UPAKARA DALAM UPACARA YADNYA

Posted in Tulisan on Mei 20th, 2013 by yogagiri

PENGERTIAN UPAKARA

Upakara sering dikenal dengan sebutan banten, upakara berasal dari kata “Upa” dan “Kara”, yaitu Upa berarti berhubungan dengan, sedangkan Kara berarti perbuatan/pekerjaan (tangan). Upakara merupakan bentuk pelayanan yang diwujudkan dari hasil kegiatan kerja berupa materi yang dipersembahkan atau dikurbankan dalam suatu upacara keagamaan. Dalam kehidupan agama Hindu di Bali, setiap pelaksanaan upacara keagamaan selalu mempergunakan upakara atau banten sebagai sarana untuk berhubungan/mendekatkan diri dengan pujaannya yaitu Ida Sang Hyang Widhi Wasa/manifestasi-Nya yang akan dihadirkan.

Upakara atau banten tersebut dibuat dari berbagai jenis materi atau bahan-bahan yang ada, kemudian ditata dan diatur sedemikian rupa sehingga berwujud aturan atau persembahan yang indah dilihat, mempunyai fungsi simbolis dan makna filosofis keagamaan yang mendalam. Dalam pustaka Bhagawadgita Bab IX sloka 26 menyebutkan tentang unsur-unsur pokok persemambahan itu adalah :

Patram Puspam phalam to yam yo me bhaktya prayacchati      tad aham bhaktyupahrtam asnami prayatatmanah

 

Artinya :

Siapapun yang dengan kesujudan mempersembahkan padaKu daun,    bunga, buah-buahan atau air, persembahan yang didasari oleh cinta dan keluar dari hati suci, Aku terima sebagai bhakti persembahan dari orang yang berhati suci.

Dari sloka diatas dapat dilihat hal-hal sebagai berikut :

  1. Daun; dapat berupa janur, ron, tlujungan/daun pisang dan daun yang lainnya yang disebut dengan plawa, sirih, daun pilasa dan sebagainya.
  2. Buah; dapat berupa buah-buahan seperti : kelapa, padi,tingkih,pangi,pinang,pisang, jenis kacang-kacangan serta semua jenis buah-buahan yang dapat dimakan.
  3. Bunga; dapat berupa segala bentuk dan jenis bunga-bungaan yang harum, segar dan yang ditetapkan dan diperkenankan untuk banten.
  4. Air; berupa zat cair seperti : air untuk pembersihan segala sarana banten, air kelapa, arak-berem-tuak, madu, empehan/susu, air kumkuman dan lainnya.
  5. Api/Gni; yang berfungsi sebagai pembakar sarana upakara berupa kemenyan, majagau,serbuk kayu-kayuan seperti cendana,dupa,lilin, dan lainnya.

v  BAHAN UPAKARA

Mengenai bahan-bahan upakara untuk persembahan atau korban suci tersebut, semuanya diambil dari ciptaan Ida Hyang Widhi Wasa di dunia ini dan kesemuanya itu dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu :

  • Mataya

Adalah sesuatu yang tumbuh. Bahan-bahan ini terdiri dari tumbuh-tumbuhan yang dipakai sarana upakara terdiri dari berbagai jenis daun,bunga dan buah-buahan.

  • Mantiga

Adalah sesuatu yang lahir dua kali seperti telur itik, ayam, angsa dan lainnya.

  • Maharya

Adalah sesuatu yang lahir sekali langsung menjadi binatang, seperti binatang-binatang berkaki empat misalnya sapi,babi,kerbau dan lain sejenisnya.

v  FUNGSI UPAKARA

1. Sebagai alat konsentrasi

Upakara sebagai alat konsentrasi, hal ini disebabkan oleh kemampuan yang dimiliki oleh manusia sangat terbatas adanya, dalam usaha untuk mendekatkan hubungan dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan segala manifestasi-Nya, untuk menyampaikan rasa terima kasih karena berbagai anugrah yang diberikan. Dengan melihat banten/upakara, pikirannya sudah teringat dan terarah pada yang dihadirkan atau dipuja. Penggunaan upakara sebagai alat konsentrasi, umumnya dilakukan oleh mereka yang menempuh jalan melalui bhakti marga dan karma marga dalam ajaran catur marga. Bagi bhakti marga mengutamakan penyerahan diri dan pencurahan rasa yang didasari dengan cinta kasih terhadap yang dipuja yaitu Ida Hyang Widi Wasa dan segala menifestasi-Nya, untuk mencapai kebahagiaan yang tertinggi.

Bagi karma marga, menekankan rasa bhaktinya pada pengabdian yang berwujud kerja tanpa pamrih. Kerja merupakan simbol hidup, hidup adalah untuk beryadnya, karena melalui yadnyalah semua yang hidup di dunia ini diciptakan oleh Ida Hyang Widhi Wasa pada jaman dahulu. Hidup manusia dibelenggu oleh kerja, seperti dinyatakan dalam pustaka suci Bhagawadgita sebagai berikut :

“yajnarthat karmano’ nyatra lako’yam karma bandhanah adhartham karma kaunteya mukta sangah samachara (III.9)

Artinya :

Kecuali untuk tujuan berbakti,               dunia ini dibelenggu oleh hukum kerja,        karenanya bekerjalah demi bhakti,         tanpa kepentingan pribadi, oh Kuntipura.

2) Upakara sebagai persembahan atau kurban suci

Upakara sebagai persembahan, apabila ditujukan kehadapan yang lebih tinggi tingkatannya dari manusia. Disebut kurban suci apabila ditujukan kepada yang tingkatannya lebih rendah daripada manusia seperti dalam pelaksanaan upacara bhuta yadnya. Maksud dan tujuan dari persembahan atau korban suci itu adalah sebagai pernyataan dari perwujudan rasa terima kasih manusia kehadapan Ida Hyang Widhi Wasa dan segala manifestasi-Nya. Sebagai contoh yang paling sederhana adalah yadnya sesa yaitu persembahan yang dilakukan setiap hari setelah selesai memasak. Mengenai tempat dan dasar sastra dari yadnya sesa adalah ada disebutkan pada Manawa Dharma Sastra III. 68-69 sebagai berikut :

Panca suna grhastasya culli pesanyu paskarah, kandani codakumhasca badhyate yastu vahayan.

Tasam kramena sarvasam niskrtyartham mahasibhih ,  panca klpta mahayajnah pratyaham grhamedhinam.

Artinya :

Seorang Kepala Keluarga mempunyai  lima macam tempat penyembelihan yaitu tempat masak, batu pengasah, sapu, lesung, dengan alunya, tempayan tempat tempat air dengan pemakaian mana Ia diikat oleh belenggu dosa

Untuk menebus dosanya yang ditimbulkan oleh pemakaian kelima alat itu,para Maha Rsi telah menggariskan untuk Kepala Keluarga agar setiap harinya melakukan Panca Yadnya.

 

3) Upakara sebagai sarana pendidikan memuja Ida Hyang Widhi Wasa.

Upakara  yang telah dapat diwujudkan, merupakan hasil dari pengendalian diri terhadap keterikatan akan benda-benda duniawi. Bila hal itu dihayati lebih mendalam, maka mereka yang telah berhasil membuat upakara untuk diyadnyakan, itu berarti ,mereka telah berhasil menyucikan pikirannya dari rasa ego terhadap karunia Ida Hyang Widhi Wasa yang telah menjadi miliknya. Rasa rela dan rasa tulus ikhlas telah diamalkan, sekaligus perbuatan yang demikian itu telah termasuk dalam upaya penyucian diri secara lahiriah dijiwai dengan rasa bathiniah. Usaha untuk membebaskan diri dari keterikatan pada hawa nafsu guna mencapai kesucian secara lahir dan bathin, sangat diperlukan untuk mendekatkan diri kehadapan Ida Hyang Widhi Wasa, sebagaimana yang telah dinyatakan dalam pustaka suci Bhagawadgita sebagai berikut :

“Vita raga bhaya krodha manmaya mam upasritah bahavo jnanam pasa             puta madbhavam agatah (IV.10)

Artinya :

Terbatas dari hawa nafsu, takut dan benci bersatu dan berlindung pada-ku        dibersihkan oleh kesucian budi pekerti banyak yang telah mencapai diri-ku

 

4) Upakara sebagai perwujudan Ida Hyang Widhi Wasa dalam berbagai manifestasi.bsuci yaitu rontal “Yadnya Prakerti,Tegesing Arti Bebantenan”, semua sarana yang dipakai mempunyai arti simbolis, seperti contoh upakara yang paling sederhana yaitu canang, didalam canang itu terdapat daun kayumas (plawa), bunga, dan porosan. Semua itu arti tersendiri, seperti plawa, disebutkan dalam Lontar Yadnya Prakerti bahwa Plawa adalah lambang pertumbuhan pikiran yang hening dan suci. Dalam proses pelaksanaan pemujaan terhadap Tuhan/Hyang Widhi, sangat wajib hukumnya dilakukan dengan pikiran yang hening dan suci dan atas dasar hati yang tulus ikhlas dengan tanpa berharap akan pahala, karena semua yang dilakukan ini merupakan suatu kewajiban atas ciptaan-Nya. Dalam Bhagawadgita II. 51 disebutkan sebagai berikut :

Karma-jam budhi-yukta hi phalam tyaktva manisinah, janma-bandha-vinirmuktah padam gacchanty anamayam.

