Categories
Lainnya

BIODATA

BIODATA

NAMA                  : I NYOMAN TRISNA JAYA

PANGGILAN       : NYHOUM ANT, TRISNA

ALAMAT              : BR. BASANGAMBU, MANUKAYA, TAMPAKSIRING, GIANYAR

TTL                         : TAMPAKSIRING, 10 JANUARI 1992

EMAIL                   : [email protected]

HOBBY                  : NGEWAYANG, SEPAKBOLA, OLAHRAGA

Categories
Lainnya

BIODATA

BIODATA

 

NAMA                  : I NYOMAN TRISNA JAYA

PANGGILAN       : NYHOUM ANT, TRISNA

ALAMAT              : BR. BASANGAMBU, MANUKAYA, TAMPAKSIRING, GIANYAR

TTL                         : TAMPAKSIRING, 10 JANUARI 1992

EMAIL                   : [email protected]

HOBBY                  : NGEWAYANG, SEPAKBOLA, OLAHRAGA

Categories
Lainnya

Komentar Video Cyimbran Show

 “CYIMBRAN SHOW”

Penata

I Wayan Sudana

 200702005
Seni Karawitan

  • Ø SINOPSIS

Damai, aman dan sejahtera, merupakan hal yang sulit dicapai pada saat ini. Hal itu tidak terlepas dari sifat manusia yang kurang berfikir panjang dalam menyelesaikan suatu masalah, sehingga hanya pertikaianlah yang selalu menjadi jalan keluar untuk menyelesaikan masalah.

KOMENTAR

Sound system

Pada saat pementasan dimulai suara tidak terlalu jelas terdengar,dan keseimbangan suara drum dengan kendang sangat jelas berbeda, pendapat saya jumlah drum lebih baik di kurangi dan jumlah microphone di tambah di daerah kendang.

 

F Lighting

Dari keseluruhan yang saya lihat pada pementasan lampu yang di belakang tidak terlalu jelas, para pendukung pada garapan tersebut tidak terlihat jelas dan kurang meratanya lighting pada garapan ini.

 

Categories
Lainnya

Asal Mula Gong Kebyar Di Br. Ketogan, Taman, Abiansemal, Badung

Asal Mula Gong Kebyar Di Br. Ketogan, Taman, Abiansemal, Badung

 

          Narasumber dari I Made Mindrawan, Gong Kebyar di Br. Ketogan terbentuk pada 17 September 1963, berbentuk gong bebarongan don 9 yang nadanya di mulai dengan nada deng, kayu yang dipergunakan sebagai plawah pada saat itu adalah kayu jempinis dan mempunyai satu barung sekaa yang di beri nama Tunas Mekar, bebarongan ini terus bertahan sampai Tahun 1971, karena kondisi kayu jempinis yang mulai memburuk dan pada saat itu sekaa juga sepakat untuk merubah menjadi barungan Gong Kebyar standar yang tujuannya untuk mempermudah mencari gending,  maka kemudian diubah menjadi barungan Gong Kebyar standar dengan di tambah satu bilah lagi yaitu bilah yang bernada dong, perubahan juga terjadi pada plawahnya dengan menggunakan kayu nangka dan langsung di ukir, pada saat itu barungan gambelan ini belum di lengkapi dengan penyacah, lalu sekitar Tahun 1972 an sekaa sepakat mencari pelatih untuk menambah koleksi gending, dan pelatih yang dicari pada saat itu yakni Bapak I Wayan Rai S, yang menjadi Rektor ISI sekarang, pada masa itu sekaa sering mengiringi pementasan di hotel-hotel, akhirnya pada sekitar Tahun 1978 Bapak I Wayan Rai tidak lagi melatih di Br. Ketogan karena sudah ada kader penerusnya yang kebetulan berasal dan sebagai warga Br. Ketogan yaitu I Ketut Madya, pada masa keemasan I Ketut Madya Tahun 1988 sekaa pernah mengikuti sebuah ajang lomba antar Desa se-Kecamatan Abiansemal yaitu lomba baleganjur dalam rangka PORSENICAM  Kecamatan Abiansemal, dimana perlombaan tersebut membuahkan hasil dengan mendapatkan juara 2, keberadaan I Ketut Madya sebagai Pembina di Br. Ketogan bertahan sampai sekarang, dan Tahun 1990 ukiran plawah gambelan diprada, berjalannya waktu sekaa sepakat mendirikan sekaa gong lagi yakni bernama Jaya Kumara, sekaa ini diambil lebih muda dari pada sekaa sebelumnya, dan Tahun 2003 kembali dibentuk sekaa anak-anak dengan nama Tunas Jaya dan terakhir pada Tahun 2009 didirikan sekaa gong wanita yang diberi nama Giri Maha Swari, dan yang membina keempat sekaa ini sekarang adalah

