Hal yang menyenangkan tentang mengembangkan perangkat lunak adalah para pengembang bisa berargumen bahwa “AGAMA” yang dianutnya dalam mengembangkan perangkat lunak adalah yang paling benar. Perang argumentasi dan bukan lagi adu urat syaraf biasa terjadi ketika membicarakan masalah sensitif ini. Topik soal “AGAMA” ini sangat beragam dan menarik untuk dibicarakan, mulai dari pilihan para pengembang terhadap sebuah bahasa pemrograman, penyunting teks, sistem kontrol revisi kode sumber perangkat lunak, sistem operasi, server web, basisdata, hingga ke masalah bakso pun bisa jadi topik pembicaraan. Ok, skip it!

Kali ini yang akan saya bahas adalah soal sysadmin. Apa hubungannya sysadmin dengan perang “AGAMA” yang saya sebutkan sebelumnya? Nah, ini permasalahan yang sedikit curhat tetapi penting. Apapun jenis aplikasinya, bahasa pemrogramannya, dan segala tetek bengeknya, sysadmin tetap bertanggung jawab untuk mengelola server tempat semua aplikasi tadi dijalankan. Namun kenyataannya, sebagian besar pengembang perangkat lunak yang saya amati, tidak peka terhadap wacana pengembangan perangkat lunak yang berkesinambungan atau berkelanjutan (sustainable software development). Sebagian besar hanya mengembangkan ala kadarnya, menggunakan paket pengembangan (development kit) yang dimilikinya atau sisa habis pakai proyek sebelumnya.

Kebanyakan pengembang perangkat lunak belum peduli bahkan sampai pada tahap tidak peduli dengan versi perangkat lunak yang digunakanya. Ada yang versinya jadul banget, yang dibuat sejak jaman manusia Neanderthal *lebay mode on*, tapi ada juga yang memburu versi yang paling baru dari paket pengembangannya, dengan resiko paket memiliki banyak fitur yang belum stabil atau masih banyak kutu dan galat. Ini merupakan salah satu hal yang paling tidak disukai oleh para sysadmin. Tanggungjawab untuk menjaga server tetap aman dan aplikasi berjalan stabil ada di ujung papan ketik mereka, tak jarang, ada di ujung aplikasi ssh pada Blackberry yang ada dalam genggaman mereka *yea, rite, ngeremote pake BB*. Tetapi perilaku pengembang yang tak acuh seperti itu seharusnya disikapi lebih arif oleh kedua belah pihak. Pengembang perlu merujuk pada para administrator sistem untuk versi paket pengembangan yang stabil, bukan versi yang terbaru, karena tak jarang sistem operasi yang digunakan para pengembang sering adu gaya-gayaan dengan memajang versi paling baru, bukan yang paling stabil. Sisi lain perburuan paket terbaru, ketika para sysadmin juga harus menyesuaikan kemampuannya untuk memberikan pertimbangan soal paket yang sesuai dengan kebutuhan pengembangan perangkat lunak. Kadang kala, situasi seperti inilah yang membuat sysadmin diuji kemampuannya soal kontribusi perbaikan dan tambal-menambal kutu serta galat paket pengembangan, agar dapat digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan mereka–pengembang dan sysadmin.

Sayangnya, ini masih wacana dan angan-angan belaka. Seringkali ketika berhadapan dengan dilema paling-stabil-versus-paling-baru tadi, sysadmin kerap kali dicandai saja terkait dengan penderitaan dan dilema tersebut. Sysadmin? Deritaloe™