Pembelajara Gamelan Bali di KBRI Paris

This post was written by kariasa on February 9, 2010
Posted Under: Lainnya

PRAKATA

Penugasan mengajar musik tradisional gamelan Bali di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Paris memberikan motivasi tersendiri bagi saya. Paris – dan Perancis pada umumnya – merupakan salah satu kiblat kemajuan budaya yang sudah diakui dunia. Masyarakat Paris mempunyai apresiasi tinggi terhadap musik dan budaya luar. Hal ini menjadi daya tarik sekaligus tantangan bagi saya untuk memperkenalkan dan mengajarkan secara langsung gamelan Bali yang selama ini mungkin hanya bisa didengar atau ditonton.

Merupakan pengalaman sangat menarik mengajarkan hal yang dianggap biasa bagi orang Bali sendiri tetapi sama sekali baru bagi orang lain. Saya dituntut untuk jauh lebih sabar mengajarkan hal-hal dasar dan konseptual yang berkaitan tidak semata-mata dengan gamelan dan kesenian Bali, tetapi juga menyentuh filosofi dan budaya Bali secara luas. Hal ini ditambah dengan kendala komunikasi, mengingat masyarakat Prancis pada umumnya tidak berbahasa Inggris.

Berkat tuntunan Hyang Maha Kuasa dan bantuan berbagai pihak, saya dapat mengatasi kendala dan tantangan, baik teknis maupun non-teknis. Untuk itu saya menyampaikan terimakasih kepada Rektor ISI Denpasar atas kesempatan yang diberikan, segenap staff KBRI Paris atas kerjasama yang baik, rekan-rekan di Perhimpunan Pelajar Indonesia ( PPI) Paris, dan masyarakat  di Paris, atas segala dukungan dan bantuan. Tidak kalah pentingnya terimakasih kepada keluarga saya di Bali yang mendukung, menyertai dengan doa dan menanti dengan sabar.

Sebagai manusia biasa, tentunya saya tidak luput dari kesalahan dan kekurangan. Untuk itu saya mohon maaf; semoga semua yang saya lakukan bermanfaat bagi KBRI dan bangsa Indonesia.

Paris, Oktober 2009

Hormat saya,

I Nyoman Kariasa, S. Sn.

1. Pendahuluan

Kebutuhan promosi Indonesia di luar negeri dirasakan masih perlu ditingkatkan, tidak saja mencakup bidang ekonomi dan industri, tetapi juga bidang seni budaya. Seni budaya merupakan kekayaan bangsa yang tak ternilai harganya. Kegiatan seni budaya dapat membantu – bahkan menjadi pintu – bagi peningkatan hubungan ekonomi dan industri. Hal ini juga mendorong kelancaran hubungan diplomatik di kancah politik dunia.

Menyadari pentingnya dukungan bidang seni budaya secara berkesinambungan, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Paris mengadakan program pembelajaran kesenian tradisional. Bali dipilih menjadi thema kegiatan tahun ini, setelah Jawa Barat dipilih untuk program sejenis tahun lalu. Melalui kerjasama KBRI Paris dan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar menugaskan kami untuk memberikan program pembelajaran kesenian Bali bagi masyarakan Indonesia dan Prancis secara gratis.

2. Tujuan kegiatan

Sesuai dengan surat undangan dari KBRI Paris, tujuan kegiatan ini adalah memberikan pembelajaran gamelan gong kebyar dan tari Bali kepada masyarakat di Perancis, terutama di Paris, baik masyarakat Indonesia maupun asing. Dengan demikian diharapkan apresiasi masyarakat terhadap seni budaya Indonesia, khususnya Bali semakin meningkat.

3. Sekilas tentang gamelan Gong Kebyar

Gamelan adalah istilah dalam bahasa Indonesia untuk sebuah orkestra tradisional yang terdiri dari bermacam-macam instrumen musik. Gamelan tersebar luas di berbagai daerah di Indonesia, masing-masing memiliki ciri khas tersendiri karena terdiri dari alat musik tertentu yang tidak ditemukan di daerah lain.

Gamelan Bali merupakan salah satu gamelan tradisional Indonesia yang paling terkenal. Gamelan ini pada umumnya terdiri dari gong, kempur, reyong, terompong, cengceng, kendang, suling, gangsa dan rebab. Gamelan Bali merupakan hal yang tidak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat Bali sehari-hari, baik dalam ritual keagamaan maupun prosesi adat. Gamelan dan karawitan Bali muncul dalam nafasnya yang murni, memiliki identitas dan kekhasan yang sangat didukung oleh sistem komunal masyarakat Bali. Karawitan Bali juga menjadi kebanggaan, terbukti dari banyaknya pengakuan dan apresiasi dari berbagai negara di dunia. Banyaknya peminat seni dari berbagai negara yang datang ke Bali untuk mempelajari karawitan Bali merupakan salah satu contoh nyata.