Artinya :

Bagi orang bijaksana, yang pikirannya bersatu dengan Yang Maha Tahu, tidak ,mengharap akan hasil dari perbuatannya (sebagai motif), akan tetapi bebas dari perbuatannya karma dan mencapai tempat dimana tak ada penderitaaan.

 

v  MAKNA UPAKARA.

Berbicara mengenai Makna Upakara Yadnya atau banten, dapat dipetik dari pustaka Bhagawadgita Bab III pada sloka 10 sampai 16, dalam pembicaraan Sri Krisna dengan Arjuna, mengenai pentingnya upacara yadnya itu. Pemaknaannya diawali dari yadnya yang dipergunakan oleh Prajapati pada jaman dahulu kala menciptakan manusia untuk mengembangkannya guna memenuhi semua keinginannya.

Apabila dihayati secara mendalam, mengenai diciptakannya manusia dengan yadnya mengingatkan pada kita akan peranan dan kedudukan manusia dalam kehidupannya bila dibandingkan dengan mahluk-mahluk hidup yang lainnya sesama ciptaan-Nya, maka manusia dinilai mempunyai peranan mampu sebagai subyek dan sekaligus obyek dalam memaknai Yadnya itu. Melalui peranan manusia sebagai manusia sebagai subyek dan obyek, akan mampu mengantarkan mencapai tujuan agama Hindu itu yaitu “Mokshartham Jagadhita ya ca iti Dharma. Singkatnya mencapai kesejahteraan lahir dan kebahagiaan batin melalui jalan dharma.

Untuk mempedomi dan menghayati akan makna upakara atau yadnya tersebut, maka “pentingnya yadnya” dalam pustaka suci bhagawadgita pada 7 sloka, dapat dimaknai secara mendalam. Sloka-sloka tersebut berbunyi sebagai berikut :

10. Sahayajnah prajah srstya puro vaca prajapatih          anena prasavisyadhvam     esa vo stv ista kamadhuk

Artinya

Pada jaman dahulu kala Prajapati menciptakan manusia dengan yadnya dan bersabda, dengan ini engkau akan mengembang dan akan menjadi Kamadhuk dari keinginanmu.

Kamadhuk adalah sapi Indra yang dapat memnuhi segala keinginan. Makna yang terkandung dalam pengertian sloka ini, adalah sebagai sarana penciptaan manusia pleh Prajapati/Tuhan untuk menciptakan manusia sebagai mahluk utama dan sempurna yang nantinya akan mengembang dan dapat memenuhi semua keinginannya, karena manusia termasuk mahluk hidup yang sempurna dari yang lainnya.

Selanjutnya pada sloka 11, berbunyi sebagai berikut

Devan bhavayata, nena   te deva bhavayantu vah parasparam bhavayantah sreyah param avapsyatha

Artinya :

Dengan ini kamu memlihara para Dewa dan dengan ini pula para Dewa memelihara dirimu, jadi dengan saling memelihara satu sama lain, kamu akan mencapai kebahagiaan yang maha tinggi.

Makna yang terkandung dalam pengertian sloka ini adalah melalui yadnya yang dipakai sebagai sarana pemeliharaan hubungan antara manusia dengan para Dewa, bermakna saling memelihara dapat mencapai kabaikan yang maha tinggi. Singkatnya hubungan antara rasa subhakti manusia dengan anugrah sweca Ida Hyang Widhi Wasa, tetap dipelihara dengan dasar falsafah Tatwam Asi.

Selanjutnya  pada sloka 12, berbunyi sebagai berikut :

Istan bhogan hi vo deva dasyante yajnabhavitah   tair dattan apradayai ‘bhyo yo bhunkte stena eva sah

Artinya :

Dipelihara oleh yadnya, para Dewa akan memberi kamu kesenangan yang kau ingini. Ia yang menikmati pemberian-pemberian ini, tanpa memberikan balasan kepada-Nya adalah pencuri.

Makna yang terkandung dalam pengertian pada sloka ini adalah melalui saling memelihara dengan yadnya itu antara manusia yang berhutang hidup pada Dewa (Dewa Rna salah satu dari Tri Rna itu) dengan Dewa yang telah memberikan kesempatan pada manusia untuk hidup, maka para Dewa akan memberikan kesenangan yang diinginkan. Sebaliknya bila manusia hanya menikmatinya saja tanpa memberikan pemeliharaan sebagai balasannya, maka manusia yang demikian dinyatakan sebagai pencuri.

Dalam kehidupan keseharian, manusia telah mendapatkannya apa yang dikehendaki, dan ini semua adalah ciptaan-Nya, maka manusia wajib untuk memelihara dan memanfaaatknnya sesuai dengan maksud dan tujuannya masing-masing. Namun apa yang telah diciptakan oleh Tuhan dan dinikmati umat, wajib untuk dihaturkan kembali sebagaiannya sebagai ungkapan rasa bhakti umat kehadapan Hyang Widhi dengan berupa yadnya.

Selanjutnya pada sloka 13, berbunyi sebagai berikut :

Yajnasistasinah santo mucyante sarvakilbisaih bhunjate te tv agham papa   ye pacanty atmakaranat

Artinya :

Orang –orang yang baik yang makan apa yang tersisa dari yadnya, mereka itu terlepas dari segala dosa. Akan tetapi mereka yang jahat yang menyediakan makanan untuk kepentingannya sendiri mereka itu adalah makan dosanya sendiri.

Makna yang terkandung dalam pengertian pada sloka ini, adalah orang yang baik, akan beryadnya terlebih dahulu sebelum makan kepada para Dewa agar terhindar dari dosanya, tetapi bagi mereka yang tidak baik atau disebut jahat, semua makanan disediakan atau dimakan hanya untuk kepentingannya saja, hal itu disebut mereka memakan dosanya sendiri sehingga menjadi makin besar dosanya.

Berikut pada sloka 14, berbunyi sebagai berikut :

Annad bhavanti bhutani   parjanyad annasambhavah yajnad bhavati parjanyo yajnah karmasamudbhavah

Artinya :

Dari makanan, mahluk menjelma, dari hujan lahirnya makanan dan dari yadnya muncullah hujan dan yadnya lahir dari pekerjaan.

Makna  yang terkandung dalam pengertian pada sloka ini, adalah lingkaran kehidupan yang menghidupkan  semua yang ada dan kegunaannya saling memerlukan antara yang satu dengan yang lainnya atau ketergantungan itu terletak pada makna dari yadnya yang diciptakan oleh Ida Hyang Widhi Wasa itu.

 

Selanjutnya pada sloka 15, berbunyi sebagai berikut :

Karma brahmodbhavam vidhi brahma ksarasamudbhavam tasmat sarvagatam brahma nitya yajne pratisthitam

Artinya :

Ketahuilah asal mulanya “karma”  didalam weda dan brahma muncul dari yang abadi. Dari itu brahma yang meliputi semuanya selalu berpusat disekeliling yadnya.

Makna yang terkandung dalam pengertian pada sloka ini adalah Brahma yaitu manifestasi Tuhan sebagai pencipta untuk semuanya itu berpusat disekililing yadnya melalui karma-Nya, yang didalam pustaka suci Weda dikatakan bahwa Brahma itu muncul dari yang abadi yaitu Tuhan/Ida Hyang Widhi Wasa. Makna yadnya dalam hal ini adalah sebagai sarana pusat penciptaan.

Selanjutnya pada sloka 16, berbunyi sebagai berikut :

Evam pravartitam cakram na nuvartayati ha yah aghayur indriyaramo mogham partha sa jivati

Artinya :

Ia yang di dunia tidak ikut memutar roda (cakra) yadnya yang timbal balik ini adalah jahat dalam alamnya dan ia, O Arjuna hidup sia-sia.

Makna yang terkandung dalam pengertian pada arti sloka ini adalah mengenai penggunaan yadnya secara timbal balik, yang pada awalnya Prajapati menciptakan manusia dengan yadnya dan selanjutnya manusia memelihara semua ciptaan-Nya itu dengan yadnya pula. Bila tidak dilaksanakan seperti itu, maka manusia sebagai mahluk ciptaan-Nya yang paling utama dan sempurna keberadaannya , dinyatakan jahat pada kehidupannya, puas dengan indriyanya dan hidupnya sia-sia serta hampa.

CONTOH PAKEM WAYANG UNTUK UPACARA DEWA YADNYA

Posted in Tak Berkategori on April 12th, 2013 by yogagiri

PRAJA WINANGUN

PENYACAH PARWA:

Warnanan ariwijil ira sri yudistira, tan ana waneh pareki sira sang nateng yadawa, angapa nimitanian enjing umijila….. rilampah sri yudistira bepraya angwangun ikanang swijakarya ista purta. Apan… riwus presida angwangun puri indra wiprasta…..wayeng panegara Amertha. Ya nimitanian  anginum nadak yan abwa rasa.. samangkana….

