Didgeridoo, Alat Musik Unik dari Australia

Maret 7th, 2018

 

  Didgeridoo (atau di baca didjeridu) adalah alat musik tiup penduduk asli bagian utara Australia. Terdapat banyak nama lain bagi alat musik ini di mana beberapa suku pedalaman asli Australia memiliki penamaan yang berbeda-beda. Dipercaya sebagai salah satu alat musik tertua di dunia yang telah digunakan kurang lebih 40.000 tahun yang lalu.

Bentuk dari alat musik ini terbilang cukup simpel. Bentuk asli dari Didgeridoo menyerupai pipa panjang dengan permukaan yang agak melengkung di mana bagian ujung tempat udara dihembuskan biasanya cenderung lebih pipih daripada ujung lainnya. Bahan kayu yang digunakan pada umumnya adalah kayu dari pohon Eucalyptus yang sudah dilubangi oleh rayap yang banyak tersebar di daerah Australia.  Didgeridoo  biasanya berbentuk silinder atau cenderung kerucut, serta berukuran panjang sekitar 1 sampai 2 meter . Jarang sekali berkuran yang lebih pendek atau lebih panjang dari ini . Pada umumnya, semakin panjang alat musik ini, kunci nadanya semakin rendah. Para pemain tradisional Aborigin lebih menyukai kunci nada antara D ke F♯. Alat musik ini oleh penduduk asli dikenal dengan nama yidaki. Namun, beberapa pengrajin Didgeridoo yang modifikasi dari alat musik ini dengan bentuk dan tekstur yang lebih rata dengan material kayu yang lebih bervariasi. Biasanya para pembuat alat musik ini memperindah tampilan dengan menambahkan dekorasi lukisan bergaya etnik yang beragam.

Tetapi karena budaya Barat telah menemukan didgeridoo, orang barat membuat didgeridoo dari PVC, poli hitam pipa, fiberglass, bambu, Agave dan segala jenis kayu. Namun tetap saja konon katanya, suara didgeridoo yang asli adalah suara terbaik dari versi-versi lainnya, sekalipun itu modern. Dalam suatu pernyataan yang dicetuskan oleh seorang pakar, jika memang ‘Planet Bumi’ memiliki suara, maka suaranya adalah suara didgeridoo. Suara tertua yang melegenda dan pertama membuat alam semesta merdu, asli dari utara Benua Australia.

Pada dasarnya, alat musik ini memang hanya memiliki 1 nada dasar yang bisa dihasilkan ketika kita memainkannya. Hal ini terkait dengan panjang pendeknya didgeridoo ketika dibuat. Semakin panjang didgeridoo dibuat, maka nada yang dihasilkan pun semakin rendah.  Meskipun tampilannya terlihat simpel, namun dibutuhkan teknik khusus yang berkaitan dengan teknik pernapasan untuk memainkan alat musik ini secara benar. Para ahli Didgeridoo biasa menyebut teknik ini dengan istilah “Circular Breath” di mana udara dihembuskan melalui mulut dengan teknik vibrasi dihembuskan melalui lubang pipa untuk menghasilkan nada yang sama halnya dengan istilah meniup Suling Bali yang biasa di sebut “Ngunjal Angkihan”. Diperlukan keselarasan antara nafas dari hidung, pergerakan lidah dan mulut, gerakan rahang disertai teknik pernafasan diafragma untuk menghasilkan nada yang mampu dihasilkan tanpa adanya jeda. Hal inilah yang menjadi keunikan dari alat musik ini.

 

Daftar Pustaka

https://id.wikipedia.org/wiki/Didgeridoo

https://www.djarumcoklat.com/article/coklatpedia-didgeridoo-suara-asli-planet-bumi-suku-aborigin

http://music2211.blogspot.co.id/2013/01/didgeridooalat-musik-tiup-dari-negeri.html

Halo dunia!

Februari 28th, 2018

Selamat Datang di Blog Institut Seni Indonesia Denpasar. Ini adalah post pertama anda. Edit atau hapus, kemudian mulailah blogging!