Maret 2018 Archives

GENJEK KARANGASEM

  • Posted on Maret 19, 2018 at 3:29 pm

 Tari Genjek di Karangasem Bali

Tari Genjek di Bali adalah tarian tradisional yang memadukan unsur seni vokal dan gerak dan masih berkembang lestari sampai saat ini di Kabupaten Karangasem, perkembangan hampir di seluruh wilayah kabupaten tersebut, yang cukup pesat di wilayah pesisir Timur diantaranya desa Jasri, Ujung, Seraya, Culik,Rendang dan Tianyar. Tari tradisional Bali ini lebih menonjolkan paduan suara kemudian diiringi dengan musik vokal yang meniru suara alat gamelan dikenal dengan toreng dan cipak, kemudian dipadu dengan gerak para penarinya, namun dalam perkembangannya diiringi juga oleh sejumlah alat musik, sehingga nilai estetika juga lebih menonjol. Perpaduan oleh vokal dan gerak ini memang cukup menarik dan menghibur, para penarinya bisa menghibur dirinya sendiri termasuk juga orang lain yang menyaksikan.

Genjek atau megenjekan berasal dari kata gonna yang berarti gegonjakan, candaan atau senda gurau. Sejarah atau awal mulai dari tarian Genjek di Bali ini, tentunya berbeda dengan tari tradisional lainnya yang diciptakan oleh maestro seni, namun berawal dari acara kumpul-kumpul setelah beraktifitas kemudian ditemani dengan tuak sejenis minuman beralkohol yang dihasilkan dari pohon lontar, kelapa ataupun enau. Yang mana kawasan Bali Timur ini merupakan penghasil minuman tuak terbesar di Bali dan memiliki mutu terbaik, termasuk dalam perkembangannya sekarang ini tuak juga diolah menjadi arak dengan konsentrasi alkohol yang cukup tinggi.

Kumpul bersama sambil minum alkohol sejenis tuak ini dikenal warga sebagai tradisi “metuakan” tentunya kebiasaan seperti ini dilakukan oleh kaum laki-laki saja, semakin lama tentunya semakin hilang kesadaran alias mabuk, mereka mulai bernyanyi meluapkan kegembiraannya, diikuti oleh teman lainnya. Akhirnya kebiasaan metuakan ini hampir pasti dibarengi dengan megenjekan atau tarian genjek tersebut, metuakan tanpa genjek terasa kurang pas. Akhirnya munculah grup-grup genjek menciptakan gending (nyanyian) dan akhirnya digunakan saat acara metuakan, beberapa group genjek juga menciptakan album genjek yang bisa didengarkan dan ditiru oleh setiap orang, sehingga nantinya bisa ditiru dalam setiap acara minum bersama dan tanpa dikomando akan diikuti oleh teman lainnya.

Tari Genjek di Bali merupakan tari pergaulan, sangat universal, sangat menyesuaikan dengan suasana dan perkembangan terkini, tidak terpaku pada gerakan atau olah vokal yang baku, mereka bebas berkreasi, seorang pembawa lagu (gending) bahkan bebas secara spontan menciptakan lagu sendiri atau mengenalkan lagu baru, yang menuntut kemahiran teman lainnya untuk mengikutinya dengan suara vokal yang sesuai termasuk kekompakan vokal pengiring. Dan sebuah kebanggaan jika mereka sanggup dan bisa kompak dalam mengiringi lagu yang dibawakan oleh pembawa lagu. Tema lagu yang dibawakan biasanya berisi nasehat, rayuan, kritik, motivasi, pujian bahkan sindiran yang sangat komunikatif.

Dalam tari Genjek atau megenjekan iringan suara dan kekompakan vokal pengiring ini terasa lebih menonjol, terdengar saling bersahutan dengan ritme yang sesuai, kadang tinggi dan rendah, olah vokal pengiring ini sekilas seperti dalam tari Kecak ataupun Janger, tetapi dalam tari Genjek, tidak hanya menirukan suara “cak” saja tetapi olah vokal pengiring dikombinasikan dengan suara vokal menirukan alat gamelan lainnya. Dari ritme yang diperdengarkan mengungkapkan kegembiraan dan memacu adrenalin setiap pesertanya untuk mendorong menari mengikuti irama dari suara genjek tersebut sehingga muncullah pertunjukan tari Genjek.

Tarian Genjek di masyarakat ini dimainkan oleh orang-orang yang suka minum, ditujukan lebih untuk menghibur diri mereka sendiri ketimbang untuk orang lain. Acara minum atau lebih dikenal dengan metuakan walaupun yang mereka minum adalah bir atau sejenis alkohol lainnya dilakukan saat ada hajatan seperti acara pernikahan, acara 3 bulanan anak ataupun lainnya, lebih ke nuansa semarak dan pesta pora. Minuman alkohol sejenis tuak adalah minuman yang sangat terjangkau bagi masyarakat kecil, yang efek mabuknya lebih keras dibandingkan minuman sejenis bir, sehingga tuak atau nama hitsnya adalah “lau” tidak bisa terlepas dari kehidupan para peminum.

