Archive for the ‘Lainnya’ Category

TRI HITA KARANA

Kamis, Juni 30th, 2011

Tri Hita Karana sudah dikenal atau diterapkan sejak dulu oleh umat Hindu. Tanpa kita sadari ketiga unsur Tri Hita Karana itu kita laksanakan dalam kehidupan kita sehari – hari, seperti hubungan manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi, contohnya mebanten atau sembahyang, manusia dengan manusia, contohnya saling menghormati, dan manusia dengan lingkungan, contohnya menjaga dan merawat lingkungan tempat kita hidup.

Hubungan ketiga unsur Tri Hita Karana yang dimagsud adalah hubungan manusia dengan Tuhan Sang Pencpta, manusia dengan manusia, dan manusia Tri Hita Karana adalah tiga hal yang menyebabkan terciptanya kesejahteraandan kemakmuran. Tri Hita Karana terdiri dari kata “Tri” yang berarti tiga, “Hita” yang berarti kebaika, kesenangan, kemakmuran, kegembiraan, kebahagiaan dan “Karana” berarti dengan alam atau lingkungan.

Ada tiga hal yang tidak apat dipisahkan dari satu dengan yang lainnya dalam Tri Hita Karana, yaitu :

–          Parhayangan

–          Palemehan

–          Pawongan

Dalam mewujudkan kemakmuran pada lembaga sosial tradisional misalnya, ketiga unsure ini harusberjalan secara harmonis, saling menunjang dan saling melengkapi.

Juga ketiga unsur Tri Hita Karana merupakan satu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan dalam suatu banjar adat. Yang berarti, apabila salah satu unsure itu tidak dilaksanakan dalam suatu banjar adat maka kemakmuran, kerukunan, kebaikan tidak akan terwujud secara lahir batin. Dalam artian yang khusus manusia tidak cukup hidup dengan kesejahteraan, kbaikan, kerukunan, dan kebahagiaan lahiriah saja, namun memerlikan kesejahteraan rohaniah juga. Beliaulah Sang Hyang Widhi Wasa yang merupakan sumber kehidupan lahiriah dan rohaniah. Beliau sebagai  pemberi hidup dan keanugrahan serta pemberi perlindungan kepada manusia sebagai mahluk ciptaannya.

Dapat dijelaskan ketiga unsure Tri Hita Karana yang memiliki arti sebagai berikut :

 

–          Parhyangan

–          Parhyangan berasal dari kata Hyang yang berarti Tuhan. Parhyangan berarti ketuhanan atau hal hal yang berkaitan dengan keagamaan dalam rangka memuja Sang Hyang Widhi. Sang Hyang Widhi adalah sumber dari segala yang ada. Beliaulah yang menciptakan alam semesta besrta isinya. Beliau adalah asal dan tujuan akhir dari kehidupan. Dalam artian yang sempit, Parhyangan berupa tempat suci untuk memuja Sang Hyang Widhi.

 

–          Palemahan

 

Palemahan berasal dari kata lemah yang artinya tanah. Palemahan juga berarti bhuwana atau alam. Dalam artian yang sempit Palemahan berarti wilayah suatu pemukiman atau tempat tinggal.

 

 

 

 

–          Pawongan

Pawongan berasal dari kata wong ( dalam bahasa jawa ) yang artinya orang. Pawongan berarti prihal yang berkaitan dengan orang – orang atau perorangan dalam kehidupan masyarakat. Dalam artian yang sempit pawongan adalah kelompok manusia yang bermasyarakat tinggal di wilayah desa.

Ketiga unsur ini tidak dapat dipisahkan dalam tatanan hidup masyarakat, bahkan senantiasa diterapkan dan dilaksanakan sebagai suatu kebulatan padat, erat melekat pada setiap aspek kehidupan secara harmonis, dinamis, dan produktif.

 

Di dalam falsafah Tri Hita Karana disebutkan bahwa Sang Hyang Widhi adalah Maha Ada. Adanya beliau adalah mutlak, beliau tidak pernah ada, karena beliau selalu ada. Beliaulah yang menciptakan alam semesta ini dengan segenap isinya. Proses penciptaan ini disebut sresti, beliau terlebih dahulu menciptakan bhuana atau alam, maka munculah palemahan. Setelah itu barulah beliau menciptakan manusia (termasuk makhluk hidup lainnya). Setelah manusia berkembang dan menghimpun diri dalam kehidupan bersama dan mendiami suatu wilayah tertentu, maka muncullah masyarakat yang disebut Pawongan. Demikianlah Tri Hita Karana, yang mencakup Parhyangan, Palemahan, dan Pawongan. Dalam hidup kita mempunyai dua kewajiban, yaitu sebagai berikut.

  1. Menyelaraskan hubungan badan dengan Paramaatma (Sang Hyang Widhi).
  2. Menyelaraskan hubungan dengan makhluk yang berbeda-beda, yaitu dewa-dewa, rsi, pitra, manusia dan makhluk lainnya.

 


–          Parhyangan (hubungan antara manusia dan Tuhan)

Hubungan antara manusia dengan tuhan (Ida Sang Hyang Widhi), mempunyai dasar dan bentuk yang beraneka warna, baik dalam bidang rohani maupun jasmanikarena alam semesta beserta isinya ini berasal daripadanya dan beliau pula yang mengatur semua itu.menyelaraskan hubungan badan (manusia) dengan Sang Hyang Widhi Wasa (Paramatma), berarti menjadikan badan sendiri tempat untuk mewujudkan sifat dari Sang Hyang Widhi Wasa.

Oleh karena itu, badan jasmani kita harus bersih dan sehat serta pikiran (rohani) harus suci murni sehingga kita bisa memperoleh sinar sici tuhan.

Menurut tinjauan “dharma” susilanya, manusia menyembah dan berbakti kepada Sang Hyang Widhi disebabkan oleh sifat – sifat parama (mulia) yang dimiliki-Nya. Rasa bakti dan sujud kepada Tuhan timbul dalam hati manusia oleh karena Sang Hyang Widhi “Maha Ada, Maha Kuasa dan Maha Pengasih” yang melimpahkan kasih dan kebijaksanaan kepada umat-Nya sangat berhutang budhi lahir batin kepada beliau, dan hutang budhi ini tak akan terbalas dengan apapun juga, karena kita adalah manusia yang memounyai kemampuan yang terbatas.

Karena hal tersebut diatas, maka satu – satunya “Dharma/Susila” yang dapat kita sajikan kepada beliau hanyalah dengan jalan menghaturkan parama sukmaning idep atau rasa terima kasih kita yang setinggi – tingginya kepada beliau, antara lain sebagai berikut :

–          Dengan khidmat dan sujud bakti menghaturkan yadnya dan sembahyang (penyembahan kepada Sang Hyang Widhi).

–          Berziarah atau berkunjung ketempat – tempat suci atau tirta yatra untuk memohon kesucian lahir batin sambil beryoga semadi dengan penuh keyakinan yang suci.

Mempelajari dengan sungguh – sungguh ajaran – ajaran mengenai Ketuhanan, mengamalkan serta menuruti dengan teliti segala ajaran – ajaran kerohanian atau pendidikan mental spirituan, yang telah beliau limpahkan kedunia ini berupa ajaran Cruti dan Smerti, serta selanjutnya kita amalkan kembali kepada umat manusia sesuai dengan norma susila agama dengan penuh rasa bakti dan tulus iklas tanpa pamrih dan hanya atas nama beliau sendiri. Di samping itu rasa bakti dan kasih terhadap Sang Hyang Widhi itu timbul dalam hati manusia berupa sembah, puji – pujian, doa – doa penyerahan diri, rasa rendah hati, rasa bahagia,

dan hasrat berkorban untuk kebajikan. Kita seagai umat beragama  dan bersusila harus menjunjung dan memenuhi kewajiban, antara lain sebagai berikut :

–          Cinta kepada kebenaran

–          Cinta kepada kejujuran

–          Cinta kepada keikhlasan

–          Cinta kepada keadilan

Dengan demikian, jelaslah bagaimana hubungan antara Sang Hyang Widhi dengan alam semesta beserta isinya ini khususnya antara beliau (Tuhan) dengan manusia.

Hubungan ini harus kita pupuk dan tingkatkan terus ke arah yang lebih tinggi dan lebih suci lahir batin, sesuai dengan swadharmaning umat yang riligius “susilawan”, yakni untuk dapat mencapai moksartham jagadhita ya ca iti dharma, yaitu kebahagiaan hidup duniawi dan kesempurnaan kebahagiaanrohani yang langgeng (moksa), yakni sesuai dengan tujuan agama Hindu Satyam evam jayate na anetram.

–          Pawongan ( Hubungan antara manusia dengan manusia)

Selain menyelaraskan hubungan antara atman dan paramatman atau antara manusia dengan manusia, kita sebagai mahluk sosial juga harus membina hubungan yang rukun antara manusia dengan manusia lainnya. Yang dimagsud dengan hubungan antara manusia dan manusia adalah anggota – anggota keluarga dan anggota – anggota masyarakat. Misalnya hubungan suami isrti, saudara dengan keluarga, dan anggota masyarakat lainnya yang umur dan kedudukannya sama dengan kita.

Hubungan dengan orang – orang sederajat hendaklah sampai tercitanya suasana rukun, harmonis, dan damai serta saling bantu membantu satu sama lain dengan penuh kasih sayang, kasih mendorong rasa korban, rasa mengekang diri, rasa mengabdi untuk kebahagiaan sesama. Kasih adalah dasar semua kebijakan (dharma) dan sebaliknya dengki adalah dasar kedursilaan (adharma), kasih muncul dari dalam kalbu yang merupakan alam Paramatma, yaitu alam ananda (kebahagiaan).

–          Palemahan (Hubungan harmonis anatara Bhuana alit dengan Bhuwana agung (alam semesta))

Manusia hidup di dunia ini memerlukan ketentraman, kesejukan, ketenangan, dan kebahagiaanlahir batin. Untuk mencapai tujuan tersebut manusia tidak bisa hidup tanpa bhuwana agung (alam semesta). Manusia hidup di alam dan dari hasil alam. Hal inilah yang melandasi hubungan harmonis antara manusia dengan alam dimana mereka bertempat tinggal.

Untuk tetap menjaga keseimbangan dan keharmonisan alam, umat Hindu melaksanakan upacara tumpek uye, (tumpek kandang) yang bertujuan untuk melestarikan hidup binatang dan dan melaksanakan upacara tumpek wariga (tumpek uduh, tumpek bubuh) untuk melestarikan tumbuh – tumbuhan serta memperingati hari lingkungan hidup sedunia. Disamping itu pemerintah membuat suaka marga satwa. Lengkap dengan kebun raya dan kebun binatang, tujuannya adalah untuk menjaga jangan sampai binatang dan tumbuhan langka itu sampai rusak atau punah.

 

Arti penting dari falsafah Tri Hita Karana itu merupakan inti hakikat dari ajaran agama Hindu secara universal. Ajaran Tri Hita Karana mengarahkan manusia untuk selalu mengharmoniskan hubungan antara manusia dengan sang pencipta, hubungan manusia dengan sesame, dan hubungan manusia dengan lingkungan alamnya.

 

Arah atau sasaran yang ingin dicapai oleh ajaran Tri Hita Karana adalah untuk mencapai Moksartham Jagadhita ya ca iti dharma yang artinya tujuan agama atau dharma adalah tujuan mencapai kesejahteraan di dunia ini dan kebahagiaan di akhirat.

Tujuan ajaran Tri Hita Karana adalah untuk mencapai keharmonisan antara manusia dengan Tuhan, hubungan yang harmonis antara manusia dengan sesama manusia, dan hubungan manusia dengan lingkungan alam.

Dengan adanya keharmonisan alam semesta (bhuana agung) dengan manusia (bhuana alit) maka tercapailah tujuan akhir agama Hindu, Moksa, yaitu bersatunya atman dengan paramaatman.

TENTANG SAYA…….