I Made Mindrawan, I Ketut Kadiana dan I Wayan Suarnawan, mereka memang para pembina yang berasal dari Br. Ketogan, dan  hingga sekarang, keempat sekaa inilah yang memainkan Gong Kebyar di Br. Ketogan. Adapun Kegunaan Gong Kebyar ini dari saat berdiri yaitu :

  • Mengiringi upacara keagamaan
  • Mengiringi acara di hotel-hotel

Pada Tahun 2010 sekaa sepakat membuat baleganjur Semarandana dengan menggunakan reong dari Gong Kebyar dan ditambahkan lagi satu buah reong dengan nada deung, dengan sudah adanya tabuh beleganjur semarandana di kaset maka itulah yang pertama kali dituangkan oleh Pembina local di banjar, dan seiring dengan berjalannya waktu kini sekaa sudah mempunyai 3 buah lagu semarandana dimana baleganjur ini hanya di gunakan untuk mengiringi upacara/odalan di pura dan tidak dipergunakan untuk upacara pitra yadnya.

Categories
Lainnya

Asal Mula Gong Kebyar Di Br. Ketogan, Taman, Abiansemal, Badung

 Asal Mula Gong Kebyar Di Br. Ketogan, Taman, Abiansemal, Badung

 

          Narasumber dari I Made Mindrawan, Gong Kebyar di Br. Ketogan terbentuk pada 17 September 1963, berbentuk gong bebarongan don 9 yang nadanya di mulai dengan nada deng, kayu yang dipergunakan sebagai plawah pada saat itu adalah kayu jempinis dan mempunyai satu barung sekaa yang di beri nama Tunas Mekar, bebarongan ini terus bertahan sampai Tahun 1971, karena kondisi kayu jempinis yang mulai memburuk dan pada saat itu sekaa juga sepakat untuk merubah menjadi barungan Gong Kebyar standar yang tujuannya untuk mempermudah mencari gending,  maka kemudian diubah menjadi barungan Gong Kebyar standar dengan di tambah satu bilah lagi yaitu bilah yang bernada dong, perubahan juga terjadi pada plawahnya dengan menggunakan kayu nangka dan langsung di ukir, pada saat itu barungan gambelan ini belum di lengkapi dengan penyacah, lalu sekitar Tahun 1972 an sekaa sepakat mencari pelatih untuk menambah koleksi gending, dan pelatih yang dicari pada saat itu yakni Bapak I Wayan Rai S, yang menjadi Rektor ISI sekarang, pada masa itu sekaa sering mengiringi pementasan di hotel-hotel, akhirnya pada sekitar Tahun 1978 Bapak I Wayan Rai tidak lagi melatih di Br. Ketogan karena sudah ada kader penerusnya yang kebetulan berasal dan sebagai warga Br. Ketogan yaitu I Ketut Madya, pada masa keemasan I Ketut Madya Tahun 1988 sekaa pernah mengikuti sebuah ajang lomba antar Desa se-Kecamatan Abiansemal yaitu lomba baleganjur dalam rangka PORSENICAM  Kecamatan Abiansemal, dimana perlombaan tersebut membuahkan hasil dengan mendapatkan juara 2, keberadaan I Ketut Madya sebagai Pembina di Br. Ketogan bertahan sampai sekarang, dan Tahun 1990 ukiran plawah gambelan diprada, berjalannya waktu sekaa sepakat mendirikan sekaa gong lagi yakni bernama Jaya Kumara, sekaa ini diambil lebih muda dari pada sekaa sebelumnya, dan Tahun 2003 kembali dibentuk sekaa anak-anak dengan nama Tunas Jaya dan terakhir pada Tahun 2009 didirikan sekaa gong wanita yang diberi nama Giri Maha Swari, dan yang membina keempat sekaa ini sekarang adalah

