Gender Wayang merupakan barungan alit yang merupakan gamelan Pewayangan (Wayang Kulit dan Wayang Wong) dengan instrumen pokoknya terdiri dari 4 (empat) tungguh gender berlaras selendro (lima nada) (Dibia, 1999:108). Keempat instrumen tersebut terdiri dari 2 (dua) buah gender pemade dan 2 (dua) buah gender kantilan. Alat musik ini dimainkan dengan kedua buah tangan mempergunakan 2 (dua) panggul.Jika diamati alat musik Gender Wayang ini memiliki banyak kelebihan, dari segi fungsi, ataupun maknanya yang biasanya digunakanuntuk mengiringi upacara Manusa Yadnya (potong gigi) dan upacara Pitra Yadnya (ngaben). Disamping berkaitan dengan upacara, alat musik.Gender Wayang sering digunakan untuk mengiringi pertunjukan Wayang Lemah,Wayang Kulit Ramayana ataupun Wayang Kulit lengkap dengan dipadukan alamat musik lain. Gender Wayang saat ini tidak hanya digemari oleh kalangan dewasa, namun saat ini sudah mulai menyentuh kalangan anak-anak. Anak-anak sangat membutuhkan hal-hal yang mampu memicu perkembangan fisik dan psikisnya kearah yang lebih baik dan tentunya hal ini yang diinginkan oleh setiap orang tua. Melalui belajar Gender Wayang siswa diharapkan mampumengoptimalkan kemampuan otak, karena dalam memainkan alat musik tradisional ini memerlukan keseimbangan antara otak kanan dan otak kiri. Dalam menyeimbangkankemampuan otak, tentunya merupakan hal yang tidak mudah untuk dilakukan, karena setiap anak memiliki kompetensinya masing- masing. Fenomena ini banyak ditemukan padapembelajaran khususnya Gender Wayang, yang menyebabkan anak-anak dahulu enggan belajar, karena tingkat kesulitannya.

Leave a comment

Your email address will not be published.