BARUNGAN GAMELAN GONG GEDE KURANG DIMINATI OLEH MASYARAKAT MUDA BALI

Juli 1st, 2013

 

              Pulau Bali sejak zaman dahulu kala menyimpan potensi yang sangat mengesankan. Bukan hanya panoramanya yang indah namun kebudayaan dan keseniannya yang sangat kuat dan mengakar hingga di zaman cyber ini sekalipun di era digital internet global ini, masyarakat bali masih kuat mewarisi tradisi-tradisi adiluhung dari nenek moyang. Sungguh merupakan hal yang sangat mengesankan karena budaya Bali sangat identik dengan spiritualitanya. Semua jenis kesenian bali selalu terhubung dengan spiritualisme hindu Bali. Musik pengiring upacara ritual keagamaan hindu bali kini menjadi lebih kompleks dan fariatif karena dibangun oleh kreativitas keturunan unggul hindu Bali. Namun disisi lain ada hal-hal yang ironis. Di satu sisi anak mudanya yang dinamis sangat gemar berlatih memainkan gong kebyar di banjar2 sementara di sisi lain gong gede mulai ditinggalkan. Karakteristik dari gong gede adalah dimainkan dengan tempo yang lambat sedikit dinamika, sedikit fariasi, dan berdurasi lama. Sehingga menyebabkan anak muda bosan memainkan gong gede. Sementara gong kebyar justru menjadi favorit dan kegemaran anak-anak muda bali untuk memaikannya di banjar-banjar di pentas-pentas panggung, di festival-festival karena sifatnya yang identik dengan karakteristik anak muda yang dinamis, spontan, unpredictable(tak terduga-duga), melodi yang kompleks sangat terbuka untuk menerima elemen-elemen musikalitas baru dari dunia luar. Gong kebyar menantang batas kreativitas anak muda untuk menggalinya. Ironinya (kondisi yang terbalik) di alami oleh gng gede. Gong Gede miskin inovasi penuh dengan kaedah-kaedah klasik, penuh dengan hukum-hukum musik tradisional yang seolah-olah anti new age ( anti revormasi musikialitas).

 

PERSOALAN

Persoalan muncul ketika karya-karya tradisional gong gede mulai dilupakan anak muda selain juga para pengajar-pengajarnya masih berfikiran konserfatif, sulit untuk diajak berkolaborasi dengan norma-norma modernitas budaya oleh sebab itulah jiwa anak-anak muda bali lebih cenderunbg dekat kepada karakter gambelan gong kebyar.

 

Berikut ini deskripsi tentang gamelan Gong Gede :

      Gamelan Gong ini dinamakan Gong Gede (besar) karena memakai sedikitnya 30 (tiga puluh) macam instrumen berukuran relatif besar (ukuran bilah, kendang, gong dan cengceng kopyak adalah barung gamelan yang terbesar yang melibatkan antara 40 (empat puluh) – 50 (lima puluh) orang pemain, demikian dikutip dari artikel Arya Tangkas Kori Agung, Gong Gede.

      Sebagai seni karawitan, dijelaskan dalam kutipan artikel ISI Denpasar, Gamelan Gong Gede merupakan perpaduan unsur-unsur budaya lokal yang sudah terakumulasi dari masa ke masa. Unsur budaya Bali tercermin pada penggunaan instrumen dari perangkat gamelan Bali dan busana yang dipergunakan oleh para penabuh (jero gamel).

Budaya lokal tampak pada penggunaan tradisi-tradisi Bali seperti :

  • Tabuh-tabuh yang memakai laras pelog dan sesaji
  • Para penabuhnya didominasi dengan memakai kostum penabuh seperti ; ikat kepala (udeng) dipakai warna hitam, bajunya dipakai warna putih disisinya memakai safari hitam berisi simbol, memakai saput orange, dan ditambah dengan membawa keris atau seselet. Istilah jero gamel tidak jauh berbeda dengan juru gamel.

Kalau dilihat dari fungsinya semuanya ini berarti tukang gamel, yang sudah melekat sebagai bagian dari identitas diri seseorang. Instrumen Bentuk instrumen gamelan Gong Gede ada dua jenis yakni :

  1. Berbentuk bilah
  2. Berbentuk (moncol). 

Menurut Brata, instrumen yang berbentuk bilah ada dua macam : bentuk bilah bulig, dan bilah mausuk. Bentuk bilah bulig bisa disebut dengan : metundun klipes, metundun sambuk, setengah penyalin. Untuk instrumen yang berbilah seperti bilah metundun klipes, metundun sambuk, setengah penyalin dan bulig terdapat dalam instrumen gangsa jongkok penunggal, jongkok pengangkem ageng, dan jongkok pengangkep alit (curing). Instrumen-instrumen ini bilahnya dipaku atau sering disebut dengan istilah gangsa mepacek. Sedangkan bentuk bilah yang diistilahkan merai, meusuk, dan meakte terdapat pada instrumen pengacah, jublag, dan jegogan. Instrumen-instrumen ini bilahnya digantung yaitu memakai tali seperti jangat.

Instrumen yang bermoncol dapat dikelompokan menjadi dua yakni :

  1. Moncol tegeh (tinggi)
  2. Moncol endep (pendek). 

Contoh instrumen yang berpancon tinggi seperti; riyong ponggang, riyong, trompong barangan, dan tropong ageng (gede). Sedangkan instrumen yang berpencon pendek (endep) antara lain kempli, bende, kempul, dan gong. Begitu juga halnya dengan bentuk reportoar gending Gong Gede di Pura Ulun Danu Batur, berbentuk lelambatan klasik yang merupakan rangkaian dari bagian-bagian gending yang masing-masing mempunyai bentuk urutan sajian.

Adapun urutan dari bagian-bagian bentuk reportoar gending dari masing-masing bentuk reportoar adalah sebagai berikut :

  1. Gending gilak (gegilakan) terdiri dari bagian gending-gending kawitan dan pengawak. 
  2. Gending tabuh pisan terdiri dari bagian gending kawitan, pengawak, ngisep ngiwang, pengisep, dan pengecet. 
  3. Gending tabuh telu, terdiri dari bagian gending kawitan dan pengawak. Bentuk reportoar gending tabuh pat, tabuh nem, dan tabuh kutus mempunyai bagian gending yang sama yaitu kawitan (pengawit), pengawak, pengisep (pengaras), dan pengecet.
  4. Gending pengecet terdapat sub-sub bagian gending yang urutan sajiannya adalah kawitan, pemalpal, ngembat trompong, pemalpal tabuh telu, pengawak tabuh telu. Alternatif yang lain dari susunan sajian sub bagian gending dalam pengecet ini adalah kawitan, pemalpal, ngembat trompong, dan gilak atau gegilakan. 

Fungsi Sosial

Dalam hubungannya dengan masyarakat berfungsi sebagai pengemban seni (karawitan), barungan Gong Gede hampir setiap bulan purnama di undang (tuwur) oleh krama yang melaksankan piodalan (Pura Puseh, Pura Desa, Pura Dalem, dan Pura-pura lainnya) di desa pekraman Batur. Jero gambel yang melaksanakan tugasnya tidak menerima upah dalam bentuk uang (ngayah).

MAKNA GAMELAN GONG GEDE

Makna gamelan Gong Gede sebagai ungkapan emosional dari pelaku seni yang diungkapkan lewat bahasa musik mempunyai makna sebagai berikut: makna religius, makna pelestarian budaya, makna keseimbangan.

Makna Religius

Pertunjukan gamelan Gong Gede sebagai salah satu karya seni, sebagai ungkapan yang dapat dilihat dari penyajian karawitan (tabuh), tidak sekedar sebagai ungkapan estetik tetapi juga mempunyai makna religius. Dalam konteks religius, semua unsur masyarakat terlibat sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing yang dilandasi dengan perasaan tulus yang disebut dengan ngayah.

Barungan gamelan Gong Gede dalam mengiringi upacara keagamaan (ritual) memiliki makna religius. Penabuh gamelan Gong Gede di Pura Ulun Danu Batur sebelum melaksanakan tugasnya selalu diperciki Tirta untuk mendapatkan keselamatan.

Makna Pelestarian Budaya

Derasnya aliran informasi dalam era globalisasi terutama di bidang seni (khususnya seni karawitan) membawa dampak positif dan negatif, hal ini mengakibatkan banyak hilangnya keaslian watak dan kemandirian budaya yang dimiliki. Kesadaran untuk melestarikan warisan budaya yang luhur (Gong Gede) memberi makna hidup dan rasa kemuliaan. Untuk menghadapi tantangan harus ada kemauan yang murni sesuai dengan pandangan hidup masyarakat Batur.

Makna Keseimbangan

Dalam pelaksanaan upacara tertentu Kehadiran gamelan Gong Gede sudah menjadi kebutuhan. Keterikatan gamelan Gong Gede dengan ritual keagamaan melahirkan perilaku-perilaku sosial yang mengarah kepada pembentukan nilai-nilai budaya yang dapat dijadikan pedoman bagi warga masyarakatnya.

Barungan gamelan Gong Gede dipandang sangat penting karena dapat memenuhi kebutuhan warga masyarakat secara moral dan spiritual sehingga terwujud rasa kesehimbangan. Keseimbangan yang mencakup persamaan dan perbedaan dapat terefleksi dalam beberapa dimensi. Refleksi keseimbangan yang banyak ditemukan dalam kesenian Bali adalah refleksi estetis yang dapat menghasilkan bentuk-bentuk simetris yang sekaligus asimetris atau jalinan yang harmonis sekaligus disharmonis yang lazim disebut dengan rwa bhineda. Dalam konsep rwa bhineda terkandung pula sernangat kebersamaan, adanya saling keterkaitan, dan kompetisi mewujudkan intraksi dan persaingan. Konsep rwa bhineda oleh seniman Pengrawit dituangkan dalam gamelan Bali (Gong Gede). Hal ini dapat diamati pada sistem pelarasan ngumbang-isep dan instrumen yang berpasangan (lanang wadon).

 

SOLUSI

Gong gede harus menjadi primadona kembali dalam pentas di venue ( tempat2 pementasan dan diselenggarakan dengan sosciokulture yang baik di wilayah bali ) banjar-banjar harus lebih menggalakkan kembali eksistensi gong gede, contoh :

·         menyediakan fasilitas gong gede di sekolah-sekolah, di banjar-banjar, dan di kantor-kantor.

·         Melatih kembali karya-karya lelambatan gong gede kepada generasi muda bali sejak usia dini.

·         Menciptakan karya2 baru lelambatan gong gede selain juga memainkan kembali dan mengaransemen kembali kaya-karya lelambatan gong gede masa lalu.

·         Menggali kembali sejarah gong gede dari masa lalu dan mengkampanyekan nya secara intensif dan menyebarkannya melalui media-media edukasi seperti SD, SMA ,dan Universitas. Serta di tingkat umum di bale desa banjar-banjar kantor-kantor pemerintah dan kantor-kantor swasta.

·         Menggunakan fasilitas sarana komunikasi seperti ringbacktone (nada dring) untuk mempublikasi kan karya-karya gong gede melaui media radio dan televisi.

Leave a Reply