I Made Mindrawan, I Ketut Kadiana dan I Wayan Suarnawan, mereka memang para pembina yang berasal dari Br. Ketogan, dan  hingga sekarang, keempat sekaa inilah yang memainkan Gong Kebyar di Br. Ketogan. Adapun Kegunaan Gong Kebyar ini dari saat berdiri yaitu :

  • Mengiringi upacara keagamaan
  • Mengiringi acara di hotel-hotel

Pada Tahun 2010 sekaa sepakat membuat baleganjur Semarandana dengan menggunakan reong dari Gong Kebyar dan ditambahkan lagi satu buah reong dengan nada deung, dengan sudah adanya tabuh beleganjur semarandana di kaset maka itulah yang pertama kali dituangkan oleh Pembina local di banjar, dan seiring dengan berjalannya waktu kini sekaa sudah mempunyai 3 buah lagu semarandana dimana baleganjur ini hanya di gunakan untuk mengiringi upacara/odalan di pura dan tidak dipergunakan untuk upacara pitra yadnya.

Categories
Lainnya

BIOGRAFI I GEDE MADE WIARTAWAN

I Gede Made Wiartawan adalah seorang seniman muda yang berperan dan berpengaruh terhadap perkembangan kesenian yang ada di desa Pupuan, kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan.

Laki-laki dengan nama panggilan De Arta ini adalah seorang seniman Tari. Anak ke-2 dari pasangan I Gede Suriada dengan Ni Wayan Rukmini. Dilahirkan di Pupuan pada tanggal 23 Mei 1979. Menikah dengan Ni Putu Sriastuti, S.Pd. pada tanggal 3 Desember 2003. Dari pernikahannya, kini pasangan I Gede Made Wiartawan, S.Sn dengan NI Putu Sriastuti, S.Pd telah dianugrahi dua orang anak. Anak yang pertama bernama I Gede Diva Satria Gautama dan anak yang kedua bernama Ayu Kaeysha Tiarika.

Dari hasil wawancara yang penulis dapat saat ditemui di kediamannya yaitu di Banjar Kubu, Desa Pupuan pada tanggal 6 November 2011. Lelaki yang kini sudah berumur 32 tahun ini dengan gaya santai dan sesekali diselingi dengan bercanda menuturkan latar belakang pendidikan dan pengalamannya.

“ Sejak masih duduk di Taman Kanak-kanak ( TK ) saya sudah mulai belajar menari, Sekolah dasar di SD Negeri 1 Pupuan, tamat pada tahun 1992, kemudian melanjutkan sekolah di SMP Negeri 1 Pupuan. Pada saat saya duduk di bangku SMP, saya memilih untuk mengikiti exstrakurikuler Seni Tari. Saking tingginya minat dan kegemaran saya terhadap seni tari, setelah lulus SMP pada tahun 1995 saya melanjutkan untuk bersekolah di SMK negeri 3 Sukawati yang pada waktu itu masih bernama SMKI. Di sana saya mulai memperdalam pengetahuan tentang tari dan tamat pada tahun 1998.

Keinginan untuk menjadi seorang seniman tari mendorong saya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi, akhirnya saya memilih untuk mengikuti pendidikan di ISI ( Institut Seni Indonesia ) Denpasar.

Berbagai pengalaman saya dapatkan saat kuliah di ISI Denpasar, baik suka maupun duka hidup saya rasakan. Lucunya lagi, pada saat sedang menyusun sekripsi bab IV saya menyempatkan diri untuk menikah dan juga saya sempat cuti dari perkuliahan selama 1 tahun. Akhirnya, setelah berhenti 1 tahun saya kembali untuk menuntaskan pendidikan di ISI Denpasar. Judul karya saya pada ujian tugas akhir di ISI Denpasar adalah “ MUNDAR BURANGKAK”. Berkat optimisme, akhirnya saya menuntaskan pendidikan pada tahun 2004 dan memperoleh gelar Sarjana Seni ( S.Sn ).

Pengalaman yang paling tidak terlupakan pada waktu itu adalah pada saat saya lulus di ISI Denpasar saya mendapat 2 ijasah, yang pertama ijasah sarjana seni dan yang kedua anak saya yang pertama juga lahir pada waktu itu”. Tutur dari ayah dua anak tersebut.

I Gede Made Wiartawan, S.Sn lumayan banyak memiliki pengalaman, baik sebagai penata dan pembina tari maupun sebagai pelaku seni tari, diantaranya :

  • Sebagai pembina dan penata tari dalam ajang Festival dan Parade gong kebyar anak-anak dan dewasa duta kabupaten Tabanan dari tahun 2005 hingga saat ini.
  • Sebagai penata tari kreasi yang dipentaskan di Art Centere pada tahun 2007.
  • Sebagai penari Festival Tari Nusantara duta Provinsi Bali yang di wakili oleh Kabupaten Klungkung bertempat di Taman Mini Indonesia Indah pada tahun 2009.
  • Juara I lomba ngibing joged se-Bali tahun 2010.
  • Penata tari WIDYA WIGUNA yang merupakan tari maskot SMP Negeri 1 Pupuan dalam rangka lomba Wawasan Wiyata Mandala tingkat Provinsi tahun 2011.
  • Sebagai penari festival Karnaval Kewiraan Nusantara duta Provinsi Bali yang diwakili oleh kabupaten Tabanan tahun 2011.

Perkembangan kesenian-kesenian di Desa sangat ia perhatikan, buktinya I Gede Made Wiartawan sangat aktif dalam pembinaan-pembinaan kesenian yang ada di Desa, mulai dari dibentuknya sekhe gong remaja, sekhe mandolin, sekhe topeng, dan baru-baru ini dia membuat sebuah pertunjukan Pecalonarangan, dimana dulunya belum pernah ada yang berani membuat pertunjukan calonarang di Desa Pupuan, dialah pendobrak pertama yang membuat pertunjukan calonarang di Pupuan.

Saat ini I Gede Made Wiartawan, S.Sn tercatat sebagai salah satu pegawai di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tabanan.

Categories
Lainnya

BIOGRAFI I GEDE MADE WIARTAWAN

I Gede Made Wiartawan adalah seorang seniman muda yang berperan dan berpengaruh terhadap perkembangan kesenian yang ada di desa Pupuan, kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan.

Laki-laki dengan nama panggilan De Arta ini adalah seorang seniman Tari. Anak ke-2 dari pasangan I Gede Suriada dengan Ni Wayan Rukmini. Dilahirkan di Pupuan pada tanggal 23 Mei 1979. Menikah dengan Ni Putu Sriastuti, S.Pd. pada tanggal 3 Desember 2003. Dari pernikahannya, kini pasangan I Gede Made Wiartawan, S.Sn dengan NI Putu Sriastuti, S.Pd telah dianugrahi dua orang anak. Anak yang pertama bernama I Gede Diva Satria Gautama dan anak yang kedua bernama Ayu Kaeysha Tiarika.

Dari hasil wawancara yang penulis dapat saat ditemui di kediamannya yaitu di Banjar Kubu, Desa Pupuan pada tanggal 6 November 2011. Lelaki yang kini sudah berumur 32 tahun ini dengan gaya santai dan sesekali diselingi dengan bercanda menuturkan latar belakang pendidikan dan pengalamannya.

“ Sejak masih duduk di Taman Kanak-kanak ( TK ) saya sudah mulai belajar menari, Sekolah dasar di SD Negeri 1 Pupuan, tamat pada tahun 1992, kemudian melanjutkan sekolah di SMP Negeri 1 Pupuan. Pada saat saya duduk di bangku SMP, saya memilih untuk mengikiti exstrakurikuler Seni Tari. Saking tingginya minat dan kegemaran saya terhadap seni tari, setelah lulus SMP pada tahun 1995 saya melanjutkan untuk bersekolah di SMK negeri 3 Sukawati yang pada waktu itu masih bernama SMKI. Di sana saya mulai memperdalam pengetahuan tentang tari dan tamat pada tahun 1998.

Keinginan untuk menjadi seorang seniman tari mendorong saya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi, akhirnya saya memilih untuk mengikuti pendidikan di ISI ( Institut Seni Indonesia ) Denpasar.

Berbagai pengalaman saya dapatkan saat kuliah di ISI Denpasar, baik suka maupun duka hidup saya rasakan. Lucunya lagi, pada saat sedang menyusun sekripsi bab IV saya menyempatkan diri untuk menikah dan juga saya sempat cuti dari perkuliahan selama 1 tahun. Akhirnya, setelah berhenti 1 tahun saya kembali untuk menuntaskan pendidikan di ISI Denpasar. Judul karya saya pada ujian tugas akhir di ISI Denpasar adalah “ MUNDAR BURANGKAK”. Berkat optimisme, akhirnya saya menuntaskan pendidikan pada tahun 2004 dan memperoleh gelar Sarjana Seni ( S.Sn ).

Pengalaman yang paling tidak terlupakan pada waktu itu adalah pada saat saya lulus di ISI Denpasar saya mendapat 2 ijasah, yang pertama ijasah sarjana seni dan yang kedua anak saya yang pertama juga lahir pada waktu itu”. Tutur dari ayah dua anak tersebut.

I Gede Made Wiartawan, S.Sn lumayan banyak memiliki pengalaman, baik sebagai penata dan pembina tari maupun sebagai pelaku seni tari, diantaranya :

  • Sebagai pembina dan penata tari dalam ajang Festival dan Parade gong kebyar anak-anak dan dewasa duta kabupaten Tabanan dari tahun 2005 hingga saat ini.
  • Sebagai penata tari kreasi yang dipentaskan di Art Centere pada tahun 2007.
  • Sebagai penari Festival Tari Nusantara duta Provinsi Bali yang di wakili oleh Kabupaten Klungkung bertempat di Taman Mini Indonesia Indah pada tahun 2009.
  • Juara I lomba ngibing joged se-Bali tahun 2010.
  • Penata tari WIDYA WIGUNA yang merupakan tari maskot SMP Negeri 1 Pupuan dalam rangka lomba Wawasan Wiyata Mandala tingkat Provinsi tahun 2011.
  • Sebagai penari festival Karnaval Kewiraan Nusantara duta Provinsi Bali yang diwakili oleh kabupaten Tabanan tahun 2011.

Perkembangan kesenian-kesenian di Desa sangat ia perhatikan, buktinya I Gede Made Wiartawan sangat aktif dalam pembinaan-pembinaan kesenian yang ada di Desa, mulai dari dibentuknya sekhe gong remaja, sekhe mandolin, sekhe topeng, dan baru-baru ini dia membuat sebuah pertunjukan Pecalonarangan, dimana dulunya belum pernah ada yang berani membuat pertunjukan calonarang di Desa Pupuan, dialah pendobrak pertama yang membuat pertunjukan calonarang di Pupuan.

Saat ini I Gede Made Wiartawan, S.Sn tercatat sebagai salah satu pegawai di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tabanan.

Categories
Lainnya

MENGAPRESIASI KARYA KARAWITAN ” SATRU MITRA”

SINOPSIS KARYA

Semua mahluk hidup diciptakan untuk hidup saling berdampingan, harmonis satu sama lain. Namun tidak jarang keharmonisan itu sendiri bisa ternodai oleh rasa individualisme yang timbul dari adanya perbedaan pendapat. Disharmoni sering di gambarkan dengan tingkah laku hidup kucing dan tikus dalam edisi film kartun yang ditokohkan sebagai Tom and Jerry. Terinspirasi dari peran tokoh kartun tersebut timbulah sebuah ide untuk menuangkannya kedalam sebuah garapan komposisi karawitan inovatif yang berjudul “Satru Mitra” , dengan mengolah unsur-unsur musikal seperti melodi, ritme dan tempo yang diintegrasikan kedalam Gamelan Baleganjur yang menggunakan dua buah saih reong.

Penata : I Putu Agustana

Nim : 2006.02.006

  1. Tema Garapan

Mengapresiasi mengenai konsep garapan yang terlihat dari video garapan yang berjudul satru mitra, memang sangat jelas terlihat kesesuaian antara garapan dengan tema garapan. Satru mitra dapat dikatakan sebuah perbedaan berarti juga musuh dalam selimut.Hal tersebut sangat jelas terlihat dari adanya 2 kelompok riong yang berbeda saihnya. Dalam permainan kedua kelompok riong tersebut berjalan dengan tempo yang berbeda, dengan pola melodi yang berbeda pula, tetapi sesekali kedua kelompok riong tersebut terjalin sebagai suatu melodi dalam satu kesatuan yang terdengar sangat harmonis. Hal tersebut menunjukkan ke harmonisan dan ketidak harmonisan yang sesuai dengan judul garapan.

  1. Tata Panggung

Dari segi komposisi penabuh di atas panggung menekankan pembagian menjadi 2 kelompok, yang dalam permainannya masing-masing kelompok berbeda.      Hal tersebut lebih menekankan kesesuaian antara tema garapan dengan bentuk penyajian garapan.

  1. Tata Cahaya

Dalam video garapan ini sangat jelas terlihat pencahayaan yang kurang bagus, fokus lampu hanya di tengah-tengah panggung, sehingga membuat pemandangan yang tidak bagus saat menonton video ini, kesan gerak yang ditonjolkan jadi tidak terlihat jelas.

Jika memungkinkan sebaiknya dari segi pencahayaan harus jendral atau secara keseluruhan panggung terkena cahaya yang sama, sehingga saat bergerak pun akan terlihat jelas.

  1. Sound Sistem

Pada video ini sangat jelas terdengar bahwa suara yang paling domina adalah suara cengceng, suara riong yang sebelah kanan lebih keras dari pada yang sebelah kiri, selain itu suara suling sangat kecil. Dari beberapa ketidak seimbangan bunyi tersebut memang membuat garapan tersebut menjadi kurang bagus terdengar, jika didengar saat menonton rekaman videonya.

Entah apa yang menyebabkan ketidak seimbangan bunyi tersebut, tetapi yang paling berpengaruh adalah microphone yang di pergunakan. Dalam video ini hanya terlihat menggunakan 2 buah microphone, yaitu di samping kiri depan dan samping kanan depan.

Dapat dimaklumi juga, karena garapan ini di awalnya penabuh bergerak ke segala tempat, sehingga tidak memungkinkan untuk memfokuskan penempatan microphone. Jika diletakkan secara digantung, mungkin yang paling jelas terdengar hanya suara ceng-ceng saja.

Demikianlah apresiasi video yang berjudul Satru mitra

 

Categories
Lainnya

BIOGRAFI TOKOH SENIMAN DI BR.TANGGUNTITI TONJA DENPASAR UTARA

I WAYAN RENDA

 

Kepribadian I Wayan Renda

Keseharian bliau adalah seorang petani, namun kegiatan yang selalu dilakoni adalah kegiatan yang menyangkut tentang seni karawitan, bliau sangat dikenal di beberapa banjar di tonja sebagai seniman alam (non akademik) yang sangat gemar mengembangkan seni di banjar tangguntiti tonja khususnya.

 

Perjalanan seni I Wayan Renda

Seniman kelahiran 1947 dikenal sebagai pelatih tabuh di br. Pengukuh dan di banjar tega desa tonja, bliau perna mementaskan suatu pertunjukan di atas kapal pesiar pada thn 1992 bersama ska gong wirajana br. Tangguntiti tonja, dan bliau pernah juga mengikuti festifal tarian tradisional di Jakarta mewakili bali membawakan tarian sakral di pura kebon boni untuk di pentaskan di festifal tersebut bersama ayah bliau alm  I Wayan kebut pada tahun 1988.

 

Alm. I Wayan kebut

(seniman alam thn 1947 di banjar tanguntiti tonja)

Categories
Lainnya

Eksistensi Gambelan Angklung Keluarga Besar Pasek Bendesa Manik Mas

        Gambelan angklung merupakan barungan gambelan yang termasuk dalam golongan madya, karena dalam permainan gambelan angklung instrument kendang sudah mulai berperan. Demikian halnya dengan gambelan angklung milik keluarga besar Pasek Bendesa Manik Mas, yang berlokasi di Br. Kayu Padi, Desa Pupuan, Kec. Pupuan, Kabupaten Tabanan.

            Mengenai keberadaan barungan gambelan ini, penulis mendapat bukti keberadaannya dari beberapa informan, dan ada pula bukti tertulis. Kedua sumber tersebutlah dapat dijadikan sebagai bahan acuan dalam penulisan ini.

            Menurut 2 narasumber, yaitu I Made Kumpul dan I Gede Artayasa. kedua narasumber ini, merupakan generasi dari pendiri sekhe angklung, memang keberadaan seperangkat gambelan ini lebih dulu ada, dari kelahiran mereka, tetapi mereka mendapat informasi langsung dari pendiri sekhe angklung ini. Kedua narasumber ini memberikan pernyataan yang sama, bahwa keberadaan angklung tersebut dilatarbelakangi oleh kebutuhan pisikologis sekelompok keluarga yang berjumblah 7 orang, kebetulan 6 orang dari keluarga tersebut merupakan saudara kandung dan satu orang lagi merupakan ipar dari ke enam saudara kandung tersebut. Ketujuh anggota keluarga ini sepakat untuk membuat gambelan angklung, tentang alasan mengapa dipilihnya gambelan angklung adalah memang pada waktu itu Desa Pupuan sudah memiliki seperangkat gong kebyar, tetapi barungan tersebut hanya dipergunakan pada saat upacara Dewa Yadnya saja, sehingga mereka memandang bahwa jika membuat gambelan angklung, mungkin akan ada banyak orang yang mencari ( ngupah) jika mereka mengadakan Suatu upacara, baik Manusa Yadnya maupu Pitra Yadnya, para pendiri ini pada waktu itu sudah memiliki motif ekonomi disamping social kemasyarakatan, tetapi bukan itu saja sasaran mereka, melainkan mereka juga menginginka suatu hiburan untuk melepas lelah setelah mereka datang dari bekerja sebagai petani.

            Awal mulanya barungan agklung ini baik yang berbilah maupun berpencon semuanya terbuat dari besi. Proses pembuatan pertama kali dilakukan dengan cara bergotong royong. Kebetulan juga salah seorang dari keluarga memiliki keahlian Memande ( membuat senjata ). Berangkat dari niat dan kesungguhan, bahan dan beralatan seadanya, bilah demi bilah tercipta oleh tangan terampil mereka, akhirnya jadi 4 tungguh gangsa, yang masing-masing terdiri dari 5 bilah, 1 tawa-tawa, 1 buah kempur dan 1 buah gong. Semuanya terbuat dari besi.

            Setelah adanya seperangkat gambelan seadanya tersebut, munculah keinginan untuk mengupulkan sekhe gebug. Ternyata banyak dari keluarga yang satu darah berminat bergabung menjadi sekhe gebug, akhirnya terciptalah sekhe demen pada waktu itu

            Setelah adanya sekhe mereka memulai latihan,akan tetapi pada waktu itu sangat sulit mencari pelatih tabuh, sehingga latihan dilakukan dengan kemampuan sendiri. Beberapa gending-gending dolanan, yang dipergunakan oleh anak-anak pada saat bermain mereka transfer kedalam tabuh angklung.

            Ternyata keberadaan skhe ini mendapat dukungan yang sangat antusias dari masyarakat sekitar, hal ini dibuktikan dengan seringnya mereka kupah untuk menabuh jika ada suatu upacara baik Manusa Yadnya maupun Pitra Yadnya.

            Mulai bertambahnya wawasan dan tau akan pentingnya keberadaan angklung dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, akhirnya muncul keinginan untuk membeli seperangkat gambelan angklung yang terbuat dari bahan kerawang.

Menurut bukti yang tertulis diatas daun lontar yang menggunakan tulisan Bali/aksara Bali, disana disebutkan bahwa ketujuh orang ini yang membeli dan sekaligus sebagai pendiri atau perintis sekhe pada tahun 1940, tetapi tanggal dan bulannya tidak tertulis. Ketujuh pendiri tersebut antara lain :

  1. Pan Tadi
  2. Pan Rancis
  3. Pan Mintar
  4. Pan Nasti
  5. Pan Bekung
  6. Pan Nari
  7. Pan Mudatri

Disepakati untuk membeli angklung di daerah Tihingan, Klungkung. Pembelian dilakukan secara satu persatu, pembuatan seluruhnya dilakukan disana, tetapi bahan dari pelawahnya berasal dari ketujuh pembeli ini. Prosesnya sangat sulit karena pada tahun 1940 sangat sulit mencari transportasi, sehingga proses pembawaan kayu sebagai bahan terampa harus berjalan dari Pupuan ke Tihingan itu juga harus sembunyi-sembunyi, karena pada waktu itu Negara Indonesia masih belum merdeka sehingga masih banyak tentara-tetara penjajah yang berkeliaran. Bisa dibilang sampai mempertaruhkan nyawa untuk membeli gambelan angklung pada waktu itu. Setelah selesai dibuat, satu persatu dari instrument di bawa ke Pupuan, itu juga tidak mudah, harus tidak sampai terlihat oleh tentara penjajah pada waktu itu. Tidak terbayang bagaimana perjuangan para pendiri angklung ini.