Di Bali sendiri terdapat kurang lebih 26 jenis gamelan yang masing-masing memiliki kelengkapan instrumen (bebarungan) dengan fungsi yang berbeda. Seiring berjalannya waktu, jenis gamelan di Bali semakin bertambah, termasuk diantaranya adalah Gong Kebyar. Sebagai suatu bentuk kesenian yang usianya relatif muda, gong kebyar berkembang sangat pesat. Saat ini gamelan gong kebyar menjadi salah satu jenis karawitan Bali yang paling popular.

Di Bali sendiri hampir setiap desa memiliki gamelan gong kebyar.  Gamelan ini merupakan perkembangan dari Gong Gede, memakai laras pelog lima nada yang awal mulanya tidak mempergunakan instrumen terompong. Kata kebyar dapat diasosiasikan dengan sesuatu yang datang atau meledak dengan tiba-tiba, seperti kembang api.  Gamelan gong kebyar sangat mengutamakan dinamika, selain kekompakan suara, melodi dan tempo. Ketrampilan mengolah melodi dengan berbagai variasi permainan dinamika yang dinamis dan tempo yang diatur sedemikian rupa serta didukung oleh teknik permainan yang cukup tinggi merupakan ciri khas gamelan ini, yang membedakan gaya pemainan gamelan gong kebyar antara satu daerah denga daerah lainnya.

Memainkan gamelan tidaklah mudah, karena masing-masing instrumen memiliki karakteristik dan tingkat kesulitan yang cukup tinggi. Dibutuhkan waktu yang relatif lama untuk menguasai instrumen yang ada. Berikut adalah instrumen dan fungsinya dalam barungan gamelan gong kebyar.

  1. Kendang

Instrumen ini berbentuk silinder dengan membran/kulit yang menutupi kedua ujungnya. Alat musik ini bisa dimainkan secara berpasangan maupun tunggal.  Kendang berfungsi sebagai pemurba irama. Ia juga memberikan tanda perubahan lagu seperti tempo, dinamika, melodi, maupun angsel (sinkop). Instrumen ini tergolong amat sulit dimainkan dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menguasainya.

  1. Kelompok instrumen bilah

Kelompok instrumen ini berbentuk bilah yang digantung, dimainkan dengan cara dipukul dengan panggul yang berbentuk seperti palu, terbuat dari kayu. Instrumen ini tergolong cukup sulit dimainkan karena membutuhkan beberapa teknik permainan. Jenis jenis instrumen ini diantaranya:

  1. Ugal

Bertugas membawakan dan memimpin melodi, memberikan variasi dan ornamentasi pada melodi sehingga terdengar lebih indah.

  1. Pemade

Bertugas memberikan ornamentasi pada melodi dengan memainkan variasi teknik permainan seperti kotekan (interlocking figuration), yaitu jenis pukulan yang saling mengisi), norot, dan lain sebagainya.

  1. Kantilan

Bertugas seperti pemade, kantilan memiliki nada satu oktaf lebih tinggi.

  1. Jublag

Bertugas memainkan aksentuasi melodi pada hitungan genap

  1. Jegogan

Alat ini memiliki nada satu oktaf lebih rendah dari jublag, Bertugas memberikan aksentuasi yang lebih berat pada melodi. Pukulan jegogan lebih jarang dari pukulan jublag, dengan perbandingan satu per empat atau satu per delapan.

  1. Reyong

Instrumen ini berbentuk pencon (seperti panci terbalik yang benjolan di bagian atasnya), berjumah 12 buah dab disusun berderet dari yang paling besar sampai yang terkecil. Alat ini dimainkan oleh empat orang memakai kedua tangan menggunakan panggul berbentuk tongkat sepanjang 30 cm yang sebagian dililit dengan benang. Reyong memilki warna suara yang berbeda dengan instumen yang berbentuk bilah. Alat ini bertugas sebagai penghias melodi dengan memainkan teknik jalinan saling mengisi yang disebut kekilitan dan memainkan permainan ritme atau sinkop (penekanan pukulan pada ketukan lemah).

  1. Kajar

Berbentuk seperti reyong dengan diameter yang lebih besar, alat ini bertugas memberikan ketukan.

