Tabuh Gender Wayang Sesapi Ngindang

Gender wayang merupakan gamelan yang tergolong kedalam gamelan golongan tua. Gender Wayang pada keempat tungguh instrumennya berlaras slendro lima nada, yakni ndong, ndeng, ndung, ndang, dan nding. Tiap-tiap instrumen dalam barungan ini memiliki sepuluh daun atau bilah gamelan yang diawali dari nada ndong untuk nada paling rendah atau suara lebih besar. Di samping itu, memiliki wilayah nada dua oktaf dengan sepuluh bilahnya dengan nada nding pada nada tertinggi atau suara paling kecil. Kesepuluh bilah ini dipasang dengan cara menggantungkan di atas bambu dengan memakai tali yang melintang. Tali tersebut diselipkan pada lubang yang telah dirancang berada di badan bilah (pada Gender Wayang terdapat dua lubang). Lubang ini dinamakan gorokan/gegorokan gamelan. Pada gorokan ini dimasukkan tali-temali (jangat) yang diganjal dengan alat belat atau juluk. Bilah-bilah ini digantung melintang diatas resonator bambu (bumbung). Agar bilah tersebut terlentang baik, maka bilah tersebut ditopang dengan tumpuan kayu (cagak). Salah satu tabuh gender wayang yang digunakan dalam upacara yadnya yaitu Tabuh Sesapi Ngindang. Tabuh ini merupakan tabuh gender wayang yang digolongkan kedalam tabuh angkat-angkat yang biasanya dimainkan dalam upacara pelebon dan digunakan juga dalam adegan pesiat dalam pementasan wayang kulit. Selain itu gending ini juga digunakan untuk mengiringi upacara manusa yadnya seperti mesangih.
Teknik pukulan dalam istilah karawitan Bali disebut gagebug yang terdapat dalam Gender Wayang dinamakan Kumbang Atarung. Artinya teknik permainannya ibarat seekor kumbang yang sedang terbang melayang dan bertarung, yaitu penuh dengan kontrapunk. Berikut adalah penjelasan beberapa teknik pukulan pada gamelan gender wayang :

  1. Eka Sruti, Yaitu pukulan tunggal yang hanya memainkan satu tangan dalam satu nada. Teknik pukulan ini biasanya terdapat pada pengrangrang.
  2. Candraprabha, Candraprabha merupakan sebuah teknik pukulan yang berjarak satu nada antara tangan kanan dan tangan kiri.
  3. Padasuara, yaitu teknik pukulan yang berjarak dua nada dan dipukul secara bersamaan.
  4. Danamuka, adalah teknik pukulan yang berjarak tiga nada yang dipukul secara bersamaan.
  5. Anerang Sasih, adalah sebuah teknik pukulan yang berjarak empat nada yang biasanya dilakukan secara bersamaan dengan memukul nada yang sama dalam oktaf tinggi dan oktaf rendah.
  6. Anerang Wisaya, merupakan teknik pukulan yang berjarak lima nada dengan memukul nada yang berbeda secara bersamaan atau bergantian antara tangan kiri dan tangan kanan.
  7. Gana Wedana, merupakan teknik pukulan yang berjarak enam nada. Terkadang dilakukan secara bersamaan atau bergantian sesuai dengan jenis gending yang dimainkan.
  8. Anglangkah Giri, merupakan teknik pukulan antara tangan kiri dan tangan kanan mempunyai jarak yang sangat jauh, yakni berjarak tujuh nada yang dimainkan secara bersamaan atau secara bergantian.
  9. Asti Aturu, adalah sebuah teknik permainan gender wayang yang jaraknya paling jauh dibandingkan dengan pukulan yang lainnya, yaitu berjarak delapan nada antara tangan kanan dan tangan kiri.
    Gender Wayang berdasarkan teknik permainan, penggunaan tangan kiri dan kanan memainkan melodi yang berbeda, yaitu tangan kiri memainkan melodi, sedangkan tangan kanan memainkan kotekan (interlocking figuration). Interlocking figuration adalah sistem pukulan dalam musik Barat menyangkut figurasi yang saling terkait dalam lagu atau dalam istilah gamelan Bali disebut ubit-ubitan. Pekerjaan memukul yang dirangkaikan dengan menutup inilah merupakan sebuah keterampilan yang perlu dikuasai. Hal itu penting sebab kesempurnaan suara yang ditimbulkan sangat ditentukan oleh kesigapan kedua tangan penabuh.

Leave a comment

Your email address will not be published.