Tabuh Genggong

Gending Genggong ini merupakan sebuah karya tabuh petegak yang dibuat oleh alm. I Wayan Lotring dengan konsep Palegongan. Palegongan yang berasal dari kata Legong yang memiliki arti “… sebuah tarian klasik Bali yang memiliki pembendaharaan gerak yang sangat kompleks yang diikat oleh struktur tabuh pengiring yang konon merupakan pengaruh dari Gambuh (Dibia, 1999: 36)” dengan mendapatkan awalan pa dan akhiran an dan digabungkan menjadi sebuah kata yaitu Palegongan yang memiliki arti menyerupai Legong. Dikatakan dengan konsep Palegongan yaitu dengan kata lain hanya menggunakan instrument-instrumen pada gamelan Semar Pegulingan saih lima terkecuali instrument trompong, karena konsep pelegongan ini yaitu mencirikhaskan tarian Legong atau bisa dikatakan hampir menyerupai tari Legong. Dalam buku Gamelan Bali di Atas Panggung Sejarah karya dari I Made Bandem disebutkan bahwa gamelan Palegongan disebut sebagai Semara Pandirian yang dari sebutan tersebut merupakan ulasan dari lontar Prakempa dan lontar Aji Ghurnita.
Mengenai gending dengan konsep Palegongan yang berjudul Genggong ini diperkirakan lahir di Bali Selatan khususnya di daerah Kuta. Masyarakat atau sumber- sumber informan yang diwawancarai tidak mengetahui tahun tercipta gending tersebut melainkan hanyalah diberikan gending yang sudah ada sebelumnya yang dikomposisikan oleh alm. I Wayan Lotring. Sumber informan atau narasumber tersebut juga mengatakan bahwa pada saat terciptanya gending-gending dari alm. I Wayan Lotring pada saat itu masih anak-anak, dan tidak mengetahui apapun yang terjadi pada masa itu, serta pada saat ini narasumber tersebut hanyalah sebagai sekaa pada generasi ketiga. Salah satu narasumber yang ikut berkecimpung dalam sekaa pada generasi ketiga tersebut diantaranya yaitu I Wayan Dendi sebagai pemain gender rambat, dan I Wayan Suwija sebagai pemain gangsa kantilan. Dikatakan bahwa pada saat itu,
generasi ketiga atau generasi bapak I Wayan Dendi dalam mempelajari karya-karya dari alm. I Wayan Lotring hanyalah lewat perantara dari sekaa generasi kedua. Namun hal tersebut tidak menutup kemungkinan untuk tetap melestarikan kesenian khususnya pada gamelan Semar Pegulingan saih lima.