  1. Cengceng

Berbentuk seperti tutup cangkir yang menengadah dirangkai sebanyak 5 buah dan terikat di atas papan kayu, alat ini dimainkan menggunakan benda yang sama dengan cara membenturkan permukaannya. Ia bertugas memberikan kesan meriah dengan cara merapatkan atau memadatkan ketukan, dan memainkan irama bersama kendang, reyong, dan kadang-kadang pemade.

  1. Gong, kempur (kempul), dan kentong (kemong)

Berbentuk lempengan besar berdiameter antara 70 dan 80 cm yang ditengahnya terdapat benjolan, gong bertugas untuk mengakhiri melodi atau lagu. Teknik permainannya tidaklah sulit, akan tetapi ia memiliki peran yang sangat menentukan dalam gamelan.

Kempur berbentuk seperti gong dengan diameter yang lebih kecil. Ia bertugas sebagai penentu matra dan dipukul diantara ketukan gong.

Kentong berbentuk lebih kecil dari kempur. Ia bertugas sebagai pembagi ukuran melodi atau lagu. Dipukul diantara pukulan kempur.

  1. Suling (seruling)

Bertugas memainkan dan memperindah melodi sehingga lagu terdengar lebih indah.

  1. Rebab

Seperti suling, rebab bertugas memainkan dan memperindah melodi sehingga lagu terdengar lebih indah.

4. Kegiatan dan materi latihan

Tingginya animo masyarakat merupakan hal yang sangat menunjang. Sayangnya, pada umumnya peserta tidak memiliki latar belakang dan ketrampilan memainkan gamelan dan menari Bali sama sekali. Kenyataan ini membuat kami memilih materi yang sesederhana mungkin, misalnya Pendet dan Gilak Sasak. Sejalan dengan meningkatnya kemampuan para peserta, materi lain diberikan setahap demi setahap.

5. Peserta pelatihan

Peserta pelatihan terdiri dari warga Indonesia – yang bekerja ataupun belajar – di Prancis, para ibu yang menikah dengan orang Prancis (Franco-Indonésie), warga negara asing yang bekerja dan sekolah di Prancis, di samping warga Prancis sendiri. Selain peserta kursus diatas kami juga memberikan pelatihan gamelan pada mahasiswa sekolah Inalco yang belajar bahasa Indonesia di KBRI Paris. Peserta dan tabel kegiatan dapat dilihat di lampiran 1.

6. Proses latihan

Pada umumnya peserta pelatihan dapat menerima materi gending yang diajarkan dengan penuh semangat dengan suasana akrab tanpa mengurangi keseriusan latihan. Hanya saja dibutuhkan kesabaran karena belajar gamelan dibutuhkan kebersamaan baik tempo (cepat lambat), dinamika (keras lemah) dan teknik instrumentasinya (Penataan jalinan pukulan sebuah instrumen berkaitan dengan melodi/ gending). Dibutuhkan waktu  khusus dalam mempelajari instrument tertentu, misalnya kendang, reyong dan Gangsa/ Pemade. Karena instrument ini memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi. Baik teknik permainannya maupun tehnik instumentasinya. Untuk itu kami mengadakan pelajaran tambahan diluar jadwal latihan bersama. Sehingga pemain instrument tersebut dapat mengejar materi yang diberikan.

7. Penampilan

Di sela-sela kegiatan latihan, kelompok gamelan juga berpartisipasi dalam sejumlah pertunjukan. Selain memberikan motivasi lebih bagi peserta, pertunjukan ini juga merupakan evaluasi atas hasil pembelajaran. Materi pertunjukan tentu juga dipengaruhi oleh thema acara, tempat, dan kesiapan para anggotanya.

  1. Festival Indonesia. Paris, 16-17 Mei 2009

Acara ini sebenarnya merupakan ajang promosi hasil kerajinan dan industri kecil Indonesia. Dilaksanakan selama dua hari, acara ini berlangsung di KBRI dan terbuka untuk umum secara gratis. Terdapat sekitar 30 counter yang menjual berbagai kerajinan – dari produk kecantikan hingga furniture – ditambah stand makanan dan minuman. Acara ini juga dimeriahkan dengan peragaan batik, ensembel angklung, dan pencak silat.

Kelompok gamelan tampil untuk pertama kalinya dalam acara ini setelah berlatih intensif sekitar 5 kali, membawakan lagu Gilak Sasak dan Pendet untuk mengiringi para penari cilik.

  1. Perayaan Waisak. Hôtel de Ville (Paris), 17 Mei 2009

Perayaan Waisak dihadiri sejumlah perwakilan beberapa negara yang memiliki umat Buddha, seperti Indonesia, Thailand, Vietnam, dan China. Kelompok gamelan tampil dengan format minimal 5 orang dan membawakan tabuh Pendet untuk mengiringi penari Ilse Peralta Lopez dan Cindy Rianti.

  1. La fête de la musique. Paris, 21 Juni 2009

La fête de la musique merupakan festival musik tahunan yang dicetuskan oleh menteri     kebudayaan Prancis Jack Lang pada tahun 1982. Acara ini digelar setiap tanggal 21 Juni sebagai pertanda awal musim panas. Sejak awal pelaksanaannya, festival ini terbilang sukses sebagai sarana efektif bagi semua orang untuk mengekpresikan diri dalam berbagai jenis musik. Sepanjanga hari kita dapat menikmati ekspresi musik dalam beraneka bentuk – baik di jalan raya maupun di gedung mewah, gratis maupun dipungut bayaran – dari berbagai pelosok dunia.

Tahun ini, KBRI berpartisipasi dengan menggandeng Restaurant Indonesia, sebuah restoran legendaris yang berada di kawasan bergengsi Jardin du Luxembourg. Materi yang ditampilkan adalah tabuh Gilak Baris, tabuh tari Pendet, dan tabuh Gilak Sasak. Selain menampilkan gamelan Bali, acara ini juga menampilkan konser angklung yang dibawakan oleh anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI).

  1. Carnaval Tropical de Paris. Paris, 04 Juli 2009

Proyek cukup besar yang dilaksanakan KBRI Paris adalah keikutsertaan dalam Carnaval Tropical de Paris. Kami  mempersiapkan sebuah sajian seni fragmen prosesi yang melibatkan gamelan bleganjur, tari kecak dan mobil hias bernuansa Bali. Fragmen prosesi ini mengisahkan perang antara kebaikan melawan kejahatan. Kebaikan dilambangkan dengan burung garuda, dan kejahatan disimbulkan dengan Rangda, sosok raksasa yang menyeramkan. Perang antara kebaikan dan kejahatan di muka bumi ini akan senantiasa ada dan terus berlangsung. Dengan kekuatan rohani,  kebaikan diyakini akan selalu menang.

  1. Perayaan hari kemerdekaan RI. Wisma Duta (Paris), 17 Agustus 2009

Sebagai bagian dari rangkaian peringatan hari ulang tahun kemerdekaan RI ke 59, KBRI mengadakan upacara bendera dan dilanjutkan dengan acara ramah tamah. Acara ini merupakan salah satu acara yang paling ditunggu seluruh warga Indonesia di Paris dan sekitarnya, karena itu tidak mengherankan apabila persiapan dilakukan dengan lebih seksama.

Pada acara yang dihadiri sekitar 500 undangan tersebut ditampilkan pertunjukan kesenian, permainan anak-anak, dan penyerahan hadiah hasil lomba. Dalam kesempatan ini kelompok gamelan Bali PPI Paris menampilkan beberapa jenis tabuh seperti Gilak Sasak dan Juru Pencar. Selain itu gamelan juga mengiringi penampilan tari Pendet yang dibawakan oleh enam penari cilik.

  1. Soirée indonesienne. Dijon, 24 Agustus 2009

Promosi Indonesia kali ini merupakan kerjasama antara KBRI Paris dan tim kesenian Swara Mahardikka. Pertunjukan diadakan di sebuah gedung olahraga di Dijon, kota kecil sekitar 180 km di selatan Paris. Antusiasme warga sangat tinggi, terbukti dari penuhnya ruangan yang menampung kurang lebih 500 orang. Kelompok gamelan Bali tampil dengan format tim kecil terdiri dari 11 orang, membawakan tabuh Gilak Sasak dan Juru Pencar. Selain itu kelompok gamelan juga tampil mengiringi tari Topeng Keras yang dibawakan oleh bapak Surya Negara.

  1. Dîner diplomatique. Wisma Duta, Paris, 25 September 2009

Acara ini merupakan resepsi resmi kenegaraan yang mengundang kalangan diplomatik beberapa negara sahabat. Selain lagu-lagu standar yang sudah beberapa kali dibawakan, seperti Pendet, Gilak Sasak, dan Juru Pencar, kelompok gamelan juga membawakan lagu baru yang relatif lebih sulit, Gesuri (Genta Suara Revolusi). Dalam kesempatan ini kelompok gamelan Bali KBRI Paris tampil untuk pertama kalinya, membawakan lagu Gilak dan Langgam Pulau Bali. Kelompok ini terdiri dari karyawan dan Dharma Wanita KBRI. Penampilan perdana juga dilakukan oleh kelompok tari dewasa, membawakan tarian kreasi baru Selat Segara.

