Category Archives: Kajian Gamelan Bali

Filsafat Gamelan Semar Pegulingan

PENDAHULUAN

1 Latar Belakang.

Secara  arafiah kata filsafat beraal dari kata’ filos” dan ‘ sofos” artinya merenung, memikirkan dan mencari, kemudian “sofos” artinya kebenaran sehinga filsafat sring di artikan sebagai usaha mencari dan menemukan suatu kebenaran. Ketika manusia hidupnya masih sederhana dan bersahaja yang artinya ngat terikat oleh alam maka keinginan manusia untuk menemuka siatu kebenaran sangat di ikat oleh mitos-mitos alam, sehingga filsafat di rumuskan sebagai usaha spekulatif. Stelah manusia mampu meggunakan intelektualnya  maka usaha manusia untuk mencari dan menemukan kebenaran sangatditentukan oleh  kegiatan intlektualnya.

Filsafat adalah suatu ilmu pengetahuan yang mengandung mencari dan mendapatkan keterangan yang sedalam-dalamnya mengenai realitas dan menggunakan akal budi. Oleh karena itu filsafa ilmu pengetahuan sering di kaitkan dengan filsafat akal budi.

Sedangkan Seni di rumuskan sebagai hasil keterampilan, technik, kejuruan yang didorong oeh kreatifitas dan konstruksi, pada tataa  snisebagai techne, hamper setiap gerak dan sikap manusia yang di ekspresikan  secara teratur dan tesusun di sebut dengan seni, termasuk seniberpidato, seni politik, seniberdeklamasi dan lein-lain.

Dalam seni karawitan, filsafat juga menjadi bagian-bagian dari seni karawaitan Bali, yang begitu kental dengan sejarah-sejarah atau mitos-mitos dari kemunculan barungan-barungan gambelan yang ada di Bali.

 

2 Rumusan Masalah

2.1  Filsafat gambelan Bali………?

2.2  Filsafat dalam gambelan semar pegulingan….?

3 Tujuan.

3.1 Untuk mengetahui filsafat  Gambelan Bali.

3.2 Untuk mengetahui filsafat pada gambelan semar pegulingan.

4 Manfaat.

Adapun manfaat yang di proleh dari penulisan karya tulis ini adalah menambahnya pemaham pnulis tentang filsafat-filsafat yang terkandung dalam seni karawitan Bali.

 

PEMBAHASAN

1 Filsafat Gambelan Bali

Gambelan Bali merupakan warisan budaya dari nenek moyang pada zaman dahulu, yang berupa seprangkat alat bunyi-bunyian yang di mainkan pada waktu-waktu tertentu, dapat di lihat yang demikian banyaknya barungan dan jenis dari gambelan Bali yang beraneka ragam, begitu pula dengan sejarah kemunculan masing-masing dari gambelan tersebut sangat beraneka ragam, dan kebanyakan berupa mitos-mitos alam, dan sampai sekarang mitos tersebut masih kental dalam anggapan masyarakat, dan menjadikan  gambelan sebagai media persembahan yang disakralkan.

Uraian mengenai filsafat dalam gambelan Bali , Di mulai dengan terciptanya bunyi, suara, nada, dan ritme oleh sang hyang tri wisesa, di mana nada- nada itu di wujudkan dengan simbul,” panganggening aksara” seperti bisah, taleng, dan cecek. Gambelan sebagai musical instrument atau sebagai musik tak dapat dipisahkan dari konsep keseimbangan hidup manusia dengan sesamanya,

Orang Bali , dimana pun ia berada dan apapun yang ia kerjakan,konsep keseimbangan hidup ini ajan menjadi dasar perbuatannya. Sesuai dengan dasar filsafat yang tercantum dalam lontar Prakempa.

Menurut falsafah Prekempe bahwa bunyi mempunyai kaitan yang erat dengan dengan konsepsi lima dimensi yang di namakan panca maha butaha( pertiwi, akasa ,bayu, teja apah) bunyi dan warnanya  masing-masing meyebar ke bumi, dan membentuk sebuah lingkaran yang di sebut dengan   pengider buana.

Pencipta dari bunyi it barnama bagawan Wiswakarma da ciptaan beliau mengambil dari ide dari bunyi 8 pejuru dunia yang sumbernya berada pada dasar bumi, suara itudi bentuk menjadi sepuluh(10) nada yaitu 5 nada yang disebut dengan laras pelog dan 5 nada yang di sebut dengan laras selendro, nada-nada itu berkaitan denga panca tirta dan paca geni, dua sumber keeimbangan hidup manusia.

Laras pelog mempunyai hubungan dengan panca tirta dan laras selendro berkaitan dengan panca geni, panca tita merupakan manimfestasi dari sang hyang samara, dan panca gen merupakan  manimfestasi dari bethari Ratih, dari sepuluh nada yang dijiwai oleh bathara samara dan bathari ratih sebagai dewa percintaan bersumber pada tujuh nada yang urutannya sebagai berikut: ding, dong deng, ndung, dung, dang, nding, ketujuh nada di atas merupan sumber dari bunyi gambelan yang ada di bali dan menurut Prekempa bunyi itu di sebut dengan gente pinara pitu( bunyi berjarak tujuh) ( alenia:7:10).

Disamping itu tercipta pelog 5 nada, selendro 5nada dan pelog tujuh nada, Prakempe juga menyebut tiga nada yang berkaitan dengan tri aksara( ang, ung, mang) dan selendro 4nada yang berkaitan dengan catur loka pala( indara, yama, kwera, baruna) .

