Resensi Buku Tetabuhan Bali I

April 9th, 2013

Judul Buku                 : Tetabuhan Bali I

Penulis                         : Prof. Dr. Pande Made Sukerta

Lay out & Desain      : Irvan M.N.

Penerbit                       : ISI Press Solo

Cetakan                        : Pertama, Oktober 2010

Jumlah Halaman      : 279 halaman

 

Bali merupakan salah satu pulau yang memiliki wilayah relatif kecil dibandingkankan dengan pulau-pulau lainnya seperti Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Sumatera dan Papua. Meskipun luas wilayahnya relatif kecil, namun memiliki potensi budaya khususnya kesenian dan lebih khususnya lagi karawitan yang sangat padat.

Buku yang bersampul pelawah dari salah satu instrument gamelan ini yang ditulis oleh Prof. Dr. Pande Made Sukerta sangat difokuskan pada unsur-unsur pembentukan musikal. Hal ini sangat penting karena pembentuk musikal mulai dari sarana ungkapnya, yaitu sumber bunyi yang berbentuk berbagai jenis tungguhan. Dengan demikian, para pembaca diharapkan untuk memahami karawitan Bali mulai dari fisik sampai kepada esensi atau musikalnya. Hal yang paling penting lagi dalam buku ini adalah proses pembelajaran tradisi karawitan Bali, karena sistem atau proses pembelajaran ini ada kecendrungan jarang diketahui para seniman dan malahan sekarang jarang dilakukan (hampir punah).

Manfaat yang telah saya dapat setelah membaca buku ini adalah buku ini memberikan saya pengetahuan dan wawasan tentang musik gamelan Bali, dimana penjelasannya sudah dijelaskan secara sangat rinci. Sehingga si pembaca buku ini akan dapat sangat mudah untuk memahami dari isi buku ini. Banyak teori-teori tentang gamelan Bali yang saya dapat di sini, baik teori yang berada di ranah akademik maupun non akademik. Dengan membaca buku ini pola pikir tentang gamelan Bali akan bisa terbuka, karena banyak istilah-istilah yang rancu dan langka akan bisa kita temukan dalam buku ini. Buku ini bisa di baca oleh siapa saja, yang penting ada kemauan untuk belajar. Mengingat ruang lingkup seni sangat luas, jadi buku ini pada khususnya menjelaskan tentang karawitan Bali.

Pada buku Tetabuhan Bali I terdapat 5 (lima) bagaian aspek pembahasan yaitu :

Bagaian pertama : Hal-hal umum yang menjelaskan hal-hal yang bersifat umum dalam karawitan Bali yang meliputi jenis-jenis barungan gamelan, fungsi tiap-tiap barungan gamelan, beberapa pengertian yang terkait dengan karawitan Bali seperti kata gaya, gong, gamelan dan hal-hal yang salah kaprah yang sampai sekarang masih banyak terjadi dan telah beredar dalam masyarakat. Dalam bagaian pertama ada menjelaskan tentang pengertian gong dan gamelan. Kedua istilah tersebut sering diartikan suatu yang mempunyai pengertian yang sama, pada hal kedua istilah tersebut mempunyai pengertian yang berbeda. Kedua istilah tersebut diartikan sama, sehingga terjadi salah pengertian. Sebenarnya kedua istilah tersebut dapat digunakan sesuai dengan konteksnya sehingga tidak terjadi salah pengertian. Misalnya dalam istilah gong.  Gong di Bali mempunyai tiga pengertian yaitu sebagai berikut:

  1. Istilah gong uintuk menunjuk salah satu jenis tungguhan yang bentuknya bundar dan persegi.
  2. Istilah gong di Bali pada umumnya dapat digunakan untuk menunjuk satu barung gamelan, apabila suatu barungan gamelan menggunakan tungguhan gong yang bentuknya bundar dengan ukuran sekitar 75 sampai 90 centi meter, maka barungan gamelan tersebut selalu diawali dengan kata gong, seperti gamelan Gong, Gede, Gong, Luang dan Gong Kebyar, kecuali jenis barungan gamelan Gong Suling dan Gong Bheri kedua jenis barungan gamelan tersebut tidak menggunakan jenis tungguhan gong tetapi nama barungan gamelan tersebut diawli dengan kata gong, sedangkan jenis barungan gamelan yang menggunakan tungguhan gong penyalah, tungguhan gong yang bentuknya persegi panjang, dibuat dari besi dengan menggunakan resonator dan jenis barungan gamelan yang tidak menggunakan tungguhan gong, nama jenis barungan gamelan tersebut selalu diawali dengan kata gamelan.
  3. Istilah gong juga digunakan untuk menyebut karawitan. Dalam pembicaraan sehari-hari terutama di desa tidak menyebut karawitan tetapi gong misalnya dalam ungkapan bahasa Bali: Yo mebalih gong di pura (Ayo menonton karawitan di pura).