  1. Festival Indonesia. Lyon, 14 Oktober 2009

Festival Indonesia ini merupakan ajang promosi hasil produk Indonesia yang diselenggarakan oleh Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) yang didukug oleh KBRI. Kelompok seni dari KBRI Paris diwakili oleh tim gamelan para karyawan. Pada kesempatan ini, KBRI juga mengundang tim kesenian dari kabupaten Jembrana, Bali dan Banyuwangi, Jawa TImur.

  1. Besançon, 15 Oktober 2009

Rangkaian tour Lyon dilanjutkan dengan pertunjukan kesenian di kota Besançon yang berjarak 3 jam perjalanan dari Lyon. Seperti halnya festival di Lyon, pertunjukan kesenian di Besançon menampilkan tim gamelan KBRI Paris dan tim kesenian Jembrana-Banyuwangi.

Selain acara di atas, kami secara individual juga mengisi acara lain sebagai utusan KBRI Paris, diantaranya:

  1. Pasar Malam Kecil yang dilaksanakan oleh asosiasi Pasar Malam di Paris tanggal 13 Juni 2009
  2. Pentas Tari Nusantara oleh Asosiasi Bhineka tunggal Ika di Plaisir, Paris tanggal 13 juni 2009
  3. Workshop gamelan dan tari di Galerie Sonore, kota Angers, tanggal 09-12 September 2009

Kegiatan ini merupakan kerjasama antara KBRI Paris Galerie Sonore. Pelatihan diberikan kepada para karyawan institusi tersebut dan masyarakat kota Angers.

  1. Resepsi diplomatik di Konsulat Jendral Marseille, tanggal 28 September 2009


6. Catatan tambahan

Ada beberapa hal penting yang perlu kami sampaikan sebagai evaluasi terhadap kegiatan pembelajaran ini.

–        Kegiatan berlangsung dari bulan April hingga Oktober. Bersamaan dengan itu, liburan musim panas juga berlangsung dari Juni hingga Agustus. Hal ini mengakibatkan sebagian peserta tidak dapat mengikuti jadwal dan pentas.

–        Kedatangan para peserta pelatihan tidak konsisten sehingga menghambat dalam penuangan materi.

–        Keterbatasan teknik dalam memainkan instrument; terkesan meteri yang diberikan cendrung itu itu saja.

–        Minimnya persiapan latihan untuk menghadapi pentas.

–        Pada setiap pementasan anggota group gamelan selalu berubah dan cenderung terdapat anggota baru. Hal ini mengakibatkan menghambat materi dan jenis gending yang diberikan.

7. Kesimpulan dan saran

Dari uraian diatas dapat ditarik beberapa kesimpulan, antara lain:

–        Melihat dari jumlah yang mendaftar, menunjukan tingginya minat  dan antusias masyarakat baik masyarakat  Prancis, masyarakat Indonesia, maupun Warga Negara Asing, untuk belajar gamelan dan tari Bali.

–        Semua materi yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh peserta pelatihan. Sebagai indikatornya semua materi dapat ditampilkan untuk mengisi acara promosi Indonesia maupun acara yang diadakan oleh fihak KBRI sendiri.

–        Pembelajaran gamelan dan Tari Bali di KBRI Paris, sebagai upaya pelestarian dan pengembangan Seni dan Budaya dirasa perlu mengingat seni dan budaya memberikan kontribusi yang sangat besar kepada  Negara terutama sebagai ajang Promosi, sarana diplomasi dan menjalin hubungan kerjasama dengan Negara Lain.

Memainkan alat music, baik tradisional maupun modern membutuhkan waktu yang relatif panjang. Begitu pula halnya dengan memainkan gamelan Bali yang terdiri dari berbagai macam instrumen yang mempunyai tingkat kesulitan berbeda. Dengan waktu yang relatif singkat, tentu ketrampilan yang diperoleh belum maksimal. Oleh karena itu program pelatihan semacam ini perlu dilanjutkan secara regular dan berkesinambungan, sehingga apa yang dilakukan sesuai dengan yang diharapkan.

Add a Comment

You must be logged in to post a comment.

Previose Post: