Sep 09

Oleh: I Ketut Murdana

  1. A.     Latar Belakang

Pengembangan Ekonomi Kreatif  Indonesia 2025, diharapkan menjadi wujud optimisme  baru dalam menyongsong masa depan negeri ini dan dapat meningkatkan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia. Sebagai gelombang yang telah mengalami pergeseran dari Era Pertanian, Era Industrialisasi, Era informasi yang ditandai dengan penemuan baru di bidang teknologi infokom, serta globalisasi ekonomi yang telah menggiring  peradaban manusia ke dalam suatu arena interaksi social baru yang belum pernah dibayangkan sebelumnya.

Industri kreatif adalah bagian tak terpisahkan dari ekonomi kreatif. Bangsa Indonesia menyadari bahwa ekonomi kreatif, yang berfokus pada penciptaan barang dan jasa dengan mengandalkan keahlian, bakat dan kreativitas sebagai kekayaan intelektual. Adalah harapan bagi ekonomi Indonesia Untuk bangkit, bersaing meraih keunggulan dalam ekonomi global.

  1. B.      Seni Budaya Indonesia Sebagai Sumber Pengembangan Industri Kreatif

Indonesia memiliki kekayaan seni budaya yang tersebar ke seluruh pelosok tanah air, dengan keunikan masing-masing. Kehidupannya terpelihara oleh semangat religius dan magis, adat istiadat dapat dijadikan sumber acuan proses kreatif dalam membangun identitas yang kompetitif. Kekayaan seni budaya Indonesia bukan sekedar estetika namun mengandung nilai-nilai dan gagasan vital bagi masyarakat pendukungnya.

  1. C.      Sekilas Karakter Manusia Timur

Dalam kajian geologi Budaya Indonesia sering dikatagorikan sebagai Negara Timur, bersama wilayah lainnya di Asia. Kebudayaan Timur sering dianalogikan sebagai “suasana hati”, Negara padat penduduk, serba miskin dan terbelakang, dan amat tradisional. Kebudayaan Barat selalu dihubungkan dengan kapitalisme, teknologi, dan imperialisme.

Terlepas dari adanya konplik pandangan tersebut, para pemikir talah melakukan kajian-kajian terhadap estetika Timur yang membetuk proses kreatif masyarakat dan para senimannya. Terdapat kecendrungan bahwa manusia Timur lebih menekankan aspek intuisi daripada akal. Pusat kepribadian seseorang bukanlah pada daya intelektualnya, melainkan ada dalam hati, yang mempersatukan akal dan budi, intuisi, kecerdasan, dan perasaan. Masyarakat Timur menghayati hidup dalam apa adanya, bukan semata akali. “Hati” atau “rasa” dinilai sebagai pengganti logika kaku yang serba terbatas menghadapi kebenaran hidup. Manusia Timur memiliki suatu bentuk pemikiran berdasarkan intuisi, yang akrab, hangat, personal, dan biasanya memiliki kedekatan dengan realitas yang hakiki.

 

  1. D.     Ciri-ciri Ekspresi seni budayanya.
    1. 1.      Abstraksi dan sibolik sebagai realitas. Dalam masyarakat Timur, sesuatu yang abstrak dan simbolik dianggap sebagai realitas, misalnya cerita Maya Denawa di Bali, Cerita Nyi Roro Kidul di Jawa dianggap sebagai sesuatu yang nyata. Ekspresi keseniannya bersifat transisi antara dunai atas dan dunia bawah, wujud estetikanya adalah stilirisasi dari realitas kasat mata menjadi realitas imaji.
    2. 2.      Ilmu dan Kebijaksanaan, Tujua hidup orang timur adalah menjadi bijaksana, pengetahuan intelektual saja tidak cukup untuk membuat seseorang majnadi baik.
    3. 3.      Kesatuan dengan Alam. Karya seni diciptakan berasal dari alam dan dipersembahkan kembali, dalam wujud pemujaan
    4. 4.      Harmoni. Karya seni tercipta merupakan implementasi keharmonisan, antara manusia dengan tuhan, manusia dengan manusia dan manusia dengan lingkungannya. Bentuk-bentuk alam diwujudkan dalam karya seni dimaknai sebagai simbol mendidik kehalusan budi.

Sekilas dapat digaris bawahi bahwa estetika timur bukan sekedar menyenang atau memberi rasa indah, tetapi mengantar nilai-nilai kebijaksanaan yang menjadi harapannya.

  1. E.      Pengenbangan Ekonomi Kreatif

Pengembangan ekonomi kreatif 2025 menekankan pengembangan 14 kelompok industry kreatif Nasional ( Periklanan,Arsitektur, Pasar barang seni, Kerajinan, Desain, Fesyen, Vedeo, film dan fotografi, Permainan interaktif, Musik, Seni Pertujukan, Penerbitan dan percetakan, Layanan computer dan piranti lunak, Televisi dan radio, Riset dan pengembangan) dan juga berbagai faktor yang signifikan perannya yaitu: sumber daya insani, bahan baku berbasis sumber daya alam, teknologi, tatanan institusi dan lembaga yang menjadi komponen dalam model pengembangan.

Visi Ekonomi Kreatif Indonesia 2025 yaitu: “Bangsa Indonesia yang berkualitas hidup dan bercitra kreatif di mata dunia”

Untuk menjawab visi  tersebut diyakini bahwa, Kolaborasi antara berbagai factor yang berperan dalam industri kreatif yaitu: Cendikiawan (intellectuals), Bisnis (business) dan Pemerintah (Government). Ketiga aktor memiliki peran yang sangat significant  namun juga memerlukan kontribusi dari aktor lainnya.

Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar sebagai institusi pendidikan, berperan membentuk sumber daya manusia yang cerdas dan kreatif serta mampu berperan dalam pengembangan ilmu, seni dan desain.

Melalui Visi ISI Denpasar adalah menjadi pusat penciptaan, pengkajian, penyaji dan Pembina seni yang unggul berwawasan kebangsaan demi memperkaya nilai-nilai kemanusiaan sesuai perkemangan jaman.

Melalui visi tersebut ISI Denpasar bertekad memainkan peran melalui kekuatan, penciptaan dan pengkajian yang berbasis kreatif dan intelektual dalam upaya melahirkan masyarakat berbasis pengetahuan seni (Knowledge society on art) dalam demensi ruang, dan perubahannya.

Dalam upaya menanggapi tingkat keragaman budaya bangsa, sebagai kekeuatan penciptaan dan pengkajian, ISI Denpasar menempatkan kewajibannya memperluas akses melalui pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Menghasilkan lulusan yang berkualitas dan mampu mandiri dalam persaingan masyarakat dunia.

Merujuk pada persolanan tersebut telah disusun kurikulum baebasis kompetensi dengan menempatkan keunggulan lokal sebagai sumber pembelajaran, dan dikembangkan dengan konsep-konsep kekinian, dengan semboyan “bertidak lokal berpikir global”. Rincian mata kuliah praktek dengan teori berkisar antara 60 % dan 40% bagi minat penciptaan dan sebaliknya yaitu: 60 % dan teori dan 40 % praktek bagi minat pengkajian.

Melalui gagasan dan peran tersebut insan akademi ISI Denpasar telah menghasilkan karya-karya unggulan yang telah diapresiasi oleh masyarakat dalam arti luas baik bidang seni pertunjukan maupun seni rupa dan desain. Dengan demikian ISI Denpasar memiliki peran strategis dan aktif dalam ikut mewujudkan Visi Ekonomi Kreatif Indonesia 2025. Untuk itu diperlukan kerja sama instansi terkait dalam upaya merumuskan paradigm dalam mengatasi persaingan dunia.

Komentar ditutup.