG DALAM PERKEMBANGAN ZAMAN
Seiring perkembangan zaman pengguanaan sistem teknologi seperti Laighting Lampu dalam pementasan Wayang kini cukup mengubah unsur tradisional yang ada dalam suatu pertunjukan wayang.saat ini penggunaan lampu cukup dikatakan lebih praktis atau efisien karena penggunaan lampu dapat menimbulkan pencahayaan yang luas sehingga penerangan dalam pertunjukan wayang dapat jelas terlihat oleh para penikmat atau penonton pertunjukan wayang itu sendiri. Dalam seni pertunjukan, tata cahaya berada dalam disiplin teknik produksi bersama dengan tata pentas, kriya panggung (stage craft) dan hal hal lain yang bersifat sebagai pendukung visual suatu pergelarlan.dalam perkembangan seni pertunjukan di Indonesia teknik produksi belum mendapat perhatian yang cukup bahkan dalam pendidikan kesenianpun tidakada jurusan yang membuka peminatan teknik produksi tersebut.Dengan semakin banyaknya festival-festival seni pertunjukan diberbagai kota maka kebutuhan untuk mengemas pertunjukan menjadi sesuatu yang menarik dan lain dari penyajian kelompok lain, maka kebutuhan pemahaman teknik produksi tumbuh. Namun seringkali tumbuh kembangnya seni pertunjukan tidak seiring dengan berkembangnya gedung pertunjukan. Akustik ruangan, penataan cahaya dan tata teknik pentasnya seringkali tak memenuhi persyaratan minimal untuk suatu pertunjukan.

2.5 FUNGSI TEKNOLOGI DALAM PEWAYANGAN
Dalam situasi seperti itulah para pekerja dibelakang panggung merekayasa agar pertunjukan menjadi sesuau yang berarti dan punya sumbangan dalam perkebangan seni pertunjukun.Studi-studi yang dilakukan oleh para pekerja belakang panggung pada umumnya dilakukan sendiri oleh para pelaku itu sendiri atau bersama-sama dengan kelompoknya atau kalau beruntung bisa mengikuti lokakarya-lokakarya yang diadakan oleh lembaga-lembaga kesenian yang punya pehatiandan keprihatinan terhadap perkembangan dunia seni pertunjukan.
Dalam teater sinar/lampu tidak sekedar berfungsi sebagai penerangan, tetapi juga memiliki fungsi tertentu khususnya pada pementasan wayang. Adapun fungsinya sebagai berikut.

1.    Menerangi lakon wayang sehingga jelas terlihat oleh penonton
2.    Memberikan efek alamiah dari waktu: jam, musim, cuaca,dan suasana
3.    Membantu melukis dekorasi dalam menambah nilai warna sehingga terdapat efek sinar dan bayangan
4.    Membantu permainan dalam melambangkan maksud dengan memperkuat kejiwaan
5.    Mengekspresikan mood dan atmosfer dari naskah, guna mengungkapkan gaya dan tema naskah.
6.    Memberikan variasi sehingga adegan tidak statis.

BAB III
PENUTUP

Seni pertunjukan Wayang di katagorikan sebagai seni pertunjukan total,Karena beragam kesenian,seperti seni drama,seni sastra,seni musik,seni rupa,seni hias,seni vocal,terhimpun secara padu di dalamnya.penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan imformasi yang jelas tentang kondisi dan situasi salah satu ragam seni,yaitu memadukan sistem teknologi dengan seni pertunjukan wayang,yang dapat dikatakan sebagai salah satu ragam budaya yang padu.adapun aspek-aspek yang di jadikan pusat kajian yang sekaligus menjadi tujuan pokok di adakannya penelitian ini ialah di temukannya pepaduan unsur teknologi dengan suatu pertunjukan seni khususnya wayang.hasil yang diperoleh dalam penelitian ini,langsung atau tidak,diharapkan ada mamfaatnya bagi para penikmat seni seperti kesenian pertunjukan wayang pada dasarnya.Seperti dimaklumi, bahwa hampir semua pakar seni (bali) Khususnya seniman pertunjukan pewayangan seperti I Wayan Nardayana,ataupun Ide Bagus Gede Sarga mengatakan bahwa penggunaan sistem teknologi sangat mendukung dalam suatu pementasan wayang kedepannya.pengetahuan dan ketrampilan yang semakin meningkat ini akan membias kepada mutu pertunjukan (yang semakin meningkat pula) dan hal ini akan dapat meningkatkan apresiasi masyarakat (penonton) akan seni pewayangan,yang sudah barang tentu sangat berguna di samping sebagai hiburan yang membawa kemajuan kedalam siklus teknologi.pertunjukan wayang yang di katagorikan sebagai seni pertunjukan klasik sekaligus seni pertunjukan total merupakan sebuah seni pertunjukan yang bermutu tinggi dan mempunyai kedudukan terhormat di jajaran seni pertunjukan yang lain.apalagi dengan masuknya sistem teknologi ke dalam pementasan wayang yang dapat menjadi inovasi baru dimana nantinya akan memperkaya seni budaya yang ada khususnya seni pertunjukan wayang. Di pihak lain sangat dirasakan perubahanya saat memasukan unsur teknologi ke dalam seni daerah yang bermutu ini. Karena di dalamnya terkandung ke khasan yang bebeda dari unsur tradisional dan unsur yang terlepas dari ketradisionalan. Di samping itu dapat di lihat, bahwa masuknya sistem teknolgi ke dalam pementasan wayang juga dapat menunjukan perubahan signifikan ke dalam kulture  budaya tradisional dari pementasan wayang.

