Tari Legong

This post was written by Budi on Juli 2, 2014
Posted Under: Tak Berkategori

Seni yang bermutu tinggi yang hdup di segala zaman,demikian motto HB yasin yang kiranya pantas disandingkan tari legong sebagai tari klasik bali yang sangat bali dikenal antara tarian bali lainnya,paa seniman tua umumnya berpendapat ,apabila mingin menjadi penari perempuan yang kuat maka sebagian dasar tariannya harus di berikan tari legong karena mempunyai perbendaharaan gerak tari yang sangat lengkap,

Seiring dengan perkembangan zaman yang berbias pada perkembangan budaya maka kesenian bali khususnya seni tari mengalami perkembangan yang cukup bagus baik secara kualitas maupun kwantitas. Walaupun kreatipitas tari yang muncul belakangan ini namun tari legong tetap lestari di gemari pendukungnya. Tari legong kemungkinan di kembangkan dari shang yhangdedari atau shangyang legong topeng yang kini masih di jumpai di desa ketewel sukawati gianyar.hal ini terungkap dalam babad dalem sukawati ,koleksi iketut rinda (alm) yang menyebutkan dalam tapa Samadi I dewa agung made karna bermimpi melihat bidadari di surga .ketika sadar dari mimpinya lalu memerintahkan bendesa ketewel untuk membuat beberapa topeng dan mengubah suatu tarian yang mirip dengan impian beliau .bendesa berhasil membuat Sembilan buah topeng yang mencerminkan Sembilan bidadari yang masih di keramatkan sampai sekarang ,di samping itu pera payoganAgung ketewel dan di pertunjukkan setiap buda kliwen pagerwesi ,beberapa lama berselang I Gusti Ngurah Djelantik dari belahbatuh mengubah tari nandir yang gerakannya hamper sama tetapi di tarrikan oleh anak laki-laki tnpa menggenakan topeng. Pertunjukan tari nandir sangat menggugah hati raja gianyar yakni I Dewe Agung Manggis dan kemudian memerintah idewe rai perit untuk menata tarian legong yang di bawakan oleh anak anak perempuan. Atas gagasannya itu terciptalah tari legong yang diwarisi hingga kini dan peristiwa itu terjadi kira kira tahun 1811 (Dibia, 1985 ,36 )

Kostum yang di kenakan amat indah meniru pakaian dewa dewi sesuai dengan asalmulanya sebagai tarian shangyang dedari .penari legong pada umumnya di bawakan oleh anak perempuan yang berumur sekitar 10 tahun .pada masa kerjaan raja sebagai pengayom dan pemerhati kesenian .petugas kerajaan akan turun ke deda desa mencari anak anak perempuan yang berbakat untuk dilatih menjadi penari legong. Setelah mereka dewasa pada umumnya tidak diperkanankan menjadi penari legong dan di alihkan menjadi penari jogged pingitan ,jogeg gudegan dan penari ainnya,namun pada masa kini karena legong sebagai tontonan yang menarik maka para penarinya biasa di bawakan oleh perempuan dwasa yang memiliki paras cantik dan teknik tari yang kuat.

Tari legong yang bisa di sebut pelegongan muncul pada jaman kerajaan, sudah tentu bentuknya mendaat pengaruh dari tata kehidupan kerajaan .hal ini dapat di simak dari bentuk tarian legong yang paling popular yakni legong lasem yang memakai cerita panji,di bawakan oleh tiga orang penari. Satu orang berperan sebagai abdi yang di sebut condong legong memiliki bentuk tari tersendiri yang kemudian menghadap dua orang penari memrankan prabu lasem yang akan menggoda putrid rangkasari .namun rayuan lasem di tolak rangkesari selanjutnya terjadi perang antara lasem dengan burung garuda yang di bawakan oleh penari condong .di samping itu terdapat pula legong dengan berbagai tema yang di bawakan oleh dua orang penari .tarian legong mengutamakan gerak gerak yang estetis dan abstrak ,kendatipun di belakang gerak gerak itu terdapat unsure unsure exspresi atau derama .perbendaharaan gerak tarinya merupakan perpaduan antara tari shangyang dan gambuh dimana unsure impropisasi di dalam tari sangyhang di ikat oleh pola pola gambuh

Struktur atau bentuk tari legong di sesuaikan denga tema yang di pakai berbagai jenis tema yang di gunakan menyebabkan pula terjadinyan perbedaan komposisi atau bentuk bentuk tarinya kendati berbeda dalam komposisi namun masin masing bentuk mempunyai persamaan struktur yaitu pengawit atau pepeson ,pengawak ,pengcet dan pekahad. Adapun gerak tari bali di bagi atas gerak yang mencakup agem tandang tangkis dan tangkep .di samping itu norma norma tertentu seperti wirage wirame wirase sangat penting di perhatikan oleh penari agar memperoleh teknik keterampilan yang tinggi dalam menampilkannya,sesuai dengan perwatakan ,terdapat dua jenis karakter pokok dalam tari bali yaitu karakter tari putra dan karakter tari putri untuk karakter tari putri maka pada legonglah memiliki perbendaharaan gerak tari yang sangat lengkap sehingga amat pantas di berikan kepada calon penari perempuan sebagai dasar tarian,sedangkan untuk karakter putra tari baris paling cocok sebagai dasar tari yang memakai watak putra keras pegambuhan dan mengandung unsure kepahlawanan.

Di samping itu dua karakter pokok dalam tari bali di jumpai pula jenis tari bebancihan yakni tarian yang memiliki karakter antara laki dan perempuan yang dapat di lihat pada busana sikap serta ragam gerak tarinya .juga mengandung ungkapan laki lakian dengan posisi kedua kaki berjarak dua gemgam ,gerakan tari dinamis dan gagah. Jenis tarian ini biasanya dibawakan oleh penari perempuan sehingga dapat memperluas wawasan kaum perempuan untuk memilih tarian sesuai dengan tunutan gender. Hal ini berarti bahwa penari perempuan tidak hanya terbatas membawakan peran tari perempuan saja namun peran lawan jenisnyapun pantas di bwakan. Jenis tarian ini mengenakan busana adat laki laki inovatif dalambentuk udeng –udengan sehingga wajah penari akan tampak tampan.

Fungsi tari legong,dilihat dari penyajiannya memang betul betul merupakan seni serius mengandung nilai seni yang tinggi dimana para seniman kita dahulu dapat mencurahan pikirannyauntuk menggabungkan tari invropisasi seperti sangyhang dengan gambuh sehingga menjadi bentuk tari legong. Sejak awal penciptaanya tarian ini lebih merupakan tari balih balihan untuk pertunjukan di istana raja raja sebagai exspresi lambing kerajaan serta ke banggaan kerajaan ,pada jaman kerajaan istana atau puri adalah pusat kegiatan politik,social,termasuk kesenian para tamu,kerajaan akan di suguhi tarian legong dan juga gambuh sebagai jenis tarian kesenangan para raja. Penari legong biasanya tidak boleh sembarangan memilki paras cantik yang di pilih dari desa desa dan sering akhirnya menikah dengan para bangsawan istana. Dalam perkembangan jaman selanjutnya ,tari legong berpunsi sebagai hiburan masyarakat dalam rangkaian upacara baik untuk memeriahkan upacara .dewa yadnya maupun manusia yadnya namun pertunjukan lagong yang sacral sebagai tarian tari dalam acara religi di bagian pura masih di jumpai di pura payogan agung kewel yakni tari legong topeng yang di pentaskan setiap enam bulan sekali 210 hari pada hari pagerwesi.

Serangkaian denganan kedudukan bali sebagai pusat paruwisata di Indonesia maka tari legong peliatan sebagai seni komodikasi karena kususnya di pentaskan untuk kebutuhan pariwisata menghibur wisatawan sebagai kenyataan seni pertunjukan wisata tersebut tidak pernah sepi oleh penggemarnya ,serta sekaligus sebagai pelestarian seni tari klasik. Sesuai dengan kedudukan legong sebagai dasar tari perempuan struktur tariannya memiliki perbendaharaan gerak tari yang amat lengkap meliputi berbagai gerak kepala,badan dan kaki,dan di lengkapi dengan properti kipas sehingga memiliki pariasi gerak tangan memegang kipas yang di sebut ngepel ,ngulik,ngekes dan ngeliput .perbendaharaan gerak tari legong mempunyai bentuk bentuk yang sangat abstrak namun pada bagian akhir dali pola tarian itu mengguakan cerita adapun tema-tema pelegongan yang ada antara lain

  1. Malat ( cerita panji ),khusus kisah prabu lasem
  2. Kuntir ( kutir ) kiah subali dan sugriwa sewaktu kecil
  3. Jobog kisah subali dan sugriwa setelah dewasa
  4. Legod bawa kisah lingga manic yang menampilkan tokoh brahma wisnu dan siwa
  5. Kuntuk,kisah burung kuntul atau bangau
  6. Pelayan,merupakan tarian dengan gerak gerak tari yang abstrak
  7. Candrakanta ,kisah yang mengenai bulan dan matahari
  8. Raja cina,kisah putrid dan raja cina dll

Di kutip dari :legong petilan ,pionir promosi kesenian bali yang tetap eksis, A.A Ayu Kusuma Arini, STT.MSi 2011

Comments are closed.