dwiriasta


SEJARAH TARI REJANG DI DESA BUGBUG, KARANGASEM

⊆ Juli 11th by | ˜ No Comments »

SEJARAH TARI REJANG DI DESA BUGBUG, KARANGASEM.

Salah satu desa yang memiliki kelompok Rejang di daerah Bali timur adalah desa Bugbug, Karangasem.
Tari Rejang yang ada di desa Bugbug, Karangasem merupakan salah satu warisan budaya nenek moyang yang tidak boleh dilupakan.  Hal ini disebabkan karena tarian ini wajib untuk disajikan setiap tahunnya dalam suatu upacara ritual yang disebut dengan usabha, demi kelangsungan hidup dan kesejahteraan masyarakat desa tersebut. Upacara agama tersebut didukung oleh Rejang.

Sejarah Tari : Menurut para sesepuh desa, dikatakan bahwa ketika itu desa yang ada sekarang, belum terbentuk. Orang-orang tinggal di areal persawahan (pra-desa) yang dekat dengan sungai yang disebut Tukad Buhu.  Suatu ketika terjadi hujan lebat yang tiada henti-hentinya dan menyebabakan banjir dalam jangka waktu yang cukup lama, sehingga menjadi penghambat bagi orang-orang (Krama Desa) sekitarnya untuk melakukan aktifitas mereka, termasuk penguburan mayat.  Kemudian timbul keinginan Ide Gde (Bhatara Gde Gumang) untuk mempersatukan gubuk-gubuk tersebut di sebuah tempat yang layak dan terbebas dari banjir.  Untuk tujuan tersebut, maka tempat yang pertama dipilih adalah Pangiyu (lateng ngiyu). Tetapi setelah diperhatikan, tempat tersebut sangat sempit dan kurang mendukung.

IMG_9588 copy

Kemudian ditinjaulah daerah di bagian timur Bukit Penyu (Bukit Dukuh), yang tenyata terdapat genangan air berwarna biru yang disebut Telaga Ngembeng atau Banu Wka.  Tempat ini merupakan tempat yang sangat baik, datar, dan luas, sehingga cocok untuk dijadikan tempat pemukiman untuk sebuah desa. Dengan upaya, menimbun genangan air tersbeut untuk mengumpulkan (mempersatukan) orang-orang yang mendiami gubuk-gubuk yang tersebar di areal persawahan (pra-desa).  Setelah lama menimbun genangan air tesebut, tetapi genagan air tetap saja demikian adanya, tidak tertimbun. Setelah hampir mencapai puncak keputusan dari orang-orang yang bekerja menimbun genangan air tersebut, kemudian Ida Gde beryoga dan mempersatukan bayu, sabda, dan idep untuk menyatu (manunggal) dengan Bhatara Kala, tanpa diketahui oleh orang-orang.  Tidak lama kemudian, muncul seorang laki-laki bertubuh tinggi besar dan gagah perkasa yang merupakan wujud lain dari Ide Gde yang sudah menyatu dengan Bhatara Kala. Orang-orang tidak mengenali siapa sebenarnya yang datang tersebut. Beliau menamakan dirinya Ki Taruna Bali.  Perwujudan Dewata inilah yang menyanggupi untuk menimbun genangan air tersebut.  Tetapi beliau memberi persyaratan kepada orang-orang agar dirinya ditanggung makan dan minumnya oleh orang-orang yang telah mendirikan gubuk-gubuk sementara di sekitar Telaga Ngembeng tersebut. Orang-orang itupun menyanggupinya untuk menanggung makan dan minumnya hingga selesai.

Setelah beberapa lama melakukan pekerjaan menimbun genangan air tersebut, porsi makan dan minum Ki Taruna Bali semakin hari semakin bertambah. Maka, orang-orang yang tadinya berjanji dan siap untuk menanggung makan dan minumnya menjadi kewalahan. Tidak lama kemudian setelah hampir selesai menimbun genangan iar tersebut, di saat itulah muncul niat yang kurang baik dari orang-orang untuk memperdaya (membinasakan) Ki Taruna Bali.  Tetapi Ki Taruna Bali yang merupakan perwujudan Dewata, mengetahui niat orang-orang tersebut. Karena keprihatinan Beliau akan kesetiaan dan ketulusan dari orang-orang tersebut, Ki Taruna Bali yang sangat bijaksana memberikan jalan keluarnya dengan memberikan isyarat da pamoran doeng, yang maksudnya adalah jangan menorehkan kapur saja. Secara lebih luas, maksudnya adalah janganlah senantiasa memiliki niat yang kurang baik seperti itu. Beliau berkata kepada orang-orang agar nantinya ia melakukan kewajiban menyelenggarakan upacara dan upakara babanten pacaruan (caru) lengkap dengan rajah (gambar) wong-wongan Sang Hyang Yamaraja Dhipati Uriping Bhuana pada natar Pura Penataran Bale Agung Desa Pakraman Bugbug, Karangasem. dan dikelilingi oleh tarian rejang. Tarian rejang ini nantinya ditarikan oleh anak-anak mereka yang masih muda yang disebut dengan Daha. Agar selalu ditaati oleh orang-orang yang menjadi Krama Desa hingga kelak, maka terbentuklah desa yang dinamakan desa Bugbug (dalam bahasa Bali berarti pusat atau dipersatukan).
download (1)

Tari Rejang tersebut memiliki gerak yang sangat sederhana. Hal ini disebabkan karena tidak mementingkan keindahan gerak, tetapi maksud yang diinginkan dari penyajiannya. Gerak tarinya hanya berdiri biasa, tangan kiri memegang kain putih yang digunakan oleh penari yang ada di belakangnya dan penari yang ada di barisan paling depan kain putih yang digunakan diselempangkan ke kanan, dengan gerak membentangkan tangan ke samping kiri, kanan, dan kedua tangan, yang diulang hingga dua kali. Untuk gerak membentangkan kedua tangan ke samping untuk yang kedua kalinya, dilakukan bersamaan dengan pukulan gong. Tarian ini tidak harus dilakukan dengan kompak atau bersamaan antara satu penari dengan penari lainnya, melainkan yang ditekankan di sini adalah geraknya dilakukan dua kali (diulang) dan gerak terakhir tepat pada saat pukulan gong.
Setelah satu frase gerak selesai, penari yang berada di barisan paling depan pindah ke belakang dan tidak menari.  Demikian pula gerak selanjutnya sama dengan gerak pertama, dan seterusnya hingga ada yang memberitahu untuk mengakhirinya. Hanya satu frase gerak yang digunakan, sehingga tidak memerlukan waktu untuk latihan.  Seperti yang telah disebutkan di atas pada sejarah tari rejang ini, penarinya adalah anak-anak gadis yang merupakan Krama Desa Ngarep yang disebut dengan Daha. Usia penarinya, yaitu kurang lebih antara 17 tahun sampai 26 tahun yang belum menikah dan sudah mengalami akil balik. Ada rapat khusus untuk menentukan usia penari. Selain itu juga, tidak ada proses inisiasi (penyucian) atau prosesi khusus untuk menentukan penarinya karena penarinya sudah didaulat. Cara yang dilakukan untuk mendaulat penarinya adalah dengan cara memeberikan ketipat sumbu kepada calon penarinya dan pada usabha yang akan datang, harus sudah mulai menarikan tarian Rejang tersebut. Jumlah penarinya tidak ditentukan karena tergantung dari penari yang ada dan sudah didaulat.

Sumber : klianDesaAdatBugbug, Karangasem ( JeroWayan Mas ).
 


Topic: Tak Berkategori | Tags: None

SEJARAH GAMELAN SELONDING DI DESA BUGBUG, KARANGASEM

⊆ Juli 10th by | ˜ No Comments »

SEJARAH GAMELAN SELONDING DI DESA BUGBUG, KARANGASEM

Gamelan Selonding adalah merupakan peninggalan  historis dari kegiatan berkesenian nenek moyang di masa silam. Gamelan Selonding merupakan salah satu contoh mengenai lokal genius dari leluhur, sehingga mampu mengantarkan kepada suatu jenjang puncak budaya, sehingga keberadaanya masih eksis sampai saat ini. Peninggalan historis tersebut masih mampu menjembatani suatu masa ribuan tahun yang lalu, dengan masa kini. Di Bali masa lampau dan masa sekarang adalah satu dan tak dapat dipisahkan.Gamelan Selonding memang masih dapat bertahan dari terpaan gelombang peradaban manusia dalam rentang waktu yang cukup lama dan ini hanya dimungkinkan oleh adanya suatu vitalitas nilai universal yang terkandung di dalamnya dan terjalin erat dengan masyarakat pendukungnya.Pada dasarnya Gamelan Selonding yang lahir dari cipta,rasa dan karsa nenek moyang, sebagai perwujudan dan pengalaman estetis dikala keadaan jiwa sedang mengalami kedamaian dan kesucian. Pendakian ini hanya mungkin dapat dicapai dengan penghayatan dan pengalaman dari ajaran Agama Hindu.

Secara umum asal-usul Gamelan Selonding belum begitu banyak diungkap dalam arti tuntas oleh masyarakat pendukungnya. Di Desa Trunyan Gamelan Selonding merupakan lambang suci Bhatara Gangga dan Bhatari Indra sebagai “Pemuput Pegaman” Ratu Sakti Pancering Jagat. Setelah upacara selesai bhatara bhatari dilebar lalu disineb, lambang-lambang suci ini (dua tungguh Gamelan Selonding suci) disimpan pada Pelinggih Ratu Sakti Gangga atau Ida Ayu Maospahit.

images (2)

Legenda Selonding di  Tenganan Pegringsingan , Kecamatan Manggis , Kabupaten Karangasem diyakini sebagai Piturun. Menurut cerita yang diyakini oleh masyarakat pendukungnya, bahwa cerita itu memang benar-benar terjadi mengenai adanya tiga bilah Gamelsn Selonding yang amat disakralkan dan dikeluarkan pada waktu upacara-upacara tertentu. Gamelan itu berfungsi sebagai lambang suci dan diberi gelar Bagus Selonding.Turunnya gamelan ini menurut cerita orang-orang tua di Tenganan Pegringsingan, konon didahului dengan suara gemuruh menderu-deru di atas desa Tenganan. Suara gemuruh itu datangnya bergelombang-gelombang. Gelombang pertama mendekat ke bumi dan akhirnya turun di desa Bungaya, yaitu selanjutnya gelombang berikutnya di Desa Tenganan. Setelah suara itu sampai di bumi ternyata di tempat tersebut diketemukan tiga bilah Gamelan Selonding, yang kini disungsung di Tenganan Pegringsingan sebagai lambang suci.Kemudian adanya Selonding di Tigawasa rupanya tidak jauh berbeda dengan legenda Selonding Piturun di Tenganan. Menurut cerita rakyat di desa itu asal-usul Selonding yang ada di Tigawasa bermula dari adanya suara dari angkasa di atas desa Cempaga dan Pedawa. Konon suara itu bergerak ke angkasa di atas desa Sidatapa dan Sepang. Lalu para pemangku dan tetua desa Sidatapa dan Sepang melakukan suatu upacara dan mengharapkan supaya “Bhatara” berkenan turun tetapi suara-suara itu terus bergerak menuju desa Tigawasa. Di desa Tigawasa ini juga diadakan upacara pemendak oleh tetua desa  daan pemangku. Akhirnya suara di angkasa itu berkenan turun metapakan Selonding yang sampai kini amat disucikan oleh masyarakat pendukungnya di desa Tigawasa.

Pada suatu perisriwa diadakan suatu upacara piodalan oleh masyarakat Datah untuk merayakan pujawali Ida Batara Ayu Gaaluh, salah seorang puteri dari Batara Gede Puseh di Bugbug dan Batara Gede Puseh diharapkan hadir pada saat itu untuk memimpin upacara tersebut.  Pada hari yang ditetapkan beraangkatlah rombongan Batara Gede Puseh di Bugbug. Setelah upacara selesai, kembali lah rombongan Batara Gede Puseh untuk pulang ke Bugbug.  Setibanya rombongan di sebuah tepi sungai yang kering sebelah Barat Desa Datah, tiba-tiba salah seorang rombongan paling depan menemukan sesuatu di sungai tersebut. Ternyata ditemukan beberapa bilah-bilah Selonding di sungai itu. Ini merupakan aturan(persembahan) dari Batara Ayu Galuh yang sengaja dikirim dari sorga. Dari semenjak itu setiap ada upacara piodalan di Pura Puseh di Datah, dan bila Batara Gede Puseh di Bugbug ngelunganin ke Datah Gamelan Selonding itu harus dibawa dan setibanya di sungai dimana ditemukannya gamelan ini, maka Gamelan Selonding itu harus ditabuhkan. Sampai sekarang tempat ini dikenal dengan nama Tukad Selonding. Tradisi Bhatara di Bugbug mengadakan perjalanan ke Datah sampai sekarang masih tetap berlanjut.Pada awalnya pedekan Batara di Bugbug belum bisa menabuh Selonding, tetapi lama-kelamaan mereka bisa menabuh Gamelan Selonding karena jasa salah seorang warga di Bugbug yang gemar bertapa dan akhirnya mendapatkan sebuah gending dari mendengarkan gending-gending yang didendangkan oleh anak-anak burung gagak.

Gambelan Selondingadalah gambelan Kuno yang paling sakral dalam melengkapi upacara keagamaan (Hindu) di Bali yang

berlaras pelog Sapta Nada, contohnya seperti Selonding yang ada di Trunyan, di Bugbug,

Tenganan, Ngis Selumbung , Timbrah, Asak, Bungaya, Besakih, Selat, Bantang dan lainlainnya.Dalam konteks Desa Adat Bugbug, Selonding (yang disimpan di dekat Pura Piit

Bugbug) ini selalu mengiringi prosesi upacara besar di Pura-pura di Bugbug, seperti Usaba

Sumbu dan rangkaian Usaba Gumang di Bukit Juru. Para penabuhnyapun bukanlah orang

Menurut Lontar Prekempa bahwa semua tetabuhan atau gambelan lahir dari suaraning

Genta Pinara Pitu, Suaraning Genta Pitara Pitu adalah suara sejati yang berasal dari suaranya

alam semesta atau bhuana, suara suara yang utama yang berasal dari suaranya semesta itu ada

tujuh suara banyaknya yang disebut dengan sapta suara. Suara ini berasal dari Akasa disebut

Byomantara Gosa. Ada pula suara yang disebut Arnawa Srutti yaitu suara yang keluar dari

unsur Apah. Yang lain ada disebut dengan Agosa, Anugosa, Anumasika dan Bhuh Loko Srutti.Yang terakhir disebutkan suara yang keluar dari unsur Pertiwi

Teknik pemukulan instrumen selonding ini relatif sama dengan teknik pemukulan gender wayang. Kedua tangan dilengkapi dengan panggul. Satu tangan berfungsi sebagai pemukul dan penekep. Instrumen dalam kerawitan selonding ini meliputi peenem petuduh dan reong masing-masing sebanyak 2 tungguh. Satu tungguh terdiri dari 4 bilah. Instrumen selonding yang lain meliputi nyong-nyong agung dan nyong-nyong alit yang menampilkan permainan ubit-ubitan. Instrumen dari selonding yang lain meliputi curing, dan gong kempur. Gong kempur khususnya untuk memberikan penegasan pada akhir lagu dalam kerawitan selonding.

Dikutip dari buku “SELONDING”  oleh Pande Wayan Tusan, halaman 279-290, penerbit: CV. KARYA SASTRA. Cetakan I, Desember 2001.


Topic: Tak Berkategori | Tags: None

INSTRUMEN REONG

⊆ Juli 10th by | ˜ No Comments »

INSTRUMEN REONG

 

Kita mengetahui bahwa di Bali banyak ada berbagai jenis gambelan, yaitu salah satunya adalah Gong Kebyar. Gong Kebyar ini merupakan barungan yang terdiri dari kendang, kajar, kecek, ceng-ceng kopyak, terompong, ugal, gangsa, kantil, jublag, penyacah, reong, jegog, gong, kempur dan kempli. Ada juga instrumen tiup berupa suling didalamnya dan intrumen gesek yaitu rebab, tetapi terkadang ada juga di daerah tertentu jarang menggunakan instrumen tiup dan gesek tersebut. Kali ini saya akan membahas tentang instrumen reong.

Reong adalah instrumen yang bentuknya memanjang dan berpencon. Instrumen ini pada umumnya memiliki pencon sebanyak 12 buah yang diawali dengan nada ndeng dan diakhiri dengan nada ndung. Instrumen ini dapat dimainkan atau dipukul oleh tangan kanan dan tangan kiri. Keempat orang ini masing-masing dinamakan penyorang, pengenter, penyelah dan pemetit. Suara yang bisa ditimbulkan oleh instrumen ini adalah suara mati yang diberi tanda O dan suara hidup atau ngelumbar diberikan tanda O. Pukulan ini terletak pada masing-masing mancol. Sedangkan pukulan lambe ditangan kanan diberi tanda C sedangkan tangan kiiri diberikan tanda K.

images

Satu pencon reong hanya dapat menghasilkan satu nada saja, sehingga pada sebuah instrumen gamelan, satu tangguh reong terdapat beberapa pencon reonh menyesuaikan dengan banyak nada yang digunakan oleh instrumen gamelan tersebut. Tinggi rendahnya nada yang dihasilkan sebuah pencon reong ditentukan oleh besaar kecil pencon dan cenbung cekungnya pencon reong. Semakin besar pencon reong maka semakin rendah nada yang dihasilkan, dan semakin cembung pencon reong maka semakin rendah nada yang dihasilkan. Pada Gong Kebyar, satu tangguh reong menggunakan dua belas pencon reong dengan wilayah nada 3 oktaf, dengan susunan nada dari nada 5, 7, 1, 3, 4, 5, 7, 1, 3, 4, 5, 7, dibaca ndeng, ndung, ndang, nding, ndong, ndeng, ndung, ndang, nding, ndong, ndeng, dan ndung. Dua belas pencon reong tersebut diletakan pada sebuah penyangga yang biasa disebut pelawah. Semua pencon reong tersebut diikat dengan tali pada lubang gegorok (lubang yang ada pada bagian bawah pencon). Penempatan nada-nada reong berjejer dari nada rendah ke nada tinggi (dari kiri ke kanan), sesuai dengan ukuran besar kecilnya (nirus).

Adapun teknik dari permainan reong :

  • Pukulan ngeremteb adalah nama dari salah satu pukulan reong yang menggunakan pola pukulan yang lebih mementingkan pada pola ritme daripada pola nada. Untuk mewujudkan pukulan ini muncol reong dipukul dengann cara bersama. Nadanya bisa berbeda antara nada yang satu dengan nada yang lain. Suara yang muncul dalam pukulan ini adalah suara mati (ditutup) dan suara hidup atau ngelumbar (suara tidak ditutup).
  • Pukulan norot, ngosot dan ngodot adalah nama dari salah satu pukulan instrumen reong. Pukulan norot, ngosot dan ngodot ada dua macam yaitu, pukulan norot cepat (gencang) dan pukulan norot pelan (adeng).
  • Pukulan nerumpuk adalah nama dari salah satu pukulan reong yang memukul satu moncol atau satu nada yang dipukul oleh tangan kanan dan tangan kiri secara beruntun. Pukulan ini bisa dilakukan atau disajikan oleh keempat pemainnya.
  • Norot cepat yaitu pukulan tangan kanan dan tangan kiri yang salah satu pemain (penyorang) yang memukul sambil menutup atau nekes, yang pelaksanaanya bergantian dan tangan kanan lebih sering.
  • Norot pelan yaitu pukulan tangan kanan dan tangan kiri salah satu pemain (penyorag) yang memukul sambil menutup atau nekes diamana pelaksanaanya bergantian.
  • Pukulan memanjinga adalah pukulan reong yang dilakukan oleh tangan kanan dan tangan kiri secara bergantian dimana letak pukulan di bagian muka (mue) yang sering juga disebut lambe pada waktu akan membuat angsel-angsel..
  • Pukulan ubit-ubitan (ngubit) adalah sebuah teknik permainan yang dihasilkan dari perpaduan sistem on-beat (polos) dan off-beat (sangsih). Pukulan polos dan sangsih jika dipadukan akan menimbulkan perpaduan bunyi yang dinamakan jalinan atau ubit-ubitan. Pukulan ini bisa juga disebut dengan istilah inter loking.
  • Uubit-ubitan nyalimput adalah perpaduan antara pemain penyorog yayng dilakukan oleh tangan kanan dan tangan kiri dengan pemain pengenter juga dilakukan oleh tangan kanan dan tangan kiri. Sehingga membentuk suatu jalinan (kotekan). Jumlah nada yang dipukul adalah empat nada. Nada dan moncol pertama dipukul oleh tangan kiri bagian penyorong sedangkan nada dan moncol keempat dipukul oleh tangan kanan pengenter, sedangkan tangan kanan bafian penyorong dan tangan kiri bagian pengenter memukul nada atau moncol kedua dan ketiga sehingga dapat membuat suatu jalinan atau kotekan.
  • Ubit-ubitan gegelut yaitu perpaduan antara pemain penyorong yang dilakukan oleh tangan kanan dan kiri sedangkan pemain pengenter juga melakukan dengan tangan kanan dan tangan kiri sehingga membentuk suatu jalinan atau kotekan. Jumlah nada serta monncol  yang dipukul berjumlah tiga nada atau tiga moncol  yang berbeda. Nada atau mincol pertama dipukul oleh tangan kiri bagian penyorong dan nada atau moncol kedua dipukul oleh tangan kanan penyorong dan tangan kiri pengenter, sedangkan tangan kanan pengenter memukul nada atau moncol ketiga sehingga membentuk suatu jalinan atau kotekan nelunin

Jadi fungsi dari reong dalam barungan Gong Kebyar ini adalah sebagai membuat angsel-angsel yang jenis pukulannya sama dengan ceng-ceng yang dimana sering menonjol pada tabuh tari-tarian, pada tabuh kreasi terutama pada bagian bapang.

Google : fungsi instrumen reong, wrongtabs.wordpress.com, dan “Mengenal Jenis-Jenis Pukulan dalam Barungan Gamelan Gong Kebyar” oleh Pande Gede Mustika, SSKar. , I Nyoman Sudiana, SSKar. ,       I Ketut Partha, SSKar

 


Topic: Tak Berkategori | Tags: None

HUBUNGAN OGOH-OGOH DAN HARI RAYA NYEPI

⊆ Juli 10th by | ˜ No Comments »

HUBUNGAN OGOH-OGOH DAN HARI RAYA NYEPI

 

Banyaknya versi yang beredar di masyarakat Bali yang menjelaskan tentang awal mula munculnya ogoh-ogoh tersebut, sehingganuntuk mengetahui kapan awal mula munculnya ogoh-ogoh secara pasti  sangatlah sulit. Diperkirakan ogoh-ogoh tersebut dikenal sejak jaman Dalem Balingkang dimana pada saat itu ogoh-ogoh digunnakan pada saat upacara pitra yadnya(upacara pemujaan yang ditujukan kepada para pitara dan kepada roh-roh leluhur umat Hindu yang telah meninggal dunia). Pendapat lain menyebutkan ogoh-ogoh tersebut terinspirasi dari tradisi Ngusaba Ndong-Nding di Desa Selat Karangasem. Perkiraan lain juga muncul dan menyebutkan barong landung yang merupakan perwujudan dari Raden Datonta dan Sri Dewi Baduga (pasangan suami istri yang berwajah buruk dan menyeramkan yang pernah berkuasa di Bali) merupakan cikal-bakal dari munculnya ogoh-ogoh yang kita kenal saat ini. Informasi lain juga menyatakan bahwaa ogoh-ogoh itu muncul tahun 70 sampai 80-an. Ada juga pendapat yang menyatakan ada kemungkinan ogoh-ogoh itu dibuat oleh para pengrajin patung yang telah merasa jenuh mmembuat patung yang berbahan dasar batu padas, batu atau kayu, namun disisi lain mereka ingin menunjukan kemampuan mereka dalam mematung, sehingga timbul suatu ide untuk membuat suatu patung dari bahan yang ringan supaya hasilnya nanti bisa diarak dan dipertunjukan.

download

Menurut definisinya, ogoh-ogoh didefinisikan sebagai karya seni patung dalam kebudayaan Bali yang menggambarkan kepribadian Bhuta Kala. Dalam ajaran Hindu, Bhuta Kala melambangkan kekuatan alam semesta (bhu) dan waktu (kala) yang tak terukur dan tak terbantahkan. Dalam perwujudan patung yang dimaksud, Bhuta Kala digambarkan sebagai sosok yang besar menakutkan dan pada umumnya berupa wujud raksasa (rakshasa). Raksasa adalah bangsa pemakan daging manusia atau kadang-kadang sebaagai bangsaa kanibal dan dilukiskan dalam Yakshagana, sebuah seni populer dari Karnataka. Menurut mitologi Hindu dan Budha menyatakan, kata rakshasa mempunyai arti kekejaman, yang merupakan lawan kata raaksha yang artinya kesentosaan. Namun tidak semua raksasa memiliki kepribadian kejam, seperti Wibisana, Hiranyaksa, dan Hiranyakasipu, Yng mendapat berkah dari dewa karena mereka memuja Dewa Brahma. Menurut kitab Ramayana mnguraikan, bahwa raksasa diciptakan dari kaki Dewa Brahma. Sedangkan menurut kisah lain, mereka berasal dari tokoh Pulastya, Khasa, Nirriti, dan Nirrita.

Dilihat dari bentuknya ogoh-ogoh memiliki peranan sebagai simbol atau pemvisualisasian prosesi penetralisiran kekuatan-kekuatan negatif atau kekuatan Bhuta (kekuatan alam). Pada awal mula diciptakannya ogoh-ogoh dibuat dari rangka kayu dan bambu sederhana, rangka tersebut dibentuk lalu dibunngkus kertas. Pada perkembangan jaman yang maju pesat ogoh-ogoh pun terimbas dampaknya, ogoh-ogoh makin berinovasi, ogoh-ogoh dibuat dengan rangka dari besi yang dirangkaikan dengan bambu yang dianyam, pembungkus bodi ogoh-ogoh pun diganti dengan gabus atau stereofom dengan teknik pengecatan. Tema ogoh-ogoh pun semakin bervariasi, dari tema pewayangan, modern, porno sampai politik yangtidak mencerminkan makna agaa. Tema ogoh-ogoh yang diharapkan adalah sesuai dengan nilai agama Hindu yaitu tidak terlepas dari Tuhan, Manusia dan Bhuta Kala sebagai penyeimbang hubungan ketiganya. Ogoh-ogoh simbol Kala ini haruslah sesuai dengan sastra agama yang diatur dalam pakem dan bukan seperti yang beberapa dibuat saat ini, karena banyak kita lihat Kala dibuat berbentuk manusia lucu, rocker, anak punk, raksasa seksi dan seronok. Tapi dari sudut pandang lain mengatakan ogoh-ogoh itu merupakan kreativitas anak muda yang mengeksploitasi bentuk gejala alam atau fenomena sosial yang terjadi dimasyarakat sat ini jadi tidak perlu ada batasnya atau pengekangan dalam berekspresi.

Adapun dampak positif dan negatif dari adanya peryaan ogoh-ogoh tersebut. Dampak positifnya yaitu menjadi hiburan tersendiri bagi umat Hindu dan non Hindu, menarik banyak wisatawan daari dalam maupun luar negeri, karena ogoh-ogoh adalah sebuah patung yang sangat besar maka dibutuhkan banyak orang untuk mengaraknya dari sanalah rasa persatuan dan kesatuan diantara umat Hindu, dalam pembuatan ogoh-ogoh yang mengandung unsur seni dapat menghidupkan kreativitas pada pemuda pemusik bali. Dampak negatifnya yaitu munculnya seperti pertikaian baik kecil maupun besar antara warga (khususnya pemuda) akan hal-hal yang secara personal tidak tidak terkait dengan pemaknaan pengerupukan tersendiri.

Makna ogoh-ogoh ini merupakan cerminan sifat-sifat negatif pada diri manusia. Tradisi ini mengingatkan masyarakat Bali khususnya. Selain itu, ogoh-ogoh diarak keliling desa bertujuan agar kekuatan negatif yang ada di sekitar desa agar ikut bersama ogogh-ogoh. Ritual meminum arak bagi orang yang mengarak ogoh-ogoh dianggap sebagai perwaakilan dari sifat buruk yang ada di dalam diri manusia. Beban berat yang mereka gendong adalah sebuah sifat negatif, seperti cerminan sifat-sifat raksasa, ketika manusia menyadari ini. Akhir pengarakan ogoh-ogoh, masyarakat akan membakar figur raksasa ini, boleh jadi dikatakan membakar (membiarkan terbakar habis) sifat-sifat yang seperti si raksasa. Ketika semua beban akan sifat-sifat begatif selama ini mengambil begitu banyak energi kehidupan seseoraang, maka seseorang akan siap memulai sebuah saat yang baru. Ketika segalanya menjadi hening, masyarakat diajak untuk siap memasuki dan memaknai Nyepi dengan sebuah daya hidup yang sepenuhnya baru dan berharap menemukan makna kehidupan yang sesungguhnya bagi dirinya dan segenap semesta. Jadi kesimpulannya, ogoh-ogoh sebenarnya tidak memiliki hubungan langsung dengan upacara Hari Raya Nyepi. Patung yang dibuat dengan bambu, kertas, kain dan benda-benda yang sederhana itu merupakan kreativitas dan spontanitas masyarakat yang murni sebagai cetusan rasa semarak untuk memeriahkan upacara ngrupuk. Karena tidak ada hubungannya dengan Hari Raya Nyepi, maka jelaslah ogoh-ogoh itu tidak mutlak ada dalam upacara tersebut. Namun benda itu tetap boleh dibuat sebagai pelengkap kemeriahan upacara dan bentuknya agar disesuaikan, misalnya raksasa atau Bhuta Kala.

Sumber :

  • panbelog.wordpress.com
  • www.wisatabaliaga.com

 


Topic: Tak Berkategori | Tags: None

SEJARAH SANGGAR CANDI DHARMA DUTA

⊆ April 25th by | ˜ No Comments »

SEJARAH SANGGAR CDD

( CANDI DHARMA DUTA )

            Sanggar Candi Darma Duta yang merupakan sebuah sanggar tari dan tabuh yang ada di rumah pribadi saya ini awalnya tidak disangka terbentuknya. Saya akan menceritakan bagaimana Sanggar Candi Darma Duta ini bisa terbentuk.

Ini berawal dari cita-cita kedua orangtua saya untuk membeli satu barung gambelan Gong Kebyar. Dimana pada saat itu saya masih kelas satu SMA akan menginjak ke kelas dua SMA, tetapi orangtua saya sudah lama ingin memiliki sebuah barungan Gong Kebyar entah sejak kapan. Seiiring berjalannya waktu, Ayah saya Nengah Kastawa yang memiliki warisan berupa tanah di daerah Candi Dasa ternyata dikontrak oleh seorang Bule dan dari sanalah Ayah saya mendapat rejeki dan memutuskan untuk membeli sebuah barungan Gong Kebyar. Tetapi rejeki itu tidak hanya Ayah saya saja yang mendapat bagian rejeki itu, ada juga beberapa waris ( beberapa dari keluarga saya yang berhak mendapatkan bagian dari hasil warisan ). Kemudian kami sekeluarga, kecuali kakak saya pergi ke sebuah tempat pembuatan Gambelan Bali yang ada di daerah Mengwi untuk bertanya-tanya tentang gambelan yang akan dibeli oleh Ayah saya. Ternyata setelah sampai di tempat tujuan, Ayah saya bukan hanya ingin membeli sebuah barungan Gong Kebyar, tetapi juga ingin membeli beberapa gambelan lainnya untuk disumbangkan ke desa asal orangtua saya di Desa Bugbug, Karangasem dan tempat tinggal saya sekarang di derah Kampung Anyar, Singaraja. Selain membeli satu barung Gong Kebyar, Ayah saya juga membeli dua barung gambelan Bleganjur yang akan disumbangkan salah satunya di desa saya dan tempat tinggal saya sekarang, dua pasang instrumen Gender Wayang yang satunya disumbangkan juga dan satunya lagi untuk milik pribadi di rumah saya, dan yang terakhir satu perangkat gambelan Geguntangan untuk milik pribadi.

Setelah semua gambelan itu sudah jadi pada waktunya, bertepatan pada tanggal 9 Juni 2011 barungan Gong Kebyar, satu barung Bleganjur, satu pasang Gender Wayang dan satu perangkat Geguntangan dikirim ke Singaraja untuk melaksanakan upacara melaspasin gong. Barungan Gong Kebyar ini disumbangkan di sebuah pura dekat dengan rumah saya hanya berjarak beberapa meter saja yaitu Pura Lila sekaligus juga di pura itu dilaksanakannya upacara melaspasin gong. Setelah dilaksanakannya upacara, kemudian gambelan Bleganjur, Gender Wayang dan Geguntangan diangkut ke rumah pribadi saya yang beralamat di jalan Merpati no. 29, Kampung Anyar, Singaraja. Sore harinya, anak-anak sekitar rumah saya berkumpul di rumah saya untuk melaksanakan latihan Bleganjur untuk pertama kalinya. Sebelumnya anak-anak itu sudah dikumpulkan jauh-jauh hari sebelum datangnya gambelan-gambelan tersebut dari Mengwi dan menyepakati siapa saja yang mau mengikuti latihan Bleganjur di rumah saya. Pada saat itu juga Ayah saya mendatangkan seorang pelatih Bleganjur dari daerah Banjar Tegal, Singaraja yang bernama Made Delvy Juniawan. Bli Delvy ini umurnya sebaya dengan kakak saya hanya beda satu tahun, dia merupakan lulusan dari Universitas Mahendradata yang ada di Denpasar.

1001066_439302739499119_1270229625_n

 

 

 

 

 

 

Anak-anak CDD pentas Janger di Panti Jompo, Lovina, Singaraja.

https://www.facebook.com/cddfamily/media_set?set=a.439283372834389.1073741849.100002581916959&type=3

Seiiring berjalannya waktu, anak-anak yang ingin ikut belajar megambel Bleganjur di rumah saya semakin meningkat. Ayah saya memutuskan untuk ngayah megambel Bleganjur dalam upacara Usaba Manggung yang ada di desa saya yang berlangsung setiap satu tahun sekali. Dalam upacara itu kami selaku penabuh Sekaa Bleganjur Kampung Anyar yang terdiri dari anak-anak SD hingga SMA akan mengiringi iring-iringan Ida Betara Gede Gumang ke Candi Dasa karena di Candi Dasa terdapat juga salah satu pura tempat Ida Betara Gede Gumang berstana. Pelatih kami Bli Delvy pun ikut serta ngayah ke desa Bugbug. Setelah upacara selesai, kami semua terdiri dari Ayah saya, pelatih dan seluruh penabuh berkumpul untuk mengadakan evaluasi. Di dalam evaluasi itu kami semua sepakat akan ngayah ke desa Bugubug setiap ada upacara Usaba Gumang, selain itu karena semua anggota penabuh berasal dari desa Bugbug, itu disebabkan karena sebagian besar yang tingga di daerah Kampung Anyar adalah warga desa Bugbug. Usai evaluasi kami semua kembali berangkat ke Singaraja. Kemudian Ayah saya mengusulkan untuk melaksanakan latihan seminggu dua kali yaitu setiap hari Selasa dan hari Kamis. Setelah tiga bulan adanya gambelan Bleganjur di rumah saya, untuk menghilangkan kejenuhan karena latihan Bleganjur saja, mencul lah ide dari Bli Delvy untuk membuat sebuah garapan Tari Janger. Sebelumnya Bli Delvy ini sewaktu masih SMA dia pernah mengikuti lomba Janger yang dilatih oleh guru menabuhnya sejak ia masih SMP yang bernama Pak Agung yang merupakan seorang sseniman yang berasal dari daerah Taman Sari, Singaraja. Kemudian mulai lah ada anak-anak perempuan dari SD hingga SMP yang ingin ikut serta sebagai penari Janger yang akan digarap oleh pelatih kami dan penari laki-lakinya diambil dari para penabuh Bleganjur yang ada di rumah saya. Tarian Janger ini menggunakan Geguntangan dan satu pasang Gerantang sebagai pengiringnya, selain itu diselipkan juga Dag yaitu istilah pelawakan dalam tarian Janger dan juga menyampaikan pesan-pesan dan nasehat-nasehat. Setelah tarian Janger ini selesai digarap akan dipentaskan di Pura Lila yang ada di dekat rumah saya karena di pura itu juga ada panggung. Ternyata setelah dipentaskannya tarian Janger ini banyak mendapat apresiasi dari warga Kampung Anyar, karena baru kali ini lagi bangkitnya kesenian di daerah Kampun Anyar ini.

Setelah semua pementasan selesai, Ibu saya Putu Sunari mengusulkan agar mengadakan latihan menari juga di rumah saya dan diusulkan agar pelatihnya adik dari Bli Delvy yaitu yang bernama Dian yang sebaya umurnya dengan saya waktu itu. Kemudian tibalah dimana sudah satu tahun adanya gambelan Bleganjur ini, Ayah saya memiliki gagasan dan meminta pendapat kepada seluruh anggota penabuh dan penari yang ikut latihan di rumah saya bagaimana jika membentuk sebuah sanggar tabuh dan tari. Setelah mendapat pendapat dari pelatih dan anak-anak, kemudian semua sepakat untuk membentuk sebuah sanggar yang bernama Candi Dharma Duta. Nama Candi ini diambil dari nama daerah Candi Dasa, karena menurut Ayah saya semua gambelan yang di rumah maupun yang disumbangkan rejekinya berasal dari sana, Dharma itu berarti kebaikan dan Duta itu berarti utusan. Jadi nama Candi Dharma Duta itu berarti utusan Dharma dari Candi Dasa dalam nama ini dimana Dharma yang dimaksudkan itu adalah berupa kesenian dan juga bagaimana kita melestarikan seni dan budaya yang ada di Bali. Begitulah bagaimana sejarah terbentuknya Sanggar Candi Dharma Duta yang ada di rumah pribadi saya.


Topic: Tak Berkategori | Tags: None