Categories
Ringkasan

REVIEW 5 BUKU

BUKU 1

Judul               :     SEJARAH WAYANG, asal usul, jenis dan cirinya

Pengarang     :     Amir Merto Sedono SH

Penerbit         :     Dahara prize, Semarang

Wayang merupakan seni budaya bangsa Indonesia, lahir dan berkembang sejak jaman raja di jawa. Ajaran-ajaran didalam mencerminkan watak perilaku manusia, sehingga sangat efektif sebagai sarana penerangan, pendidikan dan hiburan.

Lakon dalam cerita wayang disesuaikan dengan cirri-ciri dan watak bangsa Indonesia yang social religious. Kesenian wayang mengalami kemajuan pesat, yakni pada jamannya sunan kalijaga di demak.

BUKU 2

Judul                    :  LAGU DOLANAN ANAK

Pengarang          :  Triyono Bramantyo

Penerbit              :  yayasan untuk Indonesia, Yogyakarta,Indonesia

Lagu-lagu permainan tradisional anak-anak jawa adalah salah satu bentuk tradisi lisan yang di transmisikan dari generasi ke generasi secara oral. Tetapi saat ini kita sedang kehilangan identitas jatidiri  dan sudah sekian banyak kesenian tradisi kita telah punah. Hambatan utama dalam upaya merekonstruksi sekian banyak dari antara yang punah itu adalah tidak adanya dokumen tertulis yang bisa dilacak.

Musik anak telah menjadi musik industri tanpa kekuatan pengontrol. Anak-anakpun dijejali dengan selera musik pop yang mematikan daya imajinasi dan fantasi ditengah kebisingan komersialisasi, lagu dolanan anak menjadi inspirasi. Lagu dolanan anak tempoe doeloe terasa lebih bermakna secara budaya lantaran disana terungkap beragam nilai baik kebersamaan, kerukunan, maupun keguyuban.

BUKU 3

Judul             :  INKULTURASI GAMELAN JAWA

Pengarang   :  Sukatmi Susantina

Pencetak      :  medprint offset

Kebudayaan tidak dipandang sebagai sesuatu yang tertutup, melainkan secara dinamis terbuka satu sama lain. Disamping selain pengaruh mempengaruhi dan juga terjadi interaksi, terdapat pula pembaharuan kebudayaan. Walaupun demikian, memang benar bahwa unsur-unsur dari satu kebudayaan itu tidak dapat dimasukan kedalam kebudayaan lain tanpa mengakibatkan sejumlah pembaharuan pada kebudayaan tersebut tetap bersifat dinamis. Tanpa ada kontak dengan kebudayaan luarpun seperti masuknya unsure-unsur kebudayaan lain kedalam kebudayaan tertentu, suatu kebudayaan akan berubah dengan berlakunya waktu.

BUKU 4

Judul             :  SENI PERTUNJUKAN & PARIWISATA

Pengarang   :  R. M. Soedarsono

Penerbit       :  BP ISI Yogyakarta

Seni dalam kehadirannya didunia ini selalu dibutuhkan oleh manusia dimanapun dan kapanpun. Disaat industri pariwisata mulai merebak di Indonesia, terjadilah pergulatan unsure-unsur budaya dalam menanggapinya. Terjadi berbagai transfarmasi sesuai dengan sifat dan bentuk unsure-unsur budaya tersebut. Dalam kancah seni, khususnya seni tari tradisi, perubahan bentuk penyajian jelas berubah sesuai dengan berbagai kebutuhan, khususnya bagi para wisatawan dan kepentingan biro pariwisatanya.

BUKU 5

Judul         :     GAMELAN PEGAMBUHAN “ TAMBANG EMAS “ KARAWITAN BALI

Pengarang :     IGede Arya Sugiartha, S.Skar, M.Hum

Penerbit     :     ISI Denpasar  dan Sari kahyangan

Sebagai titik pangkal dan poros melebarnya pengaruh gambelan pegambuhan terhadap gamelan lainnya dibali tidak dapat dilepaskan oleh dua faktor yaitu faktor external dan faktor internal. Faktor external termasuk diantaranya latar belakang historis,yaitu akar dan perjalanan budaya masyarakat pendukungnya yang panjang, serta sikap masyarakat yang selalu berorientasi kea rah kemajuan.

Sedangkan faktor internal dengan mengamati unsure fisik, musikalitas dan fungsi gamelan pegambuhan memiliki unsure-unsur estetis yang sangat tinggi.

Categories
Ringkasan

Balaganjur Dalam Makna Religius

Kehidupan masyarakat Bali di masa silam sangat tergantung dengan alam. Perilaku mereka mencerminkan pemikiran magis dan sakral yang kuat seperti keyakinan adanya hubungan antara manusia dengan kekuatan gaib, serta relasi antara manusia dengan kekuatan spiritual. Persepsi yang relegius ini  menunjukan sudah adanya gejala-gejala tentang kepercayaan kepada kekuatan spiritual tertinggi atau Tuhan, yang dikondisikan oleh alam pikiran mereka memuja kekuatan alam dan alam gaib (Suartaya, 2001:130).

Di kalangan masyarakat Hindu di Bali kesenian persembahan kepada Tuhan dan alam niskala dapat dibedakan menjadi dua kelompok; kesenian  wali dan kesenian bebali. Kesenian wali mencakup berbagai bentuk kesenian yang tergolong tua dan oleh karena itu telah memiliki unsur-unsur keaslian (originalitas) dan kesucian. Dikalangan masyarakat Bali seni sakral merupakan salah satu aspek vital kehidupan spiritual masyarakat Hindu yang bermakna relegius yang merupakan bagian integral dari pelaksanaan upacara (Dibia, 2003:98).

Balaganjur dalam kaitannya dengan kegiatan ritual merupakan implementasi dari sosio-relegius yang sangat ketat dan kuat memberikan dukungan terhadap keberadaan Balaganjur. Dalam kontek religius, semua angota sekaa terlibat dalam penyajian Balaganjur sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing, yang semuanya dilandasi dengan perasaan tulus yang disebut ngayah.

Ketika terlibat dalam kegiatan ritual, para penabuh Balaganjur menyerahkan diri secara tulus demi suatu kepercayaan yang mereka yakini. Berpatisipasi megambel terutama bagi kaum pria yang me-rasa mampu, selain untuk mengekpresikan naluri berkesenian namun pada intinya merupakan yadnya bagi kehidupannya dibawah perlindungan dari kekuatan Yang Maha Kuasa.

Yadnya atau pengorbanan suci mencakup penyerahan diri sering kali melibatkan upacara-upacara ritual. Berpegang kepada keyakinan bahwa kesenian adalah ciptaan Tuhan, orang Hindu men-jadikan kesenian sebagai sebuah persembahan dan yadnya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Dengan yadnya dimaksudkan bahwa berkesenian itu tidak saja memuaskan serta memenuhi dorongan estetis pribadi atau masyarakat, tapi juga sebagai wahana bagi seniman untuk mendekatkan dirinya kepada sumber keindahan itu, yaitu Tuhan.

Terkait dengan prinsip ritual seniman-seniwati di Bali yang berkesenian atas dasar ngayah, baik kepada masyarakat maupun kepada Tuhan selalu melibatkan unsur-unsur ritual dalam setiap aktivitas berkesenian untuk menjaga kesucian karya seni yang dihasilkan. Selain itu, upacara ritual dilaksanakan sebagai suatu cara untuk memohon lindungan Ida Sanghyang Widhi Wasa dengan segala manifestasinya agar penyajian kesenian dapat berlangsung sebagaimana mestinya dan yang lebih penting lagi bisa memperoleh kekuatan sinar suci-Nya (Ibid., p. 101).

Balaganjur dalam fungsinya mengiringi prosesi ritual keagamaan memiliki makna relegius. Penabuh Balaganjur oleh puluhan partisipan mengikuti ritual dalam prosesi ritual keagamaan. Kendatipun para penabuh tidak disakralkan akan tetapi saat keterlibatan mereka ketika ngayah, baik sebelum memulai atau seusai menyajikan gending-gending Balaganjur, para penabuh mendapatkan percikan air suci, mendapatkan berkah atau pem-bersihan diri secara niskala.

Oleh : I Wayan Suharta