Archive for Maret, 2018

Sejarah Tari Di Bali

Senin, Maret 26th, 2018

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada zaman Pra-Hindu kehidupan orang-orang di Bali dipengaruhi oleh keadaan alam sekitarnya. Ritme alam mempengaruhi ritme kehidupan mereka. Tari-tarian meraka menirukan gerak-gerak alam sekitarnya seperti alunan ombak, pohon ditiup angin, gerak-gerak binatang dan lain sebagainya. Bentuk-bentuk gerak semacam ini sampai sekarang masih terpelihara dalam Tari Bali. Dalam zaman ini orang tidak saja bergantung kepada alam, tetapi mereka juga mengabdikan kehidupannya kepada kehidupan sepiritual. Kepercayaan mereka kepada Animisme dan Totemisme menyebabkan tari-tarian mereka bersifat penuh pengabdian, berunsurkan Trance (kerawuhan), dalam penyajian dan berfungsi sebagai penolak bala. Salah satu dari beberapa bentuk tari bali yang bersumber pada kebudayaan Pra-Hindu ialah sang hyang. Oleh karena itu, penulis ingin menjelaskan bahwa Tari Bali akan selalu di kenang sepanjang masa sehingga tarian bali tetap dilestarikan sebagai budaya dunia.

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang didapat adalah :

  1. Bagaimana sejarah kemunculan tari Bali?
  2. Apa saja jenis-jenis tari Bali?
  3. Apa pengertian tari Bali?
  4. Apa saja dasar-dasar tari Bali?
  5. Bagaimana klasifikasi tari Bali?
  6. Apa fungsi dari tari Bali?

C. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan ini adalah :

  1. Untuk mengetahui sejarah kemunculan tari Bali.
  2. Untuk mengetahui lebih jauh tentang keistimewaan tari Bali.
  3. Untuk memberikan sedikit pemahaman mengenai tari Bali, dengan harapan paper ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan bagi pembaca.

D. Metode Penulisan

Adapun metode penulisan paper ini penulis hanya menggunakan metode pustaka yakni mencari sumber-sumber pembelajaran yang terdapat di internet.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Sejarah Munculnya Seni Tari

Sejarah dimulai dari masyarakat feudal kemudian berlanjut ke masyarakat modern hingga sekarang. Pada masyarakat feodal perkembangan Tari Bali ditandai oleh elemen kebudayaan hindu. Pengaruh hindu di Bali berjalan sangat pelan-pelan. Dimulai pada abad VII yaitu pada pemerintahan raja ugra sena di Bali. Kebudayaan bali yang berdasarkan atas penyembahan leluhur ( animisme dan totemisme) bercampur dengan Hinduisme dan budhisme yang akhirnya menjadi kebudayaan hindu seperti yang kita lihat sekarang catatan tertua yang menyebutkan tentang berjenis-jenis seni tari ditemui di jawa tengah yaitu batu bertulis jaha yang berangka tahun 840 Masehi. Pada zaman Feodal tari berkembang di istana, berkembang juga dalam masyarakat. Hal ini disebabkan oleh kepentingan agama yang tidak pernah absen dari tari dan musik. Di dalam masyarakat modern yang dimulai sejak kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1945, patromisasi dari kerajaan-kerajaan di zaman Feodal mulai berkurang. Pada masa ini banyak diciptakan kreasi-kreasi baru, walaupun kreasi baru itu masih berlandaskan kepada nilai tradisional; yaitu hanya perubahan komposisi dan interpretasi lagu kedalam gerak.

B.Jenis-Jenis Tari

Adapun jenis-jenis tari Bali menurut perkembangan sejarah adalah :

  1. Seni Tari Tradisional : Seni tari tradisional adalah unsur kesenian yang menjadi bagian hidup masyarakat dalam suatu kaum/puak/suku/bangsa tertentu. Tradisional adalah aksi dan tingkah laku yang keluar alamiah karena kebutuhan dari nenek moyang yang terdahulu.
  2. Seni Tari Kontemporer : Seni tari kontemporer Indonesia meminjam banyak pengaruh dari luar, seperti tari ballet dan tari modern barat.

C. Pengertian Tari

Tari merupakan ungkapan perasaan manusia yang dinyatakan dengan gerakan-gerakan tubuh manusia. Dari pengertian tersebut tampak dengan jelas bahwa hakekat daripada tari adalah gerak.

Sehubungan dengan hal tersebut dalam buku Kamus umum Bahasa Indonesia dinyatakan bahwa:

“Tari adalah gerakan badan (tangan dan sebagainya) yang berirama dan biasanya diiringi dengan bunyi-bunyian (seperi musik, gamelan)”. Poerwadarminta, (1976 : 1020). Gerak-gerak dari bagian tubuh manusia yang disusun selaras dengan irama musik serta mempunyai maksud tertentu. Selanjutnya dalam buku pendidikan seni tari disebutkan bahwa “seni tari adalah ungkapan nilai-niliai keindahan dan keluhuran lewat gerak dan sikap”. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan seni tari dalam judul skripsi ini adalah ekspresi jiwa manusia yang diwujudkan melalui gerak keseluruhan tubuh yang indah. Gerak ini ditata dengan irama lagu pengiring sesuai dengan lambang watak dan tema tari.

D. Dasar-Dasar Tari Bali

  1. Agem : Agem adalah sikap pokok yang mengandung suatu maksud tertentu yaitu suatu gerak pokok yang tidak berubah-ubah dari satu sikap pokok ke sikap pokok yang lain. Agem terdiri dari bermacam-macam bentuk misalnya, mungkah lawang, ngerajasinga, nepuk kampuh, ngeteg-pinggel, dan lain-lain.
  2. Tandang : Tandang adalah cara memindahkan suatu gerakan pokok kegerakan pokok yang lain, sehingga menjadi satu rangkaian gerak yang bersambungan. Tandang di bagi menjadi 3 bagian yaitu :
  3. Abah : perpindahan gerak kaki menurut komposisi tari.
  4. Tangkis : perkembangan tangan seperti luknagasatru, nerudut dan ngelimat
  5. Tangkep : Tangkep adalah mimik yang memancarkan penjiwaan tari yaitu suatu ekspresi yang timbul melalui cahaya muka.Tangkep terdiri dari beberapa macam yaitu :
  6. Luru : yaitu rasa gembira yang luar biasa yang diwujudkan dengan mimik
  7. Encah cerengu : yaitu perubahan dari suatu mimik kemimik yang lain
  8. Manis cerengu : yaitu senyum sambil mendelikan mata.

E. Klasifikasi Tari Bali

1. Tari menurut fungsi

  • Seni tari Wali/Sakral (religius dance), tarian ini berfungsi sebagai pelengkap pelaksana dalam upacara keagamaan yang dilakukan di Pura pada saat upacara agama, sebagai pelaksana upacara dan upakara agama tidak pakai lakon contohnya tari Rejang, tari Pendet.
  • Seni tari Bebali/ceremonial dance, adalah seni tari yang berfungsi sebagai pengiring upacara/upakara di Pura-pura atau di luar pura pada umumnya memakai lakon, contohnya Drama Tari, Topeng, Arja.
  • Seni tari Bali-balian (secular dance), adalah segala tari yang mempunyai unsur dan dasar tari dari seni tari yang luhur yang tidak tergolong tari wali ataupun tari bebali serta mempunyai fungsi sebagai seni serius dan seni hiburan. Contohnya, tari Legong, Tari Oleg Tamulilingan, dll.

Dalam uraian di atas dapat disimpulkan bahwa menurut fungsinya tari dibedakan menjadi tiga yaitu: Tari Wali merupakan tarian sakral yang hanya ditarikan di tempat-tempat suci, Tari Bebali, yang masih ada hubungannya dengan upacara adat baik di Pura maupun di luar Pura yang sudah memakai lakon, tari Bali-balian, tarian yang sudah mengandung unsur seni dan hiburan.

2. Tari menurut koreografer

  • Tarian Rakyat, adalah tarian yang sudah mengalami perkembangan masyarakat primitif sampai sekarang. Tarian ini sangat sederhana dan tidak begitu mengindahkan norma-norma keindahan dan bentuk yang standar. Pada zaman masyarakat primitif tarian ini merupakan Tarian Sakral yang mengandung magis. Gerak-gerik tariannya sangat sederhana karena yang dipentingkan adalah keyakinan yang terletak di belakang tarian tersebut., contohnya tarian meminta hujan, tarian untuk mempengaruhi binatang buruan.
  • Tari Klasik, adalah tari yang semula berkembang dikalangan Raja dan bangsawan yang telah mencapai kristalisasi artistik yang tinggi sehingga memiliki nilai tradisional.
  • Tari Kreasi Baru, adalah tarian yang sudah diberi pola garapan baru, tidak lagi terikat kepada pola-pola yang telah ada dan lebih menginginkan kebebasan dalam hal ungkapan meskipun sering gerakannya berbau tradisi.

3. Tari menurut cara penyajian

Jenis tari menurut penyajiannya dibagi 3 yaitu:

  • Tari Tunggal, adalah tari pertunjukan yang hanya ditarikan oleh satu orang penari.
  • Tari Berpasangan, adalah tarian yang dilakukan oleh dua peran, diantara peran yang satu dengan yang lainnya saling melengkapi atau ada kaitan yang erat di dalam koreografinya baik berpasangan sejenis maupun berpasangan tidak sejenis.
  • Tari Massal, adalah tarian ini bisa juga disebut drama taro karena selain diuraikan banyak orang juga membawakan suatu cerita lengkap atau sebagian.
  • Tari menurut tema atau isinya
  • Tari Panthomin, yaitu tarian yang menirukan gerak-gerik dari objek yang terdapat diluar diri manusia.
  • Tari Erotik, adalah tarian yang mengandung isi yang erotis atau percintaan.
  • Tari Eroik/Tari Kepahlawanan, yaitu tarian yang mempunyai latar belakang penghindaran terhadap penderitaan (Tari Barong) dan tarian Perang (Tari Baris).
  • Drama Tari yaitu tarian yang membawakan suatu cerita biasanya ada yang berdialog dan ada yang tidak memakai dialog.

F. Fungsi Tari Bali

  1. Sebagai sarana upacara dimana gerakannya ayang ritmis dan lemah gemulai. Tari bali juga mempunyai Setiap sikap tangan dengan gerakan tubuh memiliki makna dan kekuatan tertentu sehingga tarian ini tidak hanya menampilkan keindahan rupa atau pakaian, tetapi mempunyai kekuatan sekala dan niskala.
  2. Sebagai sarana hiburan seperti tari dalam penyambutan, seperti menyambut tamu-tamu kehormatan saat ada pertemuan umum.
  3. Sebagai budaya yang dilestarikan sepanjang jaman. Tari Bali kini sudah di akui sebagai salah satu budaya yang paling indah di internasional.
  4. Sebagai kharakteristik budaya bali. Ciri khas orang local yang tinggal di bali atau penduduk asli bali pasti memiliki unsur-unsur rohani bakal calon penari, walaupun struktur tubuhnya tidak bagus.

BAB III

PENUTUP

A.Kesimpulan

Tari Bali merupakan budaya peninggalan agama hindu yang tetap dilestarikan, kita sebagai generasi penerus harus menjaga tari-tari yang ada di Bali agar tidak di klaim oleh Negara tetangga sehingga budaya yang kita miliki tetap asri. Selain itu kita harus menjaga dan meningkatkan mutu tarian dengan memperhatikan struktur dan guna tarian tersbut, sehingga tari Bali tetap lestari.

B. Saran

  1. Dengan telah dibuatnya paper kesenian yang berjudul Kesenian Tari Bali semoga dapat bermanfaat bagi kami khususnya selaku penyusun dan para pembaca umumnya.
  2. Disamping itu dengan adanya paper ini semoga para pembaca dapat mengembangkan sekaligus melestarikan kesenian tradisional dan tentunya dapat menyusun paper yang lebih baik dari paper yang kami buat.
  3. Kebudayaan berharga yang patut kita jaga dan kita lestarikan sebagai aset dan kekayaan budaya bangsa Indonesia. Selain untuk menjaga identitas bangsa, jgn sampai pula kebudayaan negara kita di klaim oleh negara tetangga (malaysia) maupun Negara-negara lain. Oleh sebab itu, ada baiknya kita menghargai warisan budaya bangsa ini sebaik-baiknya. Dan dapat menanamkan rasa cinta terhadap kesenian tradisional Bangsa Indonesia, mempererat tali persatuan dan kesatuan.

 

DAFTAR PUSTAKA

http://purnamiap.blogspot.co.id/2013/09/makalah-tari-bali.html

http://www.ragamseni.com/9-tarian-adat-bali-yang-populer/

Kebudayaan Dan Masyarakat

Senin, Maret 26th, 2018

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Manusia terlahir sebagai mahkluk budaya dalam artian mahkluk yang memiliki kemampuan menciptakan kebaikan, kebenaran, keadilan dan bertanggung jawab. Sebagai mahkluk berbudaya, manusia mendayagunakan akal budinya untuk menciptakan kebahagiaan baik bagi didinya maupun bagi masyarakat demi kesempurnaan dirinya. Untuk mewujudkan hal tersebut maka diperlukan dasar ilmu yakni Kebudayaan.

Istilah kebudayaan merupakan tejemahan dari istilah culture dari bahasa Inggris. Kata culture berasa dari bahasa latin colore yang berarti mengolah, mengerjakan, menunjuk pada pengolahan tanah, perawatan dan pengembangan tanaman dan ternak. Upaya untuk mengola dan mengembangkan tanaman dan tanah inilah yang selanjutnya dipahami sebagai culture. Sementara itu, kata kebudayaan berasal dari bahasa sansekerta, buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari kata buddhi. Kata buddhi berarti budi dan akal. Kamus besar Bahasa Indonesia mengartikan kebudayaan sebagai hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budaya) manusia seperti kepercayaan, kesenian, dan adat – istiadat.

Menurut Koentjaraningrat (1985) menyebutkan ada tujuh unsur-unsur kebudayaan. Ia menyebutnya sebagai isi pokok kebudayaan. Ketujuh unsur kebudayaan universal tersebut adalah : Sistem Religi ; Sistem Organisasi Masyarakat ; Sistem Pengetahuan ; Sistem Mata Pencaharian Hidup dan Sistem – Sistem Ekonomi ; Sistem Teknologi dan Peralatan ; Bahasa ; Kesenian. Diantara ketujuh unsur kebudayaan diatas saya tertarik untuk menelaah Sistem Organisasi Masyarakat.

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah :

  1. Apa pengertian Masyarakat?
  2. Apa faktor terbentuknya Masyarakat?
  3. Bagaimana konsep Kebudayaan?
  4. Apa saja fungsi dan hakikat Kebudayaan dalam Masyarakat?

Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan ini adalah :

  1. Untuk mengetahui pengertian Masyarakat.
  2. Untuk memahami faktor terbentuknya Masyarakat.
  3. Untuk mengetahui apa saja tipe-tipe dalam Masyarakat.
  4. Untuk mengetahui sejauh mana hubungan kebudayaan dan masyarakat.

D. Metode Penulisan

Adapun metode penulisan makalah ini penulis hanya menggunakan metode pustaka yakni mencari sumber yang terdapat di internet.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Masyarakat

Masyarakat (sebagai terjemahan istilah society) adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut. Kata “masyarakat” sendiri berakar dari kata dalam bahasa Arab, musyarak. Masyarakat adalah sebuah komunitas yang interdependen (saling tergantung satu sama lain). 2.Umumnya, istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur.Berikut ini pengertian masyarakat menurut beberapa ahli :

  1. Koentjaraningrat : Masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinu, dan yang terikat oleh suatu rasa identitas bersama.
  2. Selo Soemardjan : Masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama, yang menghasilkan kebudayaan.
  3. Paul B. Horton & C. Hunt : Masyarakat merupakan kumpulan manusia yang relatif mandiri, hidup bersama-sama dalam waktu yang cukup lama, tinggal di suatu wilayah tertentu, mempunyai kebudayaan sama serta melakukan sebagian besar kegiatan di dalam kelompok / kumpulan manusia tersebut.
  4. Karl Marx : Masyarakat adalah suatu struktur yang menderita suatu ketegangan organisasi atau perkembangan akibat adanya pertentangan antara kelompok-kelompok yang terbagi secara ekonomi.

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa masyarakat adalah manusia yang hidup bersama di suatu wilayah tertentu dalam waktu yang cukup lama yang salingberhubungan dan berinteraksi dan mempunyai kebiasaan, tradisi, sikap, dan perasaan persatuan yang sama.

B. Terbentuknya Masyarakat

Kelompok sosial atau masyarakat terbentuk karena manusia-manusia menggunakan pikiran,perasaan, dan keinginannya dalam memberikan reaksi terhadap lingkungannya. Manusia mempunyai naluri untuk selalu berhubungan dengan sesamanya.Hubungan yang berkesinambungan ini mengahsilkan pola pergaulan yang disebut pola interaksi social.

Untuk terbentuknya suatu masyarakat, paling sedikt harus terpenuhi tiga unsur sebagai berikut :

  1. Terdapat sekumpulan orang
  2. Berdiam atau bermukim di suatu wilayah dalam waktu yang relative lama
  3. Akibat dari hidup bersama dalam jangka waktu yang lama itu menghasilkan kebudayaan berupa system nilai, system ilmu pengetahuan dan kebudayaan kebendaan.

C. Konsep Kebudayaan

Masyarakat adalah orang yang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan. Dengan demikian tidak ada masyarakat yang tidak mempunyai kebudayaan dan sebaliknya tak ada kebudayaan tanpa masyarakat sebagai wadah pendukungnya. Dalam pengertian sehari-hari, kebudayaan sering diartikan sama dengan kesenian. Akan tetapi apabila istilah kebudayaan diartikan menurut ilmu-ilmu social, kesenian merupakan salah satu saja dari kebudayaan. Dua orang antropolog terkemuka yaitu  Melvile J. Herskovit dan Bronislaw Malinowski, mengemukakan bahwa cultural determinism berarti segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan adanya kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu. Kemudian Herskovits memandang kebudayaan sebagai suatu yang super organic  karena kebudayaan yang turun temurun dari generasi kegenerasi tetap hidup terus, walaupun orang-orang yang menjadi anggota masyarakat senantiasa silih berganti disebabkan kematian dan kelahiran.

Kata ‘kebudayaan’ berasal dari budhayyah (bahasa sanksekerta) yang merupakan bentuk jamak dari ‘buddhi’, yang berarti budi atau akal. Kebudayaan diartikan sebagai hal-hal yang bersangkutan dengan budi atau akal.

Adapaun istilah culture yang merupakan bahasa asing, sama artinya dengan kebudayaan yang berasal dari kata latin colere. Artinya mengolah atau mengerjakan, yaitu mengolah tanah atau bertani. Sehingga culture dipahami sebagai segala daya dan kegiatan manusia untuk mengolah dan mengubah alam.

Antropolog EV Tylor memberikan definisi kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat.

D. Fungsi dan Hakikat Kebudayaan Dalam Masyarakat

Kebudayaan memiliki fungsi yang besar bagi manusia dan masyarakat.Masyarakat memiliki kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi dalam menjalani kehidupannya.Kebutuhan-kebutuhan masyarakat tersebut sebagian besar dipenuhi oleh kebudayaan yang bersumber pada masyarakat itu sendiri.Kemampuan manusia terbatas sehingga kemampuan kebudayaan yang merupakan hasil ciptaannya juga terbatas di dalam memenuhi segala kebutuhan.Hasil karya masyarakat melahirkan teknologi atau kebudayaan kebendaan yang mempunyai kegunaan utama di dalam melindungi masyarakat terhadap lingkungan dalamnya. Teknologi pada hakikatnya meliputi paling sedikit tujuh unsur, yaitu:

  1. Alat-alat produktif
  2. Senjata
  3. Wadah
  4. Makanan dan minuman
  5. Pakaian dan perhiasan
  6. Tempat berlindung dan perumahan
  7. Alat-alat transport

Kebudayaan mengatur supaya manusia dapat mengerti bagaimana seharusnya bertindak, berbuat menentukan sikapnya kalau mereka berhubungan dengan orang lain. Setiap orang bagaimanapun hidupnya, akan selalu menciptakan kebiasaan bagi dirinya sendiri. Kebiasaan merupakan suatu perilaku pribadi, yang berarti kebiasaan seseorang itu berbeda dari kebiasaan orang lain, walaupun mereka hidup dalam satu rumah.Kebiasaan menunjuk pada suatu gejala bahwa seseorang di dalam tindakan-tindakannya selalu ingin melakukan hal-hal yang teratur bagi dirinya sendiri.

Khusus untuk mengatur hubungan antar manusia, kebudayaan dinamakan pula struktur normatif atau menurut Ralph Linton, designs for lifing (garis-garis atau petunjuk dalam hidup). Yang dapat diartikan bahwa kebudayaan adalah suatu garis-garis pokok tentang perilaku atau blueprint for behavior, yang menetapkan peraturan-peraturan mengenai apa yang seharusnya dilakukan, apa yang seharusnya dilarang dan sebagainya.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Masyarakat adalah manusia yang hidup bersama di suatu wilayah tertentu dalam waktu yang cukup lama yang saling berhubungan dan berinteraksi dan mempunyai kebiasaan, tradisi, sikap, dan perasaan persatuan yang sama. Masyarakat tidak bisa dipisahkan dari kebudayaan dan kebudayaan juga tidak bisa dipisahkan dari masyarakat, keduanya saling terkait, saling mempengaruhi dan memiliki hubungan timbal balik dengan segala tipe dan unsur-unsur yang ada pada masyarakat.

B. Saran

Diharapkannya timbul kesadaran dalam diri sendiri bahwa betapa pentingnya unsur kebudayaan dalam masyarakat dan peran pemerintah dalam menjaga sistem kemasyarakatan dan pengaruh-pengaruh kebudayaan luar agar dapat difiltrasi menjadi kebudayaan yang sepatutnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

https://sahabatnesia.com/unsur-kebudayaan-universal/

https://raulchest.wordpress.com/2009/12/18/kebudayaan-dan-masyarakat/

 

Tari Oleg Tamulilingan

Rabu, Maret 14th, 2018

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pulau Bali dikenal oleh mancanegara sebagai pulau seribu pura. Karena mayoritas masyarakat bali adalah umat beragama Hindu. Disamping itu Pulau Bali memiliki kebudayaan yang begitu beragam seperti tari-tarian Bali, karawitan Bali, ornamen-ornamen khas Bali, sastra Bali, dan lain sebagainya. Dan semua itu tetap berlandaskan adat istiadat dan agama yakni agama Hindu.