2 Filsafat Pada Gambelan Semarapegulingan.

Semar pegulingan adalah merupakan gambelan yang berlaraskan pelog 7 nada, dimana kemunculan gambelan samar pegulingan ini merupakan gambelan golongan madya, semar pegulingan merupakan transformasi dari pegambuhan, dalam ajaran catur muni-muni, yang artinya: catur artinya empat, muni-muni artinya bunyi-bunyian, ada empat bunyi-bunyian yaitu :

1 . Smar pegulingan, artinya Dewa Asmara tidur, gendingnya pegambuhan untuk mengiringai barong singa .

2  Semar patangian, artinya Dewa asmara bangun, gendingnya pasesendonan untuk mengikuti tarian legong.

3  Smar palinggihan, artinya Dewa asmara duduk , gendingnya pagagudenan untuk mengikuti tarian jogged yang di pingit .

4  Smar padirian, artinya Dewa asmara berdiri, gendingnya pakakinongan untuk mengiringi barong keket.

Ada pun bunyi- bunyian itu , yakni:

1 Smar pegulingan di tiru dari indra loka.

2 Smar petangian di tiru dari yama loka,

3 Semar pelinggihan di tiru dari  kwera loka.

4 Smar pandirian ditiru dari baruna loka.

Bunyi-bunyian yang empat macam inilah yang di pakai dalam istana raja, sebab kalau di dunia raja itulah sama dengan Dewa caten-loka-phala (Indra, Yama, Kwera, Baruna.) ke utamaan beliau adalah di alam gaib.

Ada pun deretan titi laras empat macam bunyi-bunyian itu, sama dengan pelog tidak lain, hanya titi larasnya ada 5,6, dan 7. manakah yang di gemari.  Kalau  bertiti laras lima kedengaran:  dang, ding, dong deng, dung. Kalau bartiti laras enam, bertambah lagi satu, ada suara kedengaran miring(bero) sebagai suara yang kelima tadi, bersayu padu dengan suara dang besar. Dalam titi laras tujuh, bertambah lagi satu ada kedengeran suara miring kecil ( bero alit) sebagai tadi berpadu dengan suara dong kecil,

Inilah klompok( babanengan) bunyi-bunyian yang sesuai dengan tata kawannya: kalau semar pegulingan yaitu: kempul, kempungan, kajar,  seruling,

terompong, jublag, penyahcah, gangsa besar, gangsa menengah, gangsa kecil, gumanak , kangsi, ricik,

Jika semar petangian  ; yaitu: kempul, kemong, kajar, gupekan, rebab, suling, gender, jegogan , jublag , penyahcah, kantila, gangsa, gumanak, gente arag, kecek.

Jika samara palinggihan,yaitu: kempul, dengung, kemong, kendang lalanangan, rebab, suling, trompong, curing, jegogan , jublag, penyahcah , gangsa, gumanak, kangsi, ricik.

Jika semar pandiryan,yaitu: kempul, dengung, kemprung, kemong, kendang, kala-kala, rebab, suling, jegogan, jublag , penyahcah, kantilan gangsa , gumanak, gente arag, kocak,

Dapun dahulu sebangsa orang yang bertapa di hutan pegunungan di pertapaannya ada kelihatan bunyi-bunyian, ; gender, trompong, curing, curing itu yang berdaun kayu yang dinamai apil, gendernya memakai pelawah bambu, terompongnya memakai pelawah batok kelapa, itu ketiganya di namai bunyi-bunyian salunding.

Adapun patuan titi laras bebonangan dan gong. Sesuai juga dengan tit laras pelog, yaitu: dang, dimg, dong, deng, dung, gendingnya bebonangan dinamai “Ketug Bumi”, atau debaran bumi. Kalau suara yang dinamai: “ Ora Okaca”, angkasa lengkap. Adapun riwayat bebonangan itu, meniru dasar bumi, tatkala sebangsa buta kala berkumpul, paa saat itu di pukul bubonangan itu, gemetar perasaan dunia olehnya, itulah sebabnya bebonangan di pakai mengupacarai senjata segala perlengkapan raja danpada waktu melatih barisan senjata.

Adapun riwayatnya gong, ditiru dari atas angkasa, tatkala dewa-dewa nawa sanga  di langit dan para rsi berkumpul pada waku itu di pukul bunyi-bunyian gong itu , merasa seakan akan akan roboh angkasa olehnya, membuat kecut hati. Sebab itu suara gong di pakai bunyi-bunyian tatkala tamu dating, dan pada waktu datang orang untuk mengelu-elukan raja.

Adapun kelompok bebarungan gong bebonangan: gong, kempul, bebende, pongang, kemong , kemprung, rariong, kendang, rebab, suling , jegogan, jublag, penyahcah, gangsa, gumanak , ceng-ceng.

 

PENUTUP

Kesimpulan.

Filsafat gambelan bali di mulai dari terciptanya bunyi, suara, nada, dan ritme oleh sang hyang tri wisesa, dimana nada-nada itu di wujudkan dengan simbul penganggening aksara(bisah, taleng, cecek)

Pencipta dari bunyi adalah bagawan wiswakarma, ciptaan beliau mengambil dari 8 penjuru dunia dan di bentuk menjadi 10 nada, yaitu 5 nada pelog berhubungan dengan panca tirta, manimfestasi dari bathara samara dan 5 nada selendro berhubungan dengan panca geni manimfestasi dari bhatari ratih.

1 . Smar pegulingan, artinya Dewa Asmara tidur, gendingnya pegambuhan untuk mengiringai barong singa .( di tiru dari: Indara loka)

2  Semar patangian, artinya Dewa asmara bangun, gendingnya pasesendonan untuk mengikuti tarian legong.(di tiru dari : Yama loka)

3  Smar palinggihan, artinya Dewa asmara duduk , gendingnya pagagudenan untuk mengikuti tarian jogged yang di pingit .(di tiru dari:Kwera loka)

4  Smar padirian, artinya Dewa asmara berdiri, gendingnya pakakinongan untuk mengiringi barong keket.( di tiru dari: Baruna loka)

III. Saran-saran

Hendaknya perlu di pembahasan khusus tentas filsafat baik yang mengacu tentang karawitan, sehingga mahasiswa lebih memahami tentang filsafat itu.

 

                                               DAFTAR PUSTAKA

Ariyasa, I Nyoman,1976/1977, Perkembangan Seni Karawitan Bali, Denpasar, Proyek sasana budaya Bali.

Bandem, I Made,1986, Prakempa (Sebuah Lontar Gambelan Bali).Denpasar, STSI.

Seramasara, I G N,2004, Modul Filsafat Seni, denpasar,STSI

 

 

 

 

 

 

Gambuh Desa Pedungan

PENDAHULUAN

1.  LATAR BELAKANG PERMASALAHAN

Gambuh adalah sumber daripada pertunjukan kesenian klasik Bali. Gambelan Gambuh dianggap sebagai sumber dari beberapa gambelan Bali, dan banyak mengilhami gending-gending yang dipergunakan pada gambelan-gambelan lainnya seperti, Gambelan Semar Pegulingan, Pelegongan, Bebarongan, dan lain-lainnya.

Sebagai kesenian klasik tradisional, kehidupan Gabuh dewasa ini nampak adanya suatu gejala yang kurang menggembirakan. Oleh karena itu dalam upaya untuk melestarikan kesenian Gambuh ini, penulis merasa tertarik untuk menyelidiki tentang gambelan Gambuh ini, sebagai obyek karya tulis.

Ada beberapa hal yang mendasari penulis untuk menyelidiki gambelan Gambuh ini sebagai obyek karya tulis antara lain:

  1. Melihat kenyataan bahwa akhir-akhir ini kehidupan gambelan Gambuh nyaris diancam kepunahan.
  2. Menyadari bahwa pencatatan gending-gending klasik Bali umumnya dan gending Gambuh khususnya masih sangat sedikit adanya.
  3. Gambuh mempunyai suatu corak tersendiri, terutama dari bentuk gending-gendingnya.

Demikianlah beberapa hal yang mendasari penulis untuk menyelidiki gambelan Gambuh ini sebagai obyek penelitian. Di dalam penguraiannya nanti, tentunya sangat tergantung pada sedikit banyaknya data yang penulis dapatkan.

2.  RUANG LINGKUP

Untuk menghindari terjadinya pembicaran yang terlalu luas mengenai gambelan Gambuh sehubungan dengan obyek penyelidikan ini, maka penulis memandang perlu untuk mengadakan pembatasan pembicaaran pada hal-hal sebagai berikut:

2.1 Instrumentasi Gambelan Gambuh tersebut.

2.2 Jenis-jenis dan struktur gending-gending petegak pada Gambelan

2.3        Jenis-jenis dan struktur gending-gending iringan tari pada Gambuh tersebut.

3.  TUJUAN PENELITIAN

Seperti telah dijelaskan pada latar belakang permasalahan tersebut diatas, ingi juga penulis mnambahkan tujuan dari penelitian Gambelan Gambuh ini yaitu:

3.1. Tujuan umum

  • Sebagai pernyataan formal bagi penulis untuk meraih nilai tugas pengantar teori kerawitan.
  • Untuk menambah khasanah perpustakaan di bidang kebudayaan umumnya dan karawitan khususnya.
  • Untuk meningkatkan kemampuan meneliti.
  • Mungkin juga bisa dipakai untuk kreasi di dalam olah karawitan.

3.2. Tujuan Khusus

  • Ingin memperoleh pengetahuan secara terperinci tentang ganbelan Gambuh ini.
  • Untuk penyebaran informasi tentang gambelan Gambuh.

4.METODE PENELITIAN

Dalam usaha untuk mencapai hasil penelitian sesuai dengan tujuan penyelidikan ini, maka penulis melaksanakan penyelidikan ini dengan menggunakan metode diskriptif.

ASAL USUL

 1. Asal Usul

Untuk menyebutkan scara pasti kapan berdirinya sekaa Gambuh di Desa Pedungan, sungguh sangat sulit. Hal ini disebabkan oleh sedkitnya sumber data yang dapat dijadikan bahan dalam menelusuri asal mula ksenian ini. Namun demikian, setelah penulis mendatangi atau menjumpai beberapa informan yang penulis sangat tahu tentang Gambuh ini, maka akhirnya asal mula Gambuh ini dapat penulis teliti dengan bantuan beberapa orang yang dapat dihubungi oleh penulis antara lain:

I Gede Geruh, seorang tokoh dan penari Gambuh yang saat ini telah berusia 76 tahun mengungkapkan bahwa, Gambuh yang beliau warisi hingga dewasa ini adalah juga warisan dari kakek-kakeknya yang hidup sekitar tahun 1836 atau boleh dikatakan jauh sebelum perang Puputan Badung. Kakeknya adalah termasuk salah satu tokoh seni di Desa Pedungan, yang kemudian menjadi penari Gambuh Duwe Puri Pemecutan. Selain menjadi penari milik puri, lalu di Desanya sendiri kakeknya telah berhasil merintis sekaa Gambuh bersama kawan-kawannya yang berasal dari beberapa Banjar di Desa Pedungan dan dari luar Desa Pedungan. Pada masa berurutan, di Desa Sesetan pernah pula dibentuk sebuah sekaa Gambuh yang berasal dari penari-penari Gambuh Duwe Puri Denpasar.