Istilah gamelan mempunyai dua pengertian yaitu pertama, istilah gamelan digunakan untuk menunjuk pada satu kesatuan tungguhan yang terdiri atas sejumlah tungguhan tertentu. Kedua, istilah gamelan digunakan juga untuk menyebut suatu barungan gamelan yang tidak menggunakan tungguhan gong, seperti misalnya untuk gamelan Semar Pagulingan Saih Lima, gamelan Semar Pagulingan Saih Pitu, gamelan Gambang, gamelan Selonding dan lain sebagainya.

Bagaian Kedua : Tungguhan yang meliputi : pengertian tungguhan, sumber bunyi, pelawah, atut, tungguhan sakral, panggul, resonator, cara memainkan tungguhan dan pengelompokan tungguhan dan penataan tungguhan. Istilah tungguhan digunakan untuk menunjuk satu kesatuan dari instrument atau sumber bunyi tertentu yang terdiri atas satu atau dua bagaian. Tungguhan yang memiliki satu bagaian, yaitu sumber bunyi yang dimainkan tanpa menggunakan tempat atau sering disebut pelawah atau yang sejenis, diantaranya seperti tungguhan kajar, tawa-tawa, suling, rebab, gentorang, dan kendang. Untuk jenis tungguhan yang mempunyai dua bagaian, yaitu tempat atau sumber bunyi disebut yaitu don gamelan-nya. Selain tungguhan pada bagaian kedua ini, juga menjelaskan tentang atut. Dimana istilah atut angat jarang dilakukan di Bali. Pada saat sekarang, jarang para seniman karawitan Bali mengetahui istilah ini lebih mengenal dengan istilah laras. Barungan gamelan Bali memiliki tiga atut, yaitu atut gambang, atut gong dan atut gender wayang. Atut gambang mempunyai pengertian laras pelog tujuh nada, atut gong mempunyai pengertian laras pelog lima nada, dan atut gender wayang mempunyai pengertian laras selendro. Demikian juga dalam buku ini diungkapkan hasil penelitian I Wayan Rai S. (1999:20) khususnya dalam laras gamelan Gong Kebyar bervariasi sehingga mempunyai karakteristik yang berbeda-beda. Frekwensi nada-nada gamelan Gong Kebyar tersebar dalam empat oktaf. Selisih frekwensi antara nada pengumbang dengan nada pengisep menyebabkan timbulnya ombak. Selain itu juga terdapat variasi interval dalam satu barung gamelan baik dilihat masing-masing tungguhan mupun keseluruhan. Perbedaan susunan interval dalam satu barungan gamelan menyebabkan adanya perbedaan jenis/model laras, yaitu begbeg, sedeng, memecut, dan tirus.

Bagaian Ketiga : Vokal yang meliputi pengantar, jenis vokal, vokal dalam upacara dan vokal dalam seni pertunjukan. Hal yang sudah lumrah, di Bali terdapat 4 jenis vokalyaitu sebagai berikut:

  1. Gegendingan atau disebut Tembang Rare atau Sekar Rare.
  2. Pupuh atau disebut Tembang Alit atau Sekar Alit atau Macapat.
  3. Kidung Aatau disebut Tembang Madya atau Sekar Madya.
  4. Kekawin atu disebut Tembang Ageng atau Sekar Ageng.

Penggunaan vokal dalam upacara di Bali, selain terkait dengan lagu atau melodinya juga terkait dengan cakepan atau syairnya. Konsep Panca Gita merupakan salah satu bentuk kelengkapan atau bagaian dari upacara. Dengan konsep tersebut, vokal selalu hadir dalam upacara apapun. Selain sebagai upacara, vokal juga berfungsi sebagai seni pertunjukan, misalnya dalam pertunjukan tari kecak, janger, cakepung, genjek dan lain sebagaianya.

Bagaian Keempat : membahas tentang pembelajaran tradisi karawitan Bali. Ada dua jenis pembelajaran karawityan sekarang di Bali (semenjak berdirinya sekolah menengah dan perguruan tinggi seni), yaitu pembelajaran secara formal dan non formal. Kedua sitem pembelajaran ini sangat berbeda proses antara lain pembelajaran formal kurikulum, guru atau dosen dan waktu (lama pembelajaran) ditentukan, sedangkan pembelajaran non formal baik kurikulum, guruy atau dosen dan waktu pembelajaran tidak ditentukan. Dalam buku ini membahas pelajaran non formal yang disebut dengna Catur Meguru, yaitu antara lain :

  1. Meguru Lima yaitu terdiri dari dua kata yaitu meguru dan lima. Meguru artinya belajar, sedangkan lima artinya tangan (dalam bahasa Bali). Jadi meguru lima artinya adalah proses belajar suatu gending (karawitan) dengan cara dipegangi bagaian tangannya dan kemudian diarahkan oleh sang guru.
  2. Meguru panggul yaitu terdiri dari dua kata meguru artinya belajar dan panggul artinya alat pemukul (tabuh di Jawa). Jadi meguru panggul artinya seorang belajar suatu gending dengan cara langsung memainkan atau menyajikan suatu jenis tungguhan melodi tertentu dengan mengikuti arah panggul dari jenis tungguhan tertentu yang membawakan melodi suatu gending.
  3. Meguru Kuping yaitu terdiri dari dua kata, yaitu kata meguru dan kuping. Meguru artinya belajar, sedangkan kuping artinya telinga (pendengaran). Jadi meguru kuping adalah sebuah proses pembelajaran karawitan lewat pendengaran, artinya seseorang belajar uatu gending dengan cara mendengarkan gending secara terus-menerus dan pada akhirnya gending-gending yang sering didengarkan akan dikuasainya.
  4. Meguru rasa yaitu terdiri dari dua kata yaitu meguru dan rasa. Meguru artinya belajar, sedangkan rasa artinya merasakan. Jadi meguru rasa artinya proses belajar gending dengan merasakan gending yang dipelajarinya.

Bagaian Kelima : Buku ini membahas tentang jenis-jenis karawitan Bali. Berdasarkan hasil pengamatan penulis yang tertulis dalam buku ini, di Bali terdapat 40 jenis karawitan baik yang bersumber dari alat maupun vokal. Adapun jenis-jenis karawitan di Bali adalah sebagai berikut :

  1. Adi Merdangga
  2. Angklung Don Nem (slendro 5 nada)
  3. Angklung Kembang Kirang (slendro 4 nada)
  4. Angklung Klentangan (slendro 5 nada)
  5. Angklung “Jembrana” (pelog 4 nada)
  6. Bebatelan
  7. Bumbang
  8. Bumbung Gebyog
  9. Caruk
  10. Degdog
  11. Gambang
  12. Genggong
  13. Genta Pinara Pitu
  14. Gerantang (Pajogedan)
  15. Gong Beri
  16. Gong Duwe
  17. Gong Gede
  18. Gong Kebyar Gaya Bali Utara
  19. Gong Kebyar Gaya Bali Selatan
  20. Gung Luang
  21. Gong Suling
  22. Jegog
  23. Kendang Mebarung
  24. Mandolin
  25. Manika Santi
  26. Parwa
  27. Pagambuhan
  28. Pajangeran
  29. Geguntangan
  30. Rindik Gegandrungan
  31. Selonding
  32. Semar Pagulingan Saih Lima
  33. Semar Pegulingan Saih Pitu
  34. Smara Dhana
  35. Tektekan
  36. Pleret
  37. Trompong Beruk
  38. Genjek
  39. Cekepung
  40. Renganis

Dari hasil paparan resensi diatas, buku ini sangat bermanfaat bagi kita semua khususnya untuk para praktisi seni dan lebih mengkhusus lagi kepada seniman karawitan. Karena buku ini banyak berangkat dari hal-hal yang sederhana yang sangat perlu untuk di bahas sehingga menghasilkan data dan informasi yang akurat untuk menambah wawasan.

Leave a Reply