wayanwidnyana on April 29th, 2013

 

Ensamble Besar (Gambelan Semara Pegulingan)

Gamelan dengan gamelan semara aturu ini adalah barungan madya, yang bersuara merdu sehingga banyak dipakai untuk menghibur raja-raja pada zaman dahulu. Karena kemerduan suaranya, gamelan Semar Pagulingan (semar=semara, pagulingan=peraduan) konon biasa dimainkan pada malam hari ketika raja-raja akan ke peraduan (tidur). Kini gamelan ini bisa dimainkan sebagai sajian tabuh instrumental maupun mengiringi tari-tarian/ teater.

Masyarakat Bali mengenal dua macam Semar Pagulingan:

1 Semar Pagulingan yang berlaras pelog 7 nada
2 Semar Pagulingan yang berlaras pelog 5 nada

1. Bentuk Fisik

Kedua jenis Semar Pagulingan secara fisik lebih kecil dari barungan Gong Kebyar terlihat dari ukuran instrumennya. Gangsa dan trompongnya yang lebih kecil dari pada yang ada dalam Gong Kebyar.

Ensamble gamelan Semar Pagulingan (milik ISI Denpasar) meliputi:

Jumlah Satuan Instrumen
1 buah trompong dengan 12 pencon
4 tungguh gangsa gantungan pemade
4 tungguh gangsa gantungan kantil
2 tungguh jegogan
2 tungguh jublag, masing-masing berbilah 7
2 buah kendang kerumpung
2 buah kajar
2 buah kleneng
1 buah gong
1 pangkon kecek
1 buah gentorag
1-2 buah rebab
1-2 buah suling

Instrumen yang memegang peranan penting dalam barungan ini adalah trompong yang merupakan pemangku melodi. trompong mengganti peran suling dalam Panggambuhan, dalam hal memainkan melodi dengan dibantu oleh rebab, suling, gender rambat dan gangsa barangan. Sebagai pengisi irama adalah Jublag dan jegogan masing-masing sebagai pemangku lagu, sementara kendang merupakan instrumen yang memimpin perubahan dinamika tabuh. Gending-gending Semar Pagulingan banyak mengambil gending-gending Panggambuhan.

2. Bahan

Sama seperti gambelan lain pada umumnya, ensamble ini di buat oleh kayu dan gamelan Semar Pagulingan Saih Pitu dalam orkestra tradisional Bali didominasi alat-alat perkusi yang digantung pada “pelawah”, yakni tabung bambu pemantul gema. Ukiran pelawah ada berbagai jenisnya sesuai dengan selera masing-masing dan ukurannya yang bebeda-beda, ada juga pelawah yg tidak memiliki ukiran-ukiran.

Di sini sangat menunjukan nilai klasik pada gambelan tersebut, jelas yang lebih murah harganya adalah yang tidak diukir, tetapi sekarang kebanyakan yang memakai pelawah yang diukir supaya terlihat lebih indah. Bumbung/bambu yang di jepitkan pada selah pelawah merupakan sumber gema dari setiap nada tersebut, ukurannya pun berbeda, yang di sebelah kiri lebarnya lebih besar dan yang disebelahnya ukurannya akan sedikit lebih kecil kemudian panjangnya tetap sama.

3. Sistem Pengolahan Bunyi

Sistem penglolahan bunyinya adalah sama seperti gambelan-gambelan pada umumnya dengan cara memukul nada-nada tersebut yang mempunyai istilah ngumbang dan ngisep, ngumbang berarti lebih keras dan ngisep berarti agak lbih kecil suaranya. Ngumbang lebih dominan memukul gegebug polos, dan ngisep  memukul gegebug sangsih atau bias dibilang dengan istilah suara II. Dalam hal ini gegebug mempunyai istilah tersendiri yang berartiyang digunakan untuk menyebutkan teknik menabuh dalam gambelan Bali.

4. Sistem Notasi

Sistem notasi dalam alunan gambelan Semar Pagulingan berupa 7 rentetan nada dasar yaitu :

1                      2                      3                      4                      5                      6                      7

nding           ndong                  ndeng              ndeung                        ndung          ndang            ndaing

Dalam notasi Bali, gambelan Semar Pegulingan mempunyai banyak Patet, tetapi di sini saya hanya ingin memperjelaskan patet dari Pelog, Selendro, Tembung dan Sunaren.

Pelog               :           1          2          3          –           5          6          –

nding    ndong   ndeng    –        ndung   ndang   –

Selendro          :           –           2          3          –           5          6          7

–             ndung   ndang    –        nding   ndong   ndeng

Tembung         :           1          2          –           4          5          6          –

ndung  ndang      –       nding    ndong  ndeng    –

Sunaren           :           1          –           3          4          5          –           7

ndang      –       nding   ndong   ndeng    –        ndung

Mohon maaf disini saya tidak menampilkan dalam notasi Balinya karena belum terlalu memahaminya.

5. Settingnya

Di dalam ensamble Semar Pagulingan memiliki setting atau penempatan yang berbeda-beda, tetapi disini saya memakai setting pada umumnya yang lebih mudah.

Keterangan ;

Terompong

Kendang

Suling/Rebab

Kecek

Kajar

Gangsa

Kantil

Jublag

Jegogan

Gong,gentorag,kleneng

6. Teknik

Sama seperti teknik permainan di ensamble gong kebyar dan hanya terdapat sedikit perbedaan. Berikut ini adalah teknik-teknik dalam ensamble Semar Pagulingan disetiap instrumennya :

  • Terompong

Dengan cara Neliti yang berarti memukul nada secara melodi, Nyilih Asih berarti memukul nada secara bergantian antara tangan kanan dan tangan kiri, Nyekati berarti pukulan yang banyak melepas dari pukulan pokoknya dan bertemu pada pukulan akir, Ngamad berarti memukul dengan membelakangi pokok gending, Nguluin berarti memukul dengan mendahului melodi pokok dan Nerumpuk berarti memukul satu nada secara beruntun. Disini Terompong berfungsi sebagai pembawa melodi, membuat fariasi dan memperjelas gending, yang teknik sikapnya seperti memanggang sate.

  • Kendang

Disini kendang yang di pakai adalah kendang Kerumpung atau kendang pelegongan yang teknik permainannya lebih sulit dari pada kendang biasa yang disini istilahnya disebut dengan Milpil berarti jalinan pukulan antara tangan kanan dan tangan kiri. Fungsi kendang itu sendiri adalah Disini kendang yang di pakai adalah kendang Kerumpung atau kendang pelegongan yang teknik permainannya lebih sulit dari pada kendang biasa yang disini istilahnya disebut dengan Milpil berarti jalinan pukulan antara tangan kanan dan tangan  kiri. Fungsi kendang itu sendiri adalah sebagai penghubung bagian lagu, membuat angsel-angsel, mengendalikan irama gending

  • Suling/Rebab

Teknik permainannya adalah dengan cara ditiup, sama seperti suling biasa pada umumnya dan Rebab adalah alat musik yang di gesek juga sama seperti biola yang fungsinya sebagai pembawa melodi.

  • Kajar

Kajar Semar Pagulingan itu berbeda dengan kajar Gong Kebyar, perbedaanny berada pada pencon tersebut yang cara tekniknya bisa memukul pencon dan juga bisa memukul pinggiran dari pencon tersebut yang berfungsi sebagai pemain tempo dan juga mengikuti pukulan kendang.

  • Gangsa/Kantil

Teknik permainnya disini hanya memakai sistem Ubit-ubitan, Norot, Asu Anuntun Saji berarti pukulan yang terjalin mendahului dari pukulan pokok. Yang berfungsi sebagai member angsel, membuat jalinan motif-motif tertentu, mengsi rongga-rongga antara pukulan jublag.

  • Jublag/Jegog

Tekniknya adalah dengan Neliti, Nyelah, Ngempur/sama seperti kempur yang berfungsi sebagai menentukan jatuhnya pukulan jegog, dan jegog berfungsi sebagai bass dalam esamble Semar Pagulingan tersebut.

  • Gentorag

Adalah alat musik seperti kerincingan yang tekniknya dengan cara digoyangkan bersamaan dengan pukulan gong.

Demikian Teknik-teknik permainan dalam ensamble Semar Pagulingan yang sedikit saya ketahui.

wayanwidnyana on April 22nd, 2013

FOTO

Nama saya  I Wayan Widnyana saya lahir di bjr Mumbi Desa pupuan Tegallalang,Gianyar saya akan menseritakan sedikit tentang kisah atau riwayan hidup  saya sampai sekarang ini pertmempunyai 1 saudara kandung yang bernama i made dedik antara yang masih duduk di Bangku SMA dan saya melanjutkan pendididkan sampai sekarang ini:

SD Negeri 4 pupuan

SMP Negeri 2 Tegallalang

SMK Negeri 1 Tampaksiring

Perguruan tinggi : INSTITUT SENI INDONESIA DENPASAR

dan alasan saya melanjutkan kuliah di ISI Denpasar dan mengambil jurusan seni karawitan karena saya ingin mempelajari dan memperdalami tentang tehni dalam permainan gamelan bali dan saya jugaingin melastarikan budaya bali semenjak saya menjalani kuliah di ISI Denpasar sampai sekarang ini saya cukup anyak mendapatkan pegalaman dari pertama sampai sekaran yaitu pengalaman yang saya alami waktu pertama kali pengenalan kegiatan akademik atau yang disebut dengan (OSPEK) yang kedua bakti sosial di bukit jati gianyar yang diselanggarakan oleh FAKULTAS SENI PERTUNJUKAN atau disebut dengan (BAKSOA) Bakti sosial . dan mengira ngayah di pura batur dan besakih dan sampai saat ini saya masih tetap ingin memperjuangkan apa yang sudang menjadi keinginan saya  dan tidak ingin mengecewakan kedua orang tua s,aya dengan kegigihan kedua orang tua saya  saya dapat melanjutkan keperguruan tinggi .dan saya juga berasal dari keluarga yang sedarhana atau disebut dengan kurang mampu dan karena niat dan tekat saya bulat saya harus bisa mengabil S1 saya di perguruan tinggi INSTITUT SENI INDONESIA DENPASAR.karena saya mempunyai keingin untuk menjadi guru seni dan ingi mengembangkan bakat dan kealian saya da;am bidang seni karawaitan .dan di masa depan saya ingin memounyai sanggar .dan saya selain kuliah ingin membantu orang tua saya bekerja namun karena banyaknya tugas dari kampus  hingga ahirnya saya tidak dapat keinginan tersebut ,dan   pekerjaan orang tua saya yaitu:

Ayah:Petani

Ibu   :Petani

Nama : I Wayan Widnyana

Nim :201202048

Jurusan: Seni Karawitana

Tgl:11-september-1992

Alamat:Br Mumbi ,pupuan Tegallalang,Gianyar

moto hidup : ingin menjadi orang yang suskses