This post was written by putudaniswara on Maret 7, 2018
Posted Under: Tak Berkategori

Dibidang kesenian, sudah tentu Bali mempunyai bermacam-macam kesenian yang melekat pada daerahnya masing-masing. Contohnya saja di daerah Tabanan, sangat kental dengan kesenian tektekan. Tektekan berarti sejumlah kentongan yang terbuat dari bambu yang digunakan masyarakat dengan cara ditabuh (dipukul) menggunakan panggul (pemukul) yang terbuat dari bambu atau kayu.Gamelan tektekan di daerah Tabanan pada umumnya dan di Br. Tengah, Kerambitan pada khususnya berfungsi untuk mengusir bhuta kala pada saat masyarakat merasakan desa sedang grubug, yang artinya desa sedang dilanda penyakit non medis dan juga pada hari Pengrupukan, yaitu sehari sebelum Hari Raya Nyepi. Dalam menabuh gamelan tektekan ini siapapun boleh menyuarakannya, dalam arti tidak terikat oleh keanggotaan sekaa.
Alat gambelan tektekan ini banyak didapatkan di daerah Kabupaten Tabanan, misalnya yang terkenal adalah di Br. Tengah Desa Kerambitan. Jika diamati dengan seksama masing-masing instrumen tidak menyuarakan nada tertentu seperti berlaras pelog atau selendro. Meskipun demikian antara instrumen satu dengan yang lainnya dibedakan tinggi rendah nadanya. Dalam satu barungan bisa terdiri dari sepuluh buah tektekan atau lebih. Alat pemukulnya dibuat dari batang bambu atau kayu.
Mencari tentang kesenian tektekan bukanlah hal yang mudah,itu dikarenakan kurangnya data-data. Namun atas petunjuk beberapa warga setempat yang dapat diminta informasinya, akhirnya terdapat suatu gambaran, bahwa Sebelum berfungsi sebagai instrumen pengiring tarian tektekan ini mula-mula berfungsi sebagai pelengkap dalam upacara Butha Yadnya, yaitu untuk mengusir roh-roh jahat biasanya dibunyikan pada hari Ngrupuk, yaitu sehari sebelum hari raya Nyepi. Juga sebagai iringan pada saat upacara Macaru, waktu membuang banten (upacara) ke laut. tektekan merupakan bentuk kesenian tradisional masyarakat desa Kerambitan kabupaten Tabanan yang dalam perjalanannya telah mengalami kurun waktu yang panjang untuk menemukan bentuknya seperti sekarang ini. Kesenian ini muncul pada waktu warga desa kerambitan mengalami grubug atau wabah, atau menurut kepercayaan setempat jika ada orang disembunyikan gamang atau wong samar (roh halus) maka diadakan nektek yaitu dengan cara memukul apa saja yang dapat menimgulkan. Hal ini dilakukan disekitar tempat kejadian dan akhirnya orang yang hilang dapat ditemukan kembali.
Konon sekitar tahun 1920-an pernah terjadi wabah penyakit yang menyerang desa kerambitan yang menyebabkan banyak korban berjatuhan,maka secara psikologis warga desa Kerambitan merasa ketakutan apalagi dikaitkan dengan ulah roh jahat. Untuk mengatasi hal tersebut akhirnya masyarakat mempunyai inisiatif untuk memukul alat-alat yang menimbulkan bunyi.Sekitar tahun 1930-an terjadi lagi wabah dan hal ini ditanggulangi dengan cara ceperti tersebut diatas. Saat itu sudah ada pembaharuan yaitu menggunakan alat yang terbuat dari bambu yang disebut dengan nama kulkul, karena perkembangan zaman maka kegiatan ini dipandang sebagai kepercayaan desa setempat. Mula-mula tujuan dari pementasan tektekan adalah ucapan puji syukur terhadap Sang Hyang Widi Wasa karena wabah penyakit telah berlalu. Dilihat dari penyajiannya tektekan saat itu sangatlah sederhana, mereka melakukannya dengan cara spontan tergantung situasi dan kondisi masyarakat pada saat itu. Kegiatan nektek dilakukan oleh masyarakat pada waktu sandikala sampai pagi. Menyingung tentang hal itu maka masyarakat kerambitan menetralisir keadaan dengan menggunakan tetabuhan yang pada akhirnya menjadi sebuah seni tetabuhan yang disebut dengan tektekan.
Menurut penuturan A. A. Putu Wirata, di tahun 60-an tektekan ini ditabuh atau disuarakan satu bulan menjelang hari raya Nyepi. Kegiatan ini dilangsungkan setiap hari pada waktu sandikala atau menjelang petang untuk mengusir atau mengembalikan para bhuta kala kembali ke asalnya. Jadi pada umumnya gamelan tektekan yang terdahulu hanya berfungsi sebagai pengusir bhuta kala atau roh-roh jahat agar tidak mengganggu kehidupan manusia.
Setelah tahun 1965 kesenian tektekan akhirnya menggunakan cerita calonarang yang sesuai dengan sifat awal terciptanya kesenian tektekan sebagai upaya untuk mengusir roh jahat atau buta kala. Seiring perkembangan zaman dan teknologi yang semakin pesat, gamelan tektekan juga mengalami suatu perkembangan. Jika dulu gamelan tektekan itu berfungsi sebagai pengusir bhuta kala, sekarang gamelan tektekan berfungsi sebagai musik iringan tari seni pertunjukan tektekan calonarang. Seni pertunjukan tektekan calonarang ini biasanya dilangsungkan di Puri Agung Kerambitan dan Puri Anyar Kerambitan.
Munculnya seni drama tari calonarang tektekan di Desa Kerambitan Kabupaten Tabanan, sangat didorong oleh perkembangan industri kepariwisataan di daerah Bali, dimana sebelum tahun 1970 seni pertunjukan wisata hanya terdapat di daerah Denpasar, Badung dan Gianyar saja. Sejak munculnya hal itu, “Puri Anyar” dijadikan sebagai objek wisata puri oleh rajanya, yang disebut dengan istilah “Puri Night”.Bagi warga Desa Kerambitan, munculnya seni pertunjukan tektekan calonarang merupakan wujud nyata kreativitas dari tokoh-tokoh budaya, adat, seniman tari maupun tabuh untuk menantang arus kunjungan ke daerah Tabanan, khususnya ke Desa Kerambitan.

Add a Comment

required, use real name
required, will not be published
optional, your blog address

Previose Post: