Sejarah dan Makna Filosofis Tari “Legong Raja Cina”

Seni Tari adalah seni yang menggunakan gerakan tubuh secara berirama yang dilakukan ditempat dan waktu tertentu untuk keperluan mengungkapkan perasaan, maksud dan pikiran. Tarian merupakan perpaduan dari beberapa unsur yaitu wiraga, wirasa dan wirama. Tarian yang terdapat di Bali beragam jenisnya mulai dari tari tunggal sampai dengan tari berkelompok atau masal. Jadi pada kesempatan ini  akan dibahas mengenai tari Legong Raja Cina.

Tari Legong Raja Cina ini merupakan Akulturasi budaya dimana akulturasi disisni diartikan sebagai perbaduan antara dua  budaya atau lebih dan menghasilkan budaya baru tetapi unsur aslinya masih dapat kita lihat. Makna dari Tari Legong Raja Cina ini adalah terkait dengan akulturasi budaya Bali Cina yaitu untuk mengingat hubungan antara Bali dan Cina maka dibuatlah sebuah Tarian ini. Menurut bapak Agung Giri Putra ini dahulu sudah pernah ada Tari Legong Raja Cina ini Cuma keberadaannya dan tahun berapa itu tidak dijelaskan oleh almarhum bapak Agung Giri Putra ini dengan jelas. Sang narasumber atau anak dari almarhum bapak Agung Giri Putra ini menapsirkan tarian ini ada di atas tahun 30’an. Diperkirakan ada tahun 30’an ini karena dilihat dari jumlah penarinya yang berjumlah 3 orang, karena kalau tidak berjumlah 3 orang tidak akan bisa menarikan Tari Legong Raja Cina ini merurut narasumber. Menurut sang narasumber legong juga sudah ada sebelum rokondusi dia menjelaskan menurut cerita almarhum Bapaknya. Karena bapak Agung ini sudah meninggal maka Rekondusi bisa dijalankan waktu itu menurut narasumber yang saya wawancarai. Tetapi sang narasumber tetap ingin merekondusi untuk membangun tarian Legong ini karena pernah ada dan akhirnya sang narasumber melakukan penelitian tentang apa itu sebenarnya Raja Cina. Sang narasumber ini tidak pernah  menegenal yang namanya putus asa untuk membangun atau mengetahui apa sebenarnya maksud dari Raja Cina ini karena keinginan sang Narasumber adalah membangun kembali tarian ini. Nama Tari Legong Raja Cina ini adalah diambil dari cerita seorang raja Bali yang menikah dengan wanita Cina dan ini dijadikan pedoman utama oleh sang narasumber. Setelah menemukan inti dari cerita ini sang narasumber mulai membahas dan menganalisis bagaimana perannya, peran-peran apa saja yang dimasukan, membuat  strukturnya, menambahkan gending , dan melakukan latihan. Tokoh yang terdapat pada tarian ini yaitu ada Dewi Danu, Raja Jaya Pangus, Khang Ching Wei. Dan pada akhirnya Tari Legong Raja Cina ini pentas di Art Center pada acara Pesta Kesenian Bali pada tahun 2012.

Tari Legong Raja Cina ini dapat juga diambil dari cerita raja Jayapangus dengan istirinya Dewi Danu yang sudah lama menikah tetapi belum

dikaruniai seorang anak. Dan Raja  Jayapangus ini memutuskan unntuk melakukan persemedian di Gunung Batur dan akhirnya disana Raja Jayapangus beretemu dengan Khang Ching Wei. Setelah selesai melakukan persemedian akhirnya Khang Ching Wei dan Raja Jayapangus berbincang-bincang berdua disinilah Raja Jayapangus mulai tertarik dengan kecantikan Khang Ching Wei. Karena Dewi Danu merasa curiga dengan kepergian suaminya yang bertahun-tahun lamanya akhirnya Dewi Danu memutuskan untuk menyusul suaminya dan setibanya disana dilihatnya Raja Jayapangus dan Khang Ching Wei sudah menikah. Karena merasa kesal akhirnya Dewi Danu mengutuk Raja Jayapangus dan Khang Ching Wei menjadi barong landung.

  •  Iringan Tari Legong Raja Cina

Iringan tabuh dari Tari Legong Raja Cina menggunakan gamelan pelegongan. Gamelan pelengongan merupakan gamelan bali yang berlaras pelog 5 nada patet selisir yang umumnya dipakai untuk mengiringi tari Legong. Dalam lontar Catur Muni-muni gamelan ini disebut dengan semara petangian. Gamelan pelegongan merupakan  pengembangan dari gamelan gambuh dan semar pegulingan. Pada pementasan dalam acara PKB, tari Legong Raja Cina ini menggunakan gamelan Semara Pegulingan, karena tari Legong ini dipentaskan pada acara parade semar pegulingan. Semar pegulingan pun hampir sama dengan gamelan pelegongan hanya saja nada yang terdapat pada gamelan semar pegulingan  berjumlah 7 bilah. Ini pun tidak mengubah aturan atau pakem-pakem yang terdapat dari tarian Legong Raja Cina ini. Adapun Struktur atau susunan gending dari iringan Tari Legong Raja Cina ini meliputi, kawitan, ginem, pengawak, batel, pesiat, dan pengecet.

Semua data yang telah dijelaskan diatas itu diperoleh dari hasil wawancara dari Bapak Agung Giri Putra pada tanggal 17 Januari 2018 di rumah beliau sendiri atau di Puri Saba, Gianyar.

  • Kesimpulan

Filsafat seni adalah ilmu filsafat yang menyelidiki hakikat nilai-nilai estetis, yaitu nilai-nilai keindahan yang terkandung dalam alam dan karya seni dalam segala bentuk dan maknanya.

Tari Legong Raja Cina ini merupakan bentuk Akulturasi antara budaya Cina dan Bali,  dimana Akulturasi di sini dapat diartikan perpaduan antara dua budaya atau lebih dan menghasilkan budaya baru tetapi unsur yang terkandung di dalamnya masih bisa kita lihat. Dimana tarian ini diambil dari cerita Khang Ching Wei.

Iringan yang digunakan dalam tarian ini adalah gamelan Pelegongan. Dalam lontar Catur Muni-muni gamelan ini disebut dengan semara petangian. Gamelan pelegongan adalah barungan madya berlaras pelog 5 nada dengan patet selisir. Gamelan pelegongan merupakan pengembangan dari gamelan gambuh dan semar pegulingan. Struktur atau susunan gending dari iringan Tari Legong Raja Cina ini meliputi, kawitan, ginem, pengawak, batel, pesiat, dan pengecet. `

Tinggalkan Balasan