Kresna: tat kala sri nrepa kresna tan tulus….anyakra de rsi wara jahnawisuta

Singgih inganika sri parameswara..dening kanang kunapa inganika ariwijil saha tembeya..menawa hana sojar lawan pandawa sedaya, yan kapinanin dadi enak sigra wistarye akena lawan yeki nata kesawa,,mangkana saturan sri danarjana.

Yudistira: yatna sri yudistira puliha grewala serang-serang gumawul.

Singgih inganika narendra yan mangkana kadi saturanta antian mabener dahat satepung pinara yuta tan ana singsal. Sawetnyan ingulun anyindeng aken inganika apan ingulun bepraya swijakarya Ista Purta,mangkana pamurwanikanang tatwa carita.

Malen : bedeeeeh….. mamitang lugra titiang parekane itua, purun prasanggan ngojah ketel pawecanan pallungguh cokoridewa. Ainggih aksi aratu sembah pangubakti titiang.

Yudistira: cerake twalen wistaning ulun wus kerta lugraha. Pamuliha sembah ta maring yang-yanging sinembah.

Malen : ainggih yan kadi asapunika ketel pawecanan palungguh cokoridewa, titiang ngiring pekayunan.

Yudistira : Riwus ungulun prasida angwangun puri indrawiprastha marikanang panegara Amertha,lamakana sida pascat pinaka bantangnia ista purtha.

Malen : semaliha risampun wenten pasuecan Ida Shang Hyang Widhi Wasa,sane ngawinan ida prasida ngwangun puri indrawipastha irika ring panegara Amertha,napi mawinan purine kawastanin Indra Wiprastha,santukan nunas sukat utawi sikut ring Ida Bethara Indra. Punika awinan purine kawastanin Indra Wiprastha. Punika ngawinan ngelaran yadnya mabantang antuk Ista Purta. Ista ring saluiring widi-widana,purta ring saluiring wawangunan.

Yudistira :   Mangke ingulun aminta sih inganika lamakana prepareng angamet ikanang swijakarya,pinaka manggalaning yadnya.

Malen : sane mangkin titiang nunas ring cokoridewa mangda nyarengin titiang rikalaning ngambil kekaryane  puniki, mangda wenten sane kabawos manggalaning yadnya.

Kresna : duh yogya tan ana salah ripakum…..

: singgih inganika narendra yan kadi pawecanan inganika mabener dahat,kewala ampura dahat nata kesawa umatura ring pangkaja inganika,luir kadi rikalaning panedenging kawidagdang.

Werdah : mamitang lugra aratu titiang parekane iwerdah ngojah ketel pawecanan palungguh cokoridewa, ainggih sadurunge titiang natak ketel pwecanan palungguh cokoridewa aksi aretu titiang ngaturang sembah pangubakti…. Ainggih aratu duagung yan kadi asapunika pawecanan palungguh cokoridewa patut pisan aratu, kewala titiang nunas ampura matur iriki ring anggan palungguh iratu, hiperwitang lawan surya keteg gatin ikang yan tandinfg kawidagdang. Satmaka titiang ibintang cokoridewa sang hyang surya, duh kapan ibintang prasida matehin tejan ida sang hyang surya.

Kresna : Yogya.

Werdah: patut.

Kresna : yan anrueaken artha yadnya kinantinira.

Werdah: yaning palungguh cokoridewa madue mas pipis luire patut punika anggen mayadnya,sampunan anggena mabiuta karma.

Kresna : Tan ana marganika manindahaken swijakarya yan tan ana sih ikanang dewa.

Werdah : Sapunapi je punika kaluwihan ipun imanusa tan wenten punika prasida mragatang yadnyae yan wenten punika paswecan ida Bethara.

Yudistira: singgih inganika rahadian yan mangkana enak sih akena ingulun rikalaning angamet ikanang swijakarya,apan pandawa luir kadi antiga ri sapetalanin.

Tualen : aingih aratu duagung sane mangkin titiang nunas ring palungguh cokoridewa mangda nyarengin titiang rikalaning ngambil kekaryane sekadi mangkin, duaning pandawa punika kadi taluhe abembengan yan encak punika siki maka encak punika maka sami.

Kresna : yan sampun ana kertha lugraha inganika aneda ngiring.

MANGKAT

KANDA

Anoman: tualen ring ngeni tuanta,,,?  Ingulun bepraya parek lawan tuanta.

Tualen : ring dija gustin titiang kenten…? Iratu makayun jaga ngrauhin gustin titiang.

Anoman: yogya.

Tualen: irika ring paseban aratu.

( anoman bertemu dengan yudistira)

Tualen: dah ida sang Anoman mabawos dah.

Werdah : kenken bawos ida sang Anoman nang?

Tualen : ada musuh kone lakar teka dah.

Werdah : nyen musuhe to…

Tualen : sing kauningan olih ida sang Anoman. Nah lan jani dauhin para panjake katekaning para ratu makejang apange nyemak senjata.

Anoman: wong sanaka presama katekaning yayi sedaya enak amet ikang sanjata…

BALA- BALA KELUAR MEMBAWA SENJATA

KAYONAN: neng akena rilampah angwangun swijakarya. Mangke waneh kang inujaran, caritanan…. Sira kurupati putra tan suka lumihat pandawa angwangun swijakarya luir amerih kanti seraya lawan Rsi Santi Prani, samangkana…….

Kanda Delem.

Duryadana : paman gandara pati paman, leheng pati tuas kurupati kaya mangke apan lumihat pandawa angwangun ikanang swijakarya. Yan ing kene I Duryadana kebekan dening artha brana tan sida angwangun swijakarya, kadiang apa mangke paman  lamakana sida angrug aken karyan sang  pandawa.

Sekuni : adah.ah..ahah. singgih inganika narendra aywa mangkana, sekarinian sekuni meurip antian eman adnyan inganika. Yan mangkana enak pedek tangkil lawan sira Dang Hyang drona, apan sira wruh marikanang dura darsana, sira wruh marikanang dura adnyana.

Kanda Delem.

Duryadana bertemu dengan Drona.

Duryadana : singgih inganika Dhang Hyang Drona, pasang tabe sira si Duryadana umatura ring pangkaja inganika.

Drona : uduh nanakku sang Duryadana pwa inganika kadiang apa inganika prapta saha tembeya. Menawa hana kang sojar enak sigra wistarya akena lamakana bapa mawruha.

Duryadana : singgih inganika Dang Hyang Drona, tan len I Duryadana umedek apan angrenga sang pandawa angwangun ikang swijakarya, yan ing kene I Duryadan kebekan dening artha brana kewala natan sida angwangun ikang swijakarya. Kadiang apa mangke lamakana sida angrug yadnyan sang pandawa.

Drona : bah yan samangkana mangke bapa angwehaken inganika mangaran Rsi Santi Prani, lamakana angatag watekin buta kala sedaya lamakana sida angrug yadnyan sang pandawa.

Duryadana : bah yan samangkana antian egar twas sira si Duryadana. Kewala mamuit mangke si Duryadana.

Kanda Delem: memanggil para bhuta kala…

Bala-bala raksasa keluar…..

Tualen: aduh dewa ratu kenken ye gumine jani, jeg peteng kekene,, apa ye mirib ne kal teka,, aratu-aratu dwagung ngiring tedun aratu…

Bala-bala pandawa keluar’’’’

Yudistira : meneng wong sanaka prasama enak warahakena rumuhun.

Yudistira : eh kita sang kararupa siapa kang dasa namanta, ring ngeni pwa inganika. Enak warahakena lawan ingulun.

Prani jyoti : eh kita Yudistira ngong tan len mangaran Prani joti sisian Rsi Santi Prani ingulun ing kene bepraya angrug yadnyan sang pandawa.

Delem : sa….sasa. nyen adan caine I Yudistira kuno sajan petakon caine cara nak TK. Ne jani prani joti mai sing ada len bakal nguwug ne madan karyan I pandawa.

Yudistira : eh kita sang kararupa ngawe ala eman angawe ayu sang apa….

Malen : ngae usak to aluh yen ngae luwung to ne keweh pang cai nawang.

Pranijoti : ah ayua kita akueh mojar yan kita kahudipati rebut iki Prani joti.

Bima : kaka yudistira alungguh…

Pranijoti : siapa kita wani-wani angantinaken yudistira…

Bima: eh Pranijoti ingulun tan len werkodara,pemade sang pandawa kita cangkah cumangkah lawan sang pandawa, pejah pwa kita.

SIAT

 

 

PRAJA WINANGUN

PENYACAH PARWA:

Warnanan ariwijil ira sri yudistira, tan ana waneh pareki sira sang nateng yadawa, angapa nimitanian enjing umijila….. rilampah sri yudistira bepraya angwangun ikanang swijakarya ista purta. Apan… riwus presida angwangun puri indra wiprasta…..wayeng panegara Amertha. Ya nimitanian  anginum nadak yan abwa rasa.. samangkana….

Kresna: tat kala sri nrepa kresna tan tulus….anyakra de rsi wara jahnawisuta

Singgih inganika sri parameswara..dening kanang kunapa inganika ariwijil saha tembeya..menawa hana sojar lawan pandawa sedaya, yan kapinanin dadi enak sigra wistarye akena lawan yeki nata kesawa,,mangkana saturan sri danarjana.

Yudistira: yatna sri yudistira puliha grewala serang-serang gumawul.

Singgih inganika narendra yan mangkana kadi saturanta antian mabener dahat satepung pinara yuta tan ana singsal. Sawetnyan ingulun anyindeng aken inganika apan ingulun bepraya swijakarya Ista Purta,mangkana pamurwanikanang tatwa carita.

Malen : bedeeeeh….. mamitang lugra titiang parekane itua, purun prasanggan ngojah ketel pawecanan pallungguh cokoridewa. Ainggih aksi aratu sembah pangubakti titiang.

Yudistira: cerake twalen wistaning ulun wus kerta lugraha. Pamuliha sembah ta maring yang-yanging sinembah.

Malen : ainggih yan kadi asapunika ketel pawecanan palungguh cokoridewa, titiang ngiring pekayunan.

Yudistira : Riwus ungulun prasida angwangun puri indrawiprastha marikanang panegara Amertha,lamakana sida pascat pinaka bantangnia ista purtha.

Malen : semaliha risampun wenten pasuecan Ida Shang Hyang Widhi Wasa,sane ngawinan ida prasida ngwangun puri indrawipastha irika ring panegara Amertha,napi mawinan purine kawastanin Indra Wiprastha,santukan nunas sukat utawi sikut ring Ida Bethara Indra. Punika awinan purine kawastanin Indra Wiprastha. Punika ngawinan ngelaran yadnya mabantang antuk Ista Purta. Ista ring saluiring widi-widana,purta ring saluiring wawangunan.

Yudistira :   Mangke ingulun aminta sih inganika lamakana prepareng angamet ikanang swijakarya,pinaka manggalaning yadnya.

Malen : sane mangkin titiang nunas ring cokoridewa mangda nyarengin titiang rikalaning ngambil kekaryane  puniki, mangda wenten sane kabawos manggalaning yadnya.

Kresna : duh yogya tan ana salah ripakum…..

: singgih inganika narendra yan kadi pawecanan inganika mabener dahat,kewala ampura dahat nata kesawa umatura ring pangkaja inganika,luir kadi rikalaning panedenging kawidagdang.

Werdah : mamitang lugra aratu titiang parekane iwerdah ngojah ketel pawecanan palungguh cokoridewa, ainggih sadurunge titiang natak ketel pwecanan palungguh cokoridewa aksi aretu titiang ngaturang sembah pangubakti…. Ainggih aratu duagung yan kadi asapunika pawecanan palungguh cokoridewa patut pisan aratu, kewala titiang nunas ampura matur iriki ring anggan palungguh iratu, hiperwitang lawan surya keteg gatin ikang yan tandinfg kawidagdang. Satmaka titiang ibintang cokoridewa sang hyang surya, duh kapan ibintang prasida matehin tejan ida sang hyang surya.

Kresna : Yogya.

Werdah: patut.

Kresna : yan anrueaken artha yadnya kinantinira.

Werdah: yaning palungguh cokoridewa madue mas pipis luire patut punika anggen mayadnya,sampunan anggena mabiuta karma.

Kresna : Tan ana marganika manindahaken swijakarya yan tan ana sih ikanang dewa.

Werdah : Sapunapi je punika kaluwihan ipun imanusa tan wenten punika prasida mragatang yadnyae yan wenten punika paswecan ida Bethara.

Yudistira: singgih inganika rahadian yan mangkana enak sih akena ingulun rikalaning angamet ikanang swijakarya,apan pandawa luir kadi antiga ri sapetalanin.

Tualen : aingih aratu duagung sane mangkin titiang nunas ring palungguh cokoridewa mangda nyarengin titiang rikalaning ngambil kekaryane sekadi mangkin, duaning pandawa punika kadi taluhe abembengan yan encak punika siki maka encak punika maka sami.

Kresna : yan sampun ana kertha lugraha inganika aneda ngiring.

MANGKAT

KANDA

Anoman: tualen ring ngeni tuanta,,,?  Ingulun bepraya parek lawan tuanta.

Tualen : ring dija gustin titiang kenten…? Iratu makayun jaga ngrauhin gustin titiang.

Anoman: yogya.

Tualen: irika ring paseban aratu.

( anoman bertemu dengan yudistira)

Tualen: dah ida sang Anoman mabawos dah.

Werdah : kenken bawos ida sang Anoman nang?

Tualen : ada musuh kone lakar teka dah.

Werdah : nyen musuhe to…

Tualen : sing kauningan olih ida sang Anoman. Nah lan jani dauhin para panjake katekaning para ratu makejang apange nyemak senjata.

Anoman: wong sanaka presama katekaning yayi sedaya enak amet ikang sanjata…

BALA- BALA KELUAR MEMBAWA SENJATA

KAYONAN: neng akena rilampah angwangun swijakarya. Mangke waneh kang inujaran, caritanan…. Sira kurupati putra tan suka lumihat pandawa angwangun swijakarya luir amerih kanti seraya lawan Rsi Santi Prani, samangkana…….

Kanda Delem.

Duryadana : paman gandara pati paman, leheng pati tuas kurupati kaya mangke apan lumihat pandawa angwangun ikanang swijakarya. Yan ing kene I Duryadana kebekan dening artha brana tan sida angwangun swijakarya, kadiang apa mangke paman  lamakana sida angrug aken karyan sang  pandawa.

Sekuni : adah.ah..ahah. singgih inganika narendra aywa mangkana, sekarinian sekuni meurip antian eman adnyan inganika. Yan mangkana enak pedek tangkil lawan sira Dang Hyang drona, apan sira wruh marikanang dura darsana, sira wruh marikanang dura adnyana.

Kanda Delem.

Duryadana bertemu dengan Drona.

Duryadana : singgih inganika Dhang Hyang Drona, pasang tabe sira si Duryadana umatura ring pangkaja inganika.

Drona : uduh nanakku sang Duryadana pwa inganika kadiang apa inganika prapta saha tembeya. Menawa hana kang sojar enak sigra wistarya akena lamakana bapa mawruha.

Duryadana : singgih inganika Dang Hyang Drona, tan len I Duryadana umedek apan angrenga sang pandawa angwangun ikang swijakarya, yan ing kene I Duryadan kebekan dening artha brana kewala natan sida angwangun ikang swijakarya. Kadiang apa mangke lamakana sida angrug yadnyan sang pandawa.

Drona : bah yan samangkana mangke bapa angwehaken inganika Diah Amarawati dan Diah Mayawati, lamakana angatag watekin buta kala sedaya lamakana sida angrug yadnyan sang pandawa.

Duryadana : bah yan samangkana antian egar twas sira si Duryadana. Kewala mamuit mangke si Duryadana.

Kanda Delem: memanggil para bhuta kala…

Bala-bala raksasa keluar yang dipimpin oleh Raksasa Pranijyoti…..

Tualen: aduh dewa ratu kenken ye gumine jani, jeg peteng kekene,, apa ye mirib ne kal teka,, aratu-aratu dwagung ngiring tedun aratu…

Bala-bala pandawa keluar’’’’

Yudistira : meneng wong sanaka prasama enak warahakena rumuhun.

Yudistira : eh kita sang kararupa siapa kang dasa namanta, ring ngeni pwa inganika. Enak warahakena lawan ingulun.

Prani jyoti : eh kita Yudistira ngong tan len mangaran Prani joti sisian Rsi Santi Prani ingulun ing kene bepraya angrug yadnyan sang pandawa.

Delem : sa….sasa. nyen adan caine I Yudistira kuno sajan petakon caine cara nak TK. Ne jani prani joti mai sing ada len bakal nguwug ne madan karyan I pandawa.

Yudistira : eh kita sang kararupa ngawe ala eman angawe ayu sang apa….

Malen : ngae usak to aluh yen ngae luwung to ne keweh pang cai nawang.

Pranijoti : ah ayua kita akueh mojar yan kita kahudipati rebut iki Prani joti.

Bima : kaka yudistira alungguh…

Pranijoti : siapa kita wani-wani angantinaken yudistira…

Bima: eh Pranijoti ingulun tan len werkodara,pemade sang pandawa kita cangkah cumangkah lawan sang pandawa, pejah pwa kita.

