Aci Tabuh Rah Pengangon Desa Adat Kapal

This post was written by juniarta on Maret 27, 2018
Posted Under: Tulisan

Aci Tabuh Rah Pengangon merupakan hajatan tahunan yang mesti harus dilaksanakan oleh karma Desa Adat Kapal. Menyimak dari untaian kalimat Aci Tabuh Rah Pengangon yang bermakna; Aci berarti persembahan, Tabuh berarti mengumandangkan/menebarkan, Rah berarti tenaga/energi, pengangon berarti nama lain dari pada sang hyang siwa, sehingga Aci Tabuh Rah Pengangon merupakan aci persembahan kehadapan Ida Sang Hyang Widi Wasa dalam wujudnya sebagai siwa. Seperti tersurat dalam ajaran Samkya Yoga ada disebutkan dua hukum yang saling berkesinambungan, dua hukum itu menyebutkan dua hal yang berbeda dan memunculkan adanya kehidupan, sehingga di dalam Agama Hindu dikenal dengan adanya konsep purusa – pradana yang disimboliskan dengan lingga dan yoni.

Konsep ini lebih jelas dapat dilihat replikanya di pura Pusering Jagat di Pejeng – Gianyar, disana terdapat dua buah palus (alat kelamin laki – laki dan perempuan), dalam implementasi kehidupan manusia khususnya dalam upacara yadnya di Bali di simbulkan Tipat dan Bantal Panjang yang berkonotasi alat kelamin laki – laki dan perempua.

Hal itulah yang mendasari dilaksanakannya prosesi upacara Aci Tabuh Rah Pengangon yang dilaksanakan oleh masyarakan Desa Adat Kapal dari zaman dahulu hingga sekarang, yang secara singkat yang tersurat dalam manuskrip kuno yang menguraikan tentang kedatangan Patih Raja Bali Dinasti Singhasari terakhir yaitu Ki Kebo Waruya, beliau menerima mandate dari Raja Bali yang bernama Asta Sura Ratna Bumi Banten untuk merenovasi Pura Purusada di Desa Kapal. Alkisah dalam perjalanannya menuju desa adat kapal diiringi lima kelompok warga pasek, setibannya di desa kapal pada tahun 1339 tergerak hatinya melihat situasi desa yang mengalami musim paceklik sehingga beliau memutuskan untuk memohon kehadapan Ida Bhatara yang berstana di Candi Rasas Pura Purusada agar berkenan melimpahkan waranugrahanya , dalam yoganya beliau menemukan petunjuk agar melaksanakan Upacara Aci yang dipersembahkan kehadapan bhatara Siwa dengan menggunakan sarana Tipat dan Bantal Panjang yang wajib dilakukan oleh seluruh karma Desa Adat Kapal dan beliau Ki kebo Waruya menamai Upacara Tersebut ACI TABUH RAH PENGANGON , yang secara umum Upacara ini berkaitan dengan istilah MAJELIH LIMBAH.

Seperti kita maklumi Bersama bahwa masyarakat Desa Adat Kapal dijamin dahulu sampai era tahun 70an sebagian besar menggantungkan kehidupannya dalam bidang agrasi (pertanian) , sehingga wajar pandangan masyarakat bahwa pelaksanaan prosesi Aci Tabuh Rah Pengangon merupakan tanggung jawab karma subak. Pandangan ini merupakan dogma yang sangat keliru, karena sesungguhnya semua karma mengharapkan hidup sejahtera walaupun tidak berprofesi sebagai petani , dan Aci Tabuh Rah Pengangon dilaksanakan untuk memohon kesejahteraan bagi seluruh karma Desa Aat Kapal.

Berkenaan dengan majelih lambih tentu mengharapkan hasil yang lebih, dalam pandangan ilmu agrasis diistilahkan dengan phala lauh, inilah yang menyebabkan adanya pelinggih PALUH di setiap subak untuk memohon kemurahan Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai dewa penguasa air yaitu Dewi Danuh, karena bagi semua mahluk hidup , air merupakan komponen utama yang sangat penting untuk melangsungkan kehidupannya.

Pandangan Hindu khususnya di bali bahwa gunung sebagai lambing purusa (utara) dan laut sebagai lambing pradana (selatan) untuk itu purusanya dilambangkan dengan bantal Panjang letaknya di arah utara sebagai simbul gunung dan tipat letaknya di arah selatan sebagai simbul lautan. Pertemuan kedua simbul itu ( dua hal yang berbeda ; Samkya Yoga ) , yang akan memunculkan adanya benih baru sebagai sumber kehidupan masyarakat secara umum.

Dalam manuskrip itu juga disebutkan bahwa pelaksanaan Aci Tabuh Rah Pengangon dilaksanakan bertepatan dengan sasih Kartika ( kapat ) penanggal molas (purnama kapat) Aci ini dilaksanaakan di pura dalem gelgel (pura desa dan pura puseh kapal) dan diawali dengan prosesi hatur piuning di pura purusada.

 

Sumber : Lontar Aci Tabuh Rah Pengangon , Koleksi Astra Hari Murti Pamungsu , Palwa Nagara

Add a Comment

required, use real name
required, will not be published
optional, your blog address

Previose Post: