Ogoh-ogoh Ludra Murti, Banjar Sasih, Batubulan

April 9th, 2018

YouTube Preview ImageSinopsis

Hiduplah seorang raja raksasa yang haus akan kekuasaan yang bernama Nawa Sura Butha. Di suatu ketika, Nawa Sura Butha melakukan tapa untuk meminta anugrah dari Dewa Ludra. Dewa Ludra pun tersentuh hatinya karena keteguhan tapa dari Nawa Sura Butha dan akhirnya Dewa Ludra menganugrahkan kesaktian/kekuuatan yang bernama Ludra Murti. Ludra Murti ini adalah perwujudan Hyang Ludra menjadi sosok raksasa besar dan menyeramkan.

Gamelan pengiring ogoh-ogoh ludra Murti Banjar Sasih, Batubulan

          Ogoh-ogoh Ludra Murti menggunakan barungan gamelan Balaganjur dengan instrumentasi sebagai berikut:

  1. Satu pasang kendang balaganjur (lanang-wadon).
  2. 4 (empat) pencon reyong (dong, deng, dung, dang).
  3. Tawa-tawa.
  4. 8 (delapan) cakep ceng-ceng kopyak.
  5. Gong (lanang dan wadon).
  6. Kempur.
  7. Bende.

Bentuk penyajian

Fragmen tari adalah bentuk penyajian ogoh-ogoh yang kerap digunakan dalam pementasan ogoh-ogoh dewasa ini. Seperti halnya ogoh-ogoh Ludra Murti Br. Sasih, Batubulan. Dalam fragmen tari Ludra Murti ini dapat dibagi menjadi 3 (tiga) babak dan masng-masing babak terdiri dari 3 (tiga) adegan dengan durasi pendek. Berikut pembagian babak pada fragmen tari Ludra Murti:

Babak I

  • Pengenalan tokoh Nawa Sura Butha
  • Pertapaan Nawa Sura Butha dengan tujuan mendapat anugerah dari Dewa Ludra untuk membalaskan dendamnya atas kematian kakaknya Rahwana oleh Rama dan Laksmana.
  • Munculnya gangguan pada saat Nawa Sura Butha bertapa.

Babak II

  • Munculnya dewa Ludra dan menganugrahkanan kesaktian Ludra Murti.
  • Perjalan Nawa Sura Butha menuju Ayodya Pura untuk balas dendam.
  • Mengisahkan prajurit Ayodya Pura.

 

Babak III

  • Sesi latihan perang antara Rama,Laksmana dan prajuritnya.
  • Perang antara kubu Rama, laksmana dengan kubu Nawa Sura Butha.
  • Nawa Sura Butha menggunakan kesaktian Ludra Murti dan berubah menjadi raksasa yang menyeramkan.

Proses pembuatan ogoh-ogoh Ludra Murti

Ogoh-ogoh merupakan hasil dari suatu kreatifitas yang tinggi, perpaduan budaya dan seni yang menjadi tradisi umat Hindu Indonesia khususnya umat Hindu di Bali. Dewasa ini ogoh-ogoh dibuat dengan berbagai inovasi sehingga memiliki nilai seni yang tinggi. Tidak jarang ogoh-ogoh dibuat dengan biaya dan waktu yang tidak sedikit dengan tujuan menciptakan mahakarya seni yang berkualitas seperti halnya ogoh-ogoh dari Banjar Sasih Batubulan yang berjudul “Ludra Murti” pada tahun baru Saka 1940.

Adapun tahapan pembuatan ogoh-ogoh Ludra Murti adalah sebagai berikut:

  1. Pembuatan sketsa ogoh-ogoh.
  2. Pembuatan kerangka ogoh-ogoh dengan menggunakan besi.
  3. Pembentukan tubuh dan kepala (tapel) ogoh-ogoh yang berbahan dasar sterofom.
  4. Penyatuan antara tubuh dengan kerangka.
  5. Proses penghalusan sterofom.
  6. Penempelan sterofom menggunakan kertas yang berfungsi menutupi rongga pada sterofom.
  7. Tahap cat dasar.
  8. Tahap cat setelah cat dasar mengunakan warna yang diinginkan.
  9. Pembuatan ornamen atau pepayasan (hiasan).
  10. Tahap menghias (mayasin) ogoh-ogoh menggunakan berbagai macam pepayasan.
  11. Tahap finishing.

Tahap penyajian ogoh-ogoh Ludra Murti

Jumat, 16 maret 2018 merupakan hari dimana ogoh-ogoh akan diarak keliling Desa atau Banjar yang dikenal sebagai “Ngerupuk”. Semua ogoh-ogoh di wilayah Banjar Sasih Batubulan akan berkumpul di depan Banjar Sasih, yang nantinya akan diarak bersama. Ogoh-ogoh Ludra Murti disajikan dalam bentuk fragmentari dengan persiapan yang sangat matang.

Pada pukul 18.00 wita semua ogoh-ogoh dari Banjar Sasih diarak menuju peteluan (pertigaan) di depan Banjar Tegehe dengan berjalan kaki. Suasana mencekam menjadi ciri khas di hari Ngerupuk tersebut. Suara gamelan dan sorak dari penabuh Balaganjur menambah gairah semua orang yang mengikuti perayaan tersebut. Obor menjadi sumber cahaya ditengah gelapnya malam. Setibanya di tujuan, pembacaan sinopsis dari pembawa acara menjadi pertanda dimulainya penyajian karya seni ogoh-ogoh Ludra Murti Dari Banjar Sasih, Batubulan.

Penonton yang sudah berkumpul disajikan fragmen tari yang sangat menarik. Fragmen tari yang disajikan dipandu oleh seorang dalang yang akan lebih menghidupkan suasana dalan cerita yang dibawakan. Pada klimaks, ogoh-ogoh Ludra Murti pun ditampilkan dengan gerakan sederhana yang dilakukan oleh pengarak ogoh-ogoh, membuat seolah-olah ogoh-ogoh menari dengan gagahnya. Dengan demikian maka berakhirlah pertunjukkan dari St. Chandra Buana, Banjar Sasih, Batubulan.

Kesimpulan

Dari waktu ke waktu ogoh-ogoh mengalami perkembangan pesat, baik dari metode pembuatan, teknologi, dan fungsi. Dahulu kala ogoh-ogoh hanya diarak keliling desa atau wilayah sekitar Banjar/Dusun dengan tujuan Menyomya Butha Kala. Dewasa ini tanpa menghilangkan tujuan atau fungsi utama ogoh-ogoh tersebut telah muncul nilai baru dari ogoh-ogoh yaitu sebagai seni pertunjukan dengan memadukan berbagai unsur seni lainnya.

Ogoh-ogoh disajikan dengan bentuk fragmen tari dengan tujuan penonton dapat mengetahui cerita atau pesan yang terkandung dalam ogoh-ogoh tersebut melalui perpaduan seni rupa, tari, musik, dan drama yang dikemas sedemikian rupa sehingga menarik minat masyarakat untuk menonton. Tentunya semua itu merupakan hasil dari suatu proes berkesenian dari pemuda dan pemudi Banjar yang perlu diapresiasi karena memiliki tujuan yang sangat positif, yaitu melestarikan seni dan budaya Bali yang Adiluhung.

DAFTAR INFORMAN

  • Nama : Wayan Sukariasa
  • Jabatan : Ketua ST. Chandra Buana, Br, Sasih, Batubulan.

Leave a Reply