Kamis, Juni 30th, 2011

Nama saya I Made Aryawan atau sering dipanggil EMON oleh teman – teman. Saya yang lahir pada tanggal 5 Agustus1992 di Gianyar. Saya adalah anak kedua dari dua bersaudara. Desa Serongga adalah daerah tempat tinggal saya, khususnya Br. SErongga Kaja yang merupakan salah satu wilayah kecamatan Gianyar. Hobi saya adalah melakukan hal yang tidak membosankan dan menantang,tapi tetap satu hobi yang melekat di hati dan paling saya gemari, yaitu menabuh atau megambel. Saya menyukai seni tabuh dikarenakan sebagian besar dari keluarga saya menekuni dalam bidang seni tersebut. Saya menekuni dengan serius hobi saya ini, pertama saya mengenal gambelan, yaitu pada saat saya berumur 9 tahun. Pada saat itu saya belum tau apa – apa, tetapi karena kemauan saya yang keras dan tidak mau menyerah akhirnya saya bisa juga menabuh, meskipun tidak mahir memainkan gambelan. Waktu itu saya masih duduk di kelas IV SD, tepatnya di SDN 1 Serongga yang bartempat di desa saya. Tamat dari SDN 1 Serongga, saya melanjutkan ke SMPN 1 gianyar, saking gemar nya megambel, pada saat SMP saya mencari extra tabuh serta pramuka, karena saya suka dengan alam atau petualangan. Tidak sampai di SMP saja saya hobi megambel, saking inginnya belajar menabuh sampai – sampai saya melanjutkan sekolah di SMKN 3 Sukawati ( KOKAR )dan pada kelas III saya sempat ikut mewakili Gianyar dalam festival gong kebyar yang bertempat di Art Center, senang hati bukan kepalang saat itu yang saya rasakan. Selain itu saya juga mendirikan sanggar tabuh brsama teman – teman saya, dan sampai sekarang terus berjalan karena dukungan teman – teman saya yang satu hobi dengan saya, yaitu mengajegkan Bali dengan melestarikan budaya yang diwarisakan leluhur kita dulu. Lulus dari SMK saya melanjutkan kuliah di Institut Seni Indonesia Denpasar, karena saya ingin memperdalam tentang seni, khususnya seni karawitan.

Made “emon” Aryawan

SEJARAH GONG KEBYAR

Minggu, April 3rd, 2011

Gong Kebyar adalah barungan gamelan Bali sebagai perkembangan terakhir dari Gong Gede, memakai laras pelog lima nada, yaitu : nding, ndong, ndeng, ndung, ndang. Yang awal mulanya tidak mempergunakan instrumen terompong. Selanjutnya Gong Kebyar dapat diartikan suatu barungan gamelan gong yang didalam permainannya sangat mengutamakan kekompakan suara, dinamika, melodi dan tempo. Ketrampilan mengolah melodi dengan berbagai variasi permainan dinamika yang dinamis dan permainan tempo yang diatur sedemikian rupa serta didukung oleh teknik permainan yang cukup tinggi sehingga dapat membedakan style  Gong Kebyar yang satu dengan yang lainnya.

Dalam tulisan-tulisan mengenai gamelan bali terdahulu secara umum telah dikemukakan oleh masing-masing penulisnya bahwa gamelan gong kebyar ini baru muncul pada permulaan abad XX, yang pertama kali diperkirakan muncul di daerah Bali Utara tepatnya sekitar tahun 1915 di desa Jagaraga.

Namun kenyataan yang diungkapkan oleh Beryl de Zoete dan Walter Spies dalam bukunya yang berjudul “ Dance and Drama in Bali “ mengatakan bahwa I Ketut Mario yang sudah lahir sekitar tahun 1900 sudah menari sisia dalam calonarang di tahun 1906. Dalam ungkapan selanjutnya sama sekali tidak ada menyinggung masalah gong kebyar atau tari kekebyaran. Dari ungkapan ini kiranya dapat diketahui bahwa Bapak I Ketut Mario yang dikenal sebagai salah seorang tokoh dalam gong kebyar sampai dengan 1906   ( perang puputan Badung ) masih menjadi penari sisia dalam pencalonarangan yang dapat diartikan bahwa sampai tahun 1906 itu Bapak Mario belum mengenal tari kebyar dan berarti bahwa gamelan gong kebyar belum ada pada tahun 1906 itu. Menurut Colin McPhee dalam bukunya “ Musik in Bali ” ada menyebutkan bahwa untuk pertama kalinya gamelan gaong kebyar diperdengarkan didepan umum adalah pada bulan Desember 1915 dimana ketika itu tokoh-tokoh gong Bali Utara mengadakan kompetisi yang pertama kali untuk gong kebyar di Jagaraga. Colin McPhee sendiri mengakui bahwa apa yang dikemukakan itu adalah hasil interviunya dengan A.A Gde Gusti Jelantik mantan Regen Buleleng ( Colin McPhee, 1966 : 328 ). Apabila diperhatikan baik-baik apa yang dikemukakan Colin McPhee maka akan nampak bahwa tahun 1915 itu adalh saat kompetisi yang pertama kali di Bali Utara yang menampilkan bentuk-bentuk kekebyaran dan sudah tentu sekaa-sekaa yang ikut ambil bagian dalam kompetisi ini sudah menciptakan bentuk-bentuk kekebyaran satu atau dua tahun sebelumnya bahkan mungkin beberapa tahun sebelumnya. Adalah mustahil apabila gong-gong yang ditampilkan dalam kompetisi di tahun 1915 dengan mengambil tempat Di Jagaraga itu menciptakan bentuk-bentuk kekebyaran beberapa jam atau beberapa hari sebelumnya. Lain dari pada ungkapan Colin McPhee ini dapat diketahui juga bahwa desa Jagaraga yang selama ini dianggap sebagai daerah asal mula munculnya gamelan gong kebyar di Bali Utara pada tahun 1915 ternyata hanya dijadikan tempat kompetisi gong kebyar pada tahun 1915 tersebut di atas. Berdasarkan apa yang dikemukakan oleh Beryl de Zoete, Walter Spies dan Colin McPhee diatas maka kiranya dapat ditarik suatu batas pemunculan gong kebyar di Bali yakni diantara tahun 1906 sampai tahun 1915 dengan kata lain sesudah tahun 1906 dan sebelum tahun 1915 dan tempat pemunculannya pertama kali bukan di desa Jagaraga .

Setelah ditelusuri lebih mendalam, didapatkanlah beberapa data yang dapat dijadikan suatu pegangan guna mengetahui asal mula dari pada gamelan gong kebyar ini. Informasi pertama datangnya dari Bapak I Nyoman Rembang seorang guru karawitan pada Sekolah Menengah Karawitan Indonesia ( SMKI ) Denpasar yang dulunya bernama KOKAR Bali, mengatakan bahwa berdasarkan hasil wawancaranya dengan Bapak I Gusti Bagus Sugriwa yang berasal dari desa Bungkulan Buleleng mengatakan bahwa lagu-lagu gong kebyar diciptakan pertama kali oleh I Gusti Nyoman Panji di desa Bungkulan pada tahun 1914 dan ketika itu dicoba untuk ditarikan oleh Ngakan Kuta yang berdomisili di desa Bungkulan. Informasi ini menunjukan bahwa pada tahun 1914 di desa Bungkulan telah diciptakan lagu-lagu kekebyaran. Hanya saja belum diketahui bagaimana bentuk lagu kebyar yang diciptakan ketika di Bungkulan itu dan bagaimana pula bentuk gamelan gong kebyar yang telah menampilkan motif-motif kekebyaran itu.

Selanjutnya I Gusti Bagus Arsaja, BA. ( guru SMKI ) Denpasar dalam kertas kerja bandingannya ats kertas kerja dari Bapak I Wayan Dibia yang berjudul Sejarah Perkembangan Gong Kebyar di Bali, mengatakan bahwa di desa Bungkulan telah diciptakan lagu-lagu ( tabuh ) kekebyaran sekitar tahun 1910. Apa yang dikemukakan oleh I Gusti Bagus Arsaja, BA. ini bila dihubungkan dengan adanya kompetisi gong kebyar di Jagaraga tahun 1915 ternyata dapat selisih waktu lima tahun. Batas waktu tersebut kiranya batas waktu yang masuk akal oleh karena sampainya suatu sekaa kepada arena kompetisi adalah cukup memakan waktu untuk pematangannya. Waktu empat sampai lima tahun untuk proses pemantapan kiranya dapat diterima.

Berdasarkan uraian diatas beserta beberapa argumentasi sebagaimana dikemukakan diatas keranya telah dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa gamelan gong kebyar pertama kali muncul di Bali Utara ( Buleleng ) sekitar tahun 1914 di desa Bungkulan dan bentuk-bentuk kekebyaran sudah diciptakan antara tahun 1910 sampai 1914 yang dipelopori oleh I Gusti Nyoman Panji.

Di ringkas dari buku Mengenal Jenis-jenis Pukulan Dalam Barungan Gamelan Gong Kebyar

oleh ;  Pande Gede Muatika. SSKar, I Nyoman Sudiana. SSKar, I Ketut Partha. SSKar.

sumber : google search dan sumber terpercaya lainnya