Gong Kebyar

Music tradisional Bali dinamakan karawitan. Istilah karawitan berasal dari kata rawit yang artinya halus (indah), mendapat awalan ka dan akhiran an, menjadi karawitan yang berarti seni suara instrumental dan vocal yang menggunakan laras (tangga nada) pelog dan slendro. Karawitan instrumental Bali disebut gamelan, dan karawitan vocal disebut tembang atau sekar.

Gamelan adalah sebuah orchestra yang terdiri dari bermacam-macam instrument yang terbuat dari batu, kayu, bambu, besi, perunggu, kulit, dawai, dan lain-lainnya dengan menggunakan laras pelog dan slendro. Istilah gamelan dipakai juga untuk menyebutkan music (lagu-lagu) yang dihasilkan oleh instrument-instrument di atas. Dewasa ini ditemukan lebih dari 30 jenis perangkat gamelan bali yang tersebar di seluruh kabupaten se-Bali dan masing-masing dari perangkat itu memiliki fungsi, instrumentasi, orkestrasi, dan teknik permainan yang berbeda-beda. Salah satu perangkat tersebut adalah barungan gamelan Gong Kebyar.

Gong Kebyar adalah barungan gamelan Bali sebagai perkembangan terakhir dari Gong Gede, memakai laras pelog lima nada yaitu, nding, ndong, ndeng, ndung, ndang. Yang awal mulanya tidak menggunakan instrument trompong. Selanjutnya, Gong Kebyar dapat diartikan suatu barungan gamelan gong yang didalam permainannya sangat mengutamakan kekompakan suara, dinamika, melodi, dan tempo. Keterampilan mengolah melodi dengan berbagai variasi permainan dinamika yang dinamis dan permainan tempo yang diatur sedemikian rupa serta didukung oleh teknik permainan yang cukup tinggi sehingga dapat membedakan style Gong Kebyar yang satu dengan yang lainnya.

Dalam tulisan-tulisan mengenai Bamelan Bali terdahulu secara umum telah dikemukakan oleh masing-masing penulisnya bahwa gamelan Gong Kebyar ini baru muncul pada permulaan abad XX, yang pertama kali diperkirakan muncul di daerah Bali utara tepatnya sekitar tahun 1915 di desa Jagaraga, Buleleng.

Namun kenyataan yang diungkapkan oleh Beryl de Zoeto dan Walter Spies dalam bukunya yang berjudul “Dance And Drama In Bali” mengatakan bahwa I Ketut Mario yang sudah lahir sekitar tahun 1900 sudah menari sisya dalam calonarang pada tahun 1906. Dalam ungkapan selanjutnya sama sekali tidak ada menyinggung masalah Gong Kebyar atau Tari Kekebyaran. Dari ungkapan ini kiranya dapat diketahui bahwa Bapak I Ketut Mario yang dikenal sebagai salah satu tokoh dalam gong kebyar sampai dengan 1906 (perang puputan Badung) masih menjadi penari sisya dalam penyalonarangan yang dapat diartikan bahwa sampai tahun 1906 itu Bapak I Mario belum mengenal tari kebyar dan brarti bahwa gamelan gong kebyar belum ada pada tahun 1906 itu. Menurut Colin McPhee dalam bukunya “Music In Bali” ada menyebutkan bahwa untuk pertama kalinya gamelan gong kebyar didengarkan di depan umum adalah pada bulan desember 1915 dimana ketika itu tokoh-tokoh gong Bali Utara mengadakan kompetisi yang pertama kali untuk gong kebyar di Jagaraga. Colin McPhee sendiri mengaku bahwa apa yang dikemukakan itu adalah hasil interview nya dengan A.A Gde Gusti Jelantik mantan Regen Buleleng (Colin McPhee, 1966 : 328). Apabila diperhatian baik-baik yang dikemukakan Colin McPhee maka akan Nampak bahwa tahun 1915 itu adalah saat kompetisi yang pertama kali di Bali Utara yang menampilkan bentuk-bentuk kekebyaran dan sudah tentu sekaa-sekaa yang ikut ambil bagian dalam kompetisi itu sudah menciptakan bentuk-bentuk kekebyaran satu atau dua tahun sebelumnya bahkan mungkin beberapa tahun sebelumnya. Adalah mustahil apabila gong-gong yang ditampilkan di dalam kompetisi pada tahun 1915 dengan mengambil tempat di Jagaraga itu menciptakan bentuk-bentuk kekebyaran beberapa jam atau beberapa hari sebelumnya. Dapat diketahui juga bahwa desa Jagaraga yang selama ini dianggap sebagai daerah asal mula munculnya gamelan gong kebyar di Bali Utara pada tahun 1915 ternyata hanya dijadikan tempat kompetisi gong kebyar pada tahun 1915 tersebut diatas. Berdasarkan apa yang dikemukakan oleh Beryl de Zoeto, Walter Spies, dan Coli McPhee diatas, maka kiranya dapat ditarik suatu batas pemunculan gong kebyar di Bali yakni diantara 1906 dan sebelum 1915 dan tempat pemunculannya pertama kali bukan di desa Jagaraga.