SIAT

 

 

BABAD SRI NARARYA KRESNA KEPAKISAN DADYA PELADUNG

Posted in Tulisan on April 4th, 2013 by yogagiri

Tersebutlah dijaman dahulu, dikisahkan tentang leluhur dari Shri Nararya Kresna Kepakisan, semasih di Jawa Timur yang sesungguhnya leluhurnya adalah Wisnu Wangsa di Jawa Timur yaitu dari dinasti Isana yang tiada lain adalah Mpu Sendok yaitu di Watu Galuh di Jawa Timur yang juga merupakan senkretisme dari dinasti Warmadewa dari pulau Bali. pada tahun saka 530 atau tahun  608 masehi di Jawa Timur ada sebuah keraton yang bernama Medang Kemulan dengan rajanya bernama Shri Wisnu Wangsa dengan gelar Shri Maharaja Manu. Apa sebabnya demikian, karena beliau di Jawa Timur beliau menurunkan dinasti Wangsa Wisnu yang memuja Sang Hyang Wisnu, keberadaan Shri Wisnu Wangsa di Jawa Timur tiada lain keinginan orang tuanya yang bernama Bhatara Guru di tanah India. Kemudian Shri Wisnu Wangsa mempunyai seorang putra yang bernama Shri Jaya Langit, selanjutnya Shri Jaya Langit juga menurunkan seorang putra yang bernama Shri Wreti Kendayun. Shri Wreti Kendayun juga  menurunkan putra yang bernama Shri Manu Menasa atau Shri Kameswara Para Dewasikan sebutan lainnya.

Shri Kameswara Para mempunyai seorang putra yang bernama Shri Dharma Wangsa dan setelah dewasa Shri Dharma Wangsa kawin dengan Shri Dewi Makutha Wangsa Wardhani yang merupakan cucu dari Mpu Sendok dari Watu Galuh. Tatkala beliau Shri Dharma Wangsa menjadi penguasa di Watan Mas baliau bergelar Shri Dharma Wangsa Teguh Ananta Wikrama uttungga Dewa, yang kemudian selanjutnya menurunkan putra laki perempuan, dimana yang perempuan bernama Dyah Kili Suci dan anak yang laki bernama Shri Kameswara. Pada tahun 1006 masehi terjadilah pertempuran antara Shri Dharma Wangsa dengan raja Wura Wari Loarang hingga dalam pertenpuran itu beliau Shri Dharma Wangsa manemui ajalnya, pada saat itulah putri beliau dipersunting oleh Airlangga. Dikisahkan sekarang putra beliau Shri Kameswara mempunyai tiga orang putra yaitu : Shri Kerta Dharma, adiknya bernama Tunggul Ametung yang selanjutnya menjadi penguasa di Tumapel dan anak beliau yang paling bungsu istri bernama Dewi Ghori yang di persunting oleh Mpu Wide. Setelah Shri Dharma Wangsa wafat kedudukan beliau digantikan oleh Shri Airlangga bersama istrinya Dyah Kili Suci. Dikisahkan bahwa Airlangga mengadakan penyerangan terhadap raja Wura Wari yang mengakibatkan kekalahan Raja Wura Wari dan patih beliau yang berjasa membantu menaklukkan Raja Wura Wari ini memangku jabatan sebagai Rakryan Kanuruhan.

Airlangga menurunkan tiga orang anak yang pertama Shri Sang Rama Wijaya yang kemudian bergelar Nyi Ageng Kili Suci, adiknya Shri Smara Wijaya dan Shri Jaya Warsa dan dari selir beliau juga melahirkan tiga keturunan, yaitu Shri Smara Karma, Shri Anjung Eyes dan Shri Samarotsaha. Kemudian Airlangga mengutus Mpu Baradah untuk pergi ke pulau Bali untuk bertemu dengan Mpu kuturan dengan maksud untuk meminta kepada Mpu Kuturan agar salah satu putranya bisa menjadi raja di Bali. Namun Mpu Kuturan menolaknya karena di Bali sudah ada raja yang tiada lain adalah adik dari Airlangga, keturunan Shri Aji Anak Wungsu. Mpu Bharadah kembali ke Jawa dan kemudian membagi kerajaan menjadi dua dengan memancurkan air kendi sampai air tersebut menuju lautan, yang mengakibatkan keraton kerajaan terbagi menjadi dua yaitu bagian barat dan bagian timur yang di batasi oleh sungai berantas.

Dari kejadian itu awal adanya Karaton Janggala/kahuripan dengan rajanya Shri Smara Karma yang bergelar  Shri Maharaja Mapanji Garasakan yang kemudian digantikan oleh adiknya yang bernama Maharaja Alanjung Ayes, yang kenudian digantikan oleh adik beliau yang bernama Shri Samarotsaha. Selanjutnya dikisahkan kerajaan Jenggala ditaklukan oleh Prabu Jaya Bhaya raja kerajaan Panjalu, atas kekalahan tersebut kerajaan itu disatukan, dimana keratonnya bernama Daha, dengan rajanya bernama Shri Smara Wijaya. Kemudian beliau digantikan oleh adiknya yaitu Shri Jaya Warsa dengan gelar Shri Jaya Warsa Digjaya Sastra Parbhu. Tersebutlah sekarang beliau Shri Smara Wijaya menurunkan lima orang putra yaitu : Shri Kameswara I, Shri Jaya Bhaya, Shri Sarweswara, Shri Aryeswara dan Shri Kroncaryadhipa. Pada tahun saka 1038(1116 masehi) kedudukan Shri Smara Wijaya digantikan oleh putra sulungnya yaitu Shri Kameswara I, yang memegang tapuk pemerintahan sebagai raja Panjalu dari tahun saka 1038 sampai 1057(1116-1135 masehi) dengan mempersunting Shri Dewi Candra Kirana sebagai istrinya yang merupakan anak dari Shri Smara Karma dari Jenggala, namun keraton Panjalu dipegang oleh Shri Jaya Bhaya yang sesungguhnya beliau ini adalah tunggal garis purusha, namun muncul ras iri dan benci dari Shri Jaya Bhaya hingga akhirnya terjadi peperangan dengan kekalahan pada pihak Shri Kameswara I yang merupakan kakak beliau.

Atas kejadian itu baik Panjalu dan Jenggala dikuasai oleh Shri Jaya Bhaya yang bergelar Shri Maharaja Sang Mapanji Jaya Bhaya Shri Warmeswara Madhusadanawatara Anindita Suhtringha Parakrama Uttungga Dewa, beliau duduk sebagai penguasa Kedhri. Setelah 25 tahun beliau Shri Jaya Bhaya sebagai penguasa Kedhiri, akhirnya beliau turun tahta dan digantikan oleh adiknya Shri Sarweswara I yang hanya memerintah selama empat tahun saja dan digantika oleh adiknya yaitu Aryeswara dan beliau juga akhirnya digantikan oleh Shri Kroncaryadhipa, dimana beliau sebagai penguasa Kedhiri tercatat selama 4 tahun yaitu saka 1103-1107( 1181-1185 masehi). Kembali diuraikan keberadaan beliau Shri Kameswara I mempersunting Shri Dewi Candra Kirana dan melahirkan putra yang bernama Shri Kameswara II, Shri Kameswara II inilah yang menggantikan kedudukan Kroncaryadhipa sebagai raja Kedhiri. Kemudian beliau menyerahkan kekuasaan kepada putra  Shri Sarweswara I yaitu Shri Sarweswara II.

Kembali dikisahkan keberadaan beliau Shri Jaya Bhaya mempunyai seorang putra yaitu Shri Kertajaya yang lebih dikenal dengan sebutan Shri Prabu Dandang Gendis yang menggantikan keprabhon Shri Sarweswara II dengan memegang kekuasaan sebagai raja Kedhiri dari tahun saka 1122-1144 (1200-1222 masehi) pada masa pemerintahan Shri Prabu Dandang Gendis memerintah kerajaan Kedhiri beliau memerintahkan para Panditha Siwa dan Budha agar menyembah dirinya, yang secarra jelas hal itu ditolak oleh para Pandita, Shri Prabu Dandang Gendis berperilaku begitu karena beliau sangat sakti, mampu berdiri diatas tombak, atas perilakuinya itu banyak yang meninggalkan Kedhiri menuju Tumapel. Atas situasi yang demikian itu akhirnya Shri Prabu Dandang Gendis  diserang oleh Ken Arok raja kerajaan Tumapel/Singasari. Oleh karena itu terjadi kekalahan pada pihak Prabu Dandang Gendis, dengan kekalahan itu maka kerajaan Kedhiri menjadi kekuasaan Singasari, namun raja Singasari tetap menunjuk penguasa Kedhiri dari keturunan raja Kedhiri sebagai raja bawahan yaitu Shri Jaya Sabha yang merupakan putra dari Kameswara II yang memegang kekuasaan sebagai raja dari tahun saka 1149- 1180 (1227-1258). Tersebutlah sekarang Shri Jaya Bhaya mempunyai seorang putra yang bernama Shri  Sastra Jaya yang lebih populer dikalangan masyarakat dengan sebutan Aryeng Kedhiri ( Ari Ing Kedhiri) beliau inilah yang menggantikan kedudukan ayahnya Shri Jaya Sabha sebagai raja Kedhiri. Sekarang tersebutlah Shri Dandang Gendis menurunkan seorang putra yang bernama Shri Jaya Katwang yang memangku jabatan sebagai penguasa Gelang-gelang sebagai raja bawahan, pengangkatan Shri Jaya Katwang pada saat Kerta Negara sebagai raja. Selanjutnya Jaya Katwang menggantikan Sastra Jaya sebagai raja Kedhiri.