Maka tidak dapat dipungkiri lagi para wisatawan dari luar negeri sangat senang dan tertarik untuk mempelajari kebudayaan dan kesenian yang ada di Bali baik seni tari, seni karawitan, seni rupa dan lain sebagainya. Dan salah satu yang sangat menarik minat wisatawan berlibur ke Bali adalah dari keragaman tari-tarian Bali, salah satunya adalah Tari Oleg Tamulilingan.

Disini penulis akan mencoba menyajikan sejarah Tari Oleg Tamulilingan dengan bentuk makalah ini agar penulis dan pembaca lebih mengerti dan lebih memahami alur sejarah terciptanya tari Oleg Tamulilingan ini.

B. Rumusan Masalah

Berrdasarkan uraian terdahulu, permasalahan yang dapat dirumuskan adalah :

  1. Bagaimana sejarah terciptanya Tari Oleg Tamulilingan?
  2. Bagaimana perkembangan Tari Oleg Tamulilingan pada masa kini?
  3. Apa saja fungsi dari Tari Oleg Tamulilingan?
  4. Bagaimana ragam gerak dari Tari Oleg Tamulilingan?
  5. Bagaimana tata kostum/busana dari Tari Oleg Tamulilingan?
  6. Apa jenis ensamble/perangkat musik yang digunakan untuk mengiringi Tari Oleg Tamulilingan

C. Tujuan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah :

  1. Untuk mengetahui sejarah terciptanya Tari Oleg Tamulilingan
  2. Untuk mengetahui fungsi dan perkembangan Tari Oleg Tamulilingan
  3. Untuk menambah wawasan pembaca tentang Tari Oleg Tamulilingan

D. Metode Penulisan

Adapun metode penulisan paper ini penulis hanya menggunakan metode pustaka yakni mencari sumber yang terdapat di UPT Perpustakaan yang berada di Gedung Lata Mahosadhi ISI Denpasar dan sumber-sumber yang terdapat di internet.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Sejarah Tari

Tari Oleg Tamulilingan diciptakan oleh seniman besar tari Bali yaitu I Mario dari Puri Kaleran, Tabanan kelahiran Klungkung. Oleg dapat berarti gerakan yang lemah gemulai, sedangkan tamulilingan berarti kumbang pengisap madu bunga. Tari Oleg Tamulilingan melukiskan gerak-gerik seekor kumbang, yang sedang bermain-main dan bermesra-mesraan dengan sekuntum bunga di sebuah taman.

Tari Oleg Tamulilingan merupakan karya cipta seniman besar I Ketut Marya atau lebih dikenal dengan panggilan I Mario yang paling populer di antara sejumlah ciptaannya. Tarian ini digarap tahun 1952 atas permintaan John Coast, budayawan asal Inggris yang sangat terkesan dengan kesenian Bali, untuk dipromosikan ke Eropa dan Amerika Serikat. Tari ini merupakan tari berpasangan ditarikan oleh seorang panari wanita dan seorang penari laki-laki. Gerakan-gerakan Tari Oleg Tamulilingan menggambarkan keluwesan seorang penari wanita, dan kegagahan penari laki-laki. Kedua penari menampilkan gerakan-gerakan bermesraan dengan penuh dinamika.

Seorang budayawan bernama John Coast (1916-1989), kelahiran Kent, Inggris, sangat terkesan dengan kebudayaan Bali. Sebelum berkiprah di Bali, ketika perang dunia kedua meletus, Coast masuk wajib militer dan sebagai perwira, sampai sempat bertugas di Singapura. Ketika Singapura keburu dikuasai Jepang, Coast yang berstatus tawanan lalu dikirim ke Thailand. Namun begitu, Coast memang berbakat seni. Ia ternyata melahirkan tulisan “Railroad of Death” pada 1946 yang kemudian mencapai best seller dalam waktu singkat. Hal itu mendorong semangatnya lagi untuk menulis buku “Return to the River Kwai” pada 1969. Di sela itu, Coast sempat berkolaborasi dengan seniman musik dan tari dari berbagai latar budaya, hingga menggelar pertunjukan konser pasca-perang.

Setelah merasa aman, pada 1950 Coast meninggalkan Bangkok menuju Jakarta karena terdorong untuk mengabdi kepada perjuangan Indonesia. Dalam waktu singkat, ia mendapat kepercayaan dari Bung Karno untuk memegang jabatan sebagai atase penerangan Indonesia. Selama di Indonesia, Coast menikah dengan Supianti, putri Bupati Pasuruan. Ketika menetap di Bali, ia tinggal di kawasan Kaliungu, Denpasar.

Cinta Coast pada seni budaya Bali mulai tumbuh saat tersentuh tradisi dan kehidupan masyarakat. Kesenian ternyata amat memikat hati dan obsesinya untuk mengorganisir sebuah misi kesenian ke Eropa. Selama petualangannya mengamati beberapa sekeha gong di Bali, Coast tertarik dengan penampilan sekaha gong Peliatan. Pada 1952, Coast menilai bahwa Gong Peliatan dengan permainan kendang AA Gde Mandera yang ekspresif cukup layak ditampilkan di panggung internasional. Dalam rencana lawatan ke Eropa itu, Coast ingin juga membawa sebuah tarian yang indah dan romantik, di samping beberapa tarian yang sudah sering dilihatnya.

Atas saran Mandera, Coast lalu menghubungi penari terkenal sekaligus guru tari I Ketut Marya yang kemudian akrab dipanggil I Mario. Mario yang kala itu sudah menciptakan tari Kebyar Duduk yang kemudian menjadi tari Kebyar Terompong, bersedia bergabung dengan Gong Peliatan. Coast “merangsang” Mario untuk berkreasi lagi dengan memperlihatkan buku tari klasik ballet yang di dalamnya terdapat foto-foto duet “Sleeping Beauty” yaitu tentang kisah percintaan putri Aurora dengan kekasihnya Pangeran Charming. Maka terinspirasilah Mario menciptakan tari Oleg. Inilah yang diinginkan Coast.