IV. LAMPIRAN

Gambar: pementasan wayang menggunakan lampu blencong

Gambar: pementasan wayang menggunakan laighting lampu

DAFTAR PUSTAKA

Bandem, I Made “mengembangkan lingkungan social yang mendukung wayang”,dalam Murdra,jurnal seni budaya,No.2,Th.II,Penerbit UPT. Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Denpasa,1994

Brandon, James R, Theatre in southeast Asia, Penerbit Harvard University Press, Cambridge, Massachusetts, 1967

, Dharma Pewayangan Wayang Kulit Bali: Studi Eksploratif tentang Identitas dan fungsinya,laporan penelitian, Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Denpasar, 1992.

Mankunagoro VII,K,G,P.A,A,Surakarta,On The Wayang Kulit (Parwa) and its symbolic and Mistical Elements,di terjemahkan oleh Clair Holt.Corneel,New York,1957.

Mulyono,Sri,Simbolisme dan  Mistiskisme dalam Wayang, Sebuah Tinjuan Filosofis penerbit,PT Gunung Agung, Jakarta, 1979

Nardayana, I Wayan, Ilmu Pedalangan/Pewayangan, Dokumentasi , Penggelaran seni pertunjukan Wayang Kulit,”laporan penelitian,STSI 1992

Rota, Ketut, Retorika sebagai Ragam Bahasa Panggung dalam Seni Pertunjukan Wayang Kulit Bali,Laporan Penelitian,Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Denpasar,1990

Timoer,Soenarto,”Wayang ditinjau dari Kebudayaan,dalam Gatra, Majalah/Warta Wayang, No 231. diterbitkan oleh Sekertariat Nasional Pewayangan Indonesia ”SENEWANGI” Jakarta Barat,1990

Wicaksana, I Dewa ketut,” Wayang sebagai Refleksi Nilai Budaya dan Agama Hindu Bagi Masyarakat Bali,’’dalam Mudra, Jurnal Seni Budaya, No.4, STSI Denpasar, Maret 1996.

Wiryamartana, I. Kuntara, “Permenungan tentang Lakon Ruwat: Dhalang Karurungan” dalam dari Sudut-sudut Filsafat, Sebuah Bungan Rampai, Penerbit Yayasan Kanisius, 1977.

deskrifsi gender wayang

GENDER WAYANG

1.1DEFINISI GENDER WAYANG
Gender adalah nama dari sebuah tungguhan gamelan yang berbentuk bilah (metalophone). Kata gender biasanya dirangkaikan dengan kata rambat dan wayang yang mempunyai bentuk,laras,dan fungsi yang berbeda.gender wayang adalah nama dari salah satu tungguhan gender yang berbilah sepuluh dan berlaras selendro. Spesipikasi gender wayang adalah sebuah tungguhan gender yang dipakai untuk mengiringi pertunjukan wayang.
Gender wayang merupakan sebuah gamelan yang masuk pada klasifikasi golongan gamelan tua. Di bali gamelan gender wayang di duga telah ada pada abad ke 14. Tungguhan gender atau yang lebih di kenal dengan gamelan gender wayang  keberadaanya menyebar hampir di seluruh penjuru pulau bali.gender wayang adalah sebuah instrument yang digunakan untuk mengiringi upacara keagamaan di bali seperti pada upacara dewa yadnya untuk mengiringi pertunjukan wayang gedog (wayang lemah),dan pada upacara manusa yadnya mengiringi proses potong gigi (mepandes). Begitu luas mamfaat dan fungsi dari keberadaan gamelan gender wayang tersebut bagi kehidupan ritual religious dari masyarakat bali,namun semua itu masih terbatas dari segi konteks fungsi dari unsur musikalnya,apabila di lihat dari tinjauan etnomusikologi banyak elemen-elemen yang belum terungkap yang memberikan dampak dan pengaruh dalam perkembangan gamelan gender wayang khususnya .di sini pendekatan etnomusikologi di gunakan bukan hanya untuk mengulas unsur  musikal. Seperti bagaimana hubunganya dengan lingkungan masyarakat pendukung.letak geografis,bentuk topografi,bahasa,kebudayaan,dan agama dari sebuah tempat hidup berkembangnya gamelan gender wayang.
Sumber;www.babadbali.com
Google ensiklopedia-mengenai instrumental gender wayang

1.2 KERANGKA GENDER WAYANG
Gender wayang salah satu esambel musik paling kuno yang ada di bali,menyertai wayang serta pengajuan,kremasi,dan upacara keagaaman lainnya.
kedua instrument gender dasar wayang masing-masing dibangun dari kerangka kayu dan sepuluh persegi panjang,kunci perunggu ditangguhkan oleh string dan menyembunyikan komposit dan jembatan kayu lebih tegak,,resonator bambu di setel.sebuah set lengkap memiliki dua pasang gender,pasangan tambahan dua kali
lipat satu oktaf lebih tinggi.sebuah instrument mencakup dua oktaf dengan skala lima nada pentatonic.setiap pasangan terdiri dari instrument pria dan wanita, perempuan yang sedikit  lebih besar dan sedikit lebih rendah di lapangan.Palu yang ramping dan radial simetris dengan kepala disc kayu dan manik –kerucut seperti mainan kerincingan tanduk. Bentuknya memungkinkan pemain untuk menyesuaikan perlu antara jari kedua dan ketiga dari tangan longgar terbuka dan menyerang dan meredam tombol secara bersamaan dengan menit,memutar gerkan lengan bawah. Karena teknik ini,paparan relative dari dua bagian instrumental,dan pelaksanaan sinkopasi,komposisi dinamis dalam sinkronisitas yang tepat,gamelan wayang gender di anggap sebagai sakah satu genre yang paling kompleks music bali.seperti gamelan bali lainya,gender wayang hanya sekitar standar di lapangan relative,meskipun instrument masing-masing kelompok yang tepat disetel dengan pasangan lapangan ahli dan mendaftar peregangan. Lapangan mutlak bervariasi sesuai dengan prepensi bronzesmith itu. Akibatnya, masing-masing instrument jarang ditukarkan dengan orang-orang dari klompok lain selain aslinya.salah satu instrument register masing-masing pitch,pengisep,disetel lebih tinggi dari pasangan mereka.pengumban (goyah);karena pengertian kita logaritmis skala pendengaran,catatan terendah perlu dipasangkan lebih lanjut selain di lapangan mutlak dari pada tertinggi untuk mencapai tingkat,sama ideal”shimmer” di serempak. Selanjutnya interval oktaf yang membujur menjadi sedikit lebih dari dua kali lipat hertz untuk mencapai”shimmer” serupa di oktaf. Gender wayang berada di tuning pentatonic slendor,sekitar C.D.E.G.A pada skala berat.
Sumber; Buku wayan loceng tentang gender wayang
www.babadbali.com

1.3Fungsi Gamelan Gender Wayang  sebagai karawitan berdiri sendiri
Sebagai karawitan berdiri sendiri Gender Wayang lebih banyak berfungsi sebagai penunjang pelaksanaan upacara. Dalam fungsinya sebagai penunjang upacara , Gender Wayang dipergunakan untuk upacara Pitra Yadnya dan Manusa Yadnya. Pada saat pelaksanaan upacara Pitra Yadnya Gender Wayang itu biasanya berfungsi untuk mengiringi mayat ke tempat pembakaran/kuburan . Hal ini terjadi apabila upacara itu dilakukan secara besar-besaran dan mempergunakan “Bade” sebagai tempat mayat , sementara dibawahnya diapit oleh dua orang bermain gender yang duduk di atas sandangan bambu (penyangga dari bade tersebut) ,maka Gender Wayang dapat disimpulkan sebagai gamelan sakral bagi umat Hindu.
Selain itu Gender wayang ini juga berfungsi untuk mengiringi upacara Manusa Yadnya (potong gigi)
1.4Fungsi Gamelan Gender Wayang  dalam mengiringi pertunjukkan wayang
Seperti yang dijelaskan tadi bahwa gender dan pertunjukan wayang yang diiringi mempunyai hubungan erat satu sama lainnya . Dalam pertunjukkan keduannya merupakan satu kesatuan yang tidak dipisahkan . Suatu pementasan wayang dapat berfungsi sebagai Wali (sacral) sebagai bebali (ritual) dan sebagai Balih-balihan (skuler) , menurut jenis dari upacara yang dilakukan .
Sumber:adipartha-mengenai gender wayang

1.5 TEKNIK PERMAINAN GENDER WAYANG
1. Nada
Perbedaan laras. Laras Gender Wayang disebut slendro. Secara teoritis laras slendro memiliki lima nada. Perbedaan laras gender wayang Sukawati yang dilihat dari perbedaan frekuensi, interval dan getarannya menunjukkan pada kita adanya sistem dipersifikasi dalam pembuatan gender wayang dan sistem ini menjadi lebih rumit jika dikaitkan dengan aspek komposisi dan teknik permainan.
2. Ritme
Ritme yang dimaksud adalah teknik-teknik pukulan Gender Wayang Sukawati yang mempunyai berbagai macam teknik pukulan dalam memainkannya. Contoh teknik pukulan yang dimaksud antara lain :
Noret :
Tangan Kiri : – 6 – 3 – 6 – 3
Tangan Kanan : 3.5 6 6.5 3 3.5 6 6.5 3

Ubit-ubitan :
Tangan Kiri : 6 3 5 3 3 6 5 3
Tangan Kanan : 2 3 – 3 2 3 2 3 – 2 – 3 2

Omang :
Tangan Kiri : 5 – 3 – 5 – 3 –
Tangan Kanan : – 6 1 – 1 – 6 1 – 6 1 – 1 – 6 1

Cecandetan :
Tangan Kiri : 5 3 2 3 3 2 3 – 2 3 2 3 5 3
Tangan Kanan : – 2 3 – 3 – 2 3 – 2 3 – 2 3 5 3

Nyangsih :
Tangan Kiri : – – 6 – 5 – 6 –
Tangan Kanan : – 6 3 – 6 – 3 – – 6 3 – 6 – 1 6
Gegedig Polos :
Tangan Kiri : 3 6 5 3 6 1 2 – – –
Tangan Kanan : 6 2 1 6 5 6 1 – – –
Sumber: penelitian Oleh : Ni Ketut Suryatini, SSKar., M.Sn dan Ni Putu Tisna Andayani, SS    (dosen PS Seni Karawitan.
http://forum.isi-dps.ac.id

1.6 GAMBAR GENDER WAYANG

Sumber:images situs google

SEKIAN

Ensamble gong kebyar

ENSAMBLE GONG KEBYAR
MERUPAKAN
BARUNGAN BESAR

1.1 Landasan Teori
Gong Kebyar adalah sebuah barungan baru. Sesuai dengan nama yang diberikan kepada barungan ini (Kebyar yang bermakna cepat, tiba-tiba dan keras) gamelan ini menghasilkan musik-musik keras dan dinamis. Gamelan ini dipakai untuk mengiringi tari-tarian atau memainkan tabuh-tabuhan instrumental. Secara fisik Gong Kebyar adalah pengembangan kemudian dari Gong Gede dengan pengurangan peranan, atau pengurangan beberapa buah instrumennya. Misalnya saja peranan trompong dalam Gong Gebyar dikurangi, bahkan pada tabuh-tabuh tertentu tidak dipakai sama sekali, gangsa jongkoknya yang berbilah 5 dirubah menjadi gangsa gantung berbilah 9 atau 10 . cengceng kopyak yang terdiri dari 4 sampai 6 pasang dirubah menjadi 1 atau 2 set cengceng kecil. Kendang yang semula dimainkan dengan memakai panggul diganti dengan pukulan tangan. Gong Kebyar berlaras pelog lima nada dan kebanyakan instrumennya memiliki 10 sampai 12 nada, karena konstruksi instrumennya yang lebih ringan jika dibandingkandengan Gong Gede. Tabuh-tabuh Gong Kebyar lebih lincah dengan komposisi yang lebih bebas, hanya pada bagian-bagian tertentu saja hukum-hukum tabuh klasik masih dipergunakan, seperti Tabuh Pisan, Tabuh Dua, Tabuh Telu dan sebagainya. Lagu-lagunya seringkali merupakan penggarapan kembali terhadap bentuk-bentuk (repertoire) tabuh klasik dengan merubah komposisinya, melodi, tempo dan ornamentasi melodi. Matra tidak lagi selamanya ajeg, pola ritme ganjil muncul di beberapa bagian komposisi tabuh.
Barungan Gong Kebyar bisa diklasifikasikan menjadi 3 :
Utama = Yang besar dan lengkap
Madya = Yang semi lengkap
Nista = Yang sederhana

1.2 Struktur Gong Kebyar
Gong  Kebyar  merupakan  salah  satu  perangkat/barungan gambelan Bali yang terdiri dari lima nada(panca nada) dengan laras pelog, tetapi tiap-tiap instrument terdiri sepuluh bilah.
Oleh  karenanya  gong kebyar menjadi satu barungan gambelan tergolong baru jika dibandingkan dengan jenis-jenis gambelan yang ada saat ini seperti misalnya, gambelan Gambang, Gong Gde, Slonding,Semara Pegulingan dan masih banyak yang lainnya.
Barungan gong kebyar terdiri dari :
Dua buah (tungguh) pengugal/giying
Empat buah (tungguh) pemade/gansa
Empat buah (tungguh) kantilan
Dua buah (tungguh) jublag
Dua buah (tungguh) Penyacah
Dua buah (tungguh) jegoggan
Satu buah (tungguh) reong/riyong
Satu buah (tungguh) terompong
Satu pasang gong lanang wadon
Satu buah kempur
Satu buah kemong gantung
Satu buah bebende
Satu buah kempli
Satu buah (pangkon) ceng-ceng ricik
Satu pasang kendang lanang wadon
Satu buah kajar
1.3 FUNGSI MASING-MASING INSTRUMENT &  TEKNIK PERMAINAN
Gamelan gong kebyar memiliki instrumentasi yang cukup besar. masing-masing instrument dalam barungan memiliki fungsinya tersendiri sesuai dengan ciri khas gamelan gong kebyar yaitu “ngebyar”. Sesuai dengan namanya gong kebyar, penerapan teknik  juga  enerjik. Repertoar gamelan gong kebyar memakai teknik-teknik yang sangat komplek. Masing-masing instrument telah memiliki teknik tersendiri dalam sebuah lagu. Begitu juga fungsi alat dalam perangkat/barungan saat memainkan lagu disesuaikan dengan kebutuhan lagu yang dibawakan.
Untuk lebih jelasnya dapat dijabarkansebagai berikut:
•    Satu tungguh Trompong  Dalam barungan gong kebyar memiliki sepuluh buah Moncol/pencon Yang merupakan nada dan  rendah  sampai  nada ndung tinggi. Instrumen  ini dimainkan  oleh  seorang  penabuh  dengan dua  tangan  memakai  panggul yang disebut panggul trompong. Dalam sebuah barungan, instrumentini berfungsi untuk pembawa lagu, juga membuka/pengawit sebuah gending yang dalam barungan membawa melodi dengan tekniknya  tersendiri. Gagebug  trompong  Sekar  tanjung  susunnamanya. Sistem ini adalah gambaran keindahan  permainantrompong yang dalam sub tekniknya seperti: Ngembat,ngempyung, nyilih asih, nguluin, nerumpuk, ngantu, niltil, ngunda dan ngoret .(bandem:1991:18).

•    Satu tungguh instrument reyong. Instrumen riyong adalah suatuinstrument yang berbentuk memanjang. Instrumen ini memiliki jumlahm Moncol/pencon  Sebanyak 12 buah dengan susunan nadadari nada : 5 7 1 3 4 5 7 1 3 4 5 7 dibaca Ndeng, ndung, ndang,nding, ndong, ndeng, ndung, ndang, nding, ndong, ndeng, danndung. Reyong Dimainkan  oleh  empat orang  penabuh dengan mempergunakan masing-masing dua buah panggul pada tangan kanan dan kiri. Teknik permainan yang diterapkan adalah tehnikubit-ubitan yang dalam barungan gamelan sepadan dengan Cecandetan, kotekan, tetorekan  Yang  mengacu pada teknik permainan  polos dan sangsih  Yang dalam lontar prakempa disebut Gagebug  (bandem:1991:16). Lebih lanjut dalam lontar ini Gagebug  rereyongan  Disebut  i gajah mina namanya. Pemain  reyong  pertama  dan ketiga (dari kiri) memainkan pukulan polos  , sedangkan pemain kedua dan keempat memainkan pukulan Sangsih. Setiap pemain reyong memiliki wilayah nada untuk dapat memainkan teknik-teknik di atas.

•    Dua buah instrumen ugal. Instrumen Ugal/giying  Adalah sebuahinstrument yang mempunyai jumlah bilah 10 (sepuluh) buah Dengan susunan nada-nadanya dari kiri ke kanan. 4 5 7 1 3 4 5 7 13 dibaca Ndong, ndeng, ndung, ndang, nding, ndong, ndeng,ndung, ndang, dan nding  Instrumen ini dimainkan oleh seorang pemain dengan alat pemukul (panggul)  . Fungsi dalam barungan adalah sebagai pembawa melodi dan memulai sebuah gending yang dibawakan. Selain itu instrument ugal dapat mengendalikan atau  memimpin sebuah lagu untuk pemberian  keras lirih/Nguncab-ngees  Sebuah gending. Beberapa tehnik pukulannya adalah: Ngoret, ngerot, netdet, ngecek, neliti, ngucek,gegejer, oncang-oncangan dan ngantung.

•    Gansa pemade dan gangsa kantil  Barungan gong kebyar memiliki empat instrument gangsa pemade dan empat  instrument gangsa kantil. Instrumen ini memiliki sepuluh nada dalam  tungguhnya, dan urutan nadanya sama dengan instrument ugal.hanya saja instrument kantil lebih tinggi oktafnya dari gangsa pemade. Jadi secara estetika perbedaan oktaf tersebut untuk mendapatkan keseimbangan dan harmonisasi. Kedelapan instrumen ini berfungsi membuat jalinan-jalinan/Kotekan  Dalam sebuah gending. Pemberian ilustrasi oleh instrument  ini dapat  memperkuat lagu pokok. Beberapa teknik Gagebug /pukulan yang diterapkan dalam instrument gangsa seperti: teknik pukulan Nyogcag, bebaru, tetorekan, norot, ngoret, niltil, ngucek, oncang- oncangan  Dan lain –lain sesuai dengan kebutuhan gendingnya.

•    Dua instrument Penyacah : instrumen ini mempunyai jumlah bilahsebanyak tujuh buah dengan susunan nada: 1 3 4 5 7 1 3 dibaca Ndang, nding, ndong, ndeng, ndung, ndang. Berfungsi  sebagai pemangku lagu/mempertegas  jalannya melodi (pukulannya lebihrapat dari jublag).secara fisik ukurannya lebih kecil dari instrument jublag. Teknik permainannya sangat melodis pada setiap matra lagu.

•    Dua instrument Jublag  . Instrumen  jublag adalah suatu instrument yang memiliki jumlah bilah lima buah, dengan susunan nada 3 4 5 7 1 dibaca Nding, ndong, ndeng, ndung,ndang  Besar  kecilnya nada diambil dari instrument ugal/giying. Funfsinya dalam sebuah barungan adalah Sebagai  pemangku  lagu, memperkuat/mempertegas melodi pada ruas-ruas gending. Teknik pukulan yang diterapkan adalah: Neliti,magending, nyele/nyelah.

•    Dua instrument Jegogan  Instrumen jegogan merupakan instrument bilah yang paling besar  ukurannya dalam barungan gong kebyar. Instrument ini memiliki bilah sebanyak lima buah dengan susunan nada 3 4 5 7 1 dibaca Nding, ndong, ndeng, Ndung ndang . Instrumen  ini berfungsi sebagai  pemangku Lagu dan memberikan  aksentuasi  kuat pada ruas-ruas gending (pukulannya lebih jarang dari jublag)

•    Satu kempur: merupakan instrument berpencon yang besarnyamemiliki diameter 50-60 cm. Dengan digantung pada sebuah Sangsangan , instrument ini berfungsi sebagai pemangku  Irama(ritme) dan sebagai pematok ruas-ruas gending serta sebagaipemberi aksen-aksen sebelum jatuhnya gong. Pola pukulannya dapatmemberikan identitas ukuran tabuh yang dibawakannya. Sepert:tabuh pisan satu kempur dalam satu gong, tabuh dua, ada duakempur dalam satu gongannya, dan seterusnya.

•    Satu instrument Kemong : instrumen kemong adalah merupakaninstrument berpencon yang dalam Settingya  Digantung pada Sangsangan   Kecil yang disebut Trampa  . Fungsinya dalambarungan adalah untuk pengisi ruas-ruas lagu. Biasanyapenerapan pukulan kemong pertanda gending yang dibawakantelah mencapai setengah dari gending secara utuh (kecualipengawak palegongan). Pola pukulannya adalah: Tunjang sari.

•    Dua buah gong Lanang dan wadon  : instrumen  gong  adalah instrument berpencon yang ukurannya paling besar dalam gong kebyar. Terbuat dari kerawang dan memiliki ukuran diameter 65 – 90 cm. Dilihat dari fungsinya, instrument ini berfungsi sebagaifinalis lagu (menghakhiri lagu). Sebagai finalis lagu instrument inimemiliki jenis pukulan yang disebut Purwa tangi
•    Kendang lanang wadon: di atas telah dipaparkan tentanginstrument kendang. Akan tetapi dalam sebuah barungankendang berfungsi sebagai pemurba irama. Disamping itukendang dapat mengatur tempo, keras liris gending dan lain-lain.beberapa pukulan kendang antara lain: motif  Bebaton, gegulet, jejagulan, bebaturan, gupekan, milpil  , dan lain-lain.

•    Beberapa suling dengan berbeda ukuran: suling merupakaninstrument melodis yang dalam komposisi lagu sebagai pemanislagu. Teknik permainan bisa simetris dengan lagu ataukahmemberikan ilustrasi gending baik mendahului maupunmembelakangi melodi gending.

•    Satu ceng ceng kecek: secara fisik ceng ceng gecek memiliki dua bagian yaitu: dua alat pemukul (penekep) disebut bungan ceng ceng, dan ceng ceng tatakan. Dalam tatakan terdapat kurang lebih lima buah ceng ceng yang diikat pada pangkonnya. Untuk Memunculkan suara, ceng ceng  penekep dipegang oleh dua tangan dan dimainkan dengan dibenturkan sesuai tekniknya. Adapun beberapa jenis pukulannya adalah: pukulan malpal, ngecek,ngelumbar dan lain-lain. Sedangkan fungsinya dalam barungan adalah untuk memperkaya ritme/angsel-angsel tanpa memakai tehnik jalinan.

•    Satu buah kajar: instrument  ini  merupakan salah satu inmstrumen bermoncol/pencon yang berfungsi sebagai pembawa irama. Adapun jenis pukulannya adalah pukulan piñatas  lampah yang artinya pola pukulan  kajar yang  mengikuti pola ritme yang ajeg dari satu pukulan ke pukulan berikutnya dalam jangka waktu serta jarak yang sama.

•    Satu  buah  rebab: instrument  rebab merupakan instrument gesek yang dalam barungan gamelan sebagai penyeimbang/ harmonisasi lagu. Instrumen ini  membutuhkan pengeras suara karena secarakualitas suara sangat nyaring, namun  tidak mampu menimbulkan suara keras. Sehingga instrument rebab sangat tepat diharmoniskan dengan suling, dan pada saat pementasan dibantu oleh pengeras suara

1.4 TATA PENYAJIAN
Sikap memainkan gamelan Bali memiliki makna yang sangat penting. Tidak hanya menyangkut kajian estetik keindahan, akan tetapi bagaimana energi disalurkan ketika memainkan gamelan. Posisi duduk seorang pemain gamelan ideal yaitu mengambil posisi silasana yaitu posisi duduk dimana kaki dilipat tertumpuk (kanan dan kiri) sedangkan posisi badan tegak, dan pandangan kedepan (lihat gambar). Dengan posisi yang benar dapat mendukung penampilan dan secara estetik tertata adanya. Aspek penampilan menjadi sangat besar pengaruhnya terhadap sebuah pementasan karena tanpa didukung oleh penampilan yang baik dan apik serta mempertimbangkan aspek keindakan akan tidak tercapai kaidah pertunjukan yang ada seperti: kompak, harmonis, selaras serasi dan seimbang. Sisi lain dari posisi duduk yang benar dapat memberikan energi yang penuh/total, sebab secara penyaluran energi yang seimbang keseluruh tubuh dapat menyebabkan kualitas pukulan terjaga intensitasnya.
Posisi tangan: Untuk dapat memainkan gamelan secara baik tentunya memegang panggul harus diperhatikan. Posisi tangan yang benar untuk memainkan instrument berbilah adalah tangkai panggul dipegang oleh  tangan kanan dengan ibu jari berada sejajar dengan tangkai panggul bagian lebarnya, sedangkan keempat jari lainnya posisi terlipat (lihat gambar). Sedangkan untuk memainkan instrument berpencon posisi tangan mengikuti arah panggul, sedangkan telunjuk tanpa dilipat.  Begitu juga pada instrument lainnya.
Menutup/tatekep: Barungan Gong Kebyar merupakan seperangkat gamelan yang memiliki instrumentasi yang sangat banyak. Hampir 30 -40 buah instrument yang sebagian besar merupakan instrument perkusif. (dipukul). Tehnik-teknik tersebut menyebabkan setiap kelompok instrument memiliki bunyi dan warna nada yang berlainan. Instrumen-instrumen Gong Kebyar yang dimainkan secara dipukul baik memakai tangan maupun memakai alat pemukul/panggul dalam gamelan Bali lazim disebut gagebug. Sedangkan instrument tidak dimainkan secara dipukul diantaranya: instrument suling (ditiup) dan instrument rebab (digesek). Setiap instrument memiliki jenis-jenis pukulan yang berbeda satu sama lainnya. Oleh karena terbatasnya informasi tentang identifikasi pukulan yang ada, maka dalam tulisan ini dicoba memberikan teknik dasar tentang memainkan gamelan Gong Kebyar secara konvensional serta mengacu pada sumber-sumber yang telah diakui keabsahannya.
•    1.5SETTING INSTRUMENT
BELAKANG

Q

L                                             M                                               N

J                                                                                                       J

H                                                                                            H
1     2      3      4

D                                       E

DEPAN

A                       KETERANGAN GAMBAR:
A.    (A1 kendang Wadon)(A2 Kendang Lanang)  H.( H1 Gangse Polos)( H2 Gangse Sangsih)
B.    Ceng-ceng ricik                                                I.  Giying/ Ugal
C.    Terompong                                                       J. ( J1 Kantil Polos)   ( J2 Kantil Sangsih)
D.    (1.2.3.4) Seruling                                             K. Reyong
E.    Ceng-ceng Kopyak                                           L.  ( L1.L2) Penyacah
F.    Rebab                                                               M. ( M1.M2) Jublag
G.    Kajar                                                                 N.  (N1.N2) Jegogan
O.    Bende                                                                P. Kempur
Q.    ( Q1 Gong Wadon Q2 Gong Lanang)
Sumber:
•    1. I Wayan, 2002. Wayan Beratha Pembaharu Gamelan Gong Kebyar. Yogyakarta, Tarawang.

•    2. I Made Bandem, Mengenal Gamelan Bali ( Akademi Seni Tari Indonesia Denpasar, 1982).

•    3. I Gusti Ngurah Rai Mirsha, et.al., Sejarah bali (Denpasar; Proyek Penyusunan Sejarah Bali Pemerintah Daerah Tingkat I Bali, 1986), hal. 165-202

•    Windha, I Nyoman, dkk.. 1985. “Aspek-Aspek Penggarapan Karawitan Bali di ASTI Denpasar”. Akademi Seni Tari Indonesia Denpasar.

•    Mustika, Pande Gede, I Nyoman Sudiana dan I Ketut Partha. 1996. Menenal Jenis-Jenis Pukulan dalam Barungan Gamelan Gong Kebyar.Denpasar: Sekolah Tinggi Seni Indonesia Denpasar

•    Website/ situs mengenai gong kebyar, babad bali,google,bloog sejarah seni budaya bali,kevina bali,dan website isi-dps.

Sumber Bunyi

1.SUMBER BUNYI
Sumber  bunyi merupakan benda yang mengeluarkan bunyi yang gelombang mekanik yang dalam perambatannya arahnya sejajar dengan arah getarnya (gelombang longitudinal).  bunyi yang didengar manusia yaitu menghasilkan osilasi dalam  tekanan udara, yang dikonversi menjadi gelombang mekanik dalam telinga manusia dan dirasakan oleh otak. Penyebaran suara mirip cairan, di mana suara berbentuk fluktuasi tekanan. Contoh sumber bunyi yang dapat di hasilkan seperti seruling yang di tiup akan menghasilkan bunyi,gitar yang di petik akan menghasilkan bunyi dll.

2.TIMBRE
Definisi timbre. Timbre adalah kualitas atau warna bunyi. Timbre sangat dipengaruhi oleh cara bergetarnya suatu sumber bunyi. Timbre terjadi karena banyaknya nada tambahan dan kuat nada atas yang menyertai nada dasarnya. Misalnya seorang pria dan seorang wanita menyanyikan sebuah nada secara bersamaan, maka akan dapat kita bedakan, walaupun keduanya bernyanyi denga frekuensi sama. Hal ini karena alat-alat yang beresonasi dari leher / tenggorokan keduanya tidak sama. Perbedaan itulah yang menyebabkan timbre atau warna bunyi.
Pada alat-alat music pun terdapat warna bunyi. Nada C pada gitar akan terdengar berbeda dengan nada C pada biola, berbeda pula dengan nada C pada piano, walaupun frekuensinya sama.

3.DINAMIKA
Dinamika adalah istilah yang digunakan untuk menyatakan keras dan lembutnya permainan sebuah karya musik. dinamik sangat diperlukan agar sebuah karya musik tidak menjadi monoton atau datar. Pemain musik atau penyanyi yang baik akan selalu mengikuti dinamika lagu yang diberikan. Terkadang, sang pemimpin orkes atau paduan suara harus menginterpretasikan sendiri lagu yang akan dibawakan, dan memberi tanda dinamik atas lagu itu agar makna dari lagu itu lebih bisa ditangkap oleh penikmatnya.

4.NOISE
noise adalah suatu sinyal gangguan yang bersifat akustik (suara), elektris, maupun elektronis yang hadir dalam suatu sistem (rangkaian listrik/ elektronika) dalam bentuk gangguan yang bukan merupakan sinyal yang diinginkan.

5.BISING
Bising didefinisikan sebagai bunyi yang kehadirannya tidak dikehendaki dan dianggap mengganggu pendengaran. Bising dapat berasal dari bunyi atau suara yang merupakan aktivitas alam seperti bicara, pidato, tertawa dan lain – lain. Bising juga dapat berasal dari bunyi atau suara buatan manusia seperti bunyi mesin kendaraan dan mesin – mesin yang ada di pabrik. Untuk menilai bunyi sebagai bising sangatlah relatif. Misalnya musik di tempat – tempat diskotik, bagi orang yang biasa mengunjungi tempat itu tidaklah merasa suatu kebisingan, tetapi bagi orang – orang yang tidak pernah berkunjung di tempat diskotik akan merasa suatu kebisingan yang mengganggu.

6.SUARA
Suara adalah gelombang mekanis yang merupakan osilasi tekanan ditularkan melalui, gas padat cair, atau, terdiri dari frekuensi dalam kisaran pendengaran dan dari tingkat cukup kuat untuk didengarkan, atau sensasi dirangsang pada organ pendengaran oleh getaran seperti
Propagasi suara

CV SOMA BHASKARA

read more »