<

 

IMG00478-20131006-1026

1. Masa Kecil I Nengah Murdi

I Nengah Murdi di lahirkan di Desa Pekraman Peninjoan, Kec Tembuku, Kab Bangli  pada tanggal 31 desember 1922, beliau adalah anak semata wayang dari pasangan I Nengah Sampun dan Ni Nyoman Selisir. Menurut I Made Degdeg salah satu nara sumber saya sekaligus adalah teman beliau sejak kecil, dahulu masa kecil I Nengah Murdi sangat lah kelam selain pada jaman itu masih di bawah penjajahan belanda beliau pada masa kecilnya adalah anak yang sakit-sakitan, baru dari umur kurang lebih 5 tahun kondisi beliau mulai mebaik dan tidak sakit-sakitan lagi. Nengah Murdi  waktu kecil adalah anak yang kalem dan penurut makanya hampir seluruh masyarakat di desa peninjoan menyayanginya (tutur, I Made Degdeg)

2.  Masa Pendidikan

Seiring I Nengah Murdi tumbuh, menurut wawancra dari Desak Rai Susu

n (salah satu narasumber saya sekaligus adalah penari didikan I Nengah Murdi) hari minggu 29 september 2013, pada saat I Nengah Murdi berumur kurang lebih 10 tahun pemerintah mengadakan yang di sebut dengan SR (sekolah rakyat) atau setaraf SD kalau sekarang . disanalah beliau menuntut ilmu selama 3 tahun, bulan juli tahun 1935 beliau menamatkan sekolahnya saat itu mendapatkan rengking terbaik di antara murid-murid yang lain.

3. Masa Remaja

Pada masa remaja I Nengah Murdi berumur sekitar 19 tahun, saking kerasnya kehidupan pada zaman itu akhirnya dari perintah I Nengah Sampun( ayah Nengah Murdi) beliau belajar bela diri yang di sebut Pencak Silat Bali, dari pencarian selama berbuan-bulan akhirnya beliau mendapatkan guru yang handal dari desa Gobleg kabupaten Singaraja. I Nengah Murdi belajar di sana selama 2 tahun sampai beliau mahir dan menguasai jurus-jurus pencak silat tersebut. Beliau pulang ke rumah dengn penampilan yang gagah dan menjadi orang yang sangat di takuti, sehingga beliaupun menuru

nkan ilmunya kepada semua pemuda di Desa Peninjoan (salah satu muridnya adalah I Made Degdeg nara sumber saya)  termasuk juga melatih ke Desa-desa lain juga ke luar daerah yaitu di Menanga Karangasem. Begitulah masa remaja Nengah Murdi yang di jalani dengan penuh pengabdian.

4. Karya di Bidang Kesenian

Menurut I Made Degdeg dan Desak Rai Susun, Berkicimpungya Nengah Murdi di bidang kesenian khususnya seni tari berawal dari Wahyu yang di sampaikan lewat pemangku oleh  Ida Betara Bayu Sesu

 

hunan di Pura Dalem Agung Tampuagan yang berupa Hanuman, “bahwa wayang wong di desa peninjoan harus di lestarikan kembali karena sudah bertahun-tahun fakum karena tidak adanya generasi penarinya. Dari hal tersebutlah masyarakat di desa peninjoan meminta I Nengah Murdi untuk berlatih menari agar bisa mengajarkan masyarakat tarian wayang wong tersebut. Sekitar awal tahun 1943 Nengah Murdi mulai berguru di desa Tulikup Gianyar, yang di ajarkan adalah tarian patih serta tarian laki-laki yang lainnya dan berlanjut kepada tarian wanita yaitu tari galuh, dan condong klasik dan selebihnya beliau belajar secara otodidak. Setelah sekian lama