Dekatnya jarak antara Desa Pedungn dengan Desa Sesetan adalah menyebabkan baiknya komunikasi atau hubungan antara kadus sekaa Gambuh ini, sehingga sering terjadi pinjam meminjam alat-alat Gambelan atau perlengkapan lainnya. Setelah meletusnya perang habis-habisan melawan Belanda (Puputan Badung), para penari-penari Gambuh dari Pedungan menghimpun dan menyempurnakan kembali sekaa Gambuhnya, dan akhirnya terbentuklah sekaa Gambuh seperti yang di warisi hingga dewasa ini. Dalam perjalanan hidup sekaa Gambuh di Pedungan ini, banyak pasang surut yang telah dilaluinya. Pada tahun 1930 an Gambuh ini pernah mengalami masa yang sangat gemerlang, dan seringkali mengadakan pementasan ke luar Daerah Kabupaten Badung, antara lain ke Karangasem, Singaraja, beberapa orang yang pernah menjadi pelatih Gambuh di Desa Pedungan ini yakni:

  1. I Wayan Nyongolan (almarhum) dari Banjar Puseh Pedungan.
  2. Gusti Gede Candu (almarhum) dari Banjar Geladag Pedungan.
  3. I Wayan Dunia (almarhum) dari Banjar Gelogor Denpasar.

Pada dewasa ini yang bertindak sebagai pelatih Gambuh di Desa Pedungan adalah I Gede Geruh sendiri menangani dalam bidang tari, dan I Nyoman Lemping sebagai pelatih tabuhnya.

– Perkembangannya

Perkembangan suatu seni pertunjukan tidak bisa dilepaskan dengan masyarakatnya sendiri, sebab masyarakat merupakan pendukung utama dan tempat hidupnya seni pertunjukan itu.

v  Agar seni pertunjukan itu dapat berkembang baik, harus ada kerja sama yang baik dari semua pihak dalam hal ini; 1). Pengayon dari Pemerintah, 2). Penggarapan dari kaum seniman itu sendiri, 3). Apresiasi dari masyarakat penghayatnya.

Akan halnya perkembangan Gambuh di Desa Pedungan merupakan dramatari klasik Bali, nampak mengalami perkembangan yang secara perlahan menurun sejak tahun 1950 hingga menjelang tahun 1960 an. Berdirinya Lembaga Pendidikan Seni Tari di Bali (ASTI) pada tahun1966 nampaknya merupakan upaya Pemerintah untuk melestarikan Gambuh ini, dengan menjadikan kesenian ini sebagai bahan pelajaran. Diangkatnya beberapa tokoh Gambuh di Pedungan yakni I Gede Geruh, I Nyoman Lemping Cs sebagai tenaga Dosen luar biasa dalam mata kuliah praktek tari dan karawaritan Gambuh, nampaknya sempat pula menjadikan suatu rangsangan untuk bangkitnya sekaa Gambuh di Desa Pedungan ini.

Lebih lebih dengan berhasilnya pementasan Gambuh oleh Mahasiswa ASTI Denpasar yang diperkuat oleh sekaa Gambuh dari Pedungan, di Jaba Puri Satriya pada tahun 1967 merupakan suatu tantangan bagi sekaa- sekaa Gambuh di Bali umumnya dan di Desa Pedungan khususnya. Dalam kurun waktu yang tidak panjang, maka Gambuh di Pedungan akhirny pernah bangkit dai tahun 1968 hingga tahun 1970.

Sejak tahun 1970 ini hingga sekarang, Gambuh di Desa Pedungan keadaannya sangat memprihatinkan. Sekaa Gambuh yang pada mulanya memiliki struktur pertunjukkan yang lengkap ternyata pada dewasa ini tidak banyak memiliki kader-kader penari, dan instrument pengiringnya telah semakin banyak rusak “aci” atau upacara di Pura Puseh, Gambuh ini hanya dapat dipentaskan dengan penari seadanya dan gambelan yang tidak lengkap. Ada beberapa hal yang menjadi factor penyebab diancamnya Gmbuh Pedungan oleh kepunahan yaitu:

  1. Kurangnya minat masyarakat setempat terhadap Gambuh yang dianggap sudah tidak menarik lagi dan sulit untuk dimengerti oleh kaum muda khususnya. Dengan demikian, masyarakat dewasa ini lebih banyak mengarahkan perhatiannya terhadap hiburan lain yang lebih disukai.
  2. Kurangnya perhatian kalangan tokoh-tokoh tua tehadap pmbentukan kader-kader penabuh dan penari yang mungkin sekali bisa mempercepat punahnya Gambuh di Pedungan ini.
  3. Struktur organisasi sekaa Gambuh hingga kini tetap merupakan sekaa yang diayomi oleh dua banjar yakni banjar Puseh dan banjar Menesa, namun dari pihak banjar sendiri dapat memberikan suatu perhatian dan dana di dalam usaha untuk melestarikan Gambuh ini. Akibatnya bagi mereka yang memang betul-betul mencintai kesenian ini merasa dirugikan.

2. Fungsinya

Musik yang mengiringi dramatari Gambuh disebut gambelan Gambuh. Gembelan Gambuh juga sebagai sumber dari musik Bali. Disamping tuning sistem, repertoire dari pegambuhan masih terdengar pada gambelan-gambelan lain seperti:Gambelan semar pegulingan, Gambelan pelegongan, Gambelan bebarongan, Gambelan pecalonarangn,Gambelan pearjan, Gambelan Gong Gede, Gambelan gong kebyar, dan lain-lain.

Gambelan Gambuh juga berfungsi untuk mengiringi tari:

v  Tari Perong Condong

v  Tari Demang Tumenggung

v  Tari Prabu Lasem

v  Tari Arya

v  Tari Kadyan-kadyan

v  Tari Putri

v  Tari Kakan-kakan

v  Tari Patih Manis

v  Tari Panji Nekin

v  Tari Panji Ngugal

v  Tari Melayu

v  Tari Prabu Manis

v  Tari Prabu Keras

v  Tari Prabangsa

3. Organisasinya

Gambuh di Desa Pedungan terhimpun dalam sebuah wadah Organsasi social yang disebut “sekaa” yang mempunyai jumlah anggota yang tidak kurang dari 200 orang. Sekaa ini diayomi oleh dua banjar yakni banjar Puseh dan banjar Menesa Pedungan, terdiri dari golongan masyarakat berkasta Kesatriya dan golongan masyarakat biasa (jaba). Organisasi ini diurus oleh suatu badan pengurus yang disebut “Kelian” dengan dibantu oleh beberapa orang pembantu yang disebut “Prajuru” yang masing-masing bertanggung  jawab atas pekerjaan yang dibebankan kepadanya.

Anggota sekaa mempunyai kewajiban untuk bertanggung jawab secara moril maupun material terhadap kehidupan Gambuh ini.

Walaupun sekaa Gambuh ini di Desa Pedungan tidak memiliki suatu Anggaran Dasar tertulis, namun demikian ia juga mempunyai suatu peraturan yang dibuat dan diputuskan didalam rapat. Misalnya saja peraturan-peraturan itu yakni, anggota sekaa diharuskan hadir ngaturan ayah pentas setiap kali odalan di Pura Puseh Pedungan, maupun pentas untuk keperluan lainnya.

Hingga sekarang ini tercatat bahwa, I Made Suci asal dari banjar Puseh yang menjadi “Kelian” dan bertanggung jawab atas perkembangan sekaa Gambuh di Desa Pedungan.

INSTRUMEN DAN PENYAJIAN

 1.INSTRUMENTASI

Ada beberapa hal yang perlu untuk diuraikan sehubungan dengan instrumentasi daripada gambelan Gambuh di Desa Pedungan. Dalam kaitan ini ada hal-hal yang akan penulis uraikan:

1.1. Bentuk Barungannya

Gambelan Gambuh di Pedungan, merupakan barungan Gambelan kecil bila dibandingkan dengan gambelan Gong Kebyar. Dalam barungannya, terdiri dari beberapa buah instrument sebagai berikut :

  1. Sebuah Rebab
  2. Empat buah suling besar
  3. Dua buah kendang kerumpungan (lanang wadon)
  4. Sebuah Kajar
  5. Sbuah Keleneng (rusak)
  6. Ricik satu tungguh (rusak)
  7. Sebuah kenyir
  8. Satu pancer Genta Urag
  9. Gumanak tiga buah (saat ini sudah hilang)
  10. Kangai dua buah (hilang)
  11. Sebuah kempur (rusak)

Barungan gambelan tersebut di atas nampak tidak jauh berbeda dengan apa yang diuraikan dalam lontar “Aji Gurnita” yang menyebut-nyebut gambelan pengambuhan sebagai gambelan Maladperana, yang isinya sebagai berikut:

“Kunang parwakaning gambelan, deniya Maladperna tiniladan sakeng Semaralaya deniya rum amanis karungu, yogya huniyan-huniyan ira Sang Natha Ratu adangun Resta ing Karatonira. Kanaliya pinalu sthananiya para hasyanira Sang Prabhu ring yawa…………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………Kunang bebarunganiya:

  1. Kampul asikim pasawur paketutan ding pelok sinarungan dening pasawur selendro.
  2. Rebab sawiji.
  3. Suling pangambahm wanguniya luwih ageng dening suling penggeng sawiji, pasawurniya ngumbang ngisep.
  4. Suling pangageng sepasang, paraswaraniya ngumbang ngisep.
  5. Suling bebarang sepasang, paswaraniya ngumbang ngisep.
  6. Mwah suling penitir wanguniya lwih alit dening barangan sawiji, pasawurniya ngisep alit.
  7. Kenyar setungguh, wanguniya ndong pelog kaselendroang.
  8. Kenong sawiji sawurniya ndong pelog kaselendroang.
  9. Kajar sawiji sawurniya ndung pelog kaselendroang.
  10. Kendang sepasang lanang wadon.
  11. Gumanak tigang wiji alit.
  12. Kangai kalih tungguh alit-alit.
  13. Ricik petang tungguh alit-alit.

1.2. Sistem Nada

Apabila kita berbicara tentang sistem nada dalam kaitannya dengan gambelan Gambuh di Desa Pedungan, maka perhatian kita tentunya akan tertuju kepada kelompok instrument pemegang melodi, yakni suling Gambuh dan Rebab. Kedua instrument ini dengan teknik permainnannya masing-masing dapat mewujudkan laras pelog saih pitu dengan beberapa modus atau patet yakni:

  1. Selisir
  2. Tembung
  3. Sundaren
  4. Baro
  5. Lebang

Menurut I Nyoman Kaler (almarhum) patet-patet tersebut memiliki komposisi sebagai berikut:

  1. Tembung  : I     II      –      IV     V     VI       –
  2. Selisir       : I     II     III      –      V     VI       –
  3. Sunaren    : –     II     III      –      V     VI     VII
  4. Baro         : I      –     III     IV     V      –       VII
  5. Pengantar : –     II     III     IV     –      VI      VII

Patet-patet ini apabila dipraktekkan didalam suling Gambuh, maka akan mempunyai komposisi tetekep sebagai berikut:

Komposisi Tetekep Suling Gambuh Pedungan

1. Tetekep Tembung

Tangga Nada

A           I           O          B          U          A          E          O          E

 

X          X          X          X          X          O          X          X          X

X          X          X          X          O          O          X          X          O

X          X          X          X          O          O          X          O          O

X          X          X          O          O          X          O          O          O

X          X          O          O          O          X          O          O          O

X          O          O          O          O          X          O          O          O

2. Tetekep Selisir

Tangga Nada

E           U          A          I           O          E           U          A          I           O

 

X          X          X          X          X          O          X          X          X          X

X          X          X          X          O          X          X          O          X          O

X          X          X          O          O          X          O          O          O          O

X          X          O          O          O          X          O          O          O          O

X          X          O          X          X          X          O          O          X          X

X          O          O          X          X          X          O          O          X          X

3. Tetekep Sudaren

Tangga Nada

O         I        O        E         U        A         I         O        E        U        A        I          O

 

X        X        X        X        O        O        X        X        X        O        O       X         X

X        X        X        X        X        X        X        X        X        X        X        X        O

X        X        X        O        O        X        X        X        X        O        X        O        X

X        X        X        O        O        X        X        X        O        O        X        O        X

X        X        O        X        X        X        X        O        X        X        X        O        X

X        O        O        X        X        X        O        O        X        X        X        O        X

4. Tetekep Lebang

Tangga Nada

O        E         U        A        E        O        E        U        A         I         O        E         E

 

X        X        X        X        X        O        X        X        X        X        O        X        X

X        X        X        X        O        X        X        X        X        X        X        X        O

X        X        X        X        O        X        X        X        X        O        X        X        O

X        X        O        O        O        X        X        O        O        X        X        O        O

X        X        O        X        X        X        X        O        X        X        X        O        O

X        O        O        X        X        X        O        O        X        X        X        O        O

5. Tetekep Baro

Tangga Nada

A          I          O         E         U

X         X         O         O         O                         X         O          O          X          X

X         O         O         X         O                         O         O          X          X          X

X         O         O         X         X                         O          O          X          X          X

Keterangan Nada :

X            = Lubang nada tertutup.

O            = Lubang nada terbuka.

O            = Lubang nada tertutup setengah (tetekep mipit).

A            = Ndang rendah.

I              = Nding.

O            = Ndong.

E             = Ndeng.

U            = Ndung.

A            = Ndang ngelik.

I             = Ndaing.

U            = Ndeung.

Patut diketahui bahwa dalam memainkan suling Gambuh adalah mempergunakan sistem pengaturan nafas yang tidak terputus-putus atau di Bali dinamakan “ngunjal angkian”. Untuk dapat mewujudkan nada-nada menjadi 3 (tiga) atau 4 (empat) oktaf, maka tiupan nafas dapat dibedakan menjadi: tiupan halus (coloh), tiupan menengah (sedang), tiupan agak keras dan tiupan sangat keras sekali (ngelik).

1.3. Tugas Instrumen

Gambelan Gambuh merupakan warisan seni yang bersifat klasik tradisional, bentuk orkestrasinya adalah memiliki unsure-unsur melodis disamping juga ritmis.

Dari unsure melodisnya, dalam barungan gambelan Gambuh ini kita dapat melihat 2 macam alat yaitu suling dan rebab yang berfungsi sebagai pembawa lagu dan tekniknya masing-masing.

Dari unsur ritmisnya, masih dapat dibedakan menjadi:

v  Instrumen Pemangku Lagu

1 (satu) buah kempur, berfungsi sebagai Gong dan menentukan akhir dari gending.

1 (satu) buah kajar, berfungsi sebagai pemegang matra dan memperkaya ritme didalam beberapa lagu. 1 (satu) buah klenong, bermain imbal dengan kajar. 1 (satu) buah kenyir, bermain imbal dengan klenong.

2 (dua) pasang gumanak, berfungsi untuk memperkaya ritme.

v  Instrumen Pemurba Irama

2 (dua) buah kendang, berfungsi sebagai pemurba irama, mengatur cepat lambatnya lagu.

1 (pangkon) ricik, yaitu cengceng kecil yang berfungsi untuk memperkaya ritme.

1(satu) tungguh genta urag yang berfungs untuk memperkaya ritme.

2 Laras yang Digunakan

Laras yang dipakai dalam gambelan Gambuh disebut laras pelog, laras pelog pegambuhan disebut juga pelog saih pitu, yaitu terdiri dari 5 (lima) nada pokok dan 2(dua) nada pemero. Di dalam gambelan Gambuh laras pelog itu bisa di turunkan kedalam 5(lima) patetan / tetekep atau modes.

Pepatutan yang terdapat di dalam gambelan Gambuh di Pedungan Denpasar ialah:

Ding      Dong      Deng      Dung      Dang

  1. Selisir         :       146        176         379         131         168
  2. Baro           :       117        204         409           94          376
  3. Tembung    :       107        200         372           98          423
  4. Sunaren      :       123        175         391           75          346
  5. Lebeng       : up   243          76         305          102        463

Down   400          76         305           102       305

3. Gending-gendng Gambuh di Desa Pedungan

Ada beberapa hal yang kiranya perlu penulis ungkapkan dalam kaitannya dengan gending-gending Gambuh di Desa Pedungan ini antara lain:

3.1. Bentuk Gending

Gending-gending Gambuh di Desa Pedungan dapat dibedakan menjadi 2 (dua) bagian yaitu:

  • Gending alus, untuk mengiringi tarian manis.
  • Gending keras, untuk mengiringi tarian keras.

3.2. Nama-nama Gending

Setelah penulis berusaha menghubungi beberapa tokoh pengerawit Gambuh di Desa Pedungan, ternyata sekaa ini cukup banyak memiliki gending-gending pengambuhan, dan hingga dewasa ini masih dapat diingat-ingat secara keseluruhan maupun sebagian-sebagian, mengingat kurangnya suatu pencatatan (notasi) gending-gending Gambuh ini dan kurangnya sekaa ini sempat melaksanakan latihan-latihan.

Gending-gending Gambuh di Desa Pedungan, mempunyai pengelompokan sebagai berikut:

1. Gending-gending Petegak

  • Batel.
  • Tabuh Gari.
  • Langsing Tuban
  • Pengecet Sekar Edel.
  • Pengecet Anuan.
  • Semambang Bali.
  • Pengecet Pengarip.

2. Gending-gending pengiring tari

  • Perong Condong.
  • Subandar untuk mengiringi tarian kakan-kakan.
  • Sumambang untuk mengiringi yarian putrid.
  • Sekar gadung untuk mengiringi tarian kadyan-kadyan.
  • Tembung untuk mengiringi tari arya.
  • Bapang gede untuk iringan tarian Demang Tumenggung.
  • Tunjur, untuk iringan tarian Patih manis.
  • Bapang selisir, untuk tarian Panji Nekain.
  • Lengker cenik, untuk tarian panji nekin.
  • Lengker gede, untuk tarian Panji ngugal.
  • Sumeradas, untuk tarian Panji ngugal.
  • Beremara, untuk tarian melayu dan panji.
  • Gadung Melati, untuk tarian panji, Melayu, Prabu manis.
  • Lasem, untuk tarian Prabu Lasem.
  • Godeg Miring, untuk tarian Prabu keras.
  • Jaran Siring, untuk tarian Prabu keras.
  • Biakalang, untuk tarian Prabangsa.
  • Rerangsangan, untuk iringan tari kekerasan dan juga manis nekain.
  • Suduk baru, untuk iringan tarian tetangisan.
  • Banyak Bandil, untuk iringan tarian copet.
  • Gending Gagang, untuk tari dagang.
  • Gending unduk, untuk pertunjukan wayang Gambuh.

Dari deretan gending-gending tersebut di atas, dalam penyajiannya adalah sangat tergantung pada lakon yang diambil dalam pementasan.

3.3. Struktur Gending-Gending Gambuh di Desa Pedungan

Sesungguhnya gending-gending dari masing-masing barungan gambelan Bali memiliki cirri atau identitas sendiri-sendiri, Demikian pula halnya dengan Ganbelan Gambuh yang dikatakan sebagai sumber dari gambelan-gambeln Bali lainnya, adalah mempunyai suatu struktur atau bentuk gending yang telah tertentu.

Dalam perkembangan seni karawitan dewasa ini, struktur gending-gending pegambuhan nampak telah banyak mempengaruhi bentuk-bentuk gending barungan gambelan lainnya. Terlepas dari adanya sifat mempengaruhi satu dengan yang lainnya, apabila kita berbicara tentang struktur Gending-Gending Gambuh di Pedungan, maka untuk menentukan panjang pendeknya ukuran gending pada suatu jagu pegambuhan, oleh pengerawit-pengerawit kita sering menyebut dengan istilah “Tabuh”. Sehingga sering kita mendengar istilah tabuh pisan, tabuh kalih, tabuh telu.

Istilah tabuh di dalam gambelan Gambuh, ditentukan oleh palet pada pengawak gending Ganbuh. Sedangkan Palet ditentukan oleh aksentuasi kajar tiap satu palet terdiri dari 16 (enam belas) ketuk sebagaimana yang terdapat dalam gending-gending pegongan, hanya saja didalam gening Gambuh terdiri dari 32 (tiga puluh dua) ketuk.

Lebih lanjut Bapak I Nyoman Rembang mengatakan, bahwa di dalam gending pegembuhan, selain ada istilah tabuh pisan, tabuh kalih, tabuh kelu,masih ada lagi jenis tabuh yang disebut tabuh “bebaturan, yaitu jenis-jenis lagu-lagu yang byasanya dipergunakan untuk mengirimngi tari kekeraan.

