KRONOLOGIS PERJALANAN GONG DALEM TAMPUAGAN SENGGUAN KLUNGKUNG

Dari awal perjalanan sekaa gong dalem tampuagan sengguan Klungkung di paparkan melalui cerita orang tua yang saya ketahui sampai saat sekarang. Mula-mula dalam acara Piodalan di pura Dalem Tampuagan Sengguan Klungkung dari tahun 60-an,yang diceritakan mengenai asal-usul gong yang ada saat sekarang sebagai berikut,semenjak melangsungkan upacara piodalan di Pura Dalem Tampuagan tak lepas di iringi dengan tetangguran gong. Maka dari itu orang tua dan Klian pura Dalem Tampuagan mencari sekaa gong yang pertama di tahun 60-an. Datangnya dari desa tetangga yaitu dari desa Sulang. Mengingat tetangga dekat dan sudah mempunyai gong karena setiap hari pujawali Anggar Kasih Prangbakat di dalem Tampuagan di iringi dengan tetangguran yang bernama Gong,yang datangnya hanya selang waktu 6 bulan Bali atau 7 bulan kalender. Mengingat sangat pentingnya di iringi dengan gong karena berjalan dari merajan kami yang terletak kurang lebih 4 km dari tempat kediaman Ida Betara dalem Tampuagan di simpan dalam sehari-harinya,karena saat hari Anggar Kasih Prangbakat Ida Betara dalem Tampuagan katuran wali di Klungkung. Maka dari itu semua dadia dalem Tampuagan ikut berjalan kaki ke pura Dalem yang di idtilahkan dalam sebutan ngiring. Menjelang keberangkatan Ida Betara dalem dari merajan Satria kurang lebih setengah jam untuk menempuh perjalanan maka dari itu setiap puja wali di pura Dalem mencari yang namanya sekaa gong untuk bisa mengiringi Ida Betara Dalem Tampuagan yang katuran wali di kota Klungkung. Dari situlah orang tua kami dan Klian Dadia Tampuagan mencari sekaa gong yang berasal dari desa Sulang. Biar ada yang mengiringi dari merajan Satria sampai di pura Dalem Tampuagan,secara pribadi atas nama I Nyoman Diara selaku klian pura Dalem Tampuagan menyetujui sekaa gong yang berasal dari desa Sulang untuk ngaturang ngayah puja wali ipun di kasi imbalan sekedar dari dadia dalem. Mengingat pentingnya upacara piodalan di iringi dengan tetangguran gong selama berlangsungnya rangkaian upacara piodalan di dalem Tampuagan sampai selesai,walaupun dengan kostum atau busana yang kurang seragam.

