iseng-iseng

Eksistensi Gambelan Angklung Keluarga Besar Bendesa Manik Mas

        Gambelan angklung merupakan barungan gambelan yang termasuk dalam golongan madya, karena dalam permainan gambelan angklung instrument kendang sudah mulai berperan. Demikian halnya dengan gambelan angklung milik keluarga besar Pasek Bendesa Manik Mas, yang berlokasi di Br. Kayu Padi, Desa Pupuan, Kec. Pupuan, Kabupaten Tabanan.

            Mengenai keberadaan barungan gambelan ini, penulis mendapat bukti keberadaannya dari beberapa informan, dan ada pula bukti tertulis. Kedua sumber tersebutlah dapat dijadikan sebagai bahan acuan dalam penulisan ini.

            Menurut 2 narasumber, yaitu I Made Kumpul dan I Gede Artayasa. kedua narasumber ini, merupakan generasi dari pendiri sekhe angklung, memang keberadaan seperangkat gambelan ini lebih dulu ada, dari kelahiran mereka, tetapi mereka mendapat informasi langsung dari pendiri sekhe angklung ini. Kedua narasumber ini memberikan pernyataan yang sama, bahwa keberadaan angklung tersebut dilatarbelakangi oleh kebutuhan pisikologis sekelompok keluarga yang berjumblah 7 orang, kebetulan 6 orang dari keluarga tersebut merupakan saudara kandung dan satu orang lagi merupakan ipar dari ke enam saudara kandung tersebut. Ketujuh anggota keluarga ini sepakat untuk membuat gambelan angklung, tentang alasan mengapa dipilihnya gambelan angklung adalah memang pada waktu itu Desa Pupuan sudah memiliki seperangkat gong kebyar, tetapi barungan tersebut hanya dipergunakan pada saat upacara Dewa Yadnya saja, sehingga mereka memandang bahwa jika membuat gambelan angklung, mungkin akan ada banyak orang yang mencari ( ngupah) jika mereka mengadakan Suatu upacara, baik Manusa Yadnya maupu Pitra Yadnya, para pendiri ini pada waktu itu sudah memiliki motif ekonomi disamping social kemasyarakatan, tetapi bukan itu saja sasaran mereka, melainkan mereka juga menginginka suatu hiburan untuk melepas lelah setelah mereka datang dari bekerja sebagai petani.

            Awal mulanya barungan agklung ini baik yang berbilah maupun berpencon semuanya terbuat dari besi. Proses pembuatan pertama kali dilakukan dengan cara bergotong royong. Kebetulan juga salah seorang dari keluarga memiliki keahlian Memande ( membuat senjata ). Berangkat dari niat dan kesungguhan, bahan dan beralatan seadanya, bilah demi bilah tercipta oleh tangan terampil mereka, akhirnya jadi 4 tungguh gangsa, yang masing-masing terdiri dari 5 bilah, 1 tawa-tawa, 1 buah kempur dan 1 buah gong. Semuanya terbuat dari besi.

            Setelah adanya seperangkat gambelan seadanya tersebut, munculah keinginan untuk mengupulkan sekhe gebug. Ternyata banyak dari keluarga yang satu darah berminat bergabung menjadi sekhe gebug, akhirnya terciptalah sekhe demen pada waktu itu

            Setelah adanya sekhe mereka memulai latihan,akan tetapi pada waktu itu sangat sulit mencari pelatih tabuh, sehingga latihan dilakukan dengan kemampuan sendiri. Beberapa gending-gending dolanan, yang dipergunakan oleh anak-anak pada saat bermain mereka transfer kedalam tabuh angklung.

            Ternyata keberadaan skhe ini mendapat dukungan yang sangat antusias dari masyarakat sekitar, hal ini dibuktikan dengan seringnya mereka kupah untuk menabuh jika ada suatu upacara baik Manusa Yadnya maupun Pitra Yadnya.

            Mulai bertambahnya wawasan dan tau akan pentingnya keberadaan angklung dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, akhirnya muncul keinginan untuk membeli seperangkat gambelan angklung yang terbuat dari bahan kerawang.

Menurut bukti yang tertulis diatas daun lontar yang menggunakan tulisan Bali/aksara Bali, disana disebutkan bahwa ketujuh orang ini yang membeli dan sekaligus sebagai pendiri atau perintis sekhe pada tahun 1940, tetapi tanggal dan bulannya tidak tertulis. Ketujuh pendiri tersebut antara lain :

  1. Pan Tadi
  2. Pan Rancis
  3. Pan Mintar
  4. Pan Nasti
  5. Pan Bekung
  6. Pan Nari
  7. Pan Mudatri

Disepakati untuk membeli angklung di daerah Tihingan, Klungkung. Pembelian dilakukan secara satu persatu, pembuatan seluruhnya dilakukan disana, tetapi bahan dari pelawahnya berasal dari ketujuh pembeli ini. Prosesnya sangat sulit karena pada tahun 1940 sangat sulit mencari transportasi, sehingga proses pembawaan kayu sebagai bahan terampa harus berjalan dari Pupuan ke Tihingan itu juga harus sembunyi-sembunyi, karena pada waktu itu Negara Indonesia masih belum merdeka sehingga masih banyak tentara-tetara penjajah yang berkeliaran. Bisa dibilang sampai mempertaruhkan nyawa untuk membeli gambelan angklung pada waktu itu. Setelah selesai dibuat, satu persatu dari instrument di bawa ke Pupuan, itu juga tidak mudah, harus tidak sampai terlihat oleh tentara penjajah pada waktu itu. Tidak terbayang bagaimana perjuangan para pendiri angklung ini.

Barungan angklung dibeli seharga 400 ringgit, pada waktu itu belum ada uang rupiah, bisa dikatakan cukup mahal  pada jaman itu. Sumber dananya adalah dari ketujuh pendiri tersebut dengan cara patungan. Instrument yang dibeli antara lain : 4 tungguh gangsa, 4 tungguh kantilan ( masing-masing tungguh terdiri dari 5 bilah ), 2 tungguh gangsa pemetit, 2 tungguh jegog, 1 buah kempur, 1 buah tawa-tawa, 1 buah gong lanang, dan 1 buah gong wadon.

Setelah sarana lengkap, sekhe gebug sudah ada, tetapi pada waktu itu belum adanya sistim kepeggurusan sekhe, hanya berpedoman kepada para pendirinya. Tetapi pada waktu itu sudah memiliki aturan-aturan/ awig-awig bagi sekhe gebug dan pendirinya yang terlihat pada bukti tertulis ada 6 aturan, diantaranya :

  1. Barang siapa yang ingin masuk sebagai sekhe gebug, boleh menjadi sekhe angklung, asalkan taat dengan awig-awig, istilah balinya bani ngutang gae, sing madengang payuk jakan jumah atau dengan kata lain skhe ini adalah cenderung pada kegiatan social.
  2. kalau ingin berhenti boleh, dan tidak ada unsur paksa. Dengan terus terang dihadapan sekhe.
  3. kalau ada hasil uang, ia dapat bagian, dari jumbelah hasil yang dibagi rata, bagi anggota yang berhenti.
  4. Setelah berhenti dengan terus terang, tidak boleh memperhitungkan barang angklung yang ada, sebab yang membeli barang angklung itu terdiri dari 7 orang
  5. Bagi anggota 3 kali berturut-turut tidak hadir tanpa alasan, diadakan pendekatan.
  6. Bagi pemilik angklung yang berhenti sama sekali tidak boleh meminta bagian berupa barang angklung yang ada, maupun uang yang ada, walaupun mereka yang ikut membelinya.

Begitulah aturan menurut bukti tertulis tersebut.

Seiring dengan perkembangan jaman, sekitar tahun 60-an baru dibuat nama sekhe, yaitu sekhe Angklung MARGA UTAMA, dan mulai membuat system organisasi kepengurusan sekhe.

Begitulah sejarah singkat tentang keberadaan gambelan angklung Marga Utama milik keluarga Pasek Bendesa Manik Mas yang masih diwarisi sampai saat ini.Hingga saat ini Trampa dari barungan angklung ini belum pernah diganti, karena keadaannya masih tetap awet dengan motif-motif ukiran yang sangat lama ( kuno ), hanya saja sempat dipangur dan diganti tabung resonatornya saja sebnyak 2 kali dari awal berdirinya hingga saat ini. Barunngan angklung ini juga termasuk unik, karena merupakan gambelan laras selendro 5 nada, yaitu nding, ndong, ndeng, ndung, ndang.

Keberadaan angklung ini memang sudah cukup lama dan memiliki peranan yang sangat penting bagi kegiatan upacara baik dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat umum, selain itu barungan angklung ini telah memberikan dampak atau pengaruh yaitu sebagai pengikat suatu tali persaudaraan (istilah Balinya, Pang sing pegat-pegat menyama ), terbukti sekarang ini sudah sampai empat generasi. Keberadaan Gambelan Angklung ini harus tetap di jaga dan di lestarikan.

Demikianlah sejarah singkat mengenai keberadaan barungan gambelan angklung milik keluarga Pasek Bendesa Manik Mas. Penulis menyadari bahwa dalam tulisan ini masih banyak kekurangan dan dapat dikatakan jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran sangat penulis harapkan demi kesempurnaan tulisan ini. Sekian dan terimakasih.

November 17th, 2011 at 9:46 pm | Comments & Trackbacks (11) | Permalink


Banjar kayu puring, Desa Pupuan

Pupuan merupakan nama sebuah Desa yang terletak di ujung barat Kabupaten Tabanan, tepatny di kaki gunung Batukaru. Secara geografis nama Pupuan berasal dari kata “pupu” yang berarti “paha”, karena letaknya di paha gunung Batukaru. Selain itu nama pupuan berasal dari kata “pelupuan” yang berarti “kubangan”, karena memang posisinya dikelilingi oleh dataran tinggi, sehingga nampak seperti kubangan. Dari kedua kata tersebut lah asal mula nama Pupuan.

Desa Pupuan terbagi menjadi 5 banjar, yaitu Banjar Pupuan, Banjar Kubu, Banjar Kayu Padi, Banjar Semoja, Banjar Kayu Puring.

BANJAR KAYU PURING

Banjar kayu puring terletak ddi bagian selatan dari desa Pupuan, dengan jumblah penduduk yang bertempat tinggal di banjar kayupuring dapat dikatakan sedikit, hanya bejumblah 125 Kepa kluarga.

Kata Kayu puring sebenarnya tidak ada artinya, nama tersebut diambil dari nama sebuah pohon besar yang tumbuh di lingkungan banjar, yaitu pohon Kayu Puring.

Penduduk Banjar Kayu Puring Mayoritas beragama Hindu, tetapi ada juga yang beragama Budha, Islam, dan Kristen.

Sistem pemerintahan Banjar di pimpin oleh Kelian Banjar Adat dan kelian Banjar Dinas. Kelian banjar Adat yang berada di bawah naungan Bendesa adat, berperan untuk menggerakkan masyarakat Banjar dalam kegiatan yang berhubungan dengan persoalan-persoalan Upacara adat yang berlangsung di desa Adat maupun Banjar.

Kelian banjar Dinas yang berada di bawah naungan kepala desa, berperan dalam bidang persoalan yang berhubungan dengan pemerintahan, misalnya masalah kependudukan, dll.

Dalam setiap banjar tentunya pasti ada organisasi pemuda dan pemudi banjar, demikian halnya di Banjar kayu puring, terdapat organisasi pemuda dan pemudi yang bernama ST Griya Sentana Sari. Selain itu di banjar kayu Puring juga ada kelompok PKK yang di gerakkan oleh Kelian banjar dinas, dan banjar kayu puring juga memiliki sekhe  Baleganjur, dimana anggota dari skhe tersebut semuanya merupakan masyarakat Banjar Kayu puring.

Tri hita karana selalu dijadikan sebuah pedoman dalam kehidupan bermasyaraka di banjar kayu puring.

Juni 28th, 2011 at 12:58 am | Comments & Trackbacks (38) | Permalink


Tentang Saya

Nama saya Kadek Swartana, saya lahir pada tanggal 21 April tahun 1991, dilahirkan di Pupuan, sebuah desa kecil nan indah yang terletak di kakii gunung Batukaru. Saya anak ke dua dari dua bersaudara, anak dari pasangan I Wayan Kastika dengan Ni Made Rupi. Saya memiliki cita-cita ingin menjadi seniman.

Latar belakang pendidikan, bersekolah dasar di SD N 1 Pupuan, SMP di SMP N 1 Pupuan dan lanjut di SMK N 3 Sukawati, sekarang saya tercatat sebagai salah satu mahasiswa di Institut Seni Indonesia Denpasar, Fakultas seni Pertunjukan, jurusan seni Karawitan.

Kegemaran saya bermain gambelan sudah terlihat saat saya masih duduk di bangku kelas 2 SD. Pada waktu itu saya selalu ikut serta dalam latuhan-latihan di banjar, menkipun hanya sebagai pendengar saja. Pada saat saya duduk di bangku SMP saya mengikuti kegiatan extrakurikuler seni Tabuh. Kemudian saya Melanjutkan sekolah Di SMK N 3 Sukawati mengambil jurusan Karawitan. Berbekal pengalaman tersebut saya melanjutkan kuliah di Institut Seni Indonesia Denpasar.

Semangat yang tinggi untuk mewujudkan sebuah cita-cita mendorong saya untuk mengenyam pendidikan di ISI Denpasar, walaupun latar belakang keluarga kurang mampu, yang pekerjaan orang tua hanya sebagai petani, tetapi saya tetap yakin keterbatasan ekonomi tidak akan menjadi penghalang untuk meraih sebuah cita-cita yang penting kita selalu berusaha, saya yakin saya pasti bisa. Nantinya juga saya ingin mengabdikan diri pada masyarakat untuk melestarikan seni Karawitan Bali.

Juni 26th, 2011 at 12:25 pm | Comments & Trackbacks (16) | Permalink


Kakawin Totaka

Pengertian dan Asal-usul Kekawin

Kekawin berasal dari kata “kawi” mendapat awalan ke dan akhiran an, menjadi kekawin. Kawi artinya Buat, susun, gubah, karang. Jadi kekawin dapat diartikan buatan, susunan, gubahan, dan karangan. Atas dasar pengertian tersebut , maka kekawin adalah puisi yang dibuat atau disusun dengan menggunankan bahasa Jawa Kuno. Puisi ini mengambil bentuk dari puisi para pujangga India kuno yang berbahasa Sansekerta. Kekawin biasa juga disebut dengan istilah lain, yaitu wirama, tembang gede dan sekar agung.

Dalam bahasa sehari-hari, ada beberapa istilah dalam menembangkan karya sastra, seperti kekawin, yaitu mabebasan, mapepaosan dan makekawin. Mabebasan artinya melagukan kekawin dengan terjemahannya. Dengan kata lain mabebasan berarrti kegiatan menyanyikan teks kekawin, kidung, atau macepat yang di ikuti dengan terjemahannya. Mapepaosan artinya melakukan kegiatan atau aktivitas pembacaan kekawin serta terjemahannya. Makekawin artinya melakukan hasil karya penyanyi atau melagukan puisi Jawa kuno, dengan memakai tembang India, yang diikat oleh aturan Guru Laghu. Dalam makekawin belum terkandung unsur penerjemahannya. Jadi makekawin belum dapat dikatakan mabebasan.

Menurut dugaan kekawin digubah di Jawa, pada abad IX – XV. Sekitar abad XVI, di Bali tumbuh dan berkembang pesat sampai saat ini, khususnya dalam rangkaian upacara adat dan upacara agama, kekawin di bacakan dengan pepaosan dan mabebasan. Kekawin atau puisi-puisi India Kuno ini dibawakan berdasarkan guru laghu  dan wretta matra.

Fungsi Kekawin

Seperi halnya sekar alit, kidung, maka kekawin digunakan sebagai pengiring upacara yadnya (panca yadnya). Dalam kehidupan masyarakat Bali, aktivitas makekawin lebih di titik beratkan pada kegiatan upacara pitra yadnya. Kegiatan tersebut di mulai dari meninggal, ngeringkes, berangkat ke kuburan, penguburan / pembakaran jenasah, ngereka, nganyut, ngerorasin sampai ngelinggihang. Kekawin tersebut dinamakan kekawin Pitra Yadnya.

Kegiatan mabebasan dilakukan semalam suntuk. Keahlian tata bahasa kawi dan tata bahasa Bali amat diperlukan oleh pembaca maupun paneges kekawin. Kekawin yang biasa digunakan  dalam upacara Dewa Yadnya adalah Merdukomala, Totaka, Indrawangsa, Pratiwitala. Untuk upacara Manusa Yadnya, adalah Wangsastha, Seronca, Wipula, Sardula, Sekarini. Dan kekawin yang biasa difungsikan dalamupacara Pitra Yadnya adalah wirama Indrawangsa, Aswalalita dan Girisa.

Syarat-syarat Kekawin

Dalam mempelajari kekawin ada berbagai cara, antara lain dengan system guru laghu, dengan pola melodi, dan biasa pula dengan cara pemberian tanda-tanda garis lurus, naik dan turun. Masalah Ritme dapat diatur dalam penulisan melodi dengan menyesuaikan guru laghu kekawin yang bersangkutan.

Syarat-syarat kekawin :

a.              Tiap bait kekawin terdiri atas 4 baris ( kecuali kekawin Raitiga memiliki 3 baris dalam tiap baitnya ) keempat baris tersebut memiliki :

1.      Pengawit ( penyemah atau pembuka )

2.      Penampi ( Pengisep )

3.      Pengumbang

4.      Pemalet ( penutup )

b.              Tiap baris suku katanya tetap sama sesuai dengan ketentuan yang ada pada tiap         jenis kekawin kecuali Seronca.

c.              Memakai Guru dan Laghu.

d.             Suku kata terakhir boleh Guru, boleh Laghu

Guru dan laghu dalam kekawin merupakan pola dasar dalam pembentukan puisi Jawa kuno atau kekawin. Secara Etimologhi guru laghu terdiri dari dua kata, yaitu guru dan laghu. Dalam hubungannya dengan kekawin, maka Guru itu artinya suara berat, suara panjang dan beraturan. Dalam hukum kekawin maka guru diberi tanda garis datar ( — ), sedangkan kata Laghu sehubungan dengan aktivitas mabebasan artinya suara pendek, kencang dan ringan. Dalam hukum kekawin laghu ditandai dengan tanda garis melengkung ( È ). Berdasarkan pengertian tersebut maka dikatakan bahwa guru laghu berarti hukum kekawin tentang berat, ringan, panjang, pendek dan kencangnya suara dalam menyanyikan kekawin.

Bentuk Kekawin

Dalam aturan kekawin dikenal adanya Wretta dan Matra, untuk menyusun kekkawin. Wretta adalah jumlah suku kata dalam satu baris kekawin. Matra adalah susunan atau komposisi guru laghu dalam satu bait kekawin.

Perhitungan guru laghu dalam satu baris kekawin dibagi 3 ( tiga ) suku kata. Perhitungan atas tiga suku kata dalam kekawin disebut Gana. Dalam satu baris kekawin terdiri dari beberapa gana, setiap gana terdiri dari tiga suku kata, yang berkedudukan sebagai guru atau laghu.

Jenis – jenis Kekawin

Dibawah ini adalah bermacam-macam kekawin beserta jumlah guru laghunya :

1.       Girisa                    = 16

2.       Wangsastha          = 12

3.       Merdukomala       = 18

4.       Wirat                    = 23

5.      Totaka                   = 12

6.      Sekarini                 = 17

7.      Seronca                 = 10

8.      Aswalalita             = 23

9.      Indrawangsa         = 12

10.  Wipula                   = 8

11.  Basanta                 = 14

12.  Rajani                    = 17

13.  Pratiwitala             = 17

14.  Raitiga :

– Wirat                   = 20

– Sronca                 = 11

– Swandewi           = 13

15. Praharsini              = 13

16. Sardula                  = 19

17. Wiralata                 = 16

18. kilayu manedeng   = 22

19. Sragdara                = 21

20. Sarisi                     = 11

Kekawin Totaka

Struktur Kekawin Totaka

WIrama atau Kekawin Totaka ini dipetik dari buku Kekawin Arjuna Wiwaha, halaman 38 pupuh ke 11 yang dikarang oleh Empu Kanwa. Wirama totaka biasanya berfungsi sebagai pengiring upacara Dewa Yadnya. Banyaknya guru laghu wirama Totaka adalah 12, dimana dalam satu bait terdiri dari 4 baris dan masing-masing barisnya terdiri dari 12 suku kata.

Wirama Totaka

Guru laghu = 12

È È È È È È È È È
SA SI WIM BA HA NENG GA T, ME SI BA NYU
NDA NA SING SU CI NIR MA LA, ME SI WU LAN
I WA MANG KA NA, RA KWA KI TENG KA DA DIN
RING A NGAM BE KI YO GA, KI TENG SE KA LA

Makna Kekawin Totaka

Sasi wimba haneng gata, mesi banyu.

– Arti dalam Bahasa Bali :

“Sekadi lawat bulane sane wenten ring june, madaging toya”.

– Arti dalam Bahasa Indonesia :

“Seperti bayangan bulan yang terlihat pada jun ( tempat air ), yang berisi air”.

Ndanasing suci nirmala, mesi wulan.

– Arti dalam Bahasa Bali :

“Sakewanten wantah sane ening tanpa teleteh kewanten, madaging lawat bulan”.

– Arti dalam Bahasa Indonesia :

“Tetapi hanya pada air yang bersih tanpa kotoran saja bayangan bulan itu akan nampak”.

Iwa mangkana, rakwa kiteng kadadin.

– Arti dalam Bahasa Bali :

“ Sakadi punika paduka Batara ring saluiring panumadiane”.

– Arti dalam Bahasa Indonesia :

“ Seperti itulah Tuhan dalam kehidupan ini”.

Ringangambeki yoga, kiteng sekala

– Arti dalam Bahasa Bali :

“ Ring sang ngincepang tapa brata, paduka Batara pikanten nyekala”

– Arti dalam Bahasa Indonesia :

“ Hanya pada manusia yang taat melaksanakan yoga Tuhan itu akan menunjukkan diriNya secara nyata.

Makna dari kekawin totaka ini jika dilihat dari arti syair tiap barisnya, diungkapkan bahwa manusi agar bisa menemukan atau melihat Tuhan dalam berbagai manefestasinya secara nyata merupakan sesuatu yang sangat sulit. Dalam kekawin ini Tuhan di ibaratkan seperti bulan, manusia seperti jun (tempat air) dan air merupakan segala sifat manusia. Bayangan bulan hanya bisa terlihat pada jun yang berisi air yang benar-benar bersih, jika jun berisi air kotor atau keruh, sedikit pun tidak akan terlihat bayangan bulan. Begitu juga dengan manusia, jika ingin melihat, menemukan, atau merasakan keberadaan Tuhan, manusia haruslah bersih atau suci secara lahir bathin tanpa adanya sifat keduniawian di dalam diri, untuk mencapai hal ini memang smembutuhkan prosen yang sangat panjang dan harus diimbangi dengan keyakinan dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Jika sudah memiliki niat yang baik, dan mau untuk berusaha kita pasti akan mencapai apa yang kita inginkan.


Juni 19th, 2011 at 4:37 pm | Comments & Trackbacks (115) | Permalink


Hari Raya Nyepi Dalam Konteks Seni Di Desa Pupuan

Nyepi merupakan salah satu hari raya umat beragama hindu yang ada di indonesia. Hari raya nyepi  datang setiap satu tahun sekali, yaitu  pada hari tilem sasih kasanga.  Berkaitan dengan hari raya nyepi, penulis ingin berbagi sedikit tentang sejarah awal hari raya nyepi.kita semua tahu bahwa agama hindu berasal dari india dengan kitab sucinya weda. Di awal abad masehi bahkan sebelumnya, negeri india dan wilayah sekitarnya digambarkan selalu mengalami krisis dan konflik sosial berkepanjangan.pertikaian antar suku-suku bangsa, al. (suku saka, pahiava, yuehchi, yavana dan malaya) menang dan kalah silih berganti. Gelombang perebutan kekuasaan antar suku menyebabkan terombang-ambingnya kehidupan beragama itu. Pola pembinaan kehidupan beragama menjadi beragam, baik karena kepengikutan umat terhadap kelompok-kelompok suku bangsa, maupun karena adanya penafsiran yang saling berbeda terhadap ajaran yang diyakini. Dan pertikaian yang panjang pada akhirnya suku saka menjadi pemenang dibawah pimpinan raja kaniskha i yang dinobatkan menjadi raja dan turunan saka tanggal 1 (satu hari sesudah tilem) bulan 1 (caitramasa) tahun 01 saka, pada bulan maret tahun 78 masehi. Dari sini dapat diketahui bahwa peringatan pergantian tarikh saka adalah hari keberhasilan kepemimpinan raja kaniskha i menyatukan bangsa yang tadinya bertikai dengan paham keagamaan yang saling berbeda.

Sejak tahun 78 masehi itulah ditetapkan adanya tarikh atau perhitungan tahun saka, yang satu tahunnya juga sama-sama memiliki 12 bulan dan bulan pertamanya disebut caitramasa, bersamaan dengan bulan maret tarikh masehi dan sasih kesanga dalam tarikh jawa dan bali di indonesia. Sejak itu pula kehidupan bernegara, bermasyarakat dan beragama di india ditata ulang. Oleh karena itu peringatan tahun baru saka bermakna sebagai hari kebangkitan, hari pembaharuan, hari kebersamaan (persatuan dan kesatuan), hari toleransi, hari kedamaian sekaligus hari kerukunan nasional. Keberhasilan ini disebar-luaskan keseluruh daratan india dan asia lainnya bahkan sampal ke indonesia.Kehadiran sang pendeta saka bergelar aji saka tiba di jawa di desa waru rembang jawa tengah tahun 456 masehi, dimana pengaruh hindu di nusantara saat itu telah berumur 4,5 abad.Dinyatakan sang aji saka disamping telah berhasil mensosialisasikan peringatan pergantian tahun saka ini, jüga dan peristiwa yang dialami dua orang punakawan. Pengiring atau caraka beliau diriwayatkan lahirnya aksara jawa onocoroko doto sowolo mogobongo padojoyonyo. Karena aji saka diiringi dua orang punakawan yang sama-sama setia, sama-sama sakti, sama-sama teguh dan sama-sama mati dalam mempertahankan kebenaran demi pengabdiannya kepada sang pandita aji saka. Rangkaian peringatan pergantian tahun saka peringatan tahun saka di indonesia dilakukan dengan cara nyepi (sipeng) selama 24 jam dan ada rangkaian acaranya antara lain :

1. Upacara melasti, mekiyis dan melis intinya adalah penyucian bhuana alit (diri kita masing-masing) dan bhuana agung atau alam semesta ini. Dilakukan di sumber air suci kelebutan, campuan, patirtan dan segara. Tapi yang paling banyak dilakukan adalah di segara karena.sekalian untuk nunas tirtha amerta (tirtha yang memberi kehidupan) ngamet sarining amerta ring telenging segara. Dalam rg weda ii. 35.3 dinyatakan apam napatam paritasthur apah (air yang murni baik dan mata air maupun dan laut, mempunyai kekuatan yang menyucikan).

2. Menghaturkan bhakti/pemujaan Di balai agung atau pura desa di setiap desa pakraman, setelah kembali dari mekiyis.

3. Tawur agung/mecaru. Di setiap catus pata (perempatan) desa/pemukiman, lambang menjaga keseimbangan. Keseimbangan buana alit, buana agung, keseimbangan dewa, manusia bhuta, sekaligus merubah kekuatan bhuta menjadi div/dewa (nyomiang bhuta) yang diharapkan dapat memberi kedamaian, kesejahteraan dan kerahayuan jagat (bhuana agung bhuana alit). Dilanjutkan pula dengan acara ngerupuk/mebuu-buu di setiap rumah tangga, guna membersihkan lingkungan dari pengaruh bhutakala. Belakangan acara ngerupuk disertai juga dengan ogoh-ogoh (symbol bhutakala) sebagai kreativitas seni dan gelar budaya serta simbolisasi bhutakala yang akan disomyakan. (namun terkadang sifat bhutanya masih tersisa pada orangnya).

4. Nyepi (sipeng) Dilakukan dengan melaksanakan catur brata penyepian (amati karya, amati geni, amati lelungan dan amati lelanguan).

5. Ngembak geni. Mulai dengan aktivitas baru yang didahului dengan mesima krama di lingkungan keluarga, warga terdekat (tetangga) dan dalam ruang yang lebih luas diadakan acara dharma santi seperti saat ini.

Yadnya dilaksanakan karena kita ingin mencapai kebenaran. Dalam yajur weda xix. 30

dinyatakan : pratena diksam apnoti, diksaya apnoti daksina. Daksina sradham apnoti, sraddhaya

satyam apyate. Artinya : melalui pengabdian/yadnya kita memperoleh kesucian, dengan kesucian

kita mendapat kemuliaan. Dengan kemuliaan kita mendapat kehormatan, dan dengan kehormatan

kita memperoleh kebenaran.

Sesungguhnya seluruh rangkaian nyepi dalam rangka memperingati pergantian tahun baru saka itu adalah sebuah dialog spiritual yang dilakukan oleh umat hindu agar kehidupan ini selalu seimbang dan harmonis serta sejahtera dan damai. Mekiyis dan nyejer/ngaturang bakti di balai agung adalah dialog spiritual manusia dengan alam dan tuhan yang maha esa, dengan segala manifetasi-nya serta para leluhur yang telah disucikan.

Tawur agung dengan segala rangkaiannya adalah dialog spiritual manusia dengan alam sekitar para bhuta demi keseimbangan bhuana agung bhuana alit. Pelaksanaan catur brata penyepian merupakan dialog spiritual antara din sejati (sang atma) seseorang umat dengan sang pendipta (paramatma) ida sang hyang widhi wasa. Dalam din manusia ada sang din /atrnn (si dia) yang bersumber dan sang pencipta paramatma (beliau tuhan yang maha esa).

Sima krama atau dharma santi adalah dialog antar sesama tentang apa dan bagaimana yang sudah, dan yang sekarang serta yang akan datang. Bagaimana kita dapat meningkatkan kehidupan lahir batin kita ke depan dengan berpijak pada pengalaman selama ini. Maka dengan peringatan pergantian tahun baru saka (nyepi) umat telah melakukan dialog spiritual kepada semua pihak dengan tuhan yang dipuja, para leluhur, dengan para bhuta, dengan diri sendiri dan sesama manusia demi keseimbangan, keharmonisan, kesejahteraan, dan kedamaian bersama.

Namun patut juga diakui bahwa setiap hari suci keagamaan seperti nyepi tahun 2009 ini, ada saja godaannya. Baik karena sisa-sisa bhutakalanya, sisa mabuknya, dijadikan kesempatan memunculkan dendam lama atau tindakan yang lain. Dunia nyata ini memang dikuasai oleh hukum rwa bhineda. Baik-buruk, menang-kalah, kayamiskin, sengsara-bahagia dst. Manusia berada di antara itu dan manusia diuji untukmengendalikan diri di antara dua hal yang saling berbeda bahkan saling berlawanan.

6. Dharma santi. Adapun dharma santi sebagai rangkaian akhir nyepi merupakan hal yang wajib dilaksanakan, baik di lingkungan keluarga, warga dekat maupun warga bangsa. Dengan dharma santi kita dapat saling memaafkan jika ada kesalahan atau kekeliruan yang Pernah terjadi setidak tidaknya dalam jangka waktu satu tahun sebelumnya. Di samping itu juga untuk berbincang-bincang perihal kehidupan bersama kita ke depan karena kondisi yang dihadapi akan semakin sulit dan semakin komplek, serba multi; multi etnis, multi dimensi, multikepentingan, multi karakter dan multi kultural.Oleh karena itu dharma santi dapat dilaksanakan dimana saja dan kapan saja setelah nyepi asal tidak lewat dari waktu kurang lebih sebulan sesudah nyepi. Sangat baik kalau setiap habis hari raya keagamaan (bukan hanya pada nyepi saja) diikuti dengan dharma santi atau sima krama, atau secara spiritual sering juga dilakukan jika ada upacara piodalan di pura dengan “meprani”. Mesima krama, meprani atau dharma santi merupakan ajang berdialog antar sesama tentang berbagai aspek kehidupan.

Pelaksanaan hari raya nyepi yang dilakukan di desa Pupuan memang sama seperti rangkaian kegiatan yang telah dijelaskan, hanya saja ada beberapa perbedaan-perbedaan dalam tata carapelaksanaan upacara, bentuk upakara maupun waktu upakara. Perbedaan-perbedaan inidisesuaikan dengan sistem desa, kala dan patra pada masing-masing daerah yang ada. Terkait dengan kesenian, dalam perayaan hari raya nyepi di desa Pupuan, merupakan suatu wadah dimana, masyarakat dapat menuangkan suatu ide-ide seni, baik dalam bentuk ogoh-ogoh, maupun pembuatan suatu kreasi baleganjur untuk mengiringi pawai ogoh-ogoh yang dilaksanakan pada hari pangrupukan. Masyarakat desa pupuan sangat antusias dalam menyambut perayaan tahun baru saka, untuk memberikan kebebasan dan mendukung secara penuh senimanseniman yang ada untuk membuat suatu karya, sehingga dari tahun-ketahun selalu ada inovasiinovasi dalam bidang seni karawitan maupun seni patung (ogoh-ogoh).

Berbicara tentang ogoh-ogoh, ogoh-ogoh sebetulnya tidak memiliki hubungan langsung dengan upacara hari raya nyepi. Patung yang dibuat dengan bambu, kertas, kain dan benda-benda yang sederhana itu merupakan kreativitas dan spontanitas masyrakat yang murni sebagai cetusan rasa semarak untuk memeriahkan upacara ngrupuk. Karena tidak ada hubungannya dengan hari raya nyepi, maka jelaslah ogoh-ogoh itu tidak mutlak ada dalam upacara tersebut. Namun benda itu tetap boleh dibuat sebagai pelengkap kemeriahan upacara dan bentuknya agar disesuaikan, misalnya berupa raksasa yang melambangkan bhuta kala. Karena bukan sarana upacara, ogoh-ogoh itu diarak setelah upacara pokok selesai serta tidak mengganggu ketertiban dan keamanan. Selain itu, ogoh-ogoh itu jangan sampai dibuat dengan memaksakan diri hingga terkesan melakukan pemborosan. Karya seni itu dibuat agar memiliki tujuan yang jelas dan pasti, yaitu memeriahkan atau mengagungkan upacara. Ogoh-ogoh yang dibuat siang malam oleh sejumlah warga banjar itu harus ditampilkan dengan landasan konsep seni budaya yang tinggi dan dijiwai agama hindu. Dari keterangan tersebut, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa upacara Yadnya di Bali, sangat erat kaitannya dengan seni,baik seni suara (kidung), seni karawitan (gambelan pengiring upacara dan suara genta), seni tari, dan juga seni patung. Tidak hanya sebagai pelengkap suatuupacara, tetapi seni merupakan jiwa, spirit dalam suatu upacara di Bali. Boleh dikatakan bahwa tanpa kesenian, mungkin suatu upacara tidak akan selesai. Ogoh-ogoh bukanlah termasuk agama,tetapi ogoh-ogoh merupakan Budaya agama Hindu yang ada di Bali

Mei 2nd, 2011 at 1:50 am | Comments & Trackbacks (53) | Permalink