Pola kendang dan reyongpenggalan gending pengecet kebyar duduk

Dalam video kali ini, menampilkan sebuah penggalan karya dari I Maryo dari Tabanan pada tahun 1925 dengan judul Tari Kebyar Duduk. Karya ini sangatlah dikenal pada kalangan seniman khusunya seni karawitan dan tari. Selain menampilkan karya yang utuh (tari dan karawitan) disisi lain juga karya musikal ini digunakan untuk ajang kreatifitas untuk menampilkan skil dalam bidang karawitan dengan instrumen satu instrumen reyong dan satu instruen kendang gupekan. Namun tidak seutuhnya karya ini digunakan dalam ajang tersebut, yang digunakan hanyalah penggalan dari karya tersebut yaitu pada bagian pengecet dan pekaad saja.
Pada dasarnya pola ubit-ubitan reyong yang digunakan pada video diatas yaitu dominan pada ubit-ubitan norot, disisi lain terdapat pengembangan-pengembangan pola yang terkadang disebut dengan “alihan-alihan”. “Alihan-alihan” merupakan istilah bali yang mempunyai arti yang mendalam tentang pengambilan beberapa motif antara pemain reyong 1 dengan pemain reyong 2, begitu juga sebaliknya pada pemain reyong 2 dengan 1 dan pemain 2 dengan pemain 3, dan selanjutnya. Disisi lain kata “alihan-alihan” ini juga dapat digunakan sebagai tanda dari beberapa gaya motif dari masing-masing kabupaten, misalnya “alihan-alihan” gaya Pinda Gianyar, dan lain-lain.
Pada dasarnya pola kendang secara mendasar memiliki nama antara lain yaitu, pola papalan, cingklak, jangkar, jangkar sisipan, dan lain-lain. Peranjak dari pola tersebut, seniman yang menekuni instrumen kendang tunggal mulai menguasai dan dapat mengembangkan dengan cara menggabungkan antara pola-pola tersebut dengan berbagai imajinasi dari seniman tersebut.