Dari kedudukan sebagai raja di Kedhiri hingga akhirnya meletus peperangan pada tahun 1214 atau 1292 masehi.  muncul keinginan dari Jaya Katwang untuk memerangi Singasari (Prabu Kertanegara) Dengan kekalahan pada pihak Singasari, Singasari dikuasai Kedhiri pada tahun 1292 masehi. Dengan kekalahan Singasari, Nararya Sang Rama Wijaya tidak sanggup menandingi peperangan dari prajurit Kedhiri. Melihat hal yang demikian sangat iba hatinya Sang Akuwu dari desa kudadu, yang kemudian beliau menyebrangi lautan menuju Madura mohon bantuan kehadapan Adhipati Madura yaitu Arya Wiraraja. Kemudian Arya Wiraraja melindungi Sang Rama Wijaya dan menyuruh agar mau menyerah kepada Kedhiri dengan syarat  untuk meminta Hutan Tarik dengan alasan akan digunakan sebagai tempat berburunya sang raja demikian siasat yang diberikan. Mendengar hal itu Sang Rama Wijaya sangat setuju, dan berjanji kelak kalau beliau sudah mampu menguasai pulau Jawa maka kekuasaannya akan dibagi dua yaitu sepronya untuk Arya Wiraraja. Kemudian Sang Rama Wijaya menyerahkan diri kepada Jayakatwang, dan meminta Hutan Tarik dengan alasan seperti yang telah direncanakan. Jayakatwang menyetujuinya tanpa ada perasaan curiga. Akhirnya Rama Wijaya menuju Hutan Tarik, setibanya disana ia menemui pohon Maja dengan buahnya yang pahit.

Prajurit Kedhiri yang masih hidup melarikan diri termasuk putra dari Sastra Jaya yang bernama aryeng Kedhiri termasuk Bagawanta beliau menuju kearah utara yang akhirnya menetap di Desa  Pakis, karena tinggal di Desa Pakis maka lebih dikenal dengan sebutan Shri Nararya Kreshna Kepakisan sedangkan Bagawantanya bergelar Dangiang Kepakisan. Dangiang Kepakisan berputra empat orang yang diperoleh dari melakukan surya sewana pada sebuah batu yang konon sebuah bidadari yang terkena kutukan. Putra beliau tiga laki-laki dan seorang perempuan, keempatnya itulah yang ditugasi oleh Ki Patih Gajah Mada sebagai penguasa wilayah yang dianggap sebagai anaknya, yang paling tua di  Blambangan, adiknya di Pasuruan, sang raja putri di Sumbawa dang yang paling kecil di pulau Bali.  Untuk itu Ki Patih Gajah Mada memohon ketulusan dan sih dari Dangiang Kepakisan, kemudian Dangiang Kepakisan mengabulinya, setelah sepakat keempat putra Dangiang Kepakisan itu dirubah status warnanya (wangsanya) dari wangsa Brahmana menjadi wangsa Kesatriya. Pada tahun saka 1274 (tahun 1352 masehi) Ki Patih Gajah Mada mengutus Aryeng Kedhiri atau Shri Sastra jaya yaitu cucu dari Jayasbha datang ke pulau Bali.  Setelah Shri Sastrajaya ada di pulau Bali lebih dikenal dengan sebutan Shri Nararya Kreshna Kepakisan yang selanjutnya berkedudukan sebagai patih agung.

Tersebutlah yang menjadi Adhipati dan patih agung berasal dari desa pakis. Di jaman dulu tepatnya pada tahun saka 1274 (tahun 1352) Adhipati Bali yang bergelar Dalem Ketut Shri Kresna Kepakisan sebagai penguasa Bali dengan keratonnya di Samprangan yang di dampingi oleh patih agungnya yaitu Shri Nararya Kresna Kepakisan. Shri Nararya Kresna Kepakisan tinggal didesa Nyuhaya bersama dengan arya Wang Bang Pinatih yang berkedudukan sebagai dhemung (jabatan setingkat dibawah mentri).

Diceritaka selanjutnya beliau Dalem Ketut Shri Kresna Kepakisan mempunyai dua orang istri yang pertama adalah I Gusti Ayu Raras Putra dari Arya Gajah Para, dari perkawinannya itu melahirkan tiga keturunan yaitu : I Dewa Samprangan, adiknya I Dewa Tarukan, dan yang paling bungsu I Dewa Ketut Ngulesir, sedangkan dari istri yang kedua yaitu I Gusti Ayu Kutha Waringin putra dari Arya Kutha Waringin melahirkan I Dewa Tegal Besung. Di kisahkan beliau Dalem Ketut Kreshana Kepakisan telah lanjut usia (tua), disana beliau menyerahkan tongkat kepemimpinannya kepada putranya yang tertua yaitu I Dalem  Samprangan yang bergelar Dalem Agra Samprangan, namun ternyata beliau tidak mampu memangku jabatan tersebut. Sedangkan adik beliau Dalem Tarukan tidak tertarik dengan takhta kerajaan yang kegemarannya bersifat kerohanian dan lain lagi adiknya Dalem Ketut Ngulesir sangat gemar berjudi. Karena ketidakmampuan Dalem Agra Samprangan sebagai pucuk pimpinan para pejabat kerajaan mengadakan rapat untuk mencari Dalem Ketut Ngulesir untuk dijadikan raja.

Pada saat itu juga beliau Dalem Tarukan berkeinginan mengawini anak angkatnya yaitu Raden Kuda penandang Kajar dengan putri dari Agra Samprangan yaitu Shri Dewi Muter, karena perkawinan itu tidak mendapat restu hingga kedua pasangan sejoli itu menemui ajalnya yang tewas lantaran keris sakti Si Tanda Langlang yang tiada akibat kemarahan dari Agra Samprangan, itulah awal kisahnya Dalem Tarukan meninggalkan purinya menuju Desa Pulasari.Dikisahkan sekarang baliau Shri Nararya Kreshna Kepakisan berada si Samprangan melahirkan dua putra laki-laki yaitu Pangeran Nyuhaya dan Pangeran MadeAsak. Apa sebabnya putra beliau yang tanda kenangan beliau berdomisili di Desa Nyuhaya. Dikisahkan Dalem Ketut Shri Nararya Kreshna Kepakisan pada tahun saka 1312(Thun 1390 masehi) amoring acintya(wafat).  Setelah itu Dalem Sri Nararya Kresna Kepakisan juga wafat, maka kedudukan sebagai patih agung di Bali digantikan oleh putra beliau yaitu pangeran Nyuhaya bergelar Kyayi Agung Nyuhaya.

Selama Kyayi Agung Nyuhaya tinggal di Samprangan mempunyai delapan keturunan 7 orang laki-laki dan seorang perempuan antara lain : Kyayi Agung Petandakan, Kyayi Satra, Kyayi Pelangan, Kyayi Kaloping, Kyayi Akah, Kyayi Cacaran, Kyayi Anggan dan yang perempuan bernama Kyayi Istri Ayu Adhi, hentikan. Kembali dikisahkan Dalem Agra Samprangan duduk di singgasana. Para patih sekalian mengadakan pertemuan dimana dalam pertemuan tersebut disepakati untuk mencari I Dewa Ketut Ngulesir yang akan dijadikan sebagai raja Bali. Tersebutlah putra Kyayi Kutha Waringin yaitu Kriyan Kelapa Dyana sebagai duta untuk mencari keberadaan I Dewa Ketut Ngulesir.

Sekarang dikisahkan beliau bertemu dengan I Dewa Ketut Ngulesir di desa Pandak, dalam pertemuan tersebut Kriyan Kelapa Dyana akhirnya umatur : paduka Dewa Ketut Ngulesir hamba diutus oleh para tanda mantri dan patih sekalian, agar I Dewa Ketut segera kembali pulang ke istana,agar sudi kiranya untuk duduk di singgasana sebagai raja. Mendengar hatur Kriyan Kelapa Dyana yang demikian I Dewa Ketut Ngulesir menolaknya, karena beliu tidak punya tempat tinggal dan merasa belum mampu sebagai raja karena pengetahuannya mengenai ilmu kepemimpinan yang belum cukup. Akan tetapi karena terus dibujuk akhirnya Dalem Ketut Ngulesir bersedia untuk kembali ke gelgel. Namun sebelum Dalem Ketut Ngulesir meninggalkan Desa Pandak, beliau mengucapkan bhisama/ janji kepada masyarakat Desa Pandak, kelak kalau aku telah menjadi raja dan duduk di singgasana, masyarakat disini aku anugrahi madeg Pra Sanghyang. Pada tahun saka 1305 (tahun 1383 masehi) akhirnya  secara resmi I Dewa Ketut Ngulesir dinobatkan sebagai raja Bali dengan gelar Dalem Ketut Smara Kepakisan menggantikan kakaknya Dalem Agra Samprangan dengan istananya bernama Lingarsa Pura sedangkan istana kakaknya di samprangan bernama Sweca Pura.

Dengan patihnya Kyayi Agung Nyuhaya. Keberadaan Kyayi Agung Nyuhaya di Gelgel akhirnya membuat tempat tinggal di sebelah utara pasar yang bernama Karang Kepatihan. Tatkala beliau Dalem Ketut Shri Smara Kepakisan di Lingarsa Pura (Gelgel) terbukti masyarakat Bali sangat tentram. Kyayi Agung Nyuhaya yang menjadi patih agung tatkala di Gelgel melahirkan tiga orang putra yang beribu dari orang kebanyakan, putra beliau antara lain : I Gusti Wayahan Nyuhaya, adiknya I Gusti Nengah Nyuhaya dan I Gusti Ketut Nyuhaya. Karena Kyayi Agung Nyuhaya sudah berusia tua, akhirnya beliau kembali ke alam baka (meninggal dunia). Selanjutnya kedudukan beliau sebagai patih agung digantikan oleh putra Kyayi Agung Petandakan.

Dikisahkan kembali Shri Nararya Kreshna Kepakisan yang menjabat patih agung pertama di Bali yang juga diberikan tugas sebagai mata-mata oleh Patih Gajah Maddha di Bali, karena dalam pikiran Gajah Maddha ada beberapa Pangeran Bali tidak setia dengan Dalem Ketut Kresna Kepakisan dan untuk itu putra beliau yang bernama Pangeran Made Asak dipercayakan mengemban tugas itu, itulah sebabnya Pangeran Made Asak mengelilingi desa-desa di Bali serta disebutkan beliau terakhir tetap tinggal di desa Kapal yaitu pada stananya Pangeran Kapal. Lebih lanjut keberadaan Pangeran Made Asak Desa Kapal beliau mempersunting istri putri dari Patih Tuwa Pangeran Kapal, dari perkawinannya itu melahirkan seorang putra yang bernama Kyayi Dhiler.

Lebih lanjut dikisahkan pada saat pemadegan Dalem Ketut Shri Semara Kepakisan di Bali tatkala itu  yang menjadi raja Majapahit adalah Dyah Hayam Wuruk Sri Rajasanegara, pada saat itulah beliau raja Majapahit mengundang para adhipati semuanya untuk datang ke Majapahit untuk mengadakan pertemuan, atas undangan beliau Dalem Ketut Shri Semara Kepakisan diiringi oleh Kyayi Agung Petandakan dan para tanda mantri datang ke Majapahit untuk menghadiri perteman tersebut. Tiada lain yang diwacanakan oleh beliau adalah tentang tata cara sebagai seorang pemimpin yang beliau sampaikan dan setelah itu Maharaja menghadiahi para adhipati sekalian sebilah keris bertuah bhusana kebesaran. Tidak disebutkan entah berapa bulan setelah itu tersebutlah Mpu Kayu Manis namanya beliau phandita inilah yang mendiksa Dalem Ketut Shri Smara Kepakisan, setelah beberapa tahun lamanya yaitu tepatnya pada tahun saka 1382 ( tahun 1460 masehi) Dalem Ketut Shri Smara Kepakisan berpulang ke alam baka (wafat).

Beliau digantikan oleh putra beliau yaitu Shri Waturenggong (tahun saka 1382 atau 1460) sebagai raja penguasa Bali, beliau memperoleh bimbingan tentang ilmu kepemimpinan dari Dangiang Nirarta yang datang ke Bali tahun 1411 atau tahun 1489 masehi hingga  atas bimbingan Dangiang Nirarta Shri Waturenggong sebagai penguasa penguasa Bali tidak ubahnya bagaikan Sanghyang Wisnu serta beliau sangat sakti. Tatkala pemerintahan Dalem Shri  Waturenggong Dangiang Nirarta memperkenalkan konsep Tri Purusha yaitu Siwa, Sada Siwa dan Parama Siwa yaitu prabhawanya Tuhan Hyang Maha Kuasa, dan memperkenalkan konsep Padmasana tempat memuja Ida Hyang Widhi Wasa.

Dikisahkan kembali Kyayi Agung Petandakan termasuk dengan sanak keluarganya sekalian membuat tempat pemujaan yang bernama Pura Dalem Agung yang berlokasi di Banjar Dhukuh Nyuhaya Desa Gelgel, kahyangan tersebut digunakan sebagai tempat suci bagi keturunan Shri Nararya Kreshna Kepakisan untuk menghaturkan sembah bhakti kehadapan Bhatara leluhurnya. Beliau Kyayi Patih Agung Petandakan menjabat sebagai patih agung karena sudah berusia senja, hingga pada suatu ketika beliau amoring Acintya(wafat), dengan wafatnya beliau maka kedudukannya sebagai patih agung digantikan oleh  tertuanya yang bernama Kyayi Agung Batan Jeruk. Kyayi Agung Petandakan meninggalkan empat orang putra yaitu : Kyayi Agung Batan Jeruk, adiknya Kyayi Bebengan, Kyayi Tusan dan yang paling bungsu bernama Kyayi Gunung Nangka. Dikisahkan adik-adik dari Kyayi Agung Petandakan antara lain Kyayi Satra yang mempunyai tiga orang putra yaitu : Sanghyang Mahep Kangin/ I Gusti Kanginan,  adiknya Sanghyang Marep Kaja/ I Gusti Kajanan dan yang paling buncit adalah Sanghyang Marep Kauh/ I Gusti Kawanan.

Kyayi Pelangan juga menurunkan putra sebanyak dua orang yaitu : I Gusti Peladung dan I Gusti Tambega, sedangkan Kyayi Kaloping juga menurunkan Sentana sebanyak empat orang yaitu : I Gusti Wayahan Kaloping, I Gusti Made Paduwungan, I Gusti Gede Kaloping, I Gusti Paksatata. Kyayi Akah juga menurunkan putra yang bernama : I Gusti Dawuh Bale Agung, dan I Gusti Popongan. Kyayi Cacaran menurunkan seorang putra yang bernama Pangeran Paninggungan. Dan Kyayi Anggan mempunyai seorang putra yang bernama I Gusti Padang Kerta. Jadi Kyayi Pelangan inilah yang melahirkan putra yang bernama I Gusti Ngurah Peladung, pengungsiannya ke sebelah timur kemudian tinggal di Desa Peladung seketurunannya dan ada juga yang beralih tempat tinggal menuju Banjar Kangkaang Desa Culik, di Banjar Kaler dan Pangi Tebel Desa Antiga Manggis, di Banjar Tojan Desa Pering blahbatuh sampai sekarang.

 

 

 

SINOPSIS SKANDA PURANA

Posted in Tulisan on April 4th, 2013 by yogagiri

Disebuah hutan suci yang bernama, naimasa, sunaka dan para rsi lainnya melakukan yajna. Lomasa adalah seorang rsi murid dari vedavyasa. Dia datang untuk menghadiri yadnya. Para rsi meminta kepada Lomasa  untuk menceritakan tentang kharisma Siwa. Lomasa pun kemudian bercerita, bahwa Daksa prajapati telah memberikan putrinya kepada Siva, untuk dinikahi. Tetapi Daksa sedikit kecewa dengan sikap menantunya yang kurang menghargainya. Ia mulai mengucilkan Siva dan membuat suatu yajna tanpa mengundang Siva. Daksyani menghadiri  yajna itu walaupun ia tidak diundang. Tetapi Daksa menghina Siva didepan Daksayani. Daksayani tidak tahan dengan penghinaan terhadap suaminya, dia mengakhiri hidupnya dengan menceburkan diri kedalam api korban. Siva datang dengan wajah dan senjata yan menakutkan, muncul dari tanah pengorbanan tempat yajna itu dilakukan. Siva mengambil rambut gelungannya dan menjatuhkan digunung Kaliasa. Dari rambutnya muncul mahluk yang bernama Virabhadra. mahluk itu bermata tiga, memiliki ribuan tangan dan mengendarai kereta yang ditarik singa dan harimau. Dari pandangan panas Siwa lahir berbagai macam demam dan infeksi, dan juga dei Kali, yang dikelilingi para hantu dan roh-roh.  Karena hal inilah Siva bersedih dan menenggelamkan dirinya dalam meditasi khusuk. Dengan tidak adanya Siva setan-setan mulai mengancam dunia.

Salah satu dari raksasa itu adalah Taraka, anak dari Namuci. Dia menyenangkan hati Brahma melalui meditasi dan meminta dirinya agar tidak terkalahkan, Brahma memberinya anugrah seperti yang ia mau, akan tetapi ia hanya akan kalah dalam pertarungan apabila lawan tandingnya anak kecil. Taraka tetap bahagia dengan anugerah ini. Dia memerangi para dewa, para dewa diusir dari surga dan tak ada yang menolong mereka. Ketika para dewa bersedih dan menyesali nasib mereka, suara yang agung terdengar dari langit, bahwa anak Sivalah yang akan memebunuh Taraka, sehingga para dewa harus melakukan sesuatu untuk menikahkan Siva. Para dewa menghadap ke gunung Himalaya, Himalaya dan istrinya, Mena(Menaka) memohon agar meraka dianugrahi seorang putri, dan seoarng anak perempuan benar-benar lahir kedunia. Anak itu kemudian dikenal dengan Gauri, Uma, dan Parwati. Dia sebenarnya tiada lain adalah Daksayani yang lahir kembali sebagai Parwati. Ketika Parwati berumur delapan tahun, Himalaya mengajaknya ketempat Siva bermeditasi. Parwati setiap hari mengunjungi Siva,tetapi Siva tidak tertarik padanya, para dewa kemudian mengirim Madana (dewa cinta) ke pertapaan Siva dan menciptakan suasana yang harum dan dipenuhi denga kicauan burung. Dia melepaskan anak panahnya pada Siva dan mengganggu meditasinya. Siva membuka mata ketiganya dan melihat Parwati dihadapannya, dan karangan bunga di tangannya, tetapi Siva juga melihat Madana yang memberikan bantuan padanya. Siva menjadi marah dan mata keriganyya mengeluarkan api dan membakar Madana menjadi abu. Siva meninggalkan pertapaan itu dengan perasaan marah dan parwati tetap ditempat itu dan melakukan tapasya yang sangat sulit walaupun ia hanya gadis kecil, dia memutuskan hanya akan makan daun-daunan segar, kemudian daun-daun kering sampai akhirnya ia memutuskan untuk tidak makan sehalai daun pun dan juga tidak meminum air. Sampai akhirnya Siva merasa terkesan dengan  yang dilakukan parwati, dan akhirnya Siva setuju untuk menikah dengan Parwati. Dari pernikahan mereka lahirlah seorang anak yang bernama Skanda, yang memiliki satu kepala, satu leher, tetapi memiliki enam kepala, dua belas mata, dua belas telinga dan dua belas tangan. Setelah kelahirannya , Skanda mulai menghujani anak panah dan tombak pada gunung Sveta. Kemudian para dewa meminta Skanda untuk membunuh raksasa Taraka. Dia menciptakan kerusuhan, jeritannya menggetarkan hati para raksasa. Para dewa tidak mengenal siapa sebenarnya anak itu. Mereka berpikir bahwa ia mungkin seorang musuh, para dewa mendesak Indra untuk membunuh Skanda. Para dewa meminta agar Kumara menjadi jendral mereka. Mereka menempatkannya pada barisan pertama berlangsung, Sena putri Mertyu (kematian) yang cantik datang. Para dewa memberitahu Siva dan atas nasehat Brahma, bahwa sebelumnya Sena bermeditasi sehingga ia dapat menjadikan Kumara sebagai suaminya.  Kerjasama disepakati dan Kumara menikah dengan Sena. Karena inilah Kumara bernama Senapati, yang berarti suami Sena (kata senapati juga berarti jendral dari suatu pasukan).  Pada saat yang kritis ini mulai terjadi pertengkaran antara Parwati, Garga dan Krttika, mereka saling mengakui Skanda sebagai anaknya. Narada menenangkan para krttika, dengan menjelaskan bahwa anak itu adalah milik dari Siva dan Parwati yang dimaksudkan untuk membunuh raksasa yang bernama Taraka. Ketika para dewa dan raksasa berhadap-hadapan di medan perang. Skanda mengendarai kereta atau wahana angkasa (vimana). Dewa bulan membawa tabir matahari yang memayungi kepala Skanda. Indra mengendarai gajah, para dewa seperti Yama,Varuna dan Kubera ikut berperang dengan pasukan mereka. Raksasa Taraka mengendarai Vimana yang sangat hebat. Dia juga mengenakan tabir matahari diatas kepalanya. karena mengirim Skanda yang merupakan anak yang masih kecil. Mendengar perkataan Taraka, Indra langsung melempar Vajra pada Taraka, tetapi Taraka menjatuhkan Indra ke tanah dan kemudian memukulnya dengan Vajra indra sendiri. ketika Virabhadra mencoba untuk melindungi Indra, Taraka menusuk dada Virabhadra dengan tombak.

Skanda kemudian memasuki medan perang, lalu Skanda dan Taraka saling melontarkan tombak ampuhnya masing-masing, samapai akhirnya Skanda memotong kepala Taraka dengan tombak. Selain membunuh Taraka Skanda juga membunuh Pralamba dan Vana.

Sebagian besar dari isi Skanda purana adalah penjelasan tentang tirta (tempat suci peziarahan). Arjuna yang merupakan saudara ketiga dari pandawa, Arjuna suatu hari mengunjungi lima tirtha suci yang terdapat di pesisir pantai di bagian selatan lautan. Diceritakan bahwa Narada juga menggambarkan kehebatan tirta Mahisagarasangama pada Arjuna, Narada juga memberitahu Arjuna tentang tiga lingga yang didirikan Skanda di Mahi sagara sangama. Dari Mahisagarasangama hingga Stambesa, terdapat sebuah hutan yang penuh dengan semak-semak dan tumbuh yang menjalar. Seekor kambing betina terperangkap dalam jalinan dari duri dan daun-daun ini. Karena tak dapat melepaskan diri, kambing betina ini mati kelaparan dan kehausan. Tidak secara sengaja tubuhnya jatuh ke sungai mahi sagara sangama. Tetapi kepalanya tetap tersangkut di tumbuhan menjalar dan semak-semak itu. Kambing betina itu terlahir sebagai putri raja satasrnga, raja dari kerajaan Simhala pada jaman kali yuga. dimana kepala putri tersebut tetap berkepala kambing dikarenakan hanya tubuhnya sajalah yang jatuh ketempat suci itu sedangkan kepalanya tidak. Setelah diketahuinya yang menyebabkan kepalanya seperti itu, putri ini pergi ke Mahi sagara sangama. setelah sampai disana, dia mencari kehutan dan menemukan kepala kambing dari kelahirannya terdahulu, sekarang hanya tinggal kulit dan tulang. Setelah membakar kepala itu, ia menaburkan abunya ke air suci Mahi sagara sangama, wajahnya seketika menjadi manusia. Salah satu reinkarnasi Wisnu adalah menjadi babi hutan, wisnu menceritakan pada bumi tentang tirtha yang bernama venkatala. Dalam masa satya yuga, seorang raja yang bernama Indradjumna memerintah kota avanti. Dia adalah raja dari keturunan dinasti matahari.  Tirta yang terkenal lainnya adalah gokarna. Rsi Gautama berbicara pada Mitrahasa, seorang raja yang merupakan keturunan dinasti Iksvaku. Terdapat tempat suci yang banyak dan juga patung Siva yang terbuat dari batu di Gokarna. Disini terdapat linga yang bernaman Mahabala adalah linga yang tersakti. Berwarna putih pada saat satya yuga, kuning pada dwapara yuga dan hijau pada kali yuga. Para sarjana berpendapat bahwa Skanda Purana tidak hanya satu tetapi terdapat lebih dari satu ditemukan diberbagai bagian negara. Ini dibuat sedemikian rupa untuk memuliakan kuil-kuil dan tempat-tempat suci. Daerah yang terletak antara sungai varuna dan Asi dikenal dengan Varanasi atau Kasi. Siwa sendiri memberi tahu Skanda bahwa Kasi adalah tempat yang sangat suci dan tempat yang sakral dari ketiga dunia. Kota Kasi dibangun oleh Wiswakarma atas perintah Siwa.  Pada masa dwapara yuga, seorang raja telah membuat kota ini terbakar. Raja ini telah menyenangkan Siwa melalui meditasi dan memohon anugrah agar dapat mengalahkan Kresna dalam sebuah pertempuran. Siva mengabulkan permintaan itu dan akhirnya raja pun menantang Kresna, tetapi cakra sudarsana telah menebas lehernya. Senjata itu juga membunuh semua prajurit raja. cakra itu kini berpaling pada kota dan membakar segalanya. Tembok, bangunan,lapangan,tempat tinggal, semua dilahap olehnya. Siwa sekarang melawan cakra itu, tetapi mengaku kalah. Kota itu juga dihancurkan ditangan anak raja Haihaya dan keturunan Manu. Mereka datang suatu hari ketika Haryaswa adalah raja Kasi, membunuh dan pergi. Mereka datangg untuk kedua kalinya ketika anak Haryasva, Sudewa menjadi raja, mereka juga membunuh Sudewa dan pergi. Ketika anak Sudewa Divodasa menjadi raja, ia menyerang kota. Tetapi anak Haihaya menyerang untuk ketiga kalinya. Kota itu dihancurkan, semua harta bendanya dirampok dan semua keluarga kerajaan dihabisi termasuk raja itu sendiri. Tirta yang terakhir yang disebutkan dalam Skanda Purana  bernama Prabhasa yang terletak dipesisir pantai.

Halo dunia!

Posted in Tak Berkategori on Maret 21st, 2013 by yogagiri

Selamat Datang di Blog Institut Seni Indonesia Denpasar. Ini adalah post pertama anda. Edit atau hapus, kemudian mulailah blogging!