Dari waktu ke waktu perjalanan amat lah panjang dengan perjalanan selama 4 tahun lamanya upacara piodalan di pura dalem Tampuagan berjalan dengan lancar. Apa mau di kata ternyata klian sekaa gong tidak bisa ngaturang ngayah karena ada acara lain,maka dari itu paman kami
selaku klian dadia terpaksa tidak mencari gong lain karena waktunya amat mendadak. Setelah selesai puja wali di pura dalem Tampuagan semua pengempon pura Dalem rapat untuk membahas masalah gong karena dari Satria tanpa di iringi dengan tetangguran kurang pas. Dari hasil rapat di sepakati untuk mencari sekaa gong dari desa lain,menginjak tahun 1966 Klian dadia dan dadia dalem mencari sekaa gong yang berasal dari desa lain yaitu desa Tangkas Klungkung untuk mengiringi serangkaian upacara piodalan. Dari mulai dan berakhirnya serangkaian upacara piodalan di pura Dalem,setelah disepakati dari sekaa gong desa Tangkas Klungkung seluruh pengempon merasa senang dan bangga karena sudah mendapatkan sekaa gong dari desa Tangkas untuk bisa mengiringi serangkaian upacara puja wali di pura Dalem Tampuagan. Dari mulainya sekaa gong desa Tangkas ngaturang ngayah merasa senang dan dapat melaksanakan tetangguran dengan nyaman di pura dalem. Karena sudah berjalan dengan mana mestinya menginjak puja wali tahun 1969 barulah terasa ada suatu permasalahan yang bisa dihindarkan lagi,dari pihak dadia merasa was-was. Karena lagi mengingat serangkaian puja wali dengan berjalan dari merajan Satria menuju pura Dalem Tamouagan atau istilah bahasa Balinya mepeed,sudah dari dulu dilaksanakan. Maka dari itulah klian dadia pura Dalem turun langsung menghadap desa Tangkas Klungkung,untuk menanyakan apa permasalahan yang telah di hadapi. Klian sekaa gong desa Tangkas menjawab dengan tegas karena bersamaan di desa Tangkas memerlukan tetangguran untuk serangkaian upacara yang di laksanakan di desa setempat. Klian pura dadia Tampuagan Klungkung memikirkan bagaimana untuk dapat menemui sekaa gong lain yang mau ngaturang ngayah,mengingat upacara puja wali Ida Betara datingnya setiap 6 bulan Bali atau 7 bulan kalender. Dengan keras klian pura Dalem Tampuagan beserta pengurus dengan cepat menghubungi sekaa gong dari desa lain, maka di dapatkanlah sekaa gong dari desa Gunaksa banjar Babung dan bersedia ngaturang ngayah setiap upacara piodalan di pura Dalem Tampuagan yang dating setiap rahinan Anggar Kasih Prangbakat. Mengingat pentingnya dalam rangkaian piodalan di pura Dalem kami dari dadia pura merasa senang karena dapat membangkitkan seni yang ada di seluruh Bali. Apa yang telah kami paparkan dari awal bagaimana jalan yang kita tempuh untuk mendapatkan suatu sekaa yang dapat mengiringi piodalan saat melaksanakan upacara puja wali untuk kita bersama baik dari anak-anak,pemuda dan orang tua. Kembali apa yang telah kami sampaikan lewat goresan ini,selanjutnya di tahun 1970 sekaa gong dari desa Gunaksa banjar Babung mulai ngayah yang pertama. Dari pihak klian sekaa dan dari pihak klian dadia sudah sepakat yang di setujui dari awal berlangsungnya upacara hingga berakhir dan berjalan dengan lancar, namun memasuki di hari kedua mulai dari sekaa gong desa Gunaksa banjar Babung merasa malas berjalan dari merajan Satria menuju pura Dalem Tamouagan, di situlah merasa ada kejenuan sebab dari dulu yang kami ketahui setiap hari piodalan seluruh dadia pengempon pura dalem tampuagan harus berjalan kaki, namun apa tidak bisa di kata perjalanan baru sekaa gong dari desa Gunaksa mengikuti iring-iringan ditanya kenapa di tempat ini (1) mengikuti dengan alasan di jawab karena ada kesibukan,terus dapat di tanggapi dengan (2) walaupun keadaan demikian klian dadia bisa memakluminya,di hari keempat dan kelima piodalan di pura dalem Tampuagan masih juga sekaa gong yang bersangkutan terus demikian,istilahnya mengadang di jalan raya yaitu pada tahun 1972 klian dadia dan seluruh pengempon pura dadia merasa kesal setelah pesangkepan di hari pengitungan laporan di pertanggung jawabkan terus di bahas masalah sekaa gong yang ikut ngaturang ngayah di pura dalem Tampuagan. Mengingat pentingnya serangkaian upacara diiringi dengan tetangguran gong di situlah semua pengempon pura berpikir bagaimana jalan keluarnya,untuk bisa saat upacara bisa di iringi dengan tetangguran gong. Sebab dari desa Gunaksa banjar
Babung jelas kita tidak inginkan lagi,sebab kita menunggu lama dan saat Ida Betara memarga kita baru bisa di ikuti. Hasil rapat untuk menentukan jawaban mengingat awal tahun 1973 bulan Januari hari puja wali semua pengempon dadia Dalem Tampuagan sepakat untuk meminjam seperangkat gong bleganjur. Maka dari itu ada salah satu dadia yang dapat meminjam gong dari banjar Timbrah desa Paksebali, menjelang dua hari lagi Anggar Kasih Prangbakat semua warga pengempon pura dalem belajar menabuh,karena semangat dan memang ada bakat dapatlah di tabuhkan tabuh yang bernama Galang Kangin. Setelah itu timbul rasa percaya diri dari klian pura bagaimana caranya untuk bisa membeli seperangkat gambelan gong bleganjur supaya tidak setiap upacara piodalan meminjam gong di desa lain. Hasil rapat selanjutnya di sepakati untuk membeli seperangkat gong bleganjur dulu biar bisa memudahkan serangkaian kegiatan upacara di pura dalem. Hasil di setujui lewat paruman tahun 1973 pada tanggal 20 Agustus. Dadia Tampuagan bisa membeli seperangkat gong bleganjur dengan harga Rp.175.000 secara mengkredit di desa Tihingan kabupaten Klungkung. Semua warga merasa senang dapat belajar dengan tekun dan bersungguh-sungguh pada saat malam hari. Mengingat pentingnya untuk perawatan gong bleganjur di bentuklah sekaa gong yang diberi nama sekaa gong Sekar Sari di tahun 1973 dengan klian I Made Deresta,dan tempatnya masih di rumah pribadi. Klian sekaa gong dari tahun ke tahun berjalan,timbul lah ide untuk membikin yang namanya tempat gong di rumah pribadi I Nyoman Kramas pada tahun 1978. Kegiatan sekaa gong Sekar Sari mulai aktif belajar setiap hari tidak mengurangi rasa yang kereget. Salah satu dadia mempunyai ide untuk melengkapi gong bleganjur di (3) untuk melengkapi yang namanya gong barungan atau gong gede. Semua pengempon pura dadia mengikuti rapat yang di pimpin oleh klian dadia Dalem yang bernama INyoman Diara terwujud menyikapi hasil pertemuan klian dadia langsung menuju desa tihingan yaitu tempat pembuatan gamelan,tujuan klian dadia ke desa tihingan untuk memesan seperangkat gambelan barungan atau gong gede. Sepulang dari desa Tihingan I Nyoman Diara mencari direktur Bank Rakyat Indonesia (BRI) di kota Klungkung untuk mencari solusi pembiayaan pembayaran nanti. Mengingat pentingnya pinjaman uang dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) harus ada jaminan yang masih berlaku, yaitu berupa tanah karena waktu itu direktur Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang bernama pak Windu dari Singaraja masih merupakan pengempon dadia Dalem Tampuagan. Apa yang telah di sepakati di Bank Rakyat Indonesia (BRI) dari klian dadia yaitu I Nyoman Diara dan direktur Bank Rakyat Indonesia yaitu Pak Windu sepakat memberikan jaminan berupa sertifikat tanah atas nama IMade Mastra. Memasuki di tahun tahun 1980 terwujudlah yang namanya gong barungan atau gong gede di pura Dalem Tampuagan. Mengingat pentingnya tabuh barungan atau gong gede sekaa gong Sekar Sari mulai mengaktifkan diri dengan mengadakan sangkepan di sekaa gong dengan anggota 35 0rang. Zaman mulai berkembang untuk membangkitkan seni dan tabuh perlu diajarkan tarian dan tabuh yang ada kaitannya dengan rangkaian upacara. Di tahun 1987 sekaa gong Sekar Sari mulai berpindah tempat dari utara jalan ke sebelah kiri jalan,karena halaman aekaa gong saat ini lebih lebar dari yang dulu memasuki era di zaman modern sekarang ini dari sekaa gong orang tua bergabung dengan yang muda-muda untuk bisa menyatukan. Di saat mencari tabuh sampai saat ini sekaa gong Sekar Sari tetap aktif belajar menabuh dengan tekun dan bersungguh-sungguh dan kami mempunyai gagasan untuk bisa memacu semangat anak-anak yang ada di lingkungan kami untuk ikut belajar menabuh dan (4) ,mengingat pentingnya upacara piodalan di pura Dalem Tampuagan pada awal tahun 1966 orang tua kita bingung mencari jalan keluar,supaya hari piodalan yang jatuh pada rahina Anggar Kasih Prangbakat selalu bisa di iringi dengan tetangguran gong. Akhirnya klian dadia pura dalem Tampuagan dan pengempon pura
menemukan jalan keluarnya yaitu menyepakati pada setiap upacara piodalan di pura Dalem Tampuagan Tangkas yang jatuh pada rahina Anggar Kasih Prangbakat untuk selalu di iringi dengan tetangguran gong. Tetangguran gong tersebut tidak lagi dari desa lain seperti sekaa gong dari banjar Sulang, dan banjar Gunaksa melainkan dari sekaa gong Sekar Sari baik orang tua,muda-muda (sekaa truna ) dan anak-anak. Demikian lika-liku perjalanan dadia perjalanan Dalem Tampuagan Sengguan Klungkung dari tidak memiliki seperangkat gambelan bleganjur dan gambelan barunagan atau gong gede sampai dengan bisa memiliki seperangkat gambelan bleganjur dan gambelan barungan atau gong gede sampai dengan saat ini.
Barungan yang utama terdiri dari:
1 buah Giying , atau Ugal
4 buah pemade
4 buah Gangse kantilan
1 tungguh reyong berpencon 12

1 tungguh terompong berpecon 10

2 buah kendang besar (lanang dan wadon

1 buah Kempur
1 buah kajar

2 buah gong besar (lanang dan wadon)

1 buah kemong (gong kecil)

1 buah babende (gong kecil bermoncong pipih)

1 buah kempli (semacam kajar)

1 pangkon Ceng-ceng

SUMBER:
I MADE WIDIWRTA.
I MADE SUDARTA.

Tinggalkan Balasan