SEJARAH BANJAR SEMILA JATI

This post was written by madeagusartha on Juli 18, 2014
Posted Under: Tak Berkategori

 

Banjar Semila Jati berada di, Jalan Wibisana Barat, Desa Pemecutan Kaja, Denpasar Utara. Pada awal berdirinya Banjar Semila Jati yaitu pada tanggal 15 Mei 1985. Dan kelian Banjar Semila Jati yang pertama adalah Almarhum Bapak Nyoman Banu. Sumber-sumber yang saya dapatkan yaitu dari Bapak Wayan Landep. Beliau juga sebagai kelian Banjar Semila Jati saat ini. Wawan cara yang saya lakukan dengan beliau pada tanggal 31 Mei 2014, di rumah atau kediaman beliau sendiri di Jalan Wibisana Barat, Banjar Semila Jati.

Beliau menceritakan bahwa dulu pada tahun 1984 sebelum Banjar Semila Jati berdiri, di sekitar wilayah Banjar Semila Jati tersebut masih terdapat sedikit rumah dan beberapa penduduk yang tinggal di wilayah Banjar Semila Jati tersebut. Dan di sekitar rumah-rumah penduduk tersebut masih terdapat sawah-sawah dan tanah lapang / tanah kosong. Dan jalan di sekitar wilayah Banjar tersebut juga belum bagus, masih jalan tanah dan hanya jalan setapak yang hanya bisa di lalui kendaeaan roda dua. Seiring berjalannya waktu, bulan demi bulan warga yang datang dan tinggal di wilayah Banjar tersebut pun semakin bertambah dan semakin banyak. Pergaulan, interaksi, sosialisasi antara tetangga dan warga di wilayah tersebut sangat baik dan semakin hari semakin akrab satu sama lainnya. Karena keakraban tersebut warga di wilayah banjar tersebut khususnya truna-truna dan bapak-bapak melakukan kegiatan olah raga bersama, yaitu bermai bulutangkis. Mereka melakukan olah raga tersebut di sebuah tanah lapang yang ada di wilayah banjar semila jati, yang tanah tersebut di miliki oleh Bapak Nyoman Banu sendiri. Dan para warga di wilayah tersebut membuat suatu perkumpulan atau group bulutangkis yang di berinama Jati, dan di ketuai oleh I Gede Alit Suarta. Mereka membuat lapangan bulutangkis di tanah lapang yg di miliki oleh Bapak Banu tersebut. Setiap sore hari mereka berkumpul di lapangan tersebut untuk bermain dan berlatih bulutangkis bersama. Beberapa bulan kemudian group bulutangkis tersebut mengikuti berbagai pertandingan bulutangkis di desa-desa tetangga. Dan group tersebut pernah mendapat prestasi dengan menjuarai beberapa pertandingan yang pernah di ikut sertai tersebut.

Seiring berjalannya waktu pada awal tahun 1985, di sela-sela latihan bulutangkis, tepatnya pada saat istirahat, para pemain bulutangkis tersebut pun ngobrol-ngobrol bersama dan obrolan pun menuju topik tentang wilayah di sekitar tersebut. Di sela-sela obrolan tersebut Bapak Banu pun mengusulkan untuk mendirikan sebuah Balai Banjar. Karena banyaknya warga yang tinggal di wilayag tersebut, dan semakin lama semakin banyak yang berdatangan dan bermukim di wilayah tersebut. Mendengar usulan Bapak Banu tersebut, para pemain bulutangkis yang ada di lapangan saat itu pun setuju atas usul tersebut untuk mendirikan bali banjar di wilayah tersebut. Dan tanpa membuang waktu, esok pagi harinya Bapak Banu dan pemain bulutangkis tersebut pun memberitahu warga-warga yang lain, yang ada di sekitar wilayah tersebut agar berkumpul pada sore hari di lapangan bulutangkis tersebut, untuk membicarakan masalah pembangunan banjar tesebut. Pada sore hari setelah warga dari wilayah tersebut berkumpul, Bapak Banu pun menjelaskan rencana dan sarannya untuk membangun dan mendirikan sebuah balai banjar kepada warga tersebut. Mendengar rencana yang sangat bagus itu, warga pun sangat setuju untuk mendirikan balai banjar di wilayah tersebut. Untuk tempat berkumpul dan bersosialisasi bagi bagi warga yang tinggal di wilayah tersebut. Setelah warga setuju, maka di tentukanlah tempat untuk membangun balai banjar tesebut, setelah berunding maka tempat yang di pakai adalah lapangan bulutangkis tersebut. Yang tanahnya di miliki oleh Bapak Banu sendiri. Yang akan di beli oleh warga sekitar. Luas tanah tersebut tidak begitu luas Cuma 2,5 are. Karena lapangan bulutangkis tersebut di pakai untuk mendirikan balai banjar, maka Bapak Banu pun meminjamkan tanahnya yang ada di sebelah rumahnya untuk di jadikan lapangan bulutangkis, sebagai ganti lapangan yang lama. Setelah sepakat menentukan lokasi pendirian balai banjar, warga di wilayah sekitar pun mulai mengumpulkan dana untuk pembangunan balai banjar tesebut. Dananya pun di dapat dari sumbangan warga yang tinggal di wilayah tersebut dan sumbangan dari Desa juga. Seiring berjalannya waktu dan dananya pun sudah terkumpul namun hanya cukup untuk membayar tanah Bapak Banu yang di beli untuk membangun balai banjar dan membeli beberapa bahan –bahan bangunan yang di pakai untuk membangun balai banjar tersebut.

Setelah bahan-bahan sudah ada, maka dilakukanlah upacara peletakan batu pertama pada tanggal 15 Mei 1985, yang di lakukan oleh Bapak Banu dan Bapak Kepala Desa Pemecutan Kaja, yang di saksikan oleh warga yang tinggal di wilayah tersebut. Setelah itu mulai lah di lakukan pembangunan balai banjar tersebut. Pembangunan balai banjar tersebut di kerjakan oleh warga setempat langsung secara gotong royong. Pembangunan balai banjar tersebut pun di lakukan secara tahap demi tahap, karena keterbatasan danan yang di miliki saat itu. Di sela-sela tahap pembangunan balai banjar tersebut, di adakanlah suatu rapat, yang lokasinya di lapangan bulutangkis yang baru, untuk membentuk pemimpin atau pengurus dari banjar yang akan di dirikan tersebut. Pada saat rapat di tunjuklah Bapak Nyoman Banu oleh warga sekitar sebagai pemimpin atau kelian banjar tersebut. Dan mencatat warga yang menjadi anggota banjar tersebut. Seiring berjalannya waktu, 3 bulan kemudian bangunan banjar pun sudah berdiri setengah jadi, hanya kurang finising. Melihat banjar sudah tinggal finising, Bapak Banu pun mengarahkan warga sekitar untuk rapat di balai banjar tersebut, untuk membicarakan masalah upacara melaspas balai banjar tersebut. Dan warga pun setuja dan mendukung rencana Bapak Banu tersebut. Namaun pada saat itu warga banjar tersebut pun belum dapat melakukan upacara melaspas tersebut, karena kendala dana yang pas saat itu masih sangat kurang untuk melakukan upacara tersebut. Warga pun tidak putus asa. Dan warga pun kembali mengumpulkan dana dari warga sekitar banjar secara sukarela. Agar dapat melaksanakan upacara tersebut. Karena antusias warga yang sangat besar, maka dana tersebut pun sudah terkumpul dalam waktu kurang lebih dua bulan.

Dan akhirnya pada bulan November tahun 1985, di laksanakanlah upacara melaspas banjar tersebut. Dan memberi nama banjar tersebut dengan nama Banjar Semila Jati, yang di usulkan oleh Bapak Banu dan di setujui oleh warga banjar tersebut. Setelah di lakukan upacara melaspas tersebut, warga banjar pun kembali melakukan pengerjaan finising pembangunan tahap akhir banjar hingga selesai, yang dananya di dapat dari warga banjar tersebut. Di sela-sela finising itu dilakukan juga perbaikan jalan atau pelebaran jalan di wilayah Banjar Semila Jati tersebut. Yang di kerjakan sendiri oleh warga banjar tersebut secara gotong royong. Semenjak Bnjar Semila Jati berdiri warga pendatang pun semakin banyak yang tinggal di wilayah banjar tersebut dan menjadi anggota banjar tersebut.

Dan Banjar Semila Jati yang ada di Desa Pemecutan Kaja, Denpasar Utara ini pun di tetapkan awal berdirinya pada tanggal 15 Mei 1985.

Demikian yang bisa saya sampaikan, mungkin masih banyak kekurangan yang saya sampaikan yang tidak lain kekurangan dari cara penulisan atau penyampaian. kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya informasi yang ada hubungannya dengan sejarah banjar semilajati. Untuk itu saya mohon kritik dan sarannya.

 

– Sumber : Wayan Landep  ( Kelihan Banjar Semila Jati )

Add a Comment

required, use real name
required, will not be published
optional, your blog address

Next Post:
Previose Post: