Alat musik Tradisional “Rebana Gending”

This post was written by juniarta on Maret 28, 2018
Posted Under: Tulisan

Rebana

Sebuah bentuk alat musik hasil akulturasi kebudayaan bangsa Arab dengan etnis Sasak. Rebana Burdah dipadukan dengan syair-syair pujian terhadap Allah SWT dan riwayat Nabi Muhammad SAW yang dipetik dari kitab karya sastra Arab Al Baranzi.Musik ini berasal dari Lombok yang diambil dari arab. Dalam anambel rebana gendering,alat suling dijadikan sebagai standar nada ketika menyetem alat rebana.Suling yang digunakan berlaras pelog dan bernada pokok berkisar antara N3-N3’.Kendatipun mempunyai laras yang sama,tinggi rendah nada suling di grup rebana gendering lelede terdengar setengah lebih rendah dari pada urutan nada pada rebana.

 

Rebana sebagai salah satu dari sekian bentuk kesenian tradisional dalam masyarakat Sasak Lombok. Jika dilihat sekilas, Rebana sangat mirip dengan gamelan. Jika gamelan adalah akulturasi budaya Bali dan Lombok, maka Rebana merupakan akulturasi antara budaya Islam Arab dengan etnis masyarakat Sasak Lombok.

Memang ada beberapa persamaan Rebana dan gamelan. Yakni sama-sama menggunakan alat seperti renceh, suling/seruling dan gong. Jika gong gamelan terbuat dari besi kuningan, gong Rebana terbuat dari kulit, bagian tengahnya dibiarkan berlubang serta dilapisi oleh kulit sapi atau kambing.

Sedangkan perbedaan Rebana dengan marawis berada pada proses penabuhan atau pemukulan. Marawis ditabuh menggunakan tangan, sedangkan Rebana ditabuh menggunakan pemukul kayu. Bunyi yang dikeluarkan Rebana begitu khas. Di setiap ketukannya diiringi dengan zikir, puji-pujian kepada Tuhan dan shalawat Nabi.

Rebana memiliki arti yang sangat kental dengan nilai-nilai spiritual. Hal tersebut sudah jelas terlihat dari puji-pujian dan shalawat yang dinyanyikan. Namun lebih dari itu, setiap ayunan dari tabuhan Rebana menyiratkan sifat fana atau ketidakkekalan manusia. Bunyi khas Rebana seakan mengisyaratkan bahwa kemanapun manusia pergi, kemanapun manusia melangkah, manusia akan kembali kepada sang pencipta dengan melewati sebuah kematian.

“Lito-late, lauk-daye, tetep jak ulek aning kubur.”

“Kemanapun pergi, barat utara, pasti akam kembali ke liang lahat.”

Dengan demikian fungsi Rebana bukan hanya sekedar kesenian tradisional yang sifatnya hiburan, namun lebih dari itu Rebana menyiratkan pesan yang begitu agung. Nilai fundemantal dari eksistensi manusia sebagai makhluk yang fana alias tidak abadi.

Jumlah instrument dalam perangkat Rebana sifatnya variatif. Namun biasanya Rebana yang ditampilkan memiliki lima belas perangkat antara lain:

  1. Ceroncong atas,
  2. Pengempat atas,
  3. Panglima atas,
  4. Pemotoq tengaq,
  5. Penengaq tengaq,
  6. Ceroncong tengaq,
  7. Pengempat tengaq,
  8. Panglima tengaq,
  9. Pemotoq bawaq,
  10. Penengaq bawaq,
  11. Ceroncong bawaq,
  12. Pengempat bawaq,
  13. Panglima bawaq,
  14. Gegendang,

Pada awal kemunculanya, Rebana digunakan untuk mengiringi dzikir, burdah dan kasidah. Namun dalam perkembanganya, Rebana banyak digunakan dalam acara-acara lain seperti:

  1. Arak-arakan Nyunatan (khitanan), biasanya pada acara ini ada prosesi Peraje Sunat. Peraje sunat adalah anak-anak yang akan disunat, sebelum acara inti, anak-anak ini diberikan hiburan berupa dinaikkan ke atas arak-arakan sejenis kuda-kudaan kemudian dibawa keliling kampung.
  2. Pengiring tradisi nyongkolan,masyarakat adat sasak memiliki tradisi mengantar pasangan pengantin kerumah mertua atau rumah si perempuan sebelum menikah dengan diiringi berbagai macam kesenian tradisional seperti Rebana, Gendang Belek, Ale-ale, Kamput, Gamelan, dan sebagainya.
  3. Perayaan balai desa
  4. Perayaan hari-hari besar islam seperti menyambut Maulid Nabi, perayaan Isra’ Mi’raj Nabi dan lain-lain.

Perkembangan zaman dan pengaruh moderenisasi yang juga masuk ke pulau Lombok. sebagai pulau tujuan wisata dunia mau tidak mau harus mencoba mengeksplorasi kekayaan alam dan kekayaan tradisi. Bak gayung bersambut, seni tradisional pulau Lombok  sebagai bagian kekeayaan wisatanya mendapat tempat istimewa di kalangan para touris yang datang mengunjungi pulau Lombok.

 

Kebudayaan Lombok timur identik dengan budaya islam karena sebagian masyarakatnya beragama islam. Salah satu Sebuah bentuk alat musik akulturasi kebudayaan bangsa Arab dengan etnis Sasak. Musik jenis ini banyak sekali dijumpai di daerah Lombok. Seluruh alat (instrumen) orkestra ini terbuat dari kulit dan kayu. Tetapi dalam perkembangannya ada yang menambah alatnya dengan instrumen besi (rincik, kenceng).

Musik rebana sering dipakai dalam mengiringi arak – arakan pengantin (nyongkol) yaitu arak – arakan pengantin pada waktu pesta perkawinan dimana penganten laki – laki dan penganten perempuan diarak dari rumah penganten laki ke rumah penganten perempuan. Selain itu juga digunakan untuk arakan khitanan.

Pada arak – arakan khitanan, anak yang dikhitan akan dinaikkan dalam usungan berbentuk kuda yang disebut sebagai “jaran jorong”. Pada saat itulah, rebana mengiringi arak – arakan tersebut.

Rebana pada awalnya digunakan untuk mengiringi dzkir yang disebut “burdah” atau “kesidah”. Di desa Lendang Nangka, kesenian Rebana ini terdapat di Dusun Punik.

Add a Comment

required, use real name
required, will not be published
optional, your blog address