Topeng Kenyung manis (Kendang)

Pajegan adalah suatu istilah di dalam bahasa Bali yang berasal dari kata pajeg dan ditambah dengan sufik “an” menjadi “pajegan” yang berarti borongan. Sebutan lengkapnya adalah Topeng Pajegan. Dalam hubungannya dengan kata topeng, Pajegan adalah seorang penari topeng membarong tapel dalam jumlah yang banyak untuk dipentaskan sendiri. Topeng Pajegan disebut juga Topeng Wali, dengan fungsinya yaitu untuk upacara keagamaan dan dipentaskan sejajar dengan Wayang Lemah serta dilakukan tepat pada waktu para Selinggih (penghulu agama) melakukan upacara. Salah satu tapel topeng yang mutlak ada untuk digunakan dalam Topeng Pajegan yaitu Topeng Sidakarya. Sidakarya terdiri dari kata sidha (berhasil) dan karya (upacara), dilihat dari nama topeng ini maka menentukan sidha-nya (berhasilnya) karya (upacara) dan tanpa kehadiran tokoh itu karya dianggap belum selesai. Untuk menjadi penari Topeng Pajegan Bali dibutuhkan kemampuan dan pengetahuan yang mumpuni. Pertunjukan ini tidak hanya menghibur, tapi sarat akan makna. Di dalamnya terselip banyak pelajaran moral yang bisa diambil sebagai pedoman hidup. Tari Topeng Kenyung Manis ini mengisahkan seorang pedagang kelapa yang selalu menebar senyum manis kepada pembeli maupun orang lain. Gerak-gerik, tingkah laku, maupun sifat pemalunya inilah yang diimplemetasikan ke dalam kekhasan pertujukan topeng oleh almarhum I Nyoman Pugra dari Banjar Tegalkuwalon Sumerta Denpasar yang diciptakan pada 1950-an. Pementasan Topeng Pajegan merupakan salah satu bentuk tari yang
mencerminkan nilai nilai spiritual dan watak kepahlawanan, yang sampai saat ini masih tetap eksis dan dilestarikan oleh masyarakat Bali. Pementasan Topeng Pajegan adalah merupakan salah satu seni budaya yang masih hidup di Bali, di dalam terpaduanya unsur-unsur seni itu, maka unsur seni tari yang paling dominan. Karena seni tari itu tidak lepas dari kehidupan masyarakat Hindu di Bali, yang selalu mempunyai keterkaitan dengan pelaksanaan upacara-upacara
keagamaan. Banyak jenis-jenis topeng yang dipergunakan oleh penari Topeng Pajegan adalah satu di antaranya yang mutlak harus ada yaitu Topeng Sidakarya. Mendengar nama dari Topeng ini maka ialah yang menentukan Sidha-nya (berhasilnya) karya (upacara) dan tanpa kehadiran tokoh ini, upacara bisa dianggap belum selesai. Disamping itu sarana yang simbolik untuk Sidha-nya suatu yajna yang besar, yaitu diperlukan Panca Taru dan Catur Wija/beras yang berasal dari sebuah Pura yang bemama Pura Dalem Sidhakarya, disebelah selatan kota denpasar. (Bandem, 1976:12) Keberadaan tari-tarian sakral tersebut yang memiliki daya tarik penonton baik dari kalangan anak-anak maupun dewasa adalah Pementasan Topeng Pajegan. Tari Topeng Pajegan disebut juga Tari Topeng Wali, karena ia berfungsi untuk upacara keagamaan dan dipentaskan sejajar dengan pertunjukan Wayang Gedog/Wayang Lemah (Wayang Upacara) serta dilakukan tepat pada waktu para sulinggih/Pandita menuntun upacara. Pementasan Topeng Pajegan yang ada terkadang hanya berfungsi sebagai salah satu pelengkap dalam penyelenggaraan upacara keagamaan dalam tingkaatan tertentu. Padahal kalau ditingkatkan fungsinya akan mampu berfungsi sebagai salah satu media penerangan Agama Hindu. Mengingat belum maksimalnya peranan Tari topeng Pajegan sebagai salah satu media penerangan Agama Hindu, maka ada hal-hal yang harus dipahami oleh seorang penari Topeng Pajegan sehingga Pementasan Topeng Pajegan mampu ditingkatkan peranannya dalam fungsinya sebagai salah satu media penerangan Agama Hindu bagi umat Hindu pada khususnya dan umat lain pada umumnya.


Leave a comment

Your email address will not be published.