berlatih akhirnya Nengah Murdi pada saat itu berumur 23 tahun  bisa menguasai semua tarian di Wayang Wong tersebut, mulailah  beliau membangun kembali wayang wong yang ada di desa peninjoan dengan susah payah. Menurut Made Degdeg, Nengah murdi adalah sosok guru yang tegas dan disiplin bahkan beliau sampai membawa rotan untuk memukul  kalau muridnya ada yang tidak

disiplin dalam berlatih.   Seiring waktu akhirnya wayang wong di desa peninjoan pun mulai ajeg karena murid-murid Nengah Murdi sudah mampu menarikan tarian-tarian dalam wayang wong tersebut namun ada satu peran yang tidak ada bisa di tarikan oleh para murid  yaitu peran Dewi Sintha dalam wayang wong, dan Nengah Murdi Pun mengambil peran tersebut. Selain Pentas di Pura Dalem Agug Tampuagan wayang wong ini juga diundang pentas(ngelawang)  ke desa-desa lain dan juga ke  daerah Karangasem seperti: Rendang, sidemen, Ban, Panek, dll. Yang pada zaman itu untuk mencapai tempat pentas dengan berjalan kaki hingga semalam suntuk, dan mendapatkan hanya hasil-hasil bumi seperti padi, ubi, jagung dll, kadang-kadang di beri upah ringgit (perak jaman itu). Maka itulah I Nengah Murdi disebut sebagai penggagas berdirinya kembali wayang wong di desa peninjoan sekaligus sebagai Pembina dan sesepuh wayang wong.

5.   Pengalaman I Nengah Murdi

Menurut Mangku Nyoman Purnayasa ( anak dari Nengah Murdi), dan I Mad

e Degdeg Nengah Murdi memiliki banyak sekali pengalaman dimana sebelum Nengah Murdi meninggal dapat di ceritakan pada mereka, salah satunya adalah pada saat Ngelawang/ undangan pentas wayang wong  ke desa Sidemen Karangasem, pada saat itu Nengah Murdi berperan sebagai Dewi Sintha, saking pintarnya menarikan dan menjiwai dari tarian tersebut, pada waktu memainkan adegan sedih hampir semua penonton ikut menangis seakan-akan cerita itu benar terjadi pada saat itu. Setelah pementasan usai se

kelompok wanita-wanita cantik bunga desa sidemen datang menghampiri Nengah Murdi yang dikira penari wanita sungguhan, saat itu masih menggunakan pakaian  dewi sintha, dan wanita itupun ingin berguru pada Nengah Murdi agar bisa menari sebagus itu. Setelah membuka gelungan tarinya para wanita itupun terkejut melihat bahwa Nengah Murdi sebenarnya adalah laki-laki dan Nengah Murdi berkata “Kenape luh adi mekesiab?” dan para wanita itupun tersipu malu. Sampai Nengah Murdi selesai membuka semua pakaian tarin

 

ya para wanita itu masih disana untuk berbincang-bincang dengan beliau. Setelah di kasi nunas paica ( makan-makan) dan di kasi ringgit waktu itu,  rombongan wayang wong inipun berpamitan untuk pulang , sesampainya di tengah perjalan terdengar ada seorang wanita yang memanggil-manggil nengah murdi, ternyata wanitaitu adalah Ni Wayan Merta  salah satu dari sekelompok wanita yang ngobrol tadi bersama beliau, wanita tu mengatakan cinta pandangan pertama kepada Nengah Murdi serta ingin menjadi istrinya. Beliau pun terkejut dan tidak bisa berkata apa bahkan Ni Wayan Merta itupun langsung mengikuti beliau sampai di rumah. Sesampainya di rumah ayah Nengah Murdi pun terkejut dan menanyakan apa yang terjadi. Setelah Ni Wayan Merta  itu menjelaskan tujuannya, mereka

pun disetujui dan akhirnnya di nikahkan. Begitulah pengalaman Nengah Murdi mendapatkan istri pertamanya yaitu penggemarnya sendiri. Setelah lama menikah beliau tidak bisa memiliki keturunan dan akhirnya bercerai. Selain itu Nengah Murdi juga pernah di panggil oleh Regen Bangli atau raja Bangli pada saat itu untuk mendemonstrasikan  tarian wayang wong di Kerajaan Bangli.