Gending-gending semacam ini misalnya ada disebut gending Sekar Gadung yang dapat digolongkan ke dalam tabuh telu bebaturan, fungsinya sebagai iringan tari kadian-kadian. Ukuran panjang lagu bebaturan ini, adalah sama panjang dengan ukuran pengawak gending Perong Condong.

Gambelan Gambuh di Desa Pedungan, memiliki gending-gending yang ditarikan disamping gending-gending instrumental (tanpa tari). Secara umum gending-gending Gambuh di Pedungan mempunyai ukuran tabuh pisan, kalih, telu. Namun demikian struktur gending-gending Gambuh ini adalah juga tergantung pada jenis serta paileh tari.

Struktur gending-gending Gambuh di Pedungan dapat dibedakan menjadi 2 bagian yakni:

1.Struktur Gending Untuk Iringan Tari

1.1.Iringan Tari Kekerasan

v  Kawitan dengan bebaturan

v  Pengawak, dengan melodi berganti-ganti sampai tiga kali jatuh kempul

v  Kembali bebaturan seperti pada bagian kawitan

1.2. Iringan Tari Manis

v  Kawitan dengan pukulan malpal

v  Pengawak, tiap-tiap kempul berganti melodi

v  Pengecet, kadang kala berganti-ganti melodi beberapa kempul

v  Panalpal penyuwud

4. Struktur Gending-gending Petegak

Gending-gending petegak, mempunyai suatu strutur yang hampir sama dengan gending-gending iringan tari, terutama tari manis. Namun kadang-kadang gending-gending petegak ini mengambil hanya bagian pengecet.

Di bawah ini penulis mencoba membuat suatu kerangka sebuah gending Gambuh untuk iringan tari Condong, dengan memakai ukuran tabuh pisan.

Kerangka Tabuh Pisan Perong Condong, Tetekep Selisir

………………………. 16

………………………. 16

………………………. 16

………………………. 16  = angsel kajar

……………………… 16

……………………… 16

……………………… 16

……………………… 16

……………………… 16  = jatuhnya pukulan kempur

PENUTUP

Sebagai penutup karya tulis saya ini, berdasarkan uraian-uraian tersebut di atas dapatlah penulis memberikan beberapa kesimpulan serta saran-saran sebagai berikut:

1. KESIMPULAN

  1. Gambuh di Desa Pedungan telah sebelum perang Puputan Badung (tahun 1936) yang dirintis oleh kakek Gede Geruh, dan Gambuh ini tahun 1930-an pernah mengalami masa yang gemilang.
  2. Gambuh di Desa Pedungan, adalah berbentuk sebuah organisasi “sekaa” yang anggotanya tidak kurang dari 200 orang, diayoni oleh 2 (dua) Banjar yakni Banjar Puseh dan Bajar Menasa Pedungan.
  3. Dalam perkembangannya dewasa in, sejak tahun 1950 ini Gambuh ini secara perlahan nampak menurun dan keadaannya sangat memprihatinkan dialami pada tahun 1970 hal mana disebabkan karena kurangnya perhatian masyarakat setempat terhadap kesenian ini, dan tidak tersedianya biaya dari sekaa maupun banjar untuk memelihara perlengkapan Gambuh ini.
  4. Gambuh di Desa Pedungan hingga dewasa ini masih memiliki jenis-jenis gending yang ditarikan dan tanpa tari dan memiliki struktur gending ukuran tabuh pisan, dua, telu, dan bebaturan.

2. SARAN-SARAN

Sehubungan dengan kesimpulan di atas, maka di bawah ini penulis dengan kerendahan hati ingin mengemukakan saran-saran bagi sekaa Gambuh di Desa Pedungan.

2.1. Saran-saran Umum

Saran-saran umum ini penulis tujukan kepada masyarakat pencinta seni umumnya, khususnya para seniman karawitan dan tari, dengan penuh harapan penulis sarankan bahwa:

  1. Mengingat semakin langkanya kehidupan Gambuh di Bali umumnya, alangkah baiknya bila kita ikut menjaga kelestarian kesenian ini, mengingat kesenian warisan budaya yang tinggi mutunya baik dari segi tariannya maupun karawitannya.
  2. Pemerintah dalam hal ini hendaknya juga tidak jemu-jemunya menggalakkan jenis-jenis kesenian klasik yang diancam kepunahan termasuk pula Gambuh di Desa Pedungan. Dengan cara mengadakan parade Gambuh se Bali atau dengan cara lainnya.

2.2. Saran-saran Khusus

Saran-saran khusus ini penulis tujukan kepada sekaa Gambuh di Desa Pedungan khususnya.

  1. Mengingat semakin lanjutnya usia penabuh dan penari Gambuh di Desa Pedungan ini, mutlak diperlukanpembibitan kader-kader untuk kelestarian kesenian ini.
  2. Untuk menjaga kelestarian dari gending-gending Gambuh ini yang nampaknya semakin banyak yang telah dilupakan, maka penotasian gending-gending ni perlu dilaksanakan.
  3. Kelian sekaa dalam hal ini bertanggung jawab atas kehidupan Gambuh ini, hendaknya mencarikan jalan yang terbaik untuk mendapatkan dana untuk perawatan alat-alat perlengkapan tari atau gambelan Gambuh ini, dan hendaknya diadakan latihan-latihan ringan terutama hal-hal yang menyangkut gending-gending Gambuh ini.