Untuk membawakan tari Oleg, I Mario memilih I Gusti Ayu Raka Rasmi yang memiliki basic tari yang bagus. Dalam menata iringannya, Mario mengajak I Wayan Sukra, ahli tabuh asal Marga, Tabanan. Di samping itu, dilibatkan pula tiga pakar tabuh Gong Peliatan dalam menggarap gending Oleg itu yakni Gusti Kompyang, AA Gde Mandera, dan I Wayan Lebah.

Tari Oleg itu semula bernama Legong Prembon, namun Coast kurang berkenan dengan nama tersebut karena kata itu sulit diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. I Mario lantas menggantinya menjadi tari Oleg Tamulilingan Mangisep Sari dan atas kesepakatan bersama akhirnya disebut Oleg Tamulilingan atau “The Bumble Bee Dance”. Tarian ini menggambarkan dua ekor kumbang, jantan dan betina, sedang bersenang-senang di taman bunga sambil mengisap madu. Sebagai kumbang jantan pasangan Raka Rasmi, dipilihlah I Sampih yang jauh lebih tua, berasal dari Bongkasa, Badung.

Kata oleg dalam kamus bahasa Bali berarti “goyang”. Dalam tarian yang melambangkan kumbang betina itu, memang terdapat gerakan bergoyang lemah gemulai seolah-olah pohon tertiup angin. Gerakan lemah gemulai tari Oleg ini nampak pada bagian pengadeng — saat penari memegang oncer yang bergantian dengan kedua tangan ditekuk silang di depan dada, sambil bergoyang ke kanan dan ke kiri. Maka dinilai, pemeran yang cocok membawakannya adalah yang berperawakan langsing semampai sebagai pemberi kesan ngoleg.

Begitulah. Tarian ini lantas awalnya lebih dikenal di mancanegara daripada di Bali, karena begitu tercipta lalu dipakai ajang promosi Bali di luar. Sebelum berangkat ke Eropa, misi kesenian pemerintah RI itu terlebih dahulu pentas di Istana Merdeka untuk pamitan kepada Presiden Soekarno karena akan melawat sekitar 10 bulan mengunjungi Prancis, Jerman, Belgia, Italia, Inggris dan beberapa kota besar di Amerika Serikat. Mario tidak turut dalam rombongan itu. Namun beberapa tahun kemudian, bersama Gong Pangkung Tabanan, ia “menghipnotis” masyarakat Eropa, Kanada dan Amerika Serikat dengan berbagai improvisasi gerak tari indah dalam tari Kebyar Duduk dan tari Terompong pada acara “Coast to Coast Tour” pada 1957 dan 1962.

B. Perkembangan Tari

Perkembangan tari Oleg Tamulilingan pada masa kekinian memang kian pesat. Banyak muncul sepasang demi sepasang penari remaja yang sudah dikatakan mahir untuk menarikan tarian ini. Dalam upaya pelestariannya dinas kebudayaan dan pariwisata secara khusus sempat menggelar lomba tari oleg tamulilingan yang para pesertanya di ikuti oleh para remaja putra dan putri yang berasal dari berbagai kota se-Bali.

Tingginya minat mereka mengikuti lomba tarian ini bukanlah tanpa alasan. Mereka (para remaja putra dan putri) memahami betul dalam setiap gerakannya memiliki karakter dan ciri khas tersendiri yang tidak di temukan dalam jenis tarian lainnya. Mereka merasa tertantang untuk bisa menjadi yang terbaik sebab sangatlah sulit untuk bisa menarikannya dengan sempurna.

Sementara gedung kesenian yang di gunakan sebagai tempat perlombaan tari Oleg Tamulilingan berjarak kurang lebih 1 km dari pusat pemerintahan kota Tabanan yang sampai dengan saat ini sebagian besar masyarakat mengenalnya dengan sebutan “Gedung Mario”.

Perubahan gerak yang ingin di lakukan terhadap sebuah hasil karya seni tari jangan sampai mengubah karakter dari tarian itu sendiri sehingga dalam setiap pementasannya orang akan lebih mudah mengenal kalau gerak yang di peragakan adalah bagian dari gerakan seni tari A atau seni tari B.

Penggunaan properti dan style busana yang di kenakan seperti halnya kipas, model kancut dan lain sebagainya harus tetap di jadikan sebagai satu kesatuan yang utuh sesuai dengan maksud dan tujuannya. Entah di sadari ataupun tidak beberapa perubahan yang di lakukan bukannya menjadikan tarian tersebut menjadi lebih baik tapi justru sebaliknya.

Memberikan pembinaan terhadap generasi muda pecinta seni tari tidak boleh di lakukan hanya berdasarkan hafalan gerak akan tetapi harus di barengi dengan pemahaman terhadap nilai filosofis dan estetika yang terkandung di dalamnya agar setiap gerak yang di peragakan oleh penari memiliki roh dan bisa menyatu dengan si penari itu sendiri. Seiring perkembangan jaman, seni tari oleg tamulilingan tampak semakin meredup sampai sampai gedung kesenian yang di jadikan ikon maestro pencipta seni tari asal Tabanan ini tidak terurus dengan baik.

Sungguh sangat memprihatinkan kalau hal ini di biarkan bukan tidak mungkin upaya pelestarian seni dan budaya Bali akan semakin sulit di lakukan. Sudah menjadi kewajiban pemerintah daerah (Kabupaten/Kota) untuk melestarikannya sehingga di harapkan dari waktu ke waktu, dari generasi satu ke generasi lainnya perkembangan seni tari di Tabanan khususnya dan di Bali pada umumnya terus mengalami peningkatan baik secara kualitas maupun kuantititasnya.