Perkembangan Tari Genjek di jaman Modern

Dalam perkembanganya tari tradisional Genjek di Bali ini berkembang cukup pesat, para penari genjek tidak harus mabuk terlebih dahulu dan tidak hanya oleh laki-laki saja, mereka juga memasukkan unsur wanita didalamnya sebagai pembawa lagu bersahut-sahutan dengan laki-laki, serta dipadu dengan iringan alat musik, sangat menonjolkan estetika dan juga etika, sehingga sangat menarik untuk dinikmati oleh orang lain atau yang mendengarkan, tidak seperti saat mabuk yang rentan hilang kendali lebih mengutamakan kesenangan sendiri.

Pada saat dunia serba modern, hal-hal baru juga diperkenalkan, termasuk juga dalam acara “metuakan” di Bali, untuk lebih maraknya suasana, para kaum muda juga menghibur dirinya dengan musik-musik seperti hiburan di kafe-kafe ataupun diskotik, menggunakan sound system dengan dentuman musik keras yang memacu adrenalin pesertanya, setelah kesadaran mulai menipis mereka joged sekenanya, seolah tari genjek ini perlahan-lahan mulai mereka tinggalkan

Untuk melestarikan tari Genjek di Bali, kesenian tradisional ini juga kerap ditampilkan di Pesta Kesenian Bali di Art Center, ditampilkan juga di televisi, bahkan pada HUT ke 71 RI yaitu pada tahun 2016, Bupati Karangasem yaitu I Gst. Ayu Mas Sumatri menampung aspirasi masyarakat dan menggelar tarian genjek kolosal di objek wisata Taman Ujung Karangasem, dan berhasil mendapat penghargaan MURI sebagai tari Genjek dengan jumlah penari terbanyak, kegiatan dan penghargaan tersebut bisa sebagai motivasi warga Karangasem dalam melestarikan budaya dan seni tradisional.

Htt://www.youtobe.com/watch?v=uTBFYuvmyfY&feature=youtu.be

 

Pembuatan Gambelan Bali

  • Posted on Maret 13, 2018 at 11:23 am

Gamelan merupakan salah satu diantara begitu banyaknya seni adiluhung dalam budaya Bali. Tidak hanya dalam budaya Bali, seni instrumen musik yang makin digemari di luar negeri ini juga lahir dan berkembang dalam tradisi jawa dan Sunda. Meski makin digemari, namun belum banyak orang yang mengetahui bagaimana orang-orang terdahulu membuat gamelan. Proses pembuatan gamelan ternyata tidak semudah yang dibayangkan, karena harus melewati berbagai tahapan yang rumit.

Dalam proses pembuatan gamelan, setidaknya terdapat lima tahap yang harus dilalui. Kelima tahap tersebut antara lain, tahap melebur campuran, mencetak, menempa, dan melakukan pemeriksaan terakhir atau yang biasa disebut dengan proses membabar. Setelah membabar, ada satu proses penting lagi yang harus dilakukan untuk menghasilkan satu set gamelan yang sempurna, yaitu proses menyesuaikan tangga nada.

Dalam proses melebur, seorang pengrajin gamelan akan mempersiapkan kowi, yaitu wadah sejenis mangkuk yang terbuat dari tanah liat. Dalam proses ini, dipersiapkan perapian yang dilengkapi dengan alat pemanas untuk menghasilkan panas yang maksimal. Kowi tersebut kemudian diisi dengan logam dan campuran lainnya, seperti tembaga emas dan atau perak untuk menghasilkan warna lempeng dan suara yang bagus.

Setelah bahan dasar pembuatan gamelan sudah jadi, tahap berikutnya adalah mencetak. Dalam tahap mencetak, bahan dasar logam dilebur kembali untuk dicetak menjadi bentuk bilah atau bulat..

Alat musik gamelan yang sudah dicetak kemudian masuk ke tahap menempa atau membentuk untuk menghasilkan bentuk yang sempurna. Tahap menempa merupakan tahap yang paling rumit dalam proses pembuatan gamelan. Dalam tahap ini, pengerjaan dilakukan oleh orang yang benar-benar memahami seluk-beluk gamelan, mengingat proses menempa tidak dilakukan sembarangan, melainkan menggunakan berbagai teknik memukul menggunakan palu pemukul yang beraneka macam.

Gamelan yang sudah ditempa kemudian diperiksa kembali pada tahap membabar. Pada tahapan ini jika masih terdapat kecacatan pada bentuk akan diperbaiki kembali. Setelah tahap membabar, secara fisik alat musik gamelan yang dibuat sudah selesai, namun belum secara fungsi. Oleh karena itu dibutuhkan satu tahapan lagi untuk menghasilkan gamelan dengan fisik dan fungsi yang sempurna, tahap tersebut

adalah menyesuaikan tangga nada.

Setelah disesuaikan dengan tangga nada, bilah dan bulatan siap dipasang pada pelawah. Pada tahap inilah pembuatan berbagai alat instrumen gamelan telah selesai secara fisik maupun fungsinya., melengkapi pembuatan gamelan dengan berbagai ritual, seperti menentukan hari baik dan menyediakan sesajian. Hal tersebut tentu untuk menghasilkan gamelan yang tidak hanya sempurna secara fisik dan fungsi, namun juga sempurna secara filosofis.

 

Halo dunia!

  • Posted on Maret 13, 2018 at 8:31 am

Selamat Datang di Blog Institut Seni Indonesia Denpasar. Ini adalah post pertama anda. Edit atau hapus, kemudian mulailah blogging!

Top