Tradisi Sakral “Ngaturang Ulu” Sasih Ke Nem Pura Puseh Pejeng

 

Saya lahir dan besar di desa saya yaitu Desa Pejeng Kecamatan Rendang Kabupaten Karangasem. Disana terdapat tradisi unik yang sering disebut Ngaturang Ulu.Tradisi ngaturang ulu ini dilaksanakan bertepatan pada hari purnama keenam dimana bertepatan juga dengan upacara ngusaba gede yang dilaksanakan di pura puseh pejeng. Ulu yang dimaksudkan disini yaitu merupakan potongan kepala babi guling yang sudah di upacarai. Setelah selesai diupacarai, ulu tersebut diarak dengan diiringi tetabuhan baleganjur menuju ke pura puseh desa Muncan dan Bale Agung. Setelah sesampainya disana ulu tersebut ditempatkan pada pelinggih yang terdapat di Pura Puseh Muncan dan dilanjutkan dengan prosesi persembahyangan bersama yang bertujuan untuk memohon keselamatan seluruh masyarakat setempat.

Menurut sejarah turun temurun sebelum tradisi ini lahir , dahulu adik dari Raja Karangasem yaiitu I Gusti Gede Padang Serut yang tinggal di desa pejeng diperintahkan oleh kakaknya untuk menjadi pemimpin di sebuah desa yang bernama Muncan. Dalam memimpin desa Muncan beliau adalah orang yang tegas, berwibawa, baik, dan berkarisma. Pada suatu ketika I Gusti Gede Padang Serut terlibat pertikaian oleh kaum dari arya ( wangsa ) lain, dan terjadilah peperangan di desa Muncan tersebut. Akhir dari peperangan hebat tersebut dimenangkan oleh masyarakat atau pasukan yang dimpimpin oleh I Gusti Gede Padang Serut. Kondisi di Muncan pun menjadi aman, damai dan tentram berkat kempemimpinan dari Beliau.

Seiring berjalannya waktu, karena pernah memimpin dan menetap di desa Muncan, masyarakat desa Pejeng membuat suatu keputusan dengan membuat yadnya yang diberi nama “Ngaturang Ulu”. Ngaturang ulu dibuat untuk mengenang jasa Beliau yang pernah menjadi pemimpin di desa Muncan pada waktu itu.

Ulu yang berarti kepala, ketua, pemimpin, diatas. Ulu yang dimaksud adalah potongan kepala babi, alasan menggunakan kepala babi menurut kala itu adalah , babi dalam bahasa bali yang artinya bawi ( bawi ngaran bawa / wibawa) jadi, seorang pemimpin harus mempunya wibawa atau karisma.

Pada saat melaksanakan prosesi ngaturan ulu ini, seorang pemundut atau yang membawa ulu tersebut harus menggunakan :

  1. Topi yang terbuat dari kukusan ( alat menanak nasi )

Makna  : Kukusan adalah alat untuk menanak nasi, dan itu diartikan sebagai sumber dari merta atau makanan yang tidak boleh lepas dari kehidupan manusia.Kukusan berbentuk segitiga yang mempunyai arti, seorang pemimpin harus berlandaskan berdasarkan dari bagian Tri Kaya Parisudha ( wacika, kayika, manacika )

Wacika : berkata yang baik dan benar

Manacika : berfikir yang baik dan benar

Kayika : berbuat yang baik dan benar

  1. Memakai baju / jubah yang terbuat dari kaping

Makna : Makna dari memakai baju dari kaping / karung goni tersebut disini dikatakan sebagai pelindung, jadi artinya ialah, sebagai seorang pemimpin harus melindungi rakyatnya agar terhindar dari hal-hal negatif.

  1. Bunga Pucuk Bang ( kembang sepatu )

Makna : Pemimpin harus sebagai pemucuk atau yang terdepan, selain itu bunga pucuk juga melambangkan keberanian seorang pemimpin.

Selain Ulu ( kepala babi ), pada upacara ini terdapat juga sebuah sarana upakara yang berwadahkan seperti bakul yang dipikul oleh satu orang pemundut yang disebut Serundung. Pada Serundung ini terdapat semua hasil alam di desa Pejeng yang dihaturkan juga bersamaan dengan Ulu tersebut yang bertujuan memohon kesejahteran kepada Betara yang berstana di Muncan. Ada dua orang yang memikul serundung tersebut.Adapun isi di dalam Serundung ini adalah :

  • Godem
  • Bluluk ( buah enau )
  • Nasi sela
  • Jagung yang direbus
  • Onggar-onggar
  • Tuak

Demikian ulasan yang bisa saya tulis disini yang menjelaskan tentang tradisi Ngaturang Ulu di desa Pejeng tersebut, dan semoga tulisan ini bisa bermanfaat. Akhir kata saya ucapkan terimakasih.

 

Tinggalkan Balasan