Pada tahun 1960 Nengah Murdi di pilih sebagai kelian Banjar Dinas sekaligus merangkap sebagai Kelian banjar Adat. Karena agar memperoleh keturunan Nengah Murdi meminang seorang istri  dari banjar pen

ijoan yang berama Ni Nengah Pica, karena lama tidak memiliki keturunan perkawinan dengan istri ke 2 ini pun akhirnya bercerai. Keinginan Nengah Murdi untuk memiliki keturunapun terus bertambah dan beliau meminang istri dari Banjar Kebon desa peninjoan yang bernama Ni Nyoman Gambir. 10 tahun menikah belum juga meiliki keturunan karena  karena Ni Nyoman gambir mau di madu akhirnya Nengah Murdi Pun meminang istri lagi dari banjar Kebon juga yaitu Ni Wayan Cedang dari perkawinan ke 4 ini lah Nengah Murdi memiliki keturunan yang bernama I Made Sugita sekaligus menjadi umpan lahirnya anak-anak lagi dari istri ke 3 yaitu Ni Putu Sumiti, I Made Astawa, I Nyoman Purayasa dan I Ketut Suastika, namun sayang karena penyakit mata yang di derita Made Sugita dari kecil akhirnya Made Sugita meninggal di usia 10 tahun, hingga sekarang Nengah Murdi memiliki 4 orang anak. Kepeminpinan I Nengah Murdi sangat bersih dan mampu membuat desa menjadi tentram dan makmur sehingga sampai  periode jabatan ke 6 masyarakat terus memilih I Nengah Murdi. Hingga Nengah Murdi menjabat sebagai kelian banjar selama 30 tahun.

 

6.  Penghargaan

Pada tahun 1990 beliau mengundurkan diri sebagai kelian, tetapi kegiatan sebagai Pembina sealigus sesepuh wayang wong masih berlanjut bahkan ada lulusan STSI Denpasar yang bernama Sang Mangku Suastika S.Sn berguru tari-tarian klasik  yang ada di dalam wayang wong  pada beliau. Akhirnya pada HUT kota Bangli pada tahun 2006 Nengah

Murdi Menerima penghargaan sebagai seniman tua, Pembina  sekaligus sesepuh wayang wong di kabupaten Bangli. Pada saat itu saya sendiri mengantarkan beliau utuk mengambil penghargaan tersebut. Di samping itu Nengah Murdi adalah pejuang kemerdekaan RI atau fetran. Karena sakit sesak nafas yang beliau miliki akhirnya pada tgl 20 desember 2009 I Nengah Murdi Meninggal dunia dengan meninggalkan kenangan yang sangat indah bersama keluarga ataupun masyarakat di desa peninjoan dengan jasa-jasa beliau. Sayangnya sampai sekarang tidak ada yang bisa mewarisi kepintaran beliau menarikan tarian-tarian kelasik yang ada pada tarian wayang wong. Hanya bisa mewarisi  sebagian kecilnya saja yaitu anak ke 3 beliau yang bernama I Nyoman Purnayasa, kebetulan adalah ayah saya sendiri. Dan sekarang menjadi Pembina wayang wong di desa peninjoan bersama Sang Mangku Suastika S.Sn.

7.   Daftar informan

  1. I Made Degdeg, 75 tahun ( teman sekaligus murid dari I Nengah Murdi)
  2. Desak Rai Susun, 60 tahun ( murid menari I Nengah Murdi)
  3. I Nyoman Purnayasa 45 tahun ( anak ke 3 I Nengah Murdi)
  4. Ni Putu Sumiti, 55 tahun ( anak ke 1 I Nengah Murdi)
Oktober 16th, 2013 at 10:47 am