C. Fungsi

Di Bali pada umumnya sangat mempercayai bahwa berbagai kegiatan kesenian banyak memiliki fungsi baik dari segi ritual maupun dari segi pertunjukan umum. Secara umum fungsi tari di Bali ada tiga (3) yakni :

  1. Tari Wali, yakni tarian yang memiliki peran penting dalam upacara keagamaan. Contoh tari wali adalah Tari Sanghyang, Tari Rejang, dsb.
  2. Tari Bebali, yakni tarian yang dipentaskan untuk kepentingan manusianya sendiri dalam kaitan dengan upacara adat tertentu, misalnya upacara potong gigi, tawaran anak, dsb. Contoh tari bebali adalah Wayang Wong, Gambuh, Topeng Sidakarya, dsb.
  3. Tari Balih-balihan, yakni tarian yang fungsinya untuk menghibur masyarakat umum, dapat dipentaskan walaupun tidak ada kaitan dengan upacara agama. Contoh tari balih-balihan adalah Sendratari, pementasan tari-tarian lepas, Prembon, Bondres, dsb.

Disini dapat disimpulkan bahwa tari Oleg Tamulilingan diklasifikasikan dalam tari Balih-balihan. Jika dipentaskan di pura (terutama di wantilan pura), tari ini hanya sebagai hiburan dan tidak terkait dengan upakara. Namun tari-tarian ini sering dipentaskan untuk hiburan bila ada acara-acara di hotel, instansi pemerintah atau swasta, acara tahunan sekolah, dan lain sebagainya.

Dalam perkembangannya, tari Oleg Tamulilingan dapat difungsikan sebagai ajang perlombaan yang pernah diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata di Tabanan guna memancing minat para generasi muda untuk mempelajari tarian ini dan menghargai salah satu karya besar I Mario. Sehingga selain sebagai sarana hiburan, tari Oleg Tamulilingan juga berfungsi sebagai ajang perlombaan.

C. Ragam Gerak

Tarian ini memiliki ragam gerak yang sangat atraktif dan dinamis. Adapun ragam gerak tari Oleg Tamulilingan adalah sebagai berikut

  • Mungkah Lawang
  • Agem Kanan
  • Ngutek
  • Metimpuh
  • Ulap-ulap
  • Angsel Kado
  • Mearas-arasan
  • Ngegol dan Nyeregseg
  • Nyakup Bawa

D. Tata Busana

Tarian tidak akan luput dari segi tata busana karena faktor tersebut adalah faktor pendukung yang sangat berperan penting dalam maksimalnya pertunjukan tari tersebut. Adapun tata busana dari tari Oleg Tamulilingan adalah sebagai berikut :

a. Penari Putri

  • Gelungan
  • Subeng
  • Badong
  • Gelang Kana
  • Tutup Dada
  • Sabuk Prada
  • Ampok-ampok
  • Oncer
  • Kamen

 

 

b. Penari Putra

  • Udeng
  • Bunga Kuping
  • Badong
  • Gelang Kana
  • Tutup Dada
  • Sabuk Prada
  • Ampok-ampok
  • Kamen

E. Musik Iringan

Iringan juga berperan penting dalam pertunjukan tari. Adapun ensamble yang digunakan untuk mengiringi tari Oleg Tamulilingan adalah ensamble Gong Kebyar yang terdiri dari instrumen-instrumen sebagai berikut :

  • Sepasang Kendang (Lanang Wadon)
  • 1 pangkon Cengceng ricik
  • 2 tungguh Gangsa Giying/Ugal
  • 4 tungguh Gangsa Pemade
  • 4 tungguh Gangsa Kantil
  • 2 tungguh Penyahcah
  • 2 tungguh Calung/Jublag
  • 2 tungguh Jegog
  • 1 tungguh Reong
  • 1 tungguh Kajar
  • Sepasang Gong (Gong Lanang dan Gong Wadon)
  • 1 buah Kempur
  • 1 buah Klemong
  • Beberapa buah Suling (variasi ukuran yang kecil dan yang besar)

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Tari Oleg Tamulilingan diciptakan oleh seniman besar I Ketut Mario. Tarian ini sangat mempunyai karakteristik yang indah dan mempunyai dinamika. Oleg dapat diartikan sebagai gerak indah lemah gemulai dan Tamulilingan berarti kumbang pengisap madu bunga. Tari Oleg Tamulilingan ini menggambarkan sepasang kumbang jantan dan betina yang bermain-main sembari bermesra-mesraan sambal menghisap sebuah bunga di taman. Inilah yang menjadikan tarian ini sangat indah karena memiliki makna yang apik dan tema yang menarik hati yakni tema percintaan.

B. Saran

Kita sebagai generasi muda harus melestarikan dan menjaga hasil karya besar seniman tersohor I Mario ini agar tidak terjadi pengklaiman yang pernah menimpa Tari Pendet sebelumnya. Dan bagi para pelaku seni di karawitan maupun di tari setidaknya harus bias mengiringi (untuk karawitan) dan menarikan (untuk tari) tari Oleg Tamulilingan ini dalam kegiatan melestarikan kebudayaan kesenian ini agar Pulau Bali tetap memiliki keanekaragaman kebudayaan, kesenian dan kolaborasi kesenian dan kebudayaan dunia yang beragam dan utuh.

 

DAFTAR PUSTAKA

http://www.academia.edu/9067336/TARI_OLEG_TAMULILINGAN_DI_PELIATAN_BALI

https://oktaudiana.wordpress.com/2014/11/09/oleg-tambulilingan/

http://blog.isi-dps.ac.id/blog/perkembangan-tari-oleg-tamulilingan/

http://1st-budayaindonesia.blogspot.co.id/2014/09/tari-oleg-tamulilingan.html

Gong Gede Saih Pitu

Selasa, Maret 6th, 2018

A. Definisi Kemunculan Gamelan

Gamelan Gong Gede Saih Pitu merupakan salah satu barungan gamelan Bali yang dianggap sebagai barungan gamelan baru. Barungan gamelan Gong Gede Saih Pitu ini merupakan pengembangan barungan gamelan Gong Gede yang awalnya hanya menggunakan sistem laras pelog saih lima (5 nada pelog). Namun perbedaannya pada Gong Gede Saih Pitu ini telah menggunakan sistem laras pelog saih pitu (7 nada pelog). Sehingga penggunaan laras dalam tabuh-tabuh Gong Gede Saih Pitu ini lebih leluasa.

Kemunculan Gong Gede Saih Pitu ini disebut-sebut dimulai pada tahun 1995  yang diawali dengan permintaaan Pemerintah Daerah Kabupaten Badung yang ingin membuat suatu fragmen tari dengan menggunakan iringan barungan gamelan Gong Gede, namun gending-gending (melodi) yang ingin digunakan agar dapat memperkaya permainan patet-patet laras pelog saih pitu pada gamelan tersebut. Darisanalah muncul ide dari alm. I Wayan Beratha untuk merancang suatu barungan gamelan baru agar dapat memenuhi permintaan Pemda Kabupaten Badung. Beliau memadukan laras pada Gong Gede yang awalnya hanya menggunakan pelog saih lima menjadi Gong Gede dengan laras pelog saih pitu (7 nada pelog). Sehingga muncul sebuah barungan gamelan baru yang dinamakan Gong Gede Saih Pitu.

Namun Gong Gede Saih Pitu milik Pemda Kabupaten Badung ini tidak berusia panjang. Pada tahun 1998 barungan gamelan ini ikut terbakar dengan gedung-gedung Pemda Badung karena kerusuhan atas kekalahan Megawati Soekarnoputri pada Abdurrachman Wahid (Gus Dur) pasca Pemilihan Umum Presiden Indonesia pada tahun tersebut. Untuk mempertahankan keadaan gamelan Gong Gede Saih Pitu ini, ISI Denpasar kembali memunculkan gamelan Gong Gede Saih Pitu ini pada tahun 2005. Gamelan ini semula digunakan sebagai pengiring Sendratari kolosal kini sudah berkembang di masyarakat untuk mengiringi upacara keagamaan di Bali.

B. Sistem Laras

Sesuai dengan namanya yakni Gong Gede Saih Pitu, sistem laras yang digunakan pada barungan gamelan ini yakni menggunakan laras pelog saih 7 (pelog 7 nada) yakni terdiri dari nada nding, ndong, ndeng, ndeung, ndung, ndang dan ndaing. Dan pada setiap instrumen yang berbilah hanya menggunakan 1 oktaf nada, sedangkan pada instrumen yang berpencon menggunakan 2 oktaf nada.

C. Periodisasi / Golongan Gamelan

Gamelan Gong Gede Saih Pitu ini sudah ada sejak tahun 1995 dan pada akhirnya musnah karena terbakar pada tahun 1998. Kemudian ISI Denpasar ingin “memunculkan” kembali keberadaan gamelan tersebut dan gamelan tersebut sudah ada kembali pada tahun 2005. Dilihat dari segi periodisasi kemunculannya, gamelan Gong Gede Saih Pitu ini dapat dikategorikan sebagai gamelan Golongan Baru.

D. Jenis dan Nama-Nama Instrumen

Dilihat dari barungannya, Gong Gede Saih Pitu ini memiliki instrumen sejumlah 28 instrumen diantaranya :

  1. 2 buah Kendang (lanang dan wadon)
  2. 1 buah Cengceng Ricik (Kecek)
  3. 1 tungguh Terompong
  4. 1 tungguh Reong
  5. 4 tungguh Pengangkep Alit
  6. 4 tungguh Pengangkep Ageng
  7. 4 tungguh Panunggal
  8. 1 tungguh Kajar
  9. 1 tungguh Kempli
  10. 2 tungguh Penyahcah
  11. 2 tungguh Jublag
  12. 2 tungguh Jegog
  13. 2 buah Gong (lanang dan wadon)
  14. 1 buah Kempur
  15. 1 buah Bebende

Dilihat dari jenisnya, gamelan Gong Gede Saih Pitu ini terdapat 2 jenis gamelan yakni gamelan yang berbilah (terdapat pada instrumen Pengangkep Alit, Pengangkep Ageng, Panunggal, Penyahcah, Jublag dan Jegogan) dan gamelan yang berpencon (ada 2 jenis gamelan berpencon yakni : gamelan berpencon tinggi yang terdapat pada Trompong dan Reong ; dan gamelan berpencon rendah yang terdapat pada instrument Kajar, Kempli, Gong, Kempur dan Bebende). Sebagian besar instrumen pada gamelan ini adalah instrumen Idiophone (dipukul), kecuali pada instrumen Kendang yang merupakan instrumen Membranophone (sumber suara yang muncul dari kulit yang dikencangkan).

E. Tata Letak Instrumen

Sesuai dengan tata letak pada gambar disamping, gamelan Gong Gede Saih Pitu ini memiliki tata letak yakni dari depan diawali dengan instrumen Kendang dan Cengceng Ricik, dilanjutkan dengan instrumen Trompong, lalu dibelakangnya dideretkan instrumen Pengangkep Alit yang berjumlah 4 tungguh, selanjutnya dideretkan instrumen Pengangkep Ageng yang berjumlah 4 tungguh dengan diselati instrumen Kajar ditengah-tengahnya, kemudian dideretkan instrumen Panunggal yang berjumlah 4 tungguh, lalu diletakkan instrumen Reong, kemudian diikuti oleh instrumen Gong, Kempur, Kempli, Bebende dengan diletakkannya instrumen Penyahcah, Jublag dan Jegog di kiri dan kanan secara berurutan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Bandem, I Made. 2013. Gamelan Bali Di Atas Panggung Sejarah. Denpasar : STIKOM BALI