Barungan angklung dibeli seharga 400 ringgit, pada waktu itu belum ada uang rupiah, bisa dikatakan cukup mahal  pada jaman itu. Sumber dananya adalah dari ketujuh pendiri tersebut dengan cara patungan. Instrument yang dibeli antara lain : 4 tungguh gangsa, 4 tungguh kantilan ( masing-masing tungguh terdiri dari 5 bilah ), 2 tungguh gangsa pemetit, 2 tungguh jegog, 1 buah kempur, 1 buah tawa-tawa, 1 buah gong lanang, dan 1 buah gong wadon.

Setelah sarana lengkap, sekhe gebug sudah ada, tetapi pada waktu itu belum adanya sistim kepeggurusan sekhe, hanya berpedoman kepada para pendirinya. Tetapi pada waktu itu sudah memiliki aturan-aturan/ awig-awig bagi sekhe gebug dan pendirinya yang terlihat pada bukti tertulis ada 6 aturan, diantaranya :

  1. Barang siapa yang ingin masuk sebagai sekhe gebug, boleh menjadi sekhe angklung, asalkan taat dengan awig-awig, istilah balinya bani ngutang gae, sing madengang payuk jakan jumah atau dengan kata lain skhe ini adalah cenderung pada kegiatan social.
  2. kalau ingin berhenti boleh, dan tidak ada unsur paksa. Dengan terus terang dihadapan sekhe.
  3. kalau ada hasil uang, ia dapat bagian, dari jumbelah hasil yang dibagi rata, bagi anggota yang berhenti.
  4. Setelah berhenti dengan terus terang, tidak boleh memperhitungkan barang angklung yang ada, sebab yang membeli barang angklung itu terdiri dari 7 orang
  5. Bagi anggota 3 kali berturut-turut tidak hadir tanpa alasan, diadakan pendekatan.
  6. Bagi pemilik angklung yang berhenti sama sekali tidak boleh meminta bagian berupa barang angklung yang ada, maupun uang yang ada, walaupun mereka yang ikut membelinya.

Begitulah aturan menurut bukti tertulis tersebut.

Seiring dengan perkembangan jaman, sekitar tahun 60-an baru dibuat nama sekhe, yaitu sekhe Angklung MARGA UTAMA, dan mulai membuat system organisasi kepengurusan sekhe.

Begitulah sejarah singkat tentang keberadaan gambelan angklung Marga Utama milik keluarga Pasek Bendesa Manik Mas yang masih diwarisi sampai saat ini.Hingga saat ini Trampa dari barungan angklung ini belum pernah diganti, karena keadaannya masih tetap awet dengan motif-motif ukiran yang sangat lama ( kuno ), hanya saja sempat dipangur dan diganti tabung resonatornya saja sebnyak 2 kali dari awal berdirinya hingga saat ini. Barunngan angklung ini juga termasuk unik, karena merupakan gambelan laras selendro 5 nada, yaitu nding, ndong, ndeng, ndung, ndang.

Keberadaan angklung ini memang sudah cukup lama dan memiliki peranan yang sangat penting bagi kegiatan upacara baik dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat umum, selain itu barungan angklung ini telah memberikan dampak atau pengaruh yaitu sebagai pengikat suatu tali persaudaraan (istilah Balinya, Pang sing pegat-pegat menyama ), terbukti sekarang ini sudah sampai empat generasi. Keberadaan Gambelan Angklung ini harus tetap di jaga dan di lestarikan.

Demikianlah sejarah singkat mengenai keberadaan barungan gambelan angklung milik keluarga Pasek Bendesa Manik Mas. Penulis menyadari bahwa dalam tulisan ini masih banyak kekurangan dan dapat dikatakan jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran sangat penulis harapkan demi kesempurnaan tulisan ini. Sekian dan terimakasih.