Setelah ditelusuri lebih mendalam, didapatkanlah beberapa data yang dapat dijadikan suatu pegangan guna mengetahui asal mula dari pada gamelan gong kebyar ini. Informasi pertama datangnya dari Bapak I Nyoman Rembang seorang guru karawitan di SMKI Denpasar yang dulunya bernama KOKAR Bali, mengatakan bahwa berdasarkan hasil wawancaranya dengan Bapak I Gusri Bagus Sugriwa yang berasal dari Desa Bungkulan Buleleng mengatakan bahwa lagu-lagu gong kebyar diciptakan pertama kali oleh I Gusti Nyoman Panji di desa Bungkulan pada tahun 1914 dan ketika itu dicoba untuk ditarikan oleh Ngakan Kuta yang berdomisili di desa Bungkulan. Informasi ini menunjukan bahwa pada tahun 1914 di desa Bungkulan telah diciptakan lagu-lagu kekebyaran. Hanya saja belum diketahui bagaimana bentuk lagu kebyar yang diciptakan ketika di Bungkulan itu dan bagaimana pula bentuk gamelan gong kebyar yang telah menampilkan motif-motif kekebyaran itu.

Berdasarkan uraian diatas, beserta beberapa argumentasi sebagaimana dikemukakan diatas keranya telah dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa gamelan gong kebyar muncul pertama kali muncul di bali utara Buleleng sekitar tahun 1914 di desa Bungkulan dan bentuk-bentuk kekebyaran sudah diciptakan antara tahun 1910-1914 yang dipelopori oleh I Gusti Nyoman Panji.

Drama Klasik

Drama klasik pada dasarnya adalah suatu bentuk seni drama yang menyajikan lakon-lakon klasik terutama dari kisah pewayangan. Lakon dan dialog-dialog drama klasik dituangkan ke dalam sebuah skenario yang disusun oleh sutradara. Seni drama modern ini diciptakan oleh seorang tokoh drama asal Badung, Ida Bagus Anom Ranuara, melalui sanggar teater yang dipimpinnya yaitu Sanggar Mini Badung yang mulai muncul menjelang akhir tahun 1970an. Satu aspek penting yang membedakan ini dengan drama gong adalah tidak adanya peran punakawan untuk menterjemahkan dialog para pemeran utama.

Set dekorasi dan properti panggung yang realistis menjadi salah satu kekuatan dari drama klasik ini. Dan durasi pementasan dari drama klasik relatif lebih singkat (sekitar 2jam) dibandingkan dengan drama gong. Drama klasik lebih banyak di tampilkan di layar kaca dan merupakan salah satu nomor acara andalan dari TVRI Denpasar.

Drama Klasik

Drama Klasik

Drama klasik pada dasarnya adalah suatu bentuk seni drama yang menyajikan lakon-lakon klasik terutama dari kisah pewayangan. Lakon dan dialog-dialog drama klasik dituangkan ke dalam sebuah skenario yang disusun oleh sutradara. Seni drama modern ini diciptakan oleh seorang tokoh drama asal Badung, Ida Bagus Anom Ranuara, melalui sanggar teater yang dipimpinnya yaitu Sanggar Mini Badung yang mulai muncul menjelang akhir tahun 1970an. Satu aspek penting yang membedakan ini dengan drama gong adalah tidak adanya peran punakawan untuk menterjemahkan dialog para pemeran utama.

Set dekorasi dan properti panggung yang realistis menjadi salah satu kekuatan dari drama klasik ini. Dan durasi pementasan dari drama klasik relatif lebih singkat (sekitar 2jam) dibandingkan dengan drama gong. Drama klasik lebih banyak di tampilkan di layar kaca dan merupakan salah satu nomor acara andalan dari TVRI Denpasar.

Cerita dalam Tari Kecak

Cerita dalam Tari Kecak

Cerita yang paling popular dalam tari kecak adalah cerita Ramayana pada bagian dimana Raja Rama dan istrinya Dewi Shita serta adiknya Laksamana tengah berada di dalam hutan karena diasingkan dari kerajaan mereka. Berikut scene scene dalam tari kecak :

Scene 1 :

Rama Sita dan Laksamana sedang berada dalam hutan tiba tiba muncul seekor kijang emas (penjelmaan dari pembantu Raja Rahwana yang ditugaskan untuk memancing agar Rama meninggalkan Sita sendirian) mendekati mereka kemudian menjauh seakan ingin mengajak mereka bermain melihat kijang yang lucu tersebut Sita minta ke pada raja Rama untuk menangkapnya. Sebelum Rama pergi meninggalkan Sita, Rama minta adiknya Laksamana menjaga Sita, kemudian Rama meninggalkan Sita dan laksamana untuk mengejar kijang emas yang berlari menjauh………. Tak selang beberapa lap kemudian terdengar suara kesakitan yang mirip suara Rama serta minta tolong…… . Mendengar itu Sita merasa cemas kemudian minta Laksamana untuk menyusul Rama, Laksamana tidak percaya kalau suara itu adalah suara Rama karena dia tahu Rama tidak mungkin dapat dilukai oleh sekor kijang. Namun Sita tidak mau mengerti dia malah marah pada Laksamana dan menuduh Laksamana sengaja membiarkan Rama mati sehingga dia bisa mengawini Sita kelak. Karena terus didesak oleh Sita akhirnya Laksmana mau pergi menyusul Rama. Sebelum meninggalkan Sita sendirian Laksamana membuat lingakaran dan minta Sita untuk tetap berada dalam lingkaran. Setelah Laksamana pergi kemudian muncul sorang pendeta yang sebenarnya adalah penjelmaan Rahwana. Pendeta ini minta air kepada Sita. Karena merasa iba Sita memberikan air kepada pendeta tersebut dengan menjulurkan tangannya keluar lingkaran. Seketika itu juga pendeta tua itu berubah menjadi Rahwana. Kemudian membawa Sita pergi.

Scene 2

Dikisahkan Sita telah berada di Kerajaan Alengka ditemani oleh Trijata – kemenakan dari Rahawana yang ditugaskan untuk menjaga Sita. Sita terlihat sedih menangisi nasib yang menimpanya sanbil terus berharap Rama datang untuk menyelamatkannya. Kemudian muncul Kera Putih – Hanoman. Pada awalnya Sita mengira Hanoman ini juga merupakan penjelmaan Rahwana, namun setelah Sang Hanoman menjelaskan bahwa dirinya adalah utusan dari Raja Rama, serta menyerahkan cincin sebagai bukti. Kemudian Sita memberikan bunga kepada Hanoman untuk diserahkan kepada raja Rama. Sebelum meninggalkan kerajaan Alengka Hanoman membakar taman dan beberapa tempat di kerajaan Alengka sebagai pesan pada Rahwana bahwa Rama akan datang untuk menyelamatkan Sita.

Scene 3

Peperangan dimulai, Rama dengan pelayannya bernama Tualen serta tentara keranya tiba di Alengka untuk menyerang dan menghancurkan kerajaan Rahwana. Pada awal pertempuran putra Rahwana yang bernama Megananda serta pelayannya Delem berhasil mengalahkan Mengikat Rama dengan kekuatan sihirnya sehingga Rama serta anak buahnya tidak bisa bergerak dan menjadi lemas. Kemudian Rama berdoa memohon kepada para Dewata untu k menyelamatkannya, kemudian munculah seekor burung garuda membantu Rama melepaskan diri dari sihir Megananda.

Scene 4

Kemudian Rama beserta tentaranya kembali pulih seperti sedia kala lalu Rama memerintahkan Raja Kera Sugria untuk melawan Megananda, Pada scene ini para penari cak akan membentuk 2 kelompok satu kelompok menjadi tentara Megananda, satu kelompok yang lain menjadi tentara Sugriwa. Dalam pertempuran ini Sugriwa berhasil mengalahkan Megananda. Kemudian para penari cak kembali menjadi satu kelompok.

 

Scene 5

Diceritakan bahwa Rahwana telah dapat dikalahkan dan Rama berkumpul kembali dengan istrinya Sita. Pertemuan mereka ini disaksikan oleh Laksamana, Sugriwa dan Hanoman.

  1. Properti

Properti yang digunakan dalam pergelaran tari kecak diantaranya:

  1. Kain atau selendang yang bercorak kotak-kotak

 

  1. Gelang kincringan

 

  1. Make up

 

  1. Tempat sesajen

 

  1. Topeng

 

  1. Dan aksesoris lainnya.

 

Sejarah Tari Kecak

Sejarah Tari Kecak

 

Tak diketahui secara pasti darimana tarian kecak berasal dan dimana pertama kali berkembang, namun ada suatu macam kesepakatan pada masyarakat Bali kecak pertama kali berkembang menjadi seni pertujukan di Bona, Ganyar, sebagai pengetahuan tambahan kecak pada awalnya merupakan suatu tembang atau musik yang dihasil dari perpaduan suara yang membentuk melodi yang biasanya dipakai untuk mengiringi tarian Sahyang yang disakralkan. Dan hanya dapat dipentaskan di dalam pura. Kemudian pada awal tahun 1930an astist dari desa Bona, Gianyar mencoba untuk mengembangkan tarian kecak dengan mengambil bagian cerita Ramayana yang didramatarikan sebagai pengganti Tari Sanghyang yaitu tradisi tarian yang penarinya akan berada pada kondisi tidak sadar, melakukan komunikasi dengan Tuhan atau roh para leluhur dan kemudian menyampaikan harapan-harapannya kepada masyarakat, sehingga tari ini akhirnya bisa dipertontontan di depan umum sebagai seni pertunjukan.

Kecak (pelafalan: /’ke.tʃak/, secara kasar “KEH-chahk”, pengejaan alternatif: Ketjak, Ketjack, dan Ketiak), adalah pertunjukan seni khas Bali yang diciptakan pada tahun 1930-an dan dimainkan terutama oleh laki-laki.

 

 

 

 

 

 

  1. Gerak Tari

Tarian ini dipertunjukkan oleh banyak (puluhan atau lebih) penari laki-laki yang duduk berbaris melingkar dan dengan irama tertentu menyerukan “cak” dan mengangkat kedua lengan, menggambarkan kisah Ramayana saat barisan kera membantu Rama melawan Rahwana.

Para penari yang duduk melingkar tersebut mengenakan kain kotak-kotak seperti papan catur melingkari pinggang mereka. Selain para penari itu, ada pula para penari lain yang memerankan tokoh-tokoh Ramayana seperti Rama, Shinta, Rahwana, Hanoman, dan Sugriwa.

  1. Iringan Musik

Iring-iringan lagu atau musik yang mengiringi tari Kecak selama berlangsung diambil dari ritual tarian Sanghyang, yang tidak menggunakan alat musik. Akan tetapi hanya menggunakan kincringan yang dikenakan pada kaki atau tangan penari yang memerankan tokoh-tokoh Ramayana.