Review Buku Tentang Seni Kekebyaran

Istilah Seni Kekebyaran dibentuk oleh dua kata yaitu “seni” dan “kekebyaran”. Seni adalah ekspresi jiwa dari seniman yang diwujudkan menjadi bentuk kesenian tertentu seperti seni pertunjukan, seni rupa, seni sastra, dan seni media rekam; sedangkan “kekebyaran” berasal dari akar kata “kebyar” [dalam Kamus Bali Indonesia, 1978:274] mendapat awalan (pengater) ked an akhiran (pengiring) an. Kebyar berarti letupan atau sinar memancar dengan tiba-tiba sehingga dapat membuat kita terkejut (surprise). Dengan demikian seni kekebyaran dapat diartikan sebagai sesuatu bentuk atau jenis kesenian yang termasuk bidang seni pertunjukan yang memiliki ciri atau sifat “ngebyar”. Salah satu jenis kesenian Bali yang pada awal pemunculannya menyebabkan orang “terkejut atau terperengah” adalah gambelan gong kebyar (di Bali utara dan juga yang menyebutnya dengan istilah gong gede). Seiring dengan perjalanan waktu maka jenis kesenian Bali lainnya pun ikut “ngebyar” sehingga muncul istilah angklung, joged kebyar, wayang kebyar, dan wayang gong (pertunjukan wayang kulit dengan iringan gong kebyar).

Gong kebyar merupakan salah satu bentuk gambelan Bali yang menggunakan laras pelog 5 nada. Pada awal pemunculannya di Bali Utara pada tahun 1915 (McPee, 1966), gong kebyar telah menyebabkan terjadinya kekagetan yang luar biasa. Salah satu sebab munculnya gambelan ini yaitu adanya “kebanggan berkompetisi” (competitive pride ) dari masyarakat atau seniman Bali. Kebanggan berkompotisi inilah sebenarnya yang merupakan salah satu “roh” dari gong kebyar yang telah kita warisi sejak masa yang lampau hingga dewasa ini.

Perkembangan Gong Kebyar

Hingga kini di Bali sendiri telah tercatat tidak kurang dari 1.600 barung gambelan gong kebyar. Di luar negeri, gong kebyar mula-mula dikenal lewat literatur dan rekaman. Salah satu rekaman itu adalah yang dihasilkan oleh Odeon dan Beka yang telah merekam gending-gending gong kebyar seperti Kebyar Ding Sempati di Belaluan (Badsung).  Pada tahun 1931 sekaa gong kebyar peliatan mengadeakan pertunjukan dalam rangka Colonial Exposition di Paris. Salah satu tonggak penting yang patut dicatat bahwa sejak tahun 1960-an gambelan gong kebyar mulai masuk .

 Seni Kekebyaran

Kurikulum Universitas di Amerika Serikat . Prof. Dr. Ki Mantle Hood (almarhum), salah seorang tokoh Etnomusikologi dunia, membawa satu barung gamelan gong kebyar yang di beri nama Sekar Anyar ke Institute of Ethnomusicology, University of California, Los Angeles (UCLA). Gong kebyar mulai menyebar ke beberapa kampus, kota, dan berbagai tempat di dunia, termasuk yang terakhir (Agustus 2005) ke Peru, Amerika Selatan.

Gong kebyar telah terbukti memiliki keunikan baik dari segi musiknya (in terms of itdelf) maupun dalam konteks social budayanya (in terms of its socio-culture context). Studi tentang gong kebyar telah dilakukan diantaranya oleh: Kunst (1921), Spies and deZoete (1938) , McPhee (1966), Bandem and deBoer (1981), deVale and Dibia (1991), Tenzer (1991-2000), Sadra (1991), Toth (1993), Rai.S (1998, 1999, 23001, 2004). Disertasi pertama tentang gong kebyar dsihasilkan oleh seorang mahasiswi UCLA bernama Ruby Orntein dengan judul : Gamelan Gong Kebyar, The Development of a Balinese Musical Tradition” (1971). I Wayan Madera Aryasa berhasil mempertahankan tesisnya yang berjudul “The Gamelan Gong Kebyar Widya Santi: A Study of Balinese Instrumental Ensemble at The Queen’s University Belfast” (1988). Pada tahu 19931 Wayan Senen berhasil menyelesaikan studi S2nya di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dengan tesis yang berjudul “Wayan Beratha Tokoh Pembaharu Gamelan Gong Kebyar di Bali”. I Made Kartawan (2003) dan Pande Made Sukerta (2001,2004) telah berhasil melakukan kajian tentang gong kebyar dari sudut pandang kajian budaya. Patut di catat bahwa pande made Sukerta adalah orang Bali pertama yang telah berhasil mencapai gelar Doktor dalam bidang Kajian budaya dengan disertasi berjudul” “Perubahan dan Keberlanjutan Dalam Tradisi Gong Kebyar Buleleng” (Kajian Budaya, UNUD, 2004).

Eksitensi Gong Kebyar Saat Ini

Realitas di lapangan menunjukan bahwa gong kebyar masih merupakan salah satu bentuk kesenian yang merupakan favorit masyarakat. Hal ini dapat di buktikan dengan semakin semaraknya aktivitas gong kebyar yang dapat di jumpai dalam berbagai konteks. Pembaharuan terus dilakukan oleh para seniman kita baik dalam aspek ide, bentuk, maupun penampilannya. Berdasarkan penabuhnya, sampai saat ini ada 4 kategpri dalam PKB yaitu: Gong Kebyar Dewasa Pria(penabuhnya semua pria dewasa), Gong Kebyar Dewasa Wanita (penabuhnya semua wanita), Gong Kebyar Anak-anak (penabuhnya semua anak-anak pria dengan umur maksimal 16 tahun atau kelas 3 sekolah menengah pertama), Gong Kebyar Dewasa Campuran(penabuhnya campuran antara pria dan wanita dewasa).

Seni Kekebyaran

Apabila diamati lebih jauh, tanuh lelambatan yang ditampilkan adalah tabu lelambatan klasik yang memiliki patokan atau uger-uger tertentu dan digarap dengan tehnik kekebyaran. Sedangkan untuk tabuh pepanggulan yang pernah ditampilkan adalah usaha untuk mebuat tabuh pepanggulan baru dengan referensi tabuh Gesuri (Genta Suara Revolosi) karya Bapak I Wayan Beratha. Dalam tabuh kreasi telah terjadi perkembangan yang sangat dratis di mana pembaharuan yang dilakukan sering membuat para seniman yang telah mapan dengan tradisi menjadi “makebyeng” (kaget dan tercengang), hal ini tercermin dari ungkapan seorang penabuh ketika mengikuti latihan.

Salah satu hal yang sangat menarik untuk dicermati sejalan dengan eksistensi gong kebyar dewasa ini adalah sikap penonton ketika menyaksikan FKG nampaknya globalisasi telah member pengaruh yang sangat besar terhadap penonton.

Harapan Ke Depan

Bagaimana dengan eksistensi Gong kebyar di masa yang akan dating? . masa yang akan dating merupakan masa yang belum kita alami. Masa dengan tantangan yang semakin kompleks. Masa depan adalah sebuah prediksi. Berdasarkan realitas dewasa ini, gong kebyar akan terus eksis dan berkembang.

Kesimpulan

  • Dari pemaparan di atas dapat di simpulkan bahwa Seni Kekebyaran Dewasa Ini dapat di artikan sebagai sesuatu bentuk atau jenis kesenian yang termasuk bidang seni pertunjukan yang memiliki ciri atau sifat “ngebyar”.
  • Gong kebyar merupakan salah satu bentuk gambelan Bali yang menggunakan laras pelog 5 nada. Pada awal pemunculannya di Bali Utara pada tahun 1915 (McPee, 1966), gong kebyar telah menyebabkan terjadinya kekagetan yang luar biasa. Salah satu sebab munculnya gambelan ini yaitu adanya “kebanggan berkompetisi” (competitive pride ) dari masyarakat atau seniman Bali.